Perjuangan Cinta CEO

Perjuangan Cinta CEO
Sahabat


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Selama Echy dirawat. Kelly tak pernah meninggalkan sahabat nya itu. Dia ikut menginap dirumah sakit. Bahkan rela meninggalkan pekerjaan kantor dan juga orangtuanya. Untuk memastikan apakah Echy baik-baik saja.


Kelly sedikit trauma gara-gara membiarkan Echy bertemu Regan, membuat sahabatnya itu drop total. Andai saja dia tidak meminta Echy berbicara dengan Regan pastilah Echy tidak ada drop seperti itu.


"Makan dulu".


"Suapi". Renggek Echy manja.


"Ck, kau ini manja sekali". Cibir Kelly tapi tersenyum simpul.


Echy hanya menampilkan rentetan gigi putihnya. Lalu menerima suapan demi suapan dari sahabat nya itu.


Rein tengah mengurus surat kepulangan Echy. Hari ini gadis itu sudah boleh pulang setelah dirawat beberapa hari dirumah sakit.


"Kau tidak pulang Kel?". Tanya Echy


"Tidak. Aku akan menjagamu disini".


Echy terharu. Setidaknya setelah Rein, ada lagi yang begitu peduli padanya.


"Hiks rasanya aku ingin menangis tapi malu". Echy menyeka air matanya yang tidak jatuh sama sekali.


Kelly memutar bola matanya malas. Sahabatnya memang gadis somplak dan suka bikin kesal.


Rein masuk bersama perawat yang bertugas melepaskan selang infuse Echy.


"Kak". Senyum Rein.


"Apakah sudah boleh pulang Rein?". Rein mengangguk


"Permisi Nona saya akan melepaskan infus anda". Echy hanya mengangguk.


Sang perawat pun melepaskan selang infus Echy. Rein memantau, dia mengawasi perawat itu takut jika salah-salah. Kewaspadaan nya sebagai seorang adik terus siaga. Apalagi dia dokter yang tentu saja banyak tahu hal.


"Rein, Chy. Ayah dan Ibu meminta kalian untuk tinggal dirumah kami sementara. Aku takut Kak Regan kembali datang ke Apartement kalian". Ucap Kelly.


Rein tampak berpikir. Ada benarnya. Seperti nya Regan memang sudah tahu tempat tinggal Echy.


"Apa tidak merepotkan Kak?". Rein tak enak hati.


"Tidak sama sekali". Sahut Kelly "Bagaimana Chy?".


Echy justru menggeleng "Maaf Kel, bukan aku menolak. Tapi aku akan merasa nyaman dirumah sendiri. Pria itu tidak akan berani menyakiti ku. Ada Rein yang menjaga". Senyum Echy takut jika sahabat nya itu tersinggung.


Kelly menghela nafas panjang. Echy memang selalu menolak bantuan orang lain. Gadis itu selalu mandiri dan tidak mau merepotkan orang lain.


"Baiklah. Dan aku akan menginap di Apartement mu untuk menemanimu tidur". Sahut Kelly mengalah


"Terima kasih sahabat terbaikku". Echy memeluk Kelly. Rein tersenyum.

__ADS_1


"Sama-sama sayangku".


Segera Echy melepaskan pelukannya. Rasanya dia ingin muntah mendengar ucapan Kelly.


"Aku masih suka laki-laki Kel". Cibir Echy.


Kelly tertawa. Echy selalu kesal jika dipanggil sayang. Dan Kelly suka melihat wajah kesal sahabat nya.


"Ayo Kak". Rein memapah Echy turun dari ranjang. Gadis itu tampak lebih baik.


Rein sudah memesan taksi untuk mereka pulang. Meski tadi dia bertemu lagi dengan pria berbaju hitam yang mengatakan jika orang suruhan Zora. Tapi Rein tidak percaya. Rein tahu jika orang itu suruhan Regan.


.


.


.


.


Echy menyantap makanannya sendiri. Hari ini Kelly tidak masuk, dikarenakan ada acara keluarga dan harus ikut bersama kedua orangtuanya ke Bandung


Sambil makan dan melakukan video call dengan sahabatnya. Echy tertawa seperti orang gila.


"Ck, kau makan seperti orang sesat saja". Singgung Kelly diseberang sana sambil menggeleng "Ingat ya Chy, jangan makan yang pedas-pedas. Yang dingin-dingin". Ucap gadis itu memperingati


"Kenapa tidak usah makan sekalian?". Ketus Echy kesal "Kau itu sama saja seperti Rein". Cibir Echy kesal.


"Ck, aku sudah sehat". Kilah Echy


Kelly menggeleng gemes "Ya sudah lanjut saja makannya jangan lupa minum obat yaa. Tunggu Rein nanti pulang". Kelly sudah seperti seorang Ibu yang mengomeli putrinya.


"Iya iya bawel".


Echy mematikan sambungan nya dan fokus makan. Selain Kelly dia memang tidak punya sahabat lagi. Bukan tak ada yang ingin berteman dengannya. Echy menutup diri. Bagi Echy dia tidak butuh banyak teman. Cukup satu teman tapi yang selalu ada untuknya seperti Kelly.


"Boleh bergabung. Semua meja sudah penuh".


Echy mengangkat pandangan nya. Dia melihat seorang pria yang tengah tersenyum manis kepadanya. Pria itu cukup tampan.


"Ohh silahkan Tuan". Sahut Echy "Maaf kecil". Ucap Echy tak enak hati karena meja itu sebagian penuh dengan makanan pesanan nya.


"Its oke". Pria itu duduk disamping Echy. Dia tersenyum simpul melihat cara gadis itu makan


"Sendiri?". Tanyanya meletakkan ponsel dan kunci mobilnya diatas meja.


Echy menggeleng "Berdua dengan Tuan". Sahut Echy polos.


Pria itu terkekeh. Gadis ini ternyata menyenangkan. Imut dan juga menggemaskan.


"Tuan tidak pesan?".

__ADS_1


"Sebentar lagi makanan nya datang. Kau mau menambah?". Sekedar basa-basi.


"Jika ditraktir aku tidak akan menolak". Sahut Echy. Dia jago makan tentu saja tidak akan menolak.


"Tentu. Kau mau makan seberapa banyak pun aku bisa membayarnya". Sahut pria itu setengah sombong.


"Baiklah karena anda kaya". Ujar Echy.


Pesanan pria itu datang. Dia hanya memesan satu menu makanan saja. Berbeda dengan Echy yang makan sendiri tapi seperti berlima.


"Apakah cukup?". Kening Echy berkerut heran hanya melihat sepotong daging dipiring pria itu.


"Aku tidak seperti mu yang rakus". Cibir pria itu.


Echy mencebik kesal "Kau tidak tahu saja Tuan jika makan adalah salah satu cara untuk membudidayakan karya orang lain". Ketus Echy.


"Ya ya itu hanya alasan mu saja kan?". Pria itu tertawa melihat wajah kesal Echy.


Echy menyuap makanan nya dengan kesal. Dia menatap pria didepannya dengan tajam. Padahal tidak kenal, tapi kenapa Echy bisa akrab? Biasanya dia selalu menjaga jarak pada orang lain apalagi pria seperti yang ada didepannya ini.


Sudut bibir pria itu tertarik. Dia melipat kedua tangannya didada, dan menatap Echy yang makan dengan lahap.


Gadis ini apa adanya. Tidak menjaga image sama sekali. Padahal sedang berhadapan dengan pria. Dan Echy sama sekali tidak terpesona dengan ketampanan pria itu.


"Ahhh kenyang nya". Echy mengelus perutnya yang setengah membuncit.


Pria itu menggeleng gemes.


"Kita belum berkenalan. Aku Dae". Pria itu mengulurkan tangannya kearah Echy


"Echy". Tanpa menerima uluran tangan Echy.


Dae tersenyum simpul. Sumpah demi Tuhan gadis ini sangat menarik. Terlihat judes tapi menyenangkan.


"Apa kau alergi bersentuhan dengan seorang pria?". Sindir Dae


"Yup kau benar, aku alergi pria". Echy meluruskan saja.


Dae malah terkekeh "Apa boleh aku meminta ponselmu?". Dae menyedorkan ponselnya agar Echy memasukkan nomor ponselnya diponsel Dae.


"Ck, kau ini kaya Tuan. Ya beli sendiri. Aku tidak menjual nomor ponselku. Lagian juga hanya ada satu. Jika aku berikan padamu, nanti nomor ponselku apa". Celetuk Echy.


Dae tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Echy. Demi Tuhan gadis itu masuk dalam kriteria nya. Gadis unik dan yang pasti berhasil membuatnya tertawa.


**Bersambung....


Gawat Dae bertemu Echy. Apa yang akan dia lakukan???


Yuk simak kisah mereka. Jangan lupa tanda cinta buat Author yaaa..


Gbu**.

__ADS_1


__ADS_2