Perjuangan Cinta CEO

Perjuangan Cinta CEO
Memantau


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Rein menyuapi Echy dengan sabar dan telaten. Senyumnya mengembang. Dia bahagia bisa mengurus Kakaknya ini. Rein berjanji akan membuat Echy sembuh.


"Kenyang?".


Echy mengangguk "Kenyang sekali Rein. Ternyata kalau perut kenyang itu kata jadi mengantuk ya?". Echy menguap beberapa kali


Rein terkekeh gemes. Ini yang menjadi kelebihan Echy, meski dia rapuh dan terpuruk tapi selalu bisa menyembunyikan kepatahhatian nya. Dia selalu menampilkan senyum baik-baik saja. Walau sebenarnya itu adalah topeng untuk menutupi jati dirinya


"Ya sudah Kakak istirahat saja ya". Ucap Rein "Rein tidak kemana-mana". Senyum Rein menaikkan selimut Echy.


"Kapan Kakak pulang Rein?". Tanya Echy sendu "Disini membosankan. Kakak rindu Kelly". Ujarnya sendu.


"Sabar Kak. Kakak belum melakukan pemeriksaan selanjutnya". Sahut Rein sambil tersenyum manis.


"Baiklah".


Rumah sakit adalah tempat yang begitu Echy benci. Rasanya dia seperti orang sekarat saja. Selain membosankan rumah sakit juga penuh dengan obat-obatan yang menyengat hidung.


Tanpa Rein dan Echy sadari ada yang memantau mereka melalui rekaman CCTV yang sengaja dipasang diruangan itu.


Dia adalah Regan. Pria itu hanya bisa memantau gadis yang dia cintai melalui rekaman CCTV. Dia belum bisa merengkuh tubuh gadis itu. Dia belum bisa memeluk gadis itu. Gadis itu masih membenci nya dia harus lebih ekstra lagi berjuang untuk mendapatkan maaf dari gadis itu.


"Senyummu itu selalu membuatku kuat sayang. Maaf pernah pergi. Maaf pernah meninggalkan mu. Maaf untuk segala sesuatu nya. Aku berjanji tidak akan pergi lagi. Aku berjanji akan menjagamu. Aku akan membantumu melewati semua ini dan melawan penyakit yang bersarang ditubuhmu". Dia mengusap layar laptopnya "Kau terlihat cantik jika tersenyum seperti itu sayang". Ujarnya lagi.


Regan mungkin egois setelah menyakiti dan meninggalkan dan dia ingin kembali memperjuangkan cinta yang dulu sempat dia tinggalkan.


Regan hanya ingin menebus semua kesalahannya. Dia selalu berharap diberikan kesempatan lagi untuk bersama gadis itu.


Apakah setiap orang bersalah tidak memiliki kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya?


Regan hanya bisa melihat Echy dari jauh. Tidak bisa menggapai gadis itu. Tidak bisa merengkuh tubuh lemah gadis itu. Tidak bisa menyemangati gadis itu. Ingin rasanya Regan berlari memeluk Echy. Dan mengatakan kata maaf berulang kali. Semoga dia diberikan satu kesempatan untuk boleh bersama Echy lagi.


Meski mereka dijodohkan.Tapi Regan sungguh jatuh cinta pada Echy. Jatuh cinta pada pandangan pertama nya. Jatuh cinta pada wanita pertama dalam hidupnya. Namun karena satu dan lain hal mengubah segalanya. Cinta yang dulu dia dapatkan dari gadis itu berubah menjadi benci.


Regan memahami perasaan Echy. Wajah jika gadis itu membenci nya. Regan adalah penyebab penderitaan Echy. Regan adalah orang yang sudah membaut Echy kehilangan segalanya. Tapi Regan ingin memperbaiki segalanya.


"Maaf. Membuatmu kehilangan segalanya. Maaf sudah membuatmu patah begitu dalam. Aku menyesal sayang. Tapi aku juga tidak bisa menjelaskan kenapa aku pergi?". Pria itu terisak lagi.


Sejak kembali ke Indonesia. Dia begitu cenggeng. Padahal harapannya datang ke Indonesia adalah untuk menyembuhkan luka yang membelut hatinya. Namun nyatanya dia harus dihadapkan dengan sebuah kenyataan pahit. Bahwa gadis yang dia cintai menderita penyakit tak biasa.


Sejak kepergian nya, Regan selalu memantau Echy dengan pengawal bayangan. Sehingga dia tahu apa saja yang sudah dilewati gadisnya itu. Regan tak heran jika Echy begitu membencinya. Tapi bolehkah, dia diberikan satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan membahagiakan gadis itu?

__ADS_1


.


.


.


.


Rein mendorong kursi roda Echy. Setelah melakukan beberapa persiapan. Hari ini Zora akan melakukan pemeriksaan dibagian sumsum belakang Echy.


"Rein sakit tidak yaaa?". Dari tadi Echy terus bertanya sakit dan tidaknya. Rein sampai bosan menjawab pertanyaan Kakak nya itu.


"Jelas sakitkah Kak. Namanya juga disuntik". Rein geleng-geleng kepala.


Sampai disebuah ruangan yang diyakini disana adalah tempat Echy untuk memeriksa penyakit nya.


Disana sudah ada Zora dan beberapa dokter spesialis lainnya.


"Selamat siang Nona Echy. Apakah sudah siap?". Sapa Zora tersenyum ramah


"Sebenarnya tidak siap Dokter. Tapi ya bagaimana lagi? Adikku yang calon dokter itu terus memaksa". Celetuk Echy.


Mereka terkekeh mendengar Omelan gadis itu. Apalagi wajah Echy yang tampak kesal. Terlihat lebih cantik dan menggemaskan.


"Aku digendong adikku saja Dok". Echy mengulurkan tangannya pada Rein agar pria itu menggendong dan memindahkan nya ke brangkar.


"Ck, Kak kau ini manja sekali". Gerutu Rein tapi tetap memalukan perintah Kakak nya "Kau ini makan apa sih Kak, kenapa berat sekali?". Keluh Rein memindahkan Echy.


"Makan batako". Ketus Echy.


Zora tersenyum gemes mendengar perdebatan Kakak beradik itu. Terlihat keduanya saling menyanyangi. Seperti nya juga Echy adalah gadis yang menyenangkan.


Echy berbaring menyamping. Gadis itu mengigit bibir bawahnya.


Sebuah kain dipasang dibelakang tubuh gadis itu. Beberapa jarum suntik dikeluarkan oleh Zora.


"Dok, kira-kira sakit tidak yaaa? Apa dikasih bius saja Dok". Echy bergidik ngeri menatap jarum suntik.


"Pasti sakit Nona". Jawab Zora jujur "Tapi tenang saja ini tidak lama". Imbuhnya.


Rein memeluk Kakaknya membenamkan wajah gadis itu didada bidangnya.


"Saya akan suntikkan ya Nona".

__ADS_1


Echy hanya mengangguk. Tangannya memeluk adiknya.


Zora memasukkan jarum suntik itu ke tulang sumsum Echy untuk mengambil sampel darah gadis itu


Echy meringgis sakit. Ini benar-benar sakit. Seperti seakan ingin menghentikan tubuhnya bekerja.


Tanpa terasa air mata Echy menetes. Dia memang tidak tahan sakit. Luka sedikit saja gadis itu bisa menangis berjam-jam.


Terbiasa hidup manja dan jarang sekali merasakan sakit membuat nya menjadi cenggeng.


Rein tak bisa bayangkan bagaimana sakitnya jika tulang sumsum belakang ditusuk dan diambil darahnya. Sebagai mahasiswa kedokteran tentu dia tahu seberapa sakit saat jarum itu masuk kesana.


Zora menyedot pelan darah Echy melalui jarum suntik itu. Darah ini nanti akan menjadi sample dianogsa penyakit Echy. Kanker Getah Bening hanya prediksi saja karena belum melakukan pemeriksaan lanjut.


"Sudah Nona".


"Bagaimana rasanya Kak? Apakah sakit?". Rein membantu Echy bangun.


"Tidak. Rasanya seperti digigit semut"'. Ketus Echy kesal. Sudah tahu sakit, kenapa masih bertanya?


Rein terkekeh lalu menggendong Kakaknya kembali duduk dikursi roda. Sebenarnya Echy bisa berjalan tapi Rein tidak membiarkan Kakaknya berjalan dia takut jika Echy tiba-tiba pingsan dan jatuh dilantai.


"Satu Minggu lagi hasilnya akan keluar". Ucap Zora. Dia beralih pada Echy "Nona Echy, anda harus istirahat yang cukup. Makan teratur dan tidak boleh melakukan aktivitas berat. Bila perlu setiap hari anda makan makanan yang tidak mengandung kalori berlebihan". Ucap Zora.


"Tenang saja Dok. Saya akan menjaga pola makan. Kecuali lupa". Echy langsung cenggegesan sambil mengaruk tengguknya.


Rein memutar bola matanya malas. Jika berbicara tentang makanan Kakak nya ini nomor satu. Makan tak beraturan. Kalau tidak ditegur akan makan apa saja, asal bisa masuk perut.


**Bersambung...


Hai hi guyssss...


Makasih banyak yaaa udah ikutin cerita Echy sama Regan. Mon maaf author jarang update banyak dikarenakan author lagi kurang enak badan. Jadi tetap dukung author yaaa...


Yang penasaran masa lalu Regan dan Echy jangan lupa cerita ini masukkin dalam kontak favorit kalian....


Buat yang mau bergabung digroup sile2 nanti author konfirmasi.


Plus ada hadiah uang tunai diakhir episode... Bagi yang beruntung akan mendapatkannya wkwkwkw...


Tetap setia disini ..


God blessssed...❤️😀🌹**

__ADS_1


__ADS_2