
Hilang nya cintamu merobek jantungku. Hingga ku terjatuh dalam harapan.
*Budak Cinta
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Regan belum juga bangun dari pengaruh obat biusnya. Entah kenapa pria itu seperti betah dengan mata terpejam seperti itu.
Sementara Echy, beberapa alat medis mengalir bagian tubuhnya. Tangan, dad, hidung, kepala dan bahkan saluran langsung dari perut Echy dan alat vitalnya untuk mengeluarkan beberapa kotoran yang membeku didalam sana.
"Regan". Dae mengusap kepala sahabat sekaligus Kakak iparnya itu "Bangun Regan, lihatlah putramu sudah lahir. Kau pasti senang karena dia laki-laki. Bangun Regan, bantu Echy. Hanya kau yang bisa membantu nya bangun". Lirih Dae.
Kelly duduk diantara Echy dan bayi nya. Wanita yang baru saja menikah itu berderai air mata setiap hari.
Kelly menatap bayi tampan yang juga ikut terlelap bersama kedua orangtuanya. Hatinya bagai teriris, melihat tubuh kecil itu sudah disiksa oleh jarum suntik. Bahkan bayi itu harus menggunakan oksigen untuk membantunya bernafas.
Kelly tak bisa bayangkan jika Regan terbangun melihat kondisi Echy dan putranya, pastilah pria itu akan histeris menangis hebat dan frustasi luar biasa.
Dae dan Kelly mendapat giliran untuk menjaga keluarga kecil itu. Sementara Domain tengah menemani Ellena yang drop akibat goncangan saat melihat putra, menantu dan cucu nya dalam keadaan seperti ini.
"Echy". Kelly beralih pada sahabat nya itu "Bangun Chy. Buka matamu. Jangan tidur terus. Apa kau tidak ingin melihat putra tampanmu ini? Bangun Chy". Lirih Kelly memegang tangan sahabat nya itu.
Sebagai sahabat yang selalu bersama tentu Kelly juga terpukul dengan kondisi Echy dan Regan. Kenapa takdir begitu tega bermain-main dengan mereka.
Zora masuk bersama dua perawat dibelakang nya.
"Selamat siang Tuan Dae. Nona Kelly". Sapa Zora.
"Siang Dok". Kelly menyeka air matanya.
"Permisi Nona. Saya akan memeriksa kondisi Nona Echy dan bayi nya". Ucap Zora.
"Silahkan Dok". Kelly menyingkir dan menghampiri suami nya.
Dae menatap wajah adiknya yang begitu pucat. Oksigen itu seperti menyiksa nya bernafas. Kepala plontosnya seolah pertanda bahwa rambut Echy takkan tumbuh lagi.
Zora memeriksa kondisi Echy. Wanita paruh baya itu menggeleng. Kondisi Echy semakin hari semakin menurun. Tidak ada perubahan sama sekali. Sel kanker dalam tubuhnya benar-benar mematikan beberapa syaraf nya bekerja.
Lalu Zora beralih pada bayi munggil yang terlelap itu. Dia tersenyum menatap bayi lucu ini. Seandainya bayi ini sudah mengerti apa yang terjadi pada kedua orangtuanya pastilah dia sangat rapuh.
Zora membuka pelan kaca yang melindungi tubuh bayi itu. Dengan perlahan dia memeriksa nya. Bayi ini juga sama kritis hanya saja dia tampak kuat sehingga bisa melewati masa kritisnya.
Zora beralih pada Regan. Pria itu sudah melewati masa kritis nya. Hanya saja pengaruh obat bius itu masih membuatnya terpejam.
"Bagaimana keadaan mereka Dok?". Tanya Dae sambil memeluk istrinya.
"Tuan Regan sudah melewati mas kritis nya. Hanya saja pengaruh obat bius itu masih membuatnya belum bangun. Semoga dia segera bangun". Jelas Zora.
"Lalu bagaimana dengan bayi mereka Dok?". Kelly ikut menimpali.
"Bayinya juga sudah melewati masa kritis nya. Setelah kondisi nya membaik kami akan mengeluarkan nya dari kaca dan dia akan dirawat secara normal. Namun masih ada beberapa pemeriksaan nanti yang akan kami lakukan". Jelas Zora
__ADS_1
"Echy Dok?". Kelly melirik sahabat nya.
Zora menggeleng lemes. Dia tidak tahu bagaimana menjabarkan penjelasan nya nanti, pasti ini akan menyakiti hati keluarga Echy.
"Dok". Dae ikut menimpali.
"Kondisi Nona Echy semakin menurun, Tuan. Beberapa sel dalam tubuhnya seperti berhenti bekerja akibat kanker yang menyebar dibagian syarafnya. Jujur Tuan saya sudah angkat tangan. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya hanya berharap keajaiban dan mujizat ada untuk Nona Echy". Jawab Zora jujur.
Kelly langsung luruh dilanti. Aliran darah dalam tubuhnya seperti membeku dan mati rasa.
Dae mengangkat kembali tubuh istrinya dan memeluk wanita itu.
"Echy".
"Echy".
Kelly menggeleng tidak mau. Bagaimana bisa dia kehilangan sosok sahabat seperti Echy. Sampai kapanpun Kelly takkan bisa dan rela. Echy adalah jantung hatinya. Dia bahkan rela meninggalkan keluarga nya demi menjaga Echy.
"Echy". Lirih Dae
Pasangan suami istri itu saling menangis sambil berpelukan.
Mungkin karena terkejut. Bayi munggil itu pun itu menangis bersamaan dengan Dae dan Kelly
"Owe owe owe owe owe"..
Dengan sigap Zora menggendong bayi munggil itu dan menenangkan nya sambil beberapa perawat melepaskan alat medis ditubuh nya.
Dae dan Kelly masih saling bertangisan.
Tit tit tit tit tit tit
"Dok, Nona Echy". Teriak seorang perawat.
"Siapkan semuanya". Perintah Zora
"Baik Dok". Sahut kedua perawat itu.
"Nona, bisa gendong dia?". Zora memberikan bayi itu pada Kelly.
Kelly melepaskan pelukannya dan mengambil bayi itu dari tangan Zora. Air mata Kelly sampai menjatuhi wajah tampan pria itu.
"Dok tolong selamatkan dia". Teriak Dae mengenggam tangan Echy.
"Permisi Tuan. Saya akan melakukan yang terbaik".
Dae menyingkir dan membiarkan Zora memeriksa kondisi Echy.
"Tambah tekanan nya".
"Baik Dok".
__ADS_1
Tit tit tit tit tit tit tit
"Buka bajunya".
Perawat itu membuka dua kancing baju Echy. Agar Zora lebih mudah meletakkan CPR itu ke dada Echy.
Berulang kali Zora menekan-nekan alat itu didada Echy.
"Dok, jantung pasien semakin lemah".
"Tambahkan satu tekanan".
"Baik Dok".
Dae sudah menggeleng. Tidak Echy tidak boleh pergi. Tidak boleh pokoknya.
Sementara Regan masih tak terusik sama sekali. Pria itu terpejam dengan tenang, seolah tak mendengar tangisan putranya dan dentingan alat monitor itu.
Zora masih berusaha. Dia akan melakukan apapun demi menyelamatkan Echy.
Rein masuk kedalam ruangan. Calon dokter itu membeku ditempatnya. Sambil bersandar dipintu dengan badan bergetar hebat.
"Kakak".
Rein menutup mulutnya menahan tangis. Ketika mendengar teriakkan Dae pria itu masuk kedalam meski dicegat oleh beberapa pengawal Dae dan Rein tak peduli dia ingin melihat Kakaknya.
Zora berhenti sambil menunduk lemah.
"Bagaimana Dok?". Dae bertanya suaranya sudah tercekat.
Sedangkan Kelly masih menggendong bayi itu sambil menangis dan menenangkan bayi didalam gendongan nya.
"Owe owe owe owe owe owe". Tangisan bayi berjenis kelamin laki-laki itu menggema.
"Dokter bagaimana?". Sentak Dae
Zora berjalan mundur sambil menggeleng dengan lemas nya.
"Tidak. Tidak. Tidak. Kau pasti bohong dokter. Adikku baik-baik saja kan?". Dae menggeleng
"Kakak".
Rein terduduk lemas dilantai. Roh dalam tubuh nya serasa terbang melayang dan pergi entah kemana.
Luruh hancur. Berantakan. Jiwanya remuk redam. Hatinya hancur tak berbentuk. Echy, Kakak kesayangan nya belahan jiwanya adalah segalanya. Bagaimana bisa? Tidak akan mungkin bisa dia hidup tanpa Echy. Takkan bisa. Dia takkan bisa. Sampai kapan pun.
Sambil menggendong bayi itu, Kelly terduduk dibibir ranjang Regan.
"Kakak bangun. Lihat istri mu Kak. Lihat istrimu". Teriak Kelly menggoyangkan tangan Regan
Bersambung.......
__ADS_1