
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Kak bagaimana dengan Kelly dan Rein? Mereka pulang naik apa?". Echy menoleh kebelakang.
"Tenang saja. Mereka ada dibelakang kita". Sahut Regan tersenyum simpul.
Echy menatap Interior mobil mewah Regan. Meski sudah sering menaiki mobil semewah ini. Tapi tetap saja dia sedikit kampungan. Karena naik mobil mewah ini tentu nyaman.
"Kenapa?". Regan menatap Echy yang tampak celingak-celinguk.
"Berapa harga mobil Kakak ini? Pasti mahal. Kalau aku butuh waktu seumur hidup kerja baru bisa dapat mobil sebagus ini". Celetuk Echy. Matanya menatap kagum mobil mewah itu.
"Tidak mahal". Sahut Regan sombong dengan senyuman jahil menatap gadis itu.
"Cih, sombong sekali anda Tuan". Cibir Echy
"Tentu. Karena harta paling mahal itu adalah dirimu". Ucap Regan serius
Echy baru tersadar dan dia masih didalam pelukkan Regan. Sonfak gadis itu melepaskan dirinya dari tubuh pria itu. Echy menggeser duduknya, disampingnya memang masih banyak ruang kosong
"Jangan ambil kesempatan dalam kesimpulan Tuan ehh salah kesempitan maksudnya". Echy menepuk mulutnya yang salah bicara
Regan terkekeh pelan. Jadi dari tadi Echy tidak menyadari bahwa Regan memeluknya karena saking sibuknya menganggumi interior mobil mewah Regan.
"Jangan menjauh sayang. Kau itu belum pulih". Ucap Regan tanpa peduli dengan wajah masam Echy.
"Jangan pegang-pegang. Belum mukrim nya". Ketus Echy menepis tangan Regan
Bukannya tersinggung pria itu malah terkekeh gemes sambil menggeleng dengan senyuman. Menggoda Echy rasanya begitu menyenangkan
"Mau dihalalin? Ayo ke pelaminan". Regan tersenyum menggoda.
Echy memutar bola matanya malas. Dia menatap keluar jendela, menyembunyikan wajahnya yang sudah merah akibat ulah Regan yang suka sekali menggoda nya.
Sampai diapartement Echy. Ben turun duluan menbuka pintu untuk Tuan dan Nona-nya.
"Kak aku bisa sendiri". Cegah Echy saat Regan ingin menggendong nya
"Jangan membantah sayang. Kau itu masih sakit". Sergah Regan tak mau tahu
__ADS_1
Dia menggendong gadis itu ala bridal style. Sementara Echy terus mengomel kesal. Dia tidak suka digendong tapi Regan terus memaksa.
"Berhenti mengomel sayang. Jangan sampai kau kelelahan karena kebanyakan mengomel". Regan terkekeh
Ben membuka pintu apartement Echy membuat gadis itu heran dari mana Ben tahu kata sandi nya
"Lho Kak Ben tahu kata sandi apartement aku? Kok bisa?". Tanpa sadar Echy melingkarkan tangan munggilnya dileher Regan
"Iya Nona". Sahut Ben tersenyum simpul.
"Mau ku lempar ke pulau ular Ben?". Tatap Regan tajam pada asistennya "Jangan tersenyum pada gadis ku". Ketus Regan
Ben menelan salivanya kasar. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maaf Tuan".
"Kak turunkan aku". Echy memberontak digendongan Regan
"Diam sayang. Kau bisa terjatuh nanti". Ucap Regan.
Regan membawa Echy masuk kedalam kamarnya. Dia meletakkan gadis itu dengan pelan seakan menjaganya seperti menjaga telur yang bila retak sedikit saja bisa hancur berkeping-keping.
"Istirahat lah".
"Apa maksud Kakak melakukan ini?". Tanya Echy dingin tangannya mencegah tangan Regan yang ingin menaikkan selimutnya "Apa supaya aku memaafkan Kakak??".Tuding Echy "Maaf Kak apapun yang lakukan tidak akan mengubah keputusan ku". Ujar Echy lagi
Regan menghela nafasnya panjang "Aku hanya ingin menjagamu. Jika kau tidak mau memaafkan ku juga tidak apa-apa. Aku tahu kau sangat membenciku. Tapi aku takkan menyerah. Aku ingin kau tahu betapa aku mencintaimu. Tak peduli sebesar apa rasa benci dihatimu untukku. Aku mencintaimu". Ucap Regan serius "Istirahat lah. Aku tunggu diluar". Regan menaikkan selimut Echy dia mendapatkan kecupan singkat dikening gadis cantik itu.
Echy membeku ditempatnya. Dia menatap Regan yang malah tersenyum tanpa dosa setelah mengambil ciumannya.
"Kakak_".
"Istirahat lah. Jika butuh apa-apa panggil saja aku". Ujar Regan
Regan berdiri dan keluar dari ruangan Echy. Wajah pria itu langsung berubah sendu. Dia memejamkan matanya menahan sakit didalam dadanya. Namun dia takkan menyerah.
Sedangkan Echy menatap punggung Regan dan ini lagi kenapa jantungnya berdebar saat Regan menciumnya. Apakah benar kata jika dia masih mencintai pria brengsekkkk itu.
"Tidak. Tidak". Echy menggeleng "Aku tidak boleh mencintai nya lagi. Dia sudah menghancurkan hidupku. Aku tidak akan pernah menerima nya kembali". Tegas Echy pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Echy menghela nafas berat. Gadis itu beberapa kali merutuki kebodohan nya yang mudah luluh didepan Regan
Ketika bertemu Regan sifat asli Echy selalu keluar. Sifatnya yang dulu ditutupi benar-benar terlihat jika berbicara dengan mantan tunangan nya itu.
Echy menarik wig dikepalanya. Benar-benar gerah memakai rambut palsu itu.
"Ck, dasar rambut menyebalkan. Kenapa harus rontok segala. Hilangkan kecantikan ku". Protes Echy menatap dirinya dipantulan dirinya "Ehem, aku tidak usah pakai Wig saja. Biar pria brengsekkkk itu tidak suka padaku. Dia kan tidak suka gadis tanpa rambut. Didepannya aku tidak usah pakai rambut. Biar dia ilfeel dan berhenti mengejar ku". Echy tersenyum sumringah setelah mendapat cara agar Regan berhenti mengejarnya.
.
.
.
.
Rein dan Kelly baru sampai ke Apartement. Rein berjalan tergesa-gesa. Takut jika Regan menyakiti Echy. Maklum mantan penjahat seperti Regan pasti masih suka berbuat jahat.
"Pelan-pelan Rein. Kau ini. Kaki Kakak sakit akibat mengikuti langkah kakimu yang lebar itu". Protes Kelly berjalan mengekor dibelakang Rein
"Kakak itu yang berjalan seperti siput. Aku takut Kak Echy di apa-apakan oleh pria bajingan itu". Sergah Rein langkah kakinya semakin lebar
"Kau itu bicara apa sih Rein? Kak Regan takkan tega menyakiti Echy". Protes Kelly tak terima
"Kakak seperti mengenal seperti apa Kak Regan?". Rein menatap curiga Kelly "Mantan penghianat tetap akan jadi penghianat Kak".
Kelly langsung bungkam dan gadis itu tidak lagi protes. Dia malah terdiam dan melanjutkan langkah kakinya sambil meneteng tas Echy yang berisi beberapa barang milik Echy.
"Tuan. Nona". Sapa Ben yang berdiri disamping pintu Apartement sambil berjaga-jaga.
"Dimana Kakakku?". Rein menatap Ben dengan tak suka "Katakan pada Tuan-mu itu agar tidak sembarangan membawa anak gadis orang". Tegas Rein
"Silahkan masuk Tuan. Nona". Ben tak mengubris selama bukan Regan yang marah hal itu tidak masalah.
Rein dan Kelly masuk. Kelly menghela nafas panjang saat Rein marah-marah. Kelly paham perasaan Rein. Karena dia tahu betapa Rein sangat menyanyangi Kakak nya itu bahkan lebih dari segala sesuatu.
"Dimana Kakakku?". Rein menatap Regan yang duduk santai disoffa ruang tamu nya
"Ada dikamar nya". Sahut Regan tanpa melihat Rein. Dia malah asyik dengan laptop yang ada dipangkuan nya
__ADS_1
Rein menatap Regan sinis. Dia mellengang pergi ke kamar Kakaknya. Dikuti oleh Kelly.
Bersambung.....