
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Dae berbaring diatas brangkar. Membiarkan perawat untuk mengambil darahnya.
Dae memejamkan matanya menahan sakit saat jarum itu menariknya darahnya keluar hingga mengalir diselang masuk kedalam kandung darah.
Dae menutup matanya dengan pergelangan tangan. Entahlah dia tidak tahu apa yang sedang dia lakukan? Melihat Regan yang berkorban demi Echy membuat hatinya tergerak dan sadar bahwa cinta sejati itu telah berkorban apa saja demi orang yang dicintai.
"Sudah Tuan. Silahkan anda istirahat sebentar". Ucap Siska membereskan alat-alat nya.
Dae mengangguk dan duduk diatas brangkar.
"Tuan". Rio mendekati Dae dan memberikan sebotol air mineral.
"Terima kasih Rio". Dae mengambil botol itu dan menunggak isinya.
"Tuan kenapa anda mau menolong Tuan Regan? Bukankah anda ingin balas dendam atas kematian Nona Diandra?". Tanya Rio menatap Dae.
Dae tersenyum getir "Kematian itu menyeramkan Rio. Saat melihat Echy terpejam dengan darah dihidungnya, aku teringat pada Diandra yang mati dengan darah juga. Waktu itu jiwaku serasa pergi dan aku tidak bisa menyelamatkan nya, apalagi saat dokter mengatakan Diandra kehabisan darah dan aku tidak bisa memberikan darahku karena golongan darah kami yang berbeda". Dae menghela nafas "Regan, aku terharu dengan cintanya pada Echy. Dia rela berkorban demi gadis itu. Gadis yang bahkan tidak memberinya maaf. Mungkin aku kasihan saja". Kilah Dae menyembunyikan perasaan nya.
Rio mengangguk paham. Sudah lama menjadi asisten Dae tentu dia tahu apa yang terjadi pada pria itu. Kehilangan memang tak pernah bercanda apalagi bersangkutan dengan kematian, selalu meninggalkan luka yang mendalam.
"Lalu bagaimana dengan rencana anda untuk membawa Nona Echy pergi dan memisahkannya dengan Tuan Regan?". Rio menatap Dae
Sejenak pria itu terdiam dia sampai lupa dengan rencana nya itu.
Dae tak menjawab. Dia turun dari ranjang nya dan mellengang keluar. Dia ingin memastikan keadaan Regan dan Echy. Bagaimana kabar kedua orang itu?
.
.
.
.
Mata Regan terbuka dengan berat. Seluruh tubuhnya serasa remuk redam. Dia melirik kearah kanannya. Seorang gadis tengah terbaring dengan oksigen uap yang menempel dihidung dan masuk kedalam mulutnya.
"E-chy". Lirih pria itu pelan.
Domain dan Ellena sengaja memerintahkan kepada Zora agar menyatukan ruangan kedua orang itu biar mereka bisa melihat dan menjaganya bersama.
Regan mengulurkan tangannya dan ingin menggapai wajah gadis itu. Kepala plontos Echy terlihat. Membuat hati Regan semakin sakit
"E-chy".
__ADS_1
Mata pria itu kembali tertutup.
Tit tit tit tit tit
Zora dan beberapa dokter serta perawat masuk kedalam.
"Pasang oksigen uap". Perintah Zora
"Baik Dok".
Regan kembali kritis. Detak jantung pria itu melemah. Keadaan nya belum benar-benar stabil.
Zora menghela nafas lega. Dia sudah takut jika Regan tak bisa diselamatkan.
"Biarkan mereka istirahat".
Zora keluar dari ruangan Regan dan Echy. Keduanya sedang berada diruangan ICU.
"Bagaimana Dok?". Tanya Domain
"Tuan Regan sudah melewati masa kritis nya. Hanya saja....". Zora menghela nafas panjang "Tuan Regan mengalami koma".
Ellena terduduk lemah dikursi. Koma? Ellena menggeleng tak percaya. Bagaimana bisa putranya itu koma?
Kelly juga menutup mulut tak percaya. Koma? Kondisi yang bisa dipastikan kapan akan bangun. Kondisi antara hidup dan mati.
Rein hanya diam mendengarkan. Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan calon dokter itu. Kasihan tentunya melihat Regan. Rein tak menyangka jika Regan sungguh memperjuangkan Echy dengan nyawanya
"Lalu bagaimana kondisi putra saya Dok? Apakah bisa dipastikan kapan dia bangun dari koma?". Tanya Domain.
Zora menggeleng "Saya tidak bisa memastikan kapan pastinya Tuan Regan akan sadar, Tuan. Tergantung dari kinerja otaknya". Ucap Zora
Semua terdiam. Yang terdengar hanya tangisan Ellena dan Kelly yang menggema. Yang lain diam mematung.
"Lalu bagaimana dengan Echy?". Sambung Dae
"Nona Echy juga masih kritis Tuan. Detak jantung nya masih lemah". Sahut Zora
Dae menghela nafas panjang dan berat. Regan dan Echy seperti kompak menujukkan kondisi mereka.
.
.
.
__ADS_1
.
Domain dan Ellena masuk kedalam ruangan rawat Regan dan Echy. Karena tidak boleh banyak orang yang masuk.
Domain menatap Regan yang terpejam dengan lelap. Perban membungkus tubuh putra mereka itu.
"Son".
Kedatangan mereka ke Indonesia adalah menemui Regan dan membantu putra mereka itu. Tapi tak tahu nya malah ini yang terjadi.
"Bangun Son. Bangun. Daddy merindukanmu. Jangan menyerah. Kau pernah bilang pada Daddy bahwa kau akan memperjuangkan cintamu pada Echy. Bangun Son". Lirih Domain. Pria yang biasanya tegas itu terlihat rapuh.
"Iya Nak. Bangun Nak. Apa kau tidak rindu Mommy. Mommy datang kesini ingin bertemu denganmu. Tapi kenapa kau malah tertidur seperti ini Nak. Ayo bangun. Lihat disampingmu ada gadis cantik yang juga terlelap dan merindukan mu. Mommy yakin, jika Echy juga masih mencintaimu. Bangun Nak". Ucap Ellena dengan sendu. Dia tak mampu menahan air matanya yang sudah mengalir dengan deras.
Ellena beralih pada Echy. Dia juga sedih melihat kondisi Echy. Kepala plontos dan wajah pucat.
"Echy". Gumam Ellena mengelus kepala gadis cantik itu "Bangun Nak. Maafkan Mommy. Bangun. Kau lihat kan betapa Regan mencintai mu. Dia berkorban demi keselamatan mu. Dia pergi bukan karena tidak mencintai mu. Atau ingin menyakiti mu, dia hanya punya tanggung jawab". Ellena menatap Echy dengan sendu. Meski tak berambut gadis ini tetaplah cantik.
Jari-jari lentik Echy bergerak. Seolah ucapan Ellena membawanya kembali kedunia nyata.
"Domain". Ellena langsung berdiri suaminya.
"Ada apa Hon?". Domain menghampiri istrinya
"Echy. Panggil Zora".
Domain menekan tombol. Tidak berapa lama kemudian Zora datang.
Zora memeriksa Echy. Dia melepaskan oksigen uap yang menempel dimulut dan hidung gadis cantik itu.
"Syukurlah. Kondisi Nona Echy sudah membaik. Dia sudah melewati masa kritis nya dan terbangun. Saya rasa ini sebuah keajaiban Tuan, Nyonya". Senyum Zora
"Terima kasih Dokter".
Perlahan mata Echy terbuka. Dia menatap langit-langit kamar yang sudah tak asing lagi di matanya.
"Echy".
Domain dan Ellena tersenyum hangat pada Echy. Echy sudah seperti putri mereka sendiri. Gadis ini, selalu bisa menciptakan suasana nyaman. Suasana ramai. Dan menghidupkan kesunyian.
"Daddy. Mommy". Lirih Echy.
Echy menatap kedua pasangan itu. Pasangan paruh baya calon mertuanya dulu. Dulu begitu dekat dengan Domain dan Ellena. Panggilan Daddy dan Mommy adalah permintaan Ellena. Dulu, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Ellena begitu kagum pada Echy, tidak hanya pintar tapi juga pemberani.
Echy seakan tercekat. Tak bisa dipungkiri bahwa dia juga merindukan Domain dan Ellena. Dia sudah menganggap kedua orang itu sebagai orangtua kandungnya. Namun semua berubah saat keluarga Domain menghilang tanpa kabar.
__ADS_1
Bersambung....