
Happy Reading๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
"Pelan-pelan Des". Sean membantu istrinya turun dari ranjang, setelah melakukan USG
"Terima kasih Sean". Deska tersenyum lembut pada suaminya.
"Sama-sama".
Mereka berdua kembali duduk dan mendengarkan penjelasan dokter
"Bagaimana Dok? Apa jenis kelamin anak kami dan apa dia sehat-sehat?". Cecar Sean tak sabar.
Sang dokter tersenyum "Selamat Tuan. Nona jenis kelamin bayi anda perempuan dan dia sehat-sehat saja".
Deska berkaca-kaca mendengar ucapan dokter. Ahh dia benar-benar tak sabar menantikan kedatangan bayi nya. Deska menyesal dulu pernah berpikir untuk membuang darah dagingnya sendiri.
"Terima kasih Dok".
Sean juga tak kalah bahagia. Sebentar lagi dia akan menjadi Ayah. Dan anak pertamanya adalah berjenis kelamin perempuan. Sean benar-benar bahagia. Sangat bahagia.
"Ayo Des". Sean mengandeng tangan istrinya keluar dari ruangan dokter.
Suka kandungan Deska memasuki bulan ketujuh dan perutnya sudah membuncit. Wanita hamil itu mudah sekali lelah.
"Sean aku ingin bertemu Nona Echy". Pinta Deska sendu.
"Des, kenapa harus ketemu Echy? Kau tahu kan bahwa tidak mudah menemuinya". Sean teringat pada Regan yang posesif luar biasa itu, pasti sulit menemui Echy.
"Sean". Renggek Deska "Ini permintaan anak kita". Deska tidak tahu kenapa perasaan nya benar-benar menuntunnya ingin bertemu Echy.
"Baiklah. Baiklah". Sean mengalah
Mereka masuk kedalam mobil. Disana sudah ada Willy yang menunggu keduanya dengan setia.
"Will, kita ke rumah Tuan Regan". Perintah Sean.
"Baik Tuan".
Sean menghela nafas panjang. Bagaimana pun Echy adalah wanita yang pernah begitu Sean cintai. Rasanya tak sanggup melihat wanita itu. Sean takut tak bisa mengontrol diri.
"Kenapa Sean?". Deska mengintip wajah suaminya yang tampak tak tenang
"Tidak". Kilah Sean "Aku tidak sabar menanti kedatangan nya". Dia mengusap perut Deska dengan lembut "Terima kasih ya, sudah menerimaku". Imbuhnya.
"Aku yang harus berterima kasih Sean. Kau sudah mau bertanggungjawab dan menerima kami berdua". Ujar Deska tersenyum simpul "Aku mencintaimu Sean".
Sean hanya mengangguk. Dia belum bisa mengatakan mencintai Deska. Hatinya belum milik wanita itu seutuhnya. Namun Sean berjanji untuk belajar mencintai Deska dan menerima wanita itu sebagai istrinya. Sean yakin bisa, ini hanya masalah waktu saja.
Sampai di Mansion mewah Regan, keduanya turun dari mobil.
Deska menatap kagum Mansion mewah milik Regan. Benar-benar mewah dan menggangumkan.
"Ayo". Sean memapah istri nya.
__ADS_1
"Iya". Deska lagi-lagi tersimpul.
Mereka disambut hangat oleh para pelayan Regan yang bekerja disana.
"Kak Deska. Kak Sean". Seru Echy.
"Sayang jangan teriak-teriak". Tegur Regan khawatir apalagi usia kandungan Echy memasuki bulan ketujuh sama dengan kandungan Deska.
Echy cenggegesan. Dia memberikan pelukkan hangat pada Deska.
"Ayo Kak, masuk. Duduk". Ajaknya.
Deska tersenyum kagum pada Echy. Wanita ini tidak hanya cantik tapi juga baik dan ramah.
"Bagaimana kandungan mu Kak?". Echy mengelus perut Deska "Wahh besar sekali yaa? Tapi lebih besar punyaku Kak". Echy menunjukkan perutnya.
"Iya Nona. Dan dia perempuan". Deska juga tersenyum bangga.
"Perempuan?". Ulang Echy "Wahhh pasti punyaku perempuan juga Kak". Seru wanita itu.
"Laki-laki sayang". Ralat Regan
Echy memincingkan matanya kesal "Siapa bilang Kak? Dia harus perempuan karena yang mengandung nya perempuan bukan laki-laki". Ketus nya.
Sean dan Deska tersenyum simpul menyaksikan perdebatan suami istri itu. Manis sekali membuat orang lain gemes saja dengan tingkah mereka berdua.
.
.
.
.
"Ini". Dae memberikan selembar kertas pada istrinya. .
Kelly mengambil kertas itu. Matanya membulat sempurna.
"Echy". Dia menutup mulut tak percaya.
"Kondisi Echy semakin menurun. Sedikit mustahil untuk bisa menyelamatkan bayi nya". Dae mendesah pelan "Aku belum sanggup memberitahu Echy tentang ini". Ujarnya lagi.
"Kak, kita harus lakukan sesuatu agar Echy dan bayinya diselamatkan".
"Tidak bisa Kelly. Harus memilih salah satunya. Ibu atau anak". Tukas Dae
"Selamatkan Echy saja Kak". Saran Kelly.
Dae menggeleng "Tidak semudah itu. Echy pasti tidak mau. Kau tahu kan betapa keras kepalanya Echy?". Ujarnya lagi
Air mata Kelly luruh begitu saja. Wanita itu menangis sambil menutup kedua wajahnya tak sanggup.
"Sayang". Dae merengkuh tubuh Kelly. Laki-laki itu juga menitikkan air matanya.
__ADS_1
"Sayang, aku tidak mau kehilangan Echy. Tolong lakukan sesuatu untuknya sayang". Kelly menangis segugukan didalam pelukkan Dae.
Dae memeluk Kelly dengan erat tak bisa berkata apapun. Sama seperti Kelly, dia juga tidak akan sanggup kehilangan Echy. Echy adalah adiknya dan dia sangat menyanyangi wanita itu.
Pasangan suami istri itu saling bertangisan satu sama selain. Rasa cinta mereka kepada Echy melebihi segala perasaan sakit mereka. Tak bisa disamakan dan dibandingkan dengan siapapun.
Dae melepaskan pelukannya. Dia menyeka air mata Kelly dengan lembut.
"Kita tidak boleh bersedih didepan Echy. Kita harus jadi penguat untuknya".
Kelly mengangguk "Kak, jujur aku takut Kak aku takut Echy pergi. Dia sahabat ku. Saudaraku. Cintaku Kak. Aku, aku menyanyangi nya Kak".
"Sttttttttttt". Dae menyatukan kening mereka berdua "Kita sama-sama berdoa dan percaya bahwa Echy bisa melewati ini semua. Dia dan bayinya akan selamat dan berkumpul bersama kita kelak". Ujar Dae.
Kelly mengangguk. Dia akan menjadi penguat Echy untuk melewati segala rasa sakitnya.
"Lalu bagaimana dengan Kak Regan Kak? Apa Kakak sudah menemukan pendonor untuk Kak Regan?". Tanya Kelly.
Dae mengangguk "Sudah. Hanya menunggu kapan Regan siap untuk transfalansi ginjal". Sahut Dae.
Tidak hanya Echy yang sakit. Tapi juga Regan, setelah mendonorkan ginjalnya untuk Megan. Regan harus rutin melakukan cuci darah setiap Minggunya. Supaya dia tetap bertahan hidup.
Dae dan Kelly saling bergandengan tangan untuk memberikan dukungan pada Regan dan Echy. Saling menguatkan untuk kedua orang itu.
"Ya sudah kita tidur yuk". Ajak Dae berdiri sambil mengulurkan tangannya pada Kelly.
"Iya Kak". Kelly menyambut uluran tangan pria itu.
.
.
.
.
Echy memejamkan matanya. Menahan sakit dibagian syarafnya. Dokter mengatakan ketika di Amerika sel kanker dalam tubuhnya sudah mati, tapi kenapa masih sesakit ini.
Echy menatap suaminya yang terlelap dengan damai. Regan adalah kekuatan nya.
"Kak, aku berharap waktu tidak menghilangkan ku dari pandangan matamu. Aku mencintaimu Kak, aku tidak mau pergi dns meninggalkanmu sendirian. Tapi aku juga tidak bisa menolak takdir, semoga Tuhan berbaik hati dan memberi aku waktu sedikit saja". Gumam Echy mengelus wajah tampan suaminya.
Echy harus tidur menyamping, selain perut nya yang sudah membesar, dia juga menahan bagian belakang nya yang sakit dan tidak bisa menerima banyak beban.
Echy mencoba terlelap. Namun tidak bisa karena rasa sakit ditubuh nya.
Wanita itu terbangun dan turun dari ranjang. Nafasnya memburu.
Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk.
Echy berjalan sempoyongan pandangannya mulai kabur. Dia hendak ke kamar mandi dan pandangan tidak jelas.
Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk.
__ADS_1
Brakkkkkkkkkkk
Bersambung...