Perjuangan Cinta CEO

Perjuangan Cinta CEO
Kondisi


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Astaga Echy badanmu panas sekali". Kelly menempel kan punggung tangannya ke kening Echy


"Dingin". Echy meringgis sambil mengeratkan selimut nya.


Kelly keluar dari kamar dengan wajah paniknya.


"Ada apa Kak?". Tanya Rein


"Echy demam Rein". Suara Kelly sudah tak karuan saking paniknya.


"Kakak ambil air panas-panas kuku dan kain. Aku akan ke kekamar duluan". Suruh Rein


"Baik Rein".


Rein bergegas masuk kedalam kamar Echy. Kakaknya itu pasti karena terlalu lelah


"Kakak". Rein berhambur kearah "Kak badan Kakak panas sekali".


Echy tidak bisa berkata-kata lagi. Seluruh tubuhnya sakit. Seperti nya dia akan drop karena terlalu kelelahan hari.


"Kakak".


"Kakak".


Echy sudah tak sadarkan diri. Rasa sakit ditubuhnya sudah tak bisa dia tahan lagi.


"Kakak". Rein terisak apalagi melihat darah keluar dari hidung Echy membuatnya panik dan juga takut.


Rein mengambil kapas dan menutup lubang hidung Kakaknya dengan kapas agar darah itu berhenti.


"Echy".


Kelly masuk dengan membawa mangkuk besar berisi air dan kain


"Kak kita bawa Kak Echy ke rumah sakit". Ucap Rein


"Ayo Rein. Kakak akan hubungi taksi".


Kelly dan Rein memapah Echy dan memapah Echy keluar dari Apartement.


"Kak biar aku saja yang gendong".


"Hati-hati Rein".


Rein mengangkat tubuh Kakak nya. Wajah Chy begitu pucat dan juga dingin. Gadis itu terpejam dengan lelap.


Kelly sudah menangis ketakutan. Padahal setiap hari dia bersama sahabat nya itu tapi kenapa dia sama sekali tidak memerhatikan kesehatan Echy.


"Hiksss Chy, buka matamu. Kenapa kau suka sekali membuatku panik". Kelly terisak sambil mengenggam tangan gadis itu.

__ADS_1


"Kak tenanglah. Kak Echy pasti baik-baik saja". Ucap Rein padahal dia juga sedang terisak ketakutan.


Sampai dirumah sakit. Rein langsung turun dan menggendong Echy. Calon dokter itu berteriak memanggil dokter dan perawat yang ada disana


"Mohon tunggu diluar Tuan. Kami akan memeriksa kondisi Nona Echy".


Rein dan Kelly menunggu diruang tunggu. Wajah keduanya sama. Sama-sama panik dan gelisah takut jika terjadi sesuatu pada Echy.


"Kak kemana kita harus cari uang untuk pengobatan Kak Echy". Ujar Rein "Rein berhenti saja kuliah dan bantu Kak Echy dan Kakak cari uang".


"Tidak Rein. Kau tenang saja yaa. Kakak masih punya tabungan. Kita pakai tabungan Kakak dulu". Ucap Kelly memeluk Rein "Kau tenang saja. Kakak berjanji akan selalu ada buat Rein dan Echy".


"Terima kasih Kak". Rein menangis dipelukkan Kelly.


Disaat seperti ini Rein selalu teringat pada sosok kedua orangtuanya. Rasanya hidup tanpa orang tua itu bagai anak yang selalu patah hati setiap hari. Tidak ada tempat mengadu tidak ada tempat bercerita.


Kelly menangis diam-diam. Echy bukan hanya sahabat bagi Kelly tapi juga saudara. Mereka berdua selalu bersama dan menghadapi dengan segala suka dan duka.


Zora keluar dari ruangan pemeriksaan. Wanita paruh baya itu tampak bernafas panjang.


"Dok bagaimana keadaan Kakak saya?". Cecar Rein tak sabar.


Zora menghela nafas "Nona Echy kekurangan banyak darah. Kita harus segera mencari donor darah". Ucap Zora


"Ambil darah saya saja Dok". Seru Kelly dan Rein bersamaan.


"Golongan darah Nona Echy O-. Apa kalian memiliki golongan darah itu?".


"Saya AB".


"Tidak cocok". Zora menggeleng "Di bank darah juga tidak memiliki golongan darah tersebut". Ucap Zora


"Kita harus selamat kan Nona Echy. Jika tidak Kondisi bisa semakij kritis. Secepatnya kita harus mencari pendonor itu". Ucap Zora dengan nada beratnya.


Seluruh tubuh Rein dan Kelly serasa melemas. Kedua orang itu terduduk kembali. Air mata mengalir begitu saja. Mereka pikir selama ini Echy baik-baik saja. Tapi ternyata kondisi gadis itu seketika ngedrop total.


.


.


.


.


Regan turun dari mobil. Langkahnya terlihat lebar. Ben mengekor dari belakang.


"Selamat datang Tuan Regan". Sapa Zora "Silahkan duduk Tuan".


"Bagaimana keadaan nya?". Meski suaranya terdengar tenang tapi tidak dengan wajahnya


"Kita harus menjadi donor darah untuk Nona Echy Tuan". Sahut Zora

__ADS_1


"Apa golongan darahnya?".


"O-, Tuan". Jawab Zora


"Ambil darahku. Golongan darahku O-".


"Tapi Tuan kondisi anda_"..


"Aku baik-baik saja Ben. Yang penting gadisku selamat dan baik-baik saja". Potong Regan "Dia harus tetap hidup. Aku sudah berjanji akan membahagiakan nya meski harus bertarung nyawa". Ucapnya lagi


Ben tak dapat lagi berkata apa-apa. Regan takkan mau mendengarkan ocehannya yang hanya sebagai bawahan.


"Mari Tuan. Saya akan segera mengambil darah anda".


Regan dan Ben mengikuti Zora. Regan akan melakukan apapun untuk Echy. Echy adalah segalanya. Echy adalah jantung hatinya. Dia takkan sanggup hidup tanpa gadis itu. Walaupun pada nyatanya Echy takkan pernah mau melihatnya lagi.


Regan berbaring diatas brangkar. Zora mengambil darah Regan. Pria itu setengah meringgis saat jarum itu menarik darahnya.


.


.


.


.


Regan masuk kedalam ruangan Echy. Echy sudah dipindahkan ke ruangan ICU. Meski harus baku hantam dengan Rein, tapi pria itu berhasil masuk kesini.


Regan menatap Echy sendu. Dadanya naik turun menahan gejolak dalam dadanya.


Perlahan Regan duduk dikursi samping ranjang gadis itu. Dia menatap Echy dengan air mata yang sudah luruh.


"Echy". Lirihnya "Bangun sayang". Panggilnya Seolah Echy akan mendengar suaranya "Aku merindukan mu. Merindukanmu sayang. Aku mohon bangunlah. Buka matamu Echy". Regan mengenggam tangan gadis itu dan terus mendesak Echy agar membuka matanya.


Tangannya terulur mengusap kepala gadisnya ini. Gadis yang selalu menepati relung hatinya. Gadisnya yang tak pernah pergi dari pikiran nya.


"Aku merindukan mu yang dulu. Aku rindu senyummu. Aku rindu canda tawamu. Aku rindu manjamu dan aku rindu semua hal tentangmu". Lirihnya masih mengusap kepala gadis itu.


"Kau tahu, lima tahun adalah hal paling menyiksa dalam hidupku. Meninggalkan mu waktu itu bukan kemauanku tapi takdir yang mengajakku kesana, mempermainkan hidupku dan hidupmu. Hingga saat aku kembali takdir kembali lagi mengecoh ku, kau sakit dan membenciku. Kadang aku ingin kembali diwaktu lima tahun yang lalu, saat kita pertama kali jatuh cinta. Betapa indahnya saat itu. Hingga semua hancur hanya dalam sehari. Maafkan aku". Regan menelungkupkan wajahnya dilengan Echy menangis dengan tersedu-sedu.


"Mungkin aku butuh waktu satu menit jatuh cinta padamu. Tapi aku butuh seumur hidup untuk melupakan mu. Aku mencintaimu Echy. Ku mohon buka matamu sayang. Buka sayang". Regan terus mendesak agar Echy membuka matanya.


Tak ada manusia yang menginginkan perpisahan didunia ini. Semua orang ingin hidup bahagia bersama selamanya. Menjalin kasih dan cinta dengan orang yang sama.


**Bersambung....


Hai guys makasih yang udah ikutin kisah Echy dan Regan. Mohon maaf jika banyak typo, kalian boleh coret-coret dibawah kalau ada kritik dan saran.


Yuk mampir ke karya baru author


Istri Kecil Tuan Cassanova

__ADS_1


Sudah terbit yaaa guysss..


Terima kasih**


__ADS_2