
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hari ini Regan kembali membawa Echy ke rumah sakit untuk melakukan beberapa treatment.
"Dok bagaimana kondisi istri saya?". Regan menggenggam tangan istrinya berusaha menyalurkan kekuatan pada wanita itu.
"Kondisi istri anda sudah lebih baik. Hanya saja kita akan tetap melakukan beberapa pengobatan untuk memastikan apakah sel kanker itu sudah mati". Jelas Dokter.
"Dok apakah saya boleh hamil?". Tanya Echy was-was. Dia ingin tahu tentang hal ini.
Dokter itu tersenyum. Setiap kali Konsul Echy selalu menanyakan hal itu.
"Bisa Nona. Tapi tetap ada resiko nya". Sahut sang Dokter "Saya manusia biasa yang hanya bisa mengatakan apa yang saya tahu. Tapi diatas semuanya Tuhan memiliki banyak rencana". Tutur Dokter itu dengan senyum.
Echy berkaca-kaca. Tuhan dia benar-benar ingin menjadi seorang Ibu. Dia harus ikut program hamil. Harus.
"Kak". Echy menggenggam tangan suaminya lebih erat "Aku bisa hamil. Aku bisa Kak. Kita akan bahagia".
Tidak tahukah Echy bahwa semua memiliki resiko. Regan takut hal ini justru membuatnya kehilangan istrinya. Tapi dia tidak bisa membunuh impian Echy. Dia tidak bisa membuat istrinya bersedih.
"Iya sayang". Semoga semua baik-baik saja. Echy tetap bertahan dengannya.
"Saya akan resepkan beberapa obat khusus untuk Nona Echy. Ada obat antibiotik dan anti nyeri. Boleh diminum saat merasakan sakit". Jelas dokter "Nona Echy, ketika anda hamil anda tidak boleh mengkonsumsi obat karena itu akan berpengaruh pada janin anda. Ada beberapa alternatif untuk Ibu hamil hanya ini sedikit sakit dan mungkin akan sangat sakit. Saya sarankan anda untuk menjalani pengobatan itu". Tutur sang dokter.
"Iya Dok saya siap. Saya siap melakukan pengobatan apapun. Asal saya bisa hamil". Ucap Echy mantap dan yakin.
Regan menatap istrinya dengan dalam. Ada rasa tidak ikhlas. Jika Echy tidak bisa minum obat, itu akan membuat tubuhnya semakin lemah. Saat-saat itu akan membuat Regan kembali terpuruk. Namun, dia harus tetap berjuang demi kesembuhan Echy.
__ADS_1
Setelah dari rumah sakit. Echy meminta Regan membawanya ke pantai. Wanita itu benar-benar terlihat sehat dan kuat. Tidak seperti kemarin yang kondisinya sangat lemah.
"Senang?".
Echy mengangguk "Kak, kira-kira Kakak ingin punya anak berapa? Laki-laki atau perempuan?". Seru Echy sambil menatap laut yang bergelombang.
"Harus laki-laki biar dia tampan seperti ku dan jadi seorang pemimpin". Ujar Regan.
"Ck, tidak bisa seperti itu Kak. Harus perempuan biar seperti aku dan Rein". Protes Echy.
"Dimana-mana laki-laki yang harus tua sayang. Biar dia bisa menjadi pemimpin untuk adik-adik nya". Regan tak mau kalah.
"Perempuan juga bisa jadi pemimpin Kak. Contohnya aku bisa gantiin Kakak jadi CEO. Malah harusnya perempuan yang tua". Sergah Echy menyeringai dengan senyuman tipisnya.
"Tetap tidak bisa sayang. Harus laki-laki yang duluan". Ucap Regan penuh penekanan.
Akhirnya mereka berdua berdebat masalah jenis kelamin anak. Regan ingin laki-laki. Sementara Echy ingin perempuan biar terlihat manis seperti dia dan Rein.
Dilsa memasukan beberapa barang Ibunya. Hari ini wanita itu sudah diperbolehkan pulang.
"Mau menunggu Kak Deska? Atau pulang duluan, Dil?". Ujar Rein memperhatikan gadis itu.
"Pulang duluan saja Kak biar Ibu bisa istirahat. Kak Deska kadang pulang malam". Jawab gadis itu sambil menutup tasnya
"Ya sudah Kakak antar yaaa. Kebetulan Kakak bawa mobil". Tawar Rein
"Apa tidak terlalu merepotkan Kak?". Dilsa benar-benar tak nyaman. Rein terlalu banyak membantunya
__ADS_1
"Tidak perlu sungkan Dil". Sahut Rein.
"Nak Rein terima kasih yaa sudah banyak membantu Ibu". Lisa tersenyum simpul pada pria berkacamata tebal itu.
"Sama-sama Bu. Rein senang bisa membantu. Semoga cepat sembuh Bu". Balas Rein.
"Terima kasih Nak Rein".
Rein merasakan hangat ketika melihat senyum Lisa. Dia merindukan Ibunya yang sudah lama berpulang kepada sang pencipta. Andai saja sang Ibu masih ada pasti akan seusia Lisa.
Rein sebenarnya adalah figure yang masih butuh kasih sayang orangtua. Dia dipaksa dewasa sebelum waktunya. Demi Echy. Hanya Echy yang Rein punya dan ada juga Dae yang menjadi alasan Rein untuk kuat.
Rein mendorong kursi roda Lisa keluar dari ruangan rawat inap. Sementara Dilsa menenteng tas milik Lisa yang berisi beberapa pakaian miliknya.
Rein menatap rumah sederhana Dilsa. Rumah ini hampir tidak layak untuk ditinggali. Sangat kecil untuk ukuran orang seperti nya.
"Ini rumahnya Dil?". Rein menatap sekeliling nya.
"Iya Kak. Ayo Kak masuk".
Mobil Rein tidak bisa masuk gang sempit itu. Jadi mobilnya terparkir di pinggir jalan.
Hati Rein sedikit terganggu melihat tempat tinggal Dilsa. Tempat yang begitu kecil sekali. Sempit dan pasti tidak nyaman tinggal didalamnya.
"Duduk dulu Kak. Aku mau antar Ibu ke kamar". Ucap Dilsa.
"Iya Dil". Sahut pria itu tersenyum.
__ADS_1
Rein duduk dikursi tua berbahan kayu itu. Hampir reot untuk menampung tubuh tingginya.
Bersambung...