
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Kelly melirik kearah Dae yang diam tanpa ekspresi. Pria itu tak pergi sejak Regan dan Echy dirawat dirumah sakit. Dia selalu on time datang kesini.
"Kak Dae".
Dae hanya melirik kearah Kelly. Alisnya saling bertaut seakan heran kenapa gadis itu memanggil nya.
"Terima kasih ya Kak. Sudah mau mendonorkan darah untuk Kak Regan. Aku terharu". Seru Kelly sambil tersenyum manis.
Dae hanya mengangguk tanpa ekspresi. Tak ada niat untuk pria itu terlena dengan pujian Kelly.
"Kelly".
Sean berjalan dengan tergesa-gesa. Sudah lama dia ingin berkunjung kerumah sakit tapi selalu tidak ada waktu.
"Tuan Sean". Kelly berdiri menyambut Sean "Ada apa Tuan kesini?". Tanya Kelly heran.
"Bagaimana keadaan Echy?". Cecar Sean "Apa Echy baik-baik saja?". Imbuhnya lagi.
Sean melirik kearah Dae. Keningnya berkerut heran. Kenapa pria itu ada disini? Dae adalah mantan kekasih Dea. Karena orangtua Dea tidak setuju dan akhirnya memilih menjodohkan Dea dengan Sean.
"Echy masih dirawat Tuan. Sedang ada Paman Domain dan Bibi Ellena didalam". Jawab Kelly.
"Apa boleh masuk?". Sean melirik ruang ICU tempat Regan dan Echy dirawat
"Maaf Tuan. Belum boleh banyak orang yang menjengguk. Hanya boleh masuk dua orang". Sahut Kelly.
Sean menghela nafas panjang. Dia duduk disamping Kelly.
Sean melirik kearah Dae yang terdiam tanpa ekspresi. Dalam hati bertanya-tanya ada hubungan apa Dae dengan Regan atau Echy. Dia memang tidak tahu banyak tentang Dae. Dia mengenal pria itu pun karena Dea sering menceritakannya.
"Dimana Rein?". Tanya Sean yang tidak melihat Rein dari tadi.
"Rein sedang kuliah Tuan". Sahut Kelly lagi.
__ADS_1
Ketiga orang itu terdiam sejenak. Ben sibuk mengurus perusahaan Regan, selama Regan koma dirumah sakit dia yang mengerjakan semuanya. Begitu juga dengan Rio, karena Dae selalu memantau dirumah sakit.
Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Diam-diam Kelly curi pandang kearah Dae. Sumpah demi apapun, Dae benar-benar tampan dan sexy. Sikap dingin dan cuek nya menjadi daya tarik tersendiri bagi Kelly. Ingin rasanya Kelly menyatakan kekagumannya pada Dae. Namun tidak berani karena Dae begitu dingin padanya.
.
.
.
.
Rein berjongkok dipusara kedua orangtuanya. Selalu seperti itu. Setiap kali merasakan kerapuhan dia mendatangi pusara itu. Hanya untuk sekedar bercerita segala lelah yang membelenggu dadanya.
"Ayah. Bunda". Pria itu mengusap pusara sang Ayah "Rein rindu kalian. Rein ingin bercerita banyak hal Ayah. Kak Echy sakit lagi Ayah. Setelah kemoterapi dia tidak benar-benar sembuh. Rein takut takut kehilangan Kak Echy. Dan Kak Regan kembali lagi Ayah. Dia yang sudah menyebabkan kami kehilangan kalian. Tapi dia berkorban demi Kak Echy". Rein terisak
"Paman Domain dan Bibi Ellena juga datang kembali. Rein tidak tahu apa maksud kedatangan mereka. Mereka meminta maaf seolah kesalahan mereka hanya sesuatu yang sepele. Mereka tidak tahu bagaimana Rein dan Kak Echy rapuh setelah kehilangan kalian. Rasanya tidak adil Ayah".
"Mereka sudah menyebabkan kami kehilangan kalian. Mereka merebut kebahagiaan kami. Tapi dengan mudah mereka kembali".
"Kak Regan menolong Kak Echy. Aku tahu betapa Kak Regan mencintai Echy. Tapi itu semua tetap tidak sama dengan kehilangan yang kami rasakan Ayah. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Kak Echy sekarang. Sejujurnya aku sama sekali tidak setuju jika Kak Echy kembali pada Kak Regan. Tapi aku juga bisa melihat kalau Kaka Echy masih mencintai Kak Regan. Jika memang Kak Echy mau kembali, aku akan berusaha untuk ikhlas dan memaklumi perasaan Kak Echy. Tapi jika boleh jangan. Kehilangan tak pernah bercanda. Kak Regan tidak merasakan apa yang kami rasakan".
Rein berdiri sambil menyeka air matanya. Dia berbalik dan melangkah meninggalkan pusara kedua orangtuanya itu. .
Setelah mengungkapkan semua isi hatinya, Rein merasa lebih tenang dan nyaman. Meski tak mengurangi beban tapi setidaknya sudah berbagi walaupun pada orang mati.
Rein mengendarai motornya. Sambil menangis. Dia selalu teringat setiap kali naik motor, Kakak kesayangan nya itu selalu memeluknya dan meletakkan dagunya dibahu Rein.
"Kak Echy Rein rindu. Bertahan demi Rein Kak. Rein tidak bisa hidup tanpa Kakak. Tanpa Kakak itu bagai sayur tanpa garam. Hampa". Isak Rein sambil membawa motor.
Rein melajukan motornya sampai dirumah sakit, calon dokter berkacamata tebal itu segera memarkirkan motornya, melepas helm dan turun dari motor.
Rein berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Almamater berwarna putih masih melekat ditubuh pria berusia 19 tahun itu, mahasiswa kedokteran semester tiga.
.
__ADS_1
.
.
.
Dea meringkuk diruangan gelap. Tak main-main, Dae menghukum wanita itu kedalam ruangan itu.
"Dasar wanita ******, ini semua gara-gara dia". Umpat Dea kasar.
Tak tak tak tak tak
Langkah kaki itu terdengar menggema diperdengarkan Dea.
Dia menatap siapa yang datang. Ketika pria itu masuk, lampu langsung dinyalakan dan ruangan itu terang menderang.
"Bagaimana Dea?". Tanya Dae sinis sambil melipat kedua tangannya didada.
Kondisi Dea lebam-lebam, sudut bibirnya terdapat darah yang sudah mengering.
"Lepaskan aku Dae. Lepaskan aku". Teriak Dea menggema.
Dae tertawa mengejek. Tidak akan dia melepaskan Dea. Dae sengaja tidak membawa Dea ke kantor polisi. Pria itu tidak suka berhubungan dengan polisi. Pasti ribet. Apalagi orangtua Dea termasuk orang yang berpengaruh tentunya akan dengan mudah mereka membeli hukum dan membebaskan wanita itu.
"Jangan bermimpi terlalu tinggi Dea. Aku tidak akan melepaskan mu. Sampai kapanpun". Ucap Dae penuh penekanan. Dia menatap Dea dengan benci
"Sudah kukatakan padamu. Mencelakai gadis itu. Artinya kau memulai permusuhan denganku. Aku bukan Dae yang dulu yang bisa kau kendalikan dengan kata cinta". Dae menggeleng dengan sinis, senyum nya menggejek wanita itu.
"Lepaskan Dae. Kenapa kau membela gadis itu? Hah? Agar dendammu terbalas pada Regan. Atau kau menginginkan nya? Sadar Dae, gadis itu tidak akan pernah mencintaimu. Buka matamu. Buka hati nuraninya". Sentak Dea sambil berteriak.
Dae malah tertawa menggejek. Tidak perlu diingatkan dia tahu.
"Itu urusanku. Apapun yang aku lakukan tidak ada hubungan nya denganmu. Selama kau masih menganggu nya, selama itu juga kau menjadikan dirimu tawanan ku". Ujar Dae melihat Dea dengan jijik "Dan tadi aku bertemu pria yang kau cintai dengan mati itu. Kau tahu Dea? Dia malah lebih mengkhawatirkan gadis itu dibanding dirimu yang belum ditemukan. Apa kau juga tidak sadar bahwa Sean tidak pernah mencintaimu. Bahkan kau melakukan segala cara agar Sean melirik mu dan lihatlah akibat nya kau akan membusuk ini sampai ajal menjemput mu". Dae tertawa lagi. Dia mentertawakan wajah Dea yang tampak ketakutan.
"Dasar brengsekkkk. Cihhh". Dea meludahi wajah Dae.
__ADS_1
Dae menyeka air ludah yang menempel diwajah tampannya. Rahang pria itu mengeras. Dalam hidupnya, dia menyesal pernah mencintai Dea.
Bersambung.....