Perjuangan Cinta CEO

Perjuangan Cinta CEO
Berbicara empat mata


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Dil, bagaimana keadaan Kak Deska?". Tanya Rein memulai pembicaraan.


Dilsa menggeleng dengan lemas "Masih Kak. Kadang Kak Deska mengamuk sendiri teriak-teriak dikamar seperti orang gila. Kata dokter fisiolog Kak Deska terguncang gara-gara kejadian itu". Sahut Dilsa sendu "Padahal Tuan Sean sudah mau bertanggungjawab dan bahkan rela melakukan apapun agar Kak Deska mau menikah dengannya, apalagi saat dia tahu Kak Deska mengandung anaknya". Imbuh Dilsa lagi.


Regan hanya mendengarkan. Dia sama sekali tidak tertarik. Bukan urusannya. Jika bukan karena Echy yang memaksa dia pasti tidak mau datang ke sini.


Terdengar helaan nafas berat "Apa Kak Sean masih datang kesini?". Tanya Rein. Ben juga ikut mendengarkan


Dilsa mengangguk "Kak Sean bahkan membawa dokter untuk memeriksa kondisi Kak Deska. Tapi Kak Deska masih terus menolak".


"Kasihan Kak Sean". Timpal Rein.


Echy juga masih diam. Dia mendengarkan dengan baik kedua orang itu berbicara. Echy yakin jika Deska mengalami depresi berat bukan hanya karena masalah ini tapi ada lain hal lagi yang disembunyikan wanita itu.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang Dil?". Rein sudah tampak putus asa. Bagaimana pun Dilsa adalah temannya dan sudah dianggap seperti adik sendiri. Apalagi hanya Dilsa yang tulus berteman dengan Rein.


Tok tok tok tok


Dilsa bangkit dan membuka pintu. Yang lain masih menunggu. Meski rumah itu cukup kecil, tapi disana lengkap dengan fasilitas seperti kursi yang berada diruang tamu.


"Tuan Sean".


"Dil". Sean tersenyum "Panggil Kakak saja. Ini Kakak bawakan makanan untukmu dan Ibu". Sean menyerahkan kantong ditangannya.


"Terima kasih Kak".


"Ayo masuk Kak".


Sean masuk bersama Dilsa. Kali ini dia tidak membawa assisten nya karena Willy sedang fokus mengurus perusahaan. Sejak kejadian itu Sean memang meliburkan diri dan semuanya diurus oleh sang asisten.


"Rein. Echy. Tuan regan". Sapa Sean


"Kak Sean". Echy dan Rein menyapa bersamaan. Sedangkan Regan menampilkan wajah dinginnya. Tangan nya melingkar dipinggang Echy.


Sean melirik kearah Echy. Sudah lama tidak bertemu wanita itu. Terakhir bertemu waktu resepsi pernikahan Regan dan Echy.


"Apa kabar Chy?". Sean tersenyum hangat.

__ADS_1


"Sehat Kak". Balas Echy "Cie ciee yang sebentar lagi jadi Ayah. Selamat yaaa Kak". Goda Echy.


Sean terkekeh pelan. Dia melirik Regan yang tampak kesal. Pasti pria itu cemburu.


"Masih berjuang Chy. Doakan saja semoga dia mau menerima ku". Kali ini wajah Sean berubah menjadi sendu


Echy mengangguk. Lalu mereka larut dalam obrolan singkat. Banyak yang diceritakan Dilsa tentang Deska. Kakak nya itu memang pendiam dan tidak banyak bicara. Setelah kehilangan Ayah nya, Deska selalu menutup diri terhadap dunia luar dan tidak mau bergaul dengan sembarangan orang.


"Dil, boleh tidak Kakak menemui Kakak ku?". Pinta Echy.


"Sayang tidak boleh". Cegah Regan dengan tegas.


"Kak_".


"Bagaimana kalau dia menyakiti mu dan calon bayi kita?". Regan benar-benar takut jika wanita yang fisiolog nya terganggu itu akan menyakiti istrinya.


"Kakak". Echy menggeleng. Suaminya suka sekali berprasangka buruk pada seseorang "Kau ini Kak tidak boleh suhuzon dengan orang lain. Kami sama-sama perempuan, siapa tahu kami bisa saling berbagi. Lagian aku tidak sendiri, nanti aku bersama Dilsa saja menemui nya". Ujar Echy kesal.


"Tapi sayang_".


"Biarkan saja Kak. Tidak ada salah nya Kak Echy berbicara dengan Kak Deska. Siapa tahu dia mau cerita". Ujar Rein menimpali.


"Baiklah". Regan mengalah "Tapi jika ada apa-apa, langsung panggil aku yaaa. Ingat jangan terlalu dekat dengannya. Kau paham sayangku?". Regan mencubit hidung Echy dengan gemes.


"Kakak ihhhhhh". Protes wanita hamil itu kesal


Regan tertawa pelan. Suka sekali melihat wajah istrinya yang tersipu malu itu. Menggemaskan.


Rein dan Ben hanya memutar bola matanya malas. Regan dan Echy merasa dunia milik berdua dan lupa bahwa ada orang lain disana.


Jujur Sean iri, betapa beruntung nya Regan memiliki Echy. Wanita cantik dengan sejuta pesona. Baik. Dan juga menggemaskan. Sean juga tahu perjuangan Regan mendapatkan cinta Echy. Rasanya Sean juga ingin berhasil mendapatkan hati Deska. Agar dia merasakan kebahagiaan sama seperti Regan dan Echy.


Echy dan Dilsa masuk kedalam kamar Deska. Sementara Lisa sudah tidur duluan. Karena ini hampir menjelang malam. Wanita paruh baya itu harus istirahat total.


Sedangkan Regan dan yang lain menunggu diruang tamu. Sambil berbincang-bincang versi laki-laki yang pastinya bukan bergosip karena laki-laki itu jarang terlibat dalam pergosipan.


"Kak".


Dilsa masuk melihat Deska yang meringguk diranjang mereka dengan tatapan kosong, seperti manekin saja.

__ADS_1


Echy mengekor dari belakang. Kamar ini sangat kecil dan juga sempit. Tapi terlihat rapih dan terawat.


Deska menoleh. Tatapan wanita itu begitu rapuh, seolah tidak ada tanda kehidupan disana.


"Kak". Dilsa duduk dibibir ranjang diikuti oleh Echy "Kakak baik-baik saja?". Hati Dilsa sungguh tergores melihat Kakak nya ini.


Deska malah bersandar seolah tak mendengar ucapan Dilsa. Dia selalu begitu diajak bicara saja tidak mau. Padahal Ibu hamil tidak boleh stress dan harus menjaga kesehatan. Tapi Deska makan saja sehari sekali, itu pun kadang tidak mau dan dia hanya melamun kadang-kadang mengamuk.


"Dil, biar Kakak yang bicara". Bisik Echy.


"Iya Kak". Dilsa memberi ruang pada Echy agar wanita itu berbicara dengan Kakak nya.


Deska melirik Echy. Dia pernah melihat Echy di televisi. Karena ketika resepsi pernikahan Regan dan Echy disiarkan langsung oleh salah satu televisi swasta. Apalagi Echy menikah dengan pria yang banyak digilai oleh kaum hawa.


"Kak". Echy tersenyum lembut menatap Deska "Apa yang kau rasakan Kak?".


Namun Deska bergeming, dia malah menatap Echy dengan dalam. Tak ada niat untuk menjawab pertanyaan wanita cantik itu.


"Kita sama-sama hamil Kak". Echy terkekeh. Namun Deska masih diam "Kau tahu tidak Kak bagaimana bahagia nya menjadi seorang Ibu? Sangat-sangat bahagia Kak aku saja tidak sabar menanti kehadiran nya". Deska masih terdiam.


"Kakak itu cantik sekali lho, apalagi jika bersanding dengan Kak Sean".


"Jangan sebut nama dia lagi". Bentak Deska memberontak.


Echy hampir jantungan. Untung saja jantung nya ini buatan Tuhan, kalau buatan Jerman sudah pasti langsung terlepas.


Begitu juga dengan Dilsa. Gadis itu sampai berjingkrak hampir terjungkal kedepan mendengar teriakkan Deska yang menggema.


"Kak". Echy langsung mencegah Dilsa agar tidak marah balik.


Echy malah tersenyum lembut. Dia menatap wajah rapuh Deska. Wanita ini sebenarnya sangat cantik. Tapi karena tak terurus terlihat seperti wanita gila.


"Kenapa kau marah Kak?". Echy menatap nya dengan tatapan lembut.


"Aku benci padanya. Dia menghancurkan mimpiku. Dan aku tidak mau bayi ini ada disini". Sambil memukul-mukul perutnya.


"Stoppp Kak". Echy langsung mencengkram tangan Deska.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2