
Happy Reading 🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Deska meletakkan alat pel nya. Gadis itu menyeka keringat yang menempel didahinya. Lulusan SMA seperti nya memang hanya bisa bekerja sebagai cleaning service saja.
"Kemana lagi aku cari uang untuk biaya rumah sakit Ibu? Tidak mungkin terus mengandalkan Rein. Uang yang dibayarkan untuk Ibu saja belum aku bayar". Desah gadis itu.
"Ayah". Gumamnya pelan.
Deska, gadis berusia 27 tahun ini pekerja keras. Harus menjadi tulang punggung keluarga dan membiayai kehidupan nya dengan Ibu dan adiknya. Untung saja Dilsa gadis yang pintar sehingga dia dapat beasiswa kuliah gratis, tapi biaya praktek harus dibayar sendiri.
Sejak Ayahnya pergi meninggalkan dunia ini. Segala beban seolah tersangkut dipundaknya. Apalagi Ibu nya yang sakit-sakitan membuat gadis itu harus bekerja keras.
Deska juga harus mengesampingkan semua impiannya. Agar Ibu dan adiknya merasa nyaman dan aman bersama nya.
"Deska".
Gadis itu menoleh "Nona Melda?". Deska tersenyum ramah sambil membungkuk hormat "Ada yang bisa saya bantu Nona?". Ujar Deska.
"Tolong buatkan Tuan Sean kopi. Ingat banyakin kopinya dan gulanya sedikit, tidak boleh manis yaa. Kau tahu sendiri kan Boss kita itu pemarah? Kau salah sedikit bisa dipecat". Jelas Melda sedikit mengancam supaya Deska tidak melakukan kesalahan.
"Iya Nona". Sahut Deska. Dia sedikit gugup karena dia pernah menabrak atasan nya itu dan berakhir dia sendiri dimarahi.
"Antarkan ke ruangan nya". Ucap Melda lagi.
"Iya Nona".
Deska membuat kopi untuk Sean. Meski baru bertemu sekali dengan Sean. Tapi dia bisa lihat jika pria itu memang sanggar dan pemarah.
"Aku tidak boleh melakukan kesalahan".
Deska menghela nafas nya panjang dan membawa nampan yang berisi secangkir kopi buatan nya.
Cerita Sean hanya Deska dengar lewat cerita para karyawan dikantor.
"Tok tok tok tok".
"Masuk".
"Permisi Tuan. Ini kopi anda".
"Ehem". Sean hanya berdehem dan masih fokus dengan berkas ditangannya.
Deska membawa nampannya masuk dan meletakkan cangkir berisi kopi itu keatas meja Sean.
Sean langsung menyeruput isi cangkir itu. Dia tertegun merasakan kopi itu.
__ADS_1
"Kenapa mirip dengan kopi buatan Echy?". Batin pria itu.
"Kau yang buat?". Dia menatap Deska dengan dingin.
"I-iya Tuan. Ke-kenapa?". Deska gugup bukan karena ge-er tapi karena takut dengan tatapan mematikan Sean.
"Kau boleh keluar". Usirnya.
"Baik Tuan, saya permisi".
Sean menatap punggung Deska yang menghilang dibalik pintu. Sean cukup kagum merasakan kopi buatan Deska karena sangat mirip dengan kopi buatan Echy.
Deska menghela nafas panjang. Rasanya jantungnya ingin terlepas dari tempatnya saat berhadapan dengan Sean. Benar-benar dingin dan juga menyeramkan. Deska akui jika Sean tampan tapi setampan apapun jika wajah sanggar sama sekali tidak menarik
"Aku beres-beres dulu sebelum kerumah sakit".
Gadis cantik itu kembali ke pantry untuk menyimpan nampannya.
Deska kadang bergantian dengan Dilsa untuk menjaga sang Ibu. Kedua gadis yang dipaksa dewasa tanpa Ayah itu tampak sudah biasa dengan rutinitas mereka.
Hari sudah menunjukkan pukul enam sore. Deska memang pulang selalu malam, karena dia harus membersihkan semua ruangan. Besok dia akan datang siang jadi anggap saja pekerjaan itu untuk menampung besok pagi.
Gadis itu berjalan pelan sambil memijit tangannya. Badannya pegal-pegal dan benar-benar lelah, mencuci puluhan toilet dan membersihkan ruangan serta menggelap kaca-kaca kantor benar-benar menguras tenaga.
Deska menekan tombol lift agar terbuka. Suasana kantor sudah sepi hanya ada beberapa satpam yang berjaga.
"Sore Tuan". Sapanya hormat dan masuk kedalam lift.
Sean hanya diam tanpa ekspresi tanpa ada niat untuk menjawab sapaan Deska.
Tiba-tiba lift berhenti dan sedikit bergoncang.
"Astaga". Deska memejamkan matanya takut tanpa sadar di berpegang pada ujung jas Sean.
"Ada apa ini?". Sean menekan-nekan tombol lift itu "Sial rusak lagi". Umpat pria itu kasar.
Sementara Deska memejamkan matanya takut sambil berpegangan pada ujung jas Sean. Dengan mulut komat-kamit sambil membaca doa dalam hati.
"Kenapa bisa rusak sihh?". Gerutu pria itu "Bagaimana ini?". Gumam Sean. Lalu mata Sean tertuju pada Deska yang berpegangan pada ujung jas nya.
"Kau takut?". Deska hanya mengangguk tanpa membuka matanya "Tenanglah".
Sean mengambil ponselnya dan langsung menghubungi satpam agar segera memperbaiki lift yang rusak dan mengatakan bahwa dia sedang berada didalam lift.
Sementara Willy asisten Sean sedang melakukan perjalanan bisnis ke Jepang. Sebenarnya itu tugas Sean, tapi dia selalu malas jika berhubungan dengan luar negeri dan selalu meminta Willy untuk menyelesaikan pekerjaan nya.
__ADS_1
Sean bersandar di dinding lift
"Apakah masih lama Tuan?". Tanya Deska dia memberanikan diri membuka matanya. Wajahnya pucat Pasih.
"Tunggu saja".
Deska melepaskan pegangan tangannya. Jantungnya berdebar-debar. Hal ini mengingatkan nya pada sang Ayah yang meninggal didalam lift karena kehabisan oksigen. Itulah yang membuat Deska sedikit trauma dengan lift.
Sean melihat wajah pucat Deska. Dalam hati bertanya-tanya, apakah gadis ini sakit?
"Kau baik-baik saja?". Tanyanya.
"Saya baik-baik saja Tuan". Deska bergeser sedikit jauh dari Sean sambil menahan takut dengan memeluk lengannya.
"Kau terlihat tidak baik-baik saja? Apa kau sakit?". Sean sedikit simpatik melihat wajah pucat Deska.
Gadis itu mengangguk "Saya baik-baik saja Tuan". Sahutnya memaksakan senyum.
Sudah lama tidak ada yang bertanya, apa kau baik-baik saja? Jika boleh jujur Deska tak pernah baik-baik saja. Berjuang tanpa Ayah tak semudah yang dia bayangkan. Dia harus menghabiskan masa muda nya untuk menjadi tulang punggung keluarga.
Sudah lama tak ada yang menanyakan kalimat itu. Dia sendiri tanpa ada teman untuk berbagi. Menceritakan keluh kesahnya kepada Ibu dan adiknya dia takut akan menambah beban, lebih baik dia tanggung sendiri.
"Kau tak baik-baik saja". Sean membuka jasnya "Pakailah". Dia memasangkan jas itu ke tubuh Deska.
"Tapi Tuan_". Deska hendak menolak.
"Pakailah, kau seperti nya kedinginan". Ujar Sean dingin.
Deska hanya mengangguk, dia memang kedinginan. Suhu didalam lift ini entah berapa derajat kenapa sangat dingin?
"Astaga, kenapa lama sekali?". Gerutu Sean.
Dia kembali meronggoh ponselnya dan memarahi orang-orang bertugas yang begitu lama.
"Bisakah kalian bekerja cepat sedikit. Kalian mau membunuhku didalam lift ini?". Pekiknya langsung mematikan ponselnya.
Pandangan Deska mulai kabur. Bibir nya pucat dan kering. Tubuhnya sangat dingin. Dia memang kelelahan tadi.
Brakkkkkkkkkkk
Gadis itu langsung tersungkur dilantai. Hingga kepalanya membentur lantai. Tepat jatuh didepan Sean.
"Astaga". Pekik Sean.
"Hei bangun, hei bangun". Sean menepuk-nepuk pipi Deska berulang kali "Badannya panas seperti nya dia demam". Ujar Sean
__ADS_1
Sean mengangkat tubuh Deska. Dia memeluk gadis itu seperti anak kecil. Berusaha menghangatkan tubuh Deska karena seperti nya gadis ini benar-benar kedinginan. Sean akui suhu didalam lift ini memang. Jika sampai besok pagi dia didalam lift ini dipastikan besok pagi dia sudah tinggal dipemakaman.
Bersambung.....