
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹 🌹
"Aaaaa, aku hamil. Aku hamil". Kelly melompat-lompat sambil memegang benda pipih ditangannya.
"Terima kasih Tuhan. Akhirnya aku hamil".
Kelly keluar dari kamarnya. Wanita itu bersorak gembira.
"Rein". Kelly langsung memeluk Rein yang tengah belajar dengan Gian.
"Kak kenapa sih?". Protes pria itu.
"Kakak sedang senang Rein". Peluk Kelly.
"Gian". Wanita itu ikut memeluk Gian.
"Aunty Kelly kenapa?". Rein menatap Kelly dengan polos.
"Aunty sedang bahagia, Gian. Sebentar lagi kau akan jadi Kakak". Seru Kelly.
"Maksud Kakak?".
"Ini". Kelly memberikan benda itu pada Rein.
"Kakak hamil?". Rein setengah tak percaya.
"Iya Rein". Seru kelly bahagia.
Kelly kembali memeluk kedua pria beda usia itu. Memang mereka tinggal serumah sejak Echy dan Regan ke Amerika.
"Kakak Rein sesak nafas". Protes Rein melepaskan pelukan Kelly.
"Hehheeh". Kelly cenggesan.
"Sayang ada apa?". Dae tampak lelah sambil melonggarkan dasinya.
"Sayang". Kelly langsung memeluk suaminya. Tidak peduli jika pria itu belum mandi. Hari ini hatinya berbunga-bunga.
"Sayang aku bau. Belum mandi".
"Tidak apa-apa Kak. Aku suka bau Kakak". Celetuknya memeluk suaminya.
Dae tersenyum simpul. Dia mengusap kepala wanita itu dengan sayang.
"Kak, ini".
Dae mengambil benda itu. Wajah pria itu terkejut. Hampir tak percaya. Matanya berkaca-kaca. Benarkah bahwa istrinya hamil.
"Sayang, k-kau hamil?". Tanya Dae setengah tak percaya
"Iya sayang". Sahut Kelly cepat.
"Sayang". Dae memeluk Kelly dengan erat. Tanpa sadar air mata pria itu menitik saking bahagianya.
"Terimakasih sayang". Dae menghujani wajah Kelly dengan banyak ciuman.
"Terima kasih terima kasih. Aku berjanji akan menjaga kalian berdua". Ucapnya.
Rein turut bahagia melihat Dae dan Kelly. Sebagai seorang adik. Dia bisa merasakan kebahagiaan Dae. Apalagi selama ini Kelly benar-benar sudah lama menantikan kehadiran buah hati diantara mereka berdua. Pasti akan sangat bahagia jika ada anak diantara kedua orang itu.
"Mulai sekarang kau tidak boleh capek-capek ya sayang. Jaga kesehatan. Jangan kemana-mana dan tetap dirumah". Tegas Dae.
"Kak kalau aku dirumah terus. Nanti bosan". Renggek Kelly.
"Tidak bosan. Kan ada Gian dirumah ada Bibi Ellena juga". Dae menoel hidung istrinya dengan gemes.
Kelly mencebik kesal. Belum apa-apa suami nya itu sudah posesif luar biasa.
__ADS_1
Domain dan Ellena menghampiri kedua mereka.
"Bibi". Kelly memeluk Ellena.
"Kenapa Nak?". Ellena membalas pelukan Kelly.
"Aku hamil Bi".
"Wahhh selamat ya Nak. Jaga kandungan mu". Pesan Ellena.
"Iya Bi". Senyum Dae.
"Selamat ya Nak". Domain menepuk bahu Dae.
"Terima kasih Paman". Dae tersenyum simpul.
"Paman dan Bibi akan menyusul Regan dan Echy ke Amerika". Ucap Domain "Kita akan jaga Echy bersama disana". Imbuhnya.
"Kami akan ikut Paman". Ucap Dae "Kami juga ingin menjaga Echy dan menemani Regan".
"Rein juga ikut Paman". Sambung Rein
"Besok Rio akan urus keberangkatan kita". Sambung Dae lagi.
.
.
.
.
.
"Des, makanlah". Suruh Sean.
"Sebentar Sean dia masih lapar". Sahut Deska.
"Kau tidak lelah Des?". Tanya Sean sebab istrinya itu merawat putri mereka seorang diri dan menolak bantuan dari para pelayan atau baby sister.
"Tidak Sean. Aku bahagia". Senyum Deska melirik kearah suaminya "Menjadi Ibu itu menyenangkan. Aku menyesal pernah berpikir untuk membuangnya".
"Maaf, itu semua karena aku".
"Lupakan Sean. Itu masa lalu". Ucap Deska "Sekarang kita sudah bahagia. Maaf aku juga banyak bersalah dan sempat menolakmu". Ujarnya
Sean mengangguk. Semakin lama mengenal Deska dia semakin paham kenapa istrinya ini keras kepala karena memang keadaan yang memaksanya dewasa.
"Biar aku gendong Fanny, makanlah". Sean sudah menyiapkan makanan untuk istrinya.
"Sebentar". Deska menutup bukit kembarnya bekas disesap oleh putrinya itu.
Sean menggendong putrinya. Dia juga begitu bahagia bisa menjadi seorang Ayah. Sebahagia ini. Menjadi Ayah itu membahagiakan. Tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Makanlah". Senyum Sean.
"Iya Sean. Aku lapar sekali". Ucap Deska mengambil piring yang sudah berisi makanan itu.
Benar kata orang, jika selesai melahirkan itu porsi makan lebih banyak dari biasanya.
Setelah lahiran, Deska memang kuat makan. Apalagi dia dihisap oleh putrinya membuatnya harus lebih banyak mengisi energi.
Sean tersenyum simpul sambil menatap istrinya yang makan dengan lahap. Deska ini wanita mandiri dan kalem. Tidak banyak bicara dan terkesan cuek. Sean setengah mati mengimbangi istrinya yang kebih dingin dari dirinya. Namun sifat Deska yang dingin itu lah yang membuat Sean menaruh hati dan mencintai istrinya dengan tulus.
.
.
__ADS_1
.
.
Jari lentik Echy bergerak. Bulu matanya juga bergerak-gerak.
Perlahan mata wanita itu terbuka. Echy menatap langit-langit kamar yang terasa asing. Pandangan nya kabur dan masih belum jelas.
Dia merasa kepalanya berat. Sangat berat. Echy kembali memejamkan matanya sejenak. Mengumpulkan kekuatan nya.
Lalu wanita itu kembali membuka matanya. Dia melirik kearah samping. Regan tengah memeluk nya ditengah-tengah mereka ada bayi mungil yang juga terlelap bersama nya.
Echy menatap wajah suaminya dengan penuh kerinduan. Setiap hari dia mendengar curahan hati pria itu. Curahan kesedihan dan patah hati
Echy ingat semuanya dan bahkan mendengar semua yang suaminya katakan. Hanya saja matanya tidak bisa dibuka dan terbuka. Berat dan sulit dibuka.
Tangan Echy terulur mengusap kepala pria itu. Matanya berkaca-kaca. Regan adalah suami terbaik. Suami yang begitu mencintai nya.
Regan mengeliat ketika merasakan ada yang mengusap kepalanya.
Regan membuka matanya. Untuk sejenak pria itu belum sadar. Regan kembali memejamkan matanya. Namun dia buka kembali
"Sayang". Sontak pria itu terbangun.
"Sayang". Regan mengucek-ngucek matanya. Siapa tahu dia bermimpi seperti kemarin.
"K-k-kakak". Suara Echy masih belum tembus.
"Sayang". Regan menangis sambil memeluk Echy yang masih terbaring.
"Sayang akhir nya kau bangun. Kau tahu betapa aku takut kehilangan mu. Hiks hiks". Tangis Regan pecah sambil memeluk istrinya.
"K-kak". Tangan Echy mengusap punggung suaminya.
"Duniaku hancur tanpa mu sayang. Kumohon jangan lakukan itu lagi. Aku takkan sanggup hidup tanpa mu". Curhat Regan karena memang sejak Echy koma dia adalah pria rapuh yang tak berdaya apa-apa.
"Owe owe owe owe owe".
Pelukkan keduanya terlepas ketika tangisan bayi itu memecahkan kedua orang yang tengah berpelukan sambil menangis.
"K-kak". Mata Echy berkaca-kaca.
Regan mengambil bayi munggil itu. Mungkin juga merasakan jika Ibu nya sudah bangun dari tidur panjangnya.
"Ini putra kita sayang".
Mata Echy berkaca-kaca, dia mengambil bayi itu dan meletakkan diatas dadanya. Ya Tuhan, kenapa hatinya menghangat.
"Kak". Air mata bahagia Echy luruh.
"Dia tampan kan sayang seperti aku? Kau tahu tidak setiap hari kami berdua menunggumu tanpa lelah. Kami tidak kemana-mana dan masih disini, saling menguatkan satu sama lain. Dia pria yang kuat sayang". Ucap Regan air mata sudah tak bisa dibendung lagi dan menetes dipipi tampan nya.
"Kak, Kakak. Dia anak kita kan Kak. Putra kita Kak? Aku tidak bermimpi kan Kak?". Sambil segugukan wanita itu memeluj putranya.
"Tidak sayang kau tidak bermimpi. Ini putra kita".
Tangis Echy lagi-lagi pecah. Regan memeluk anak dan istrinya. Rindu. Teramat rindu. Regan hampir menyerah setelah lama menunggu istrinya.
"Sayang nanti dokter akan memeriksa mu yaaaa?". Regan melepaskan pelukannya dia menyeka air mata wanita itu "Apakah masih ada yang sakit?". Tanya nya lembut.
"Iya Kak".
"Sayang, aku belum memberinya nama. Apa kau sudah menyiapkan nama untuknya?". Ucap Regan
Echy mengangguk. Jauh-jauh hari dia sudah menyiapkan dua nama untuk anaknya. Jika perempuan Echy sudah menyiapkan nama khusus. Jika laki-laki Echy juga sudah menyiapkan nama untuk putranya.
"Rayyanza Walkie". Senyum Echy.
__ADS_1
"Nama yang bagus sayang". Regan mengecup kening istrinya.
Bersambung.