
Happy Reading 🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Ayo Dess, pasti bisa". Sambil mengenggam tangan istrinya Sean memberikan semangat.
"Sakit Sean". Deska menggeleng rasanya tidak sanggup.
"Nyonya tunggu sebentar yaa. Jangan mengejan dulu. Ini sudah pembukaan sembilan, menunggu pembukaan sepuluh baru mengejan". Ucap sang dokter.
"Pasti bisa ya Des". Sean menyeka keringat istri nya.
Deska menahan tangisannya "Sean sakit". Rintihnya.
"Setelah dia lahir sakit nya akan hilang". Ucap Sean menenangkan istrinya. Dia juga kasihan melihat wajah Deska yang pucat menahan sakit.
Rasanya Deska ingin mati saja. Dia baru mengerti betapa beratnya perjuangan seorang Ibu. Dia merasakannya. Mengandung selama sembilan bulan dan melahirkannya mempertaruhkan nyawa.
"Mau minum dulu?". Tawar Sean berkaca-kaca. Dia sangat tersiksa melihat Deska yang kesakitan.
"Tidak Sean. Jangan kemana-mana. Jangan tinggalkan aku yaa hikss". Renggek Deska. Dia bukan wanita manja tapi sejak hamil dia selalu ingin diperhatikan. Untung Sean selalu menjadi suami siaga dan menjaga dengan baik istrinya itu.
"Iya Des. Aku tidak akan meninggalkan mu". Sean tersenyum simpul sambil mengusap kepala istrinya.
"Nyonya bersiaplah, sudah pembukaan sempurna. Bersiap-siap untuk mengejan". Ujar sang dokter.
"Iya Dok". Sahut Deska. Jantung nya berdegup dan benar-benar luar biasa sakitnya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Ayo sayang".
"Ayo, Nyonya sedikit lagi".
"Arghhhhhhhhh". Deska mengenggam tangan Sean dengan kuat dan juga erat.
"Tarik nafas dalam-dalam. Lalu hembuskan perlahan. Coba mengejan lagi Nyonya".
"Arghh. Argggh. Arggghhh". Teriakkan Deska menggema.
"Owe owe owe owe owe".
Nafas Deska tersengal-sengal. Jiwanya serasa melayang entah kemana. Lega sekali rasanya ketika ada sesuatu yang keluar dibawah sana.
"Selamat Tuan, bayi anda perempuan". Sean menatap bayi cantik itu. Tanpa terasa pria tampan itu menitikkan air matanya.
"Kami akan membersihkan nya sebentar".
Sean mengangguk. Tak lupa dokter memotong tali pusar bayi itu. Serta menjahit bagian sensitif Deska yang sedikit sobek karena melahirkan.
Deska setengah mati menahan sakit, saat dokter menjahit area sensitif nya yang sobek tanpa memberi obat bius sedikit pun.
Sean sama sekali tak beranjak. Dia terus menyemangati wanita itu dengan ucapan-ucapan romantis nya. Tak malu-malu, Deska benar-benar menangis. Bayangkan sakit nya saat area sensitif kita dijahit tanpa obat bius, bahkan keluar seperti bunyi meletus didalam sana.
__ADS_1
Wajah Deska tampak pucat. Wanita itu menarik nafas nya dalam. Dia tak bisa jelaskan bagaimana sakitnya melahirkan. Rasanya cukup ini saja dan tidak mau lagi punya anak. Tidak sanggup.
"Ini Tuan, putri anda. Dia lahir tanpa kekurangan satu pun. Selamat ya Tuan. Nyonya". Sang dokter memberikan bayi munggil itu pada Sean.
"Terima kasih Dok".
Mata Sean berkaca-kaca. Dia menatap putrinya dengan penuh cinta. Dia menciumi wajah bayi cantik itu dengan gemes. Tak menyangka jika saat ini dia sudah sah menjadi seorang Ayah akibat kesalahan satu malam yang dia lakukan.
"Sean". Deska berkaca-kaca.
"Putri kita Des". Sean memberikan anaknya pada Deska.
Deska menyambut bayi munggil itu. Air mata bahagia luruh begitu saja. Betapa dia berdosa dulu berniat membunuh bayi tak berdosa itu.
"Hai putri Bunda". Deska mengusap wajah cantik bayi itu "Selamat datang ya Nak. Semoga besar nanti jadi anak yang berguna dan berbakti pada Ayah dan Bunda". Serunya dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kau sudah menyiapkan nama untuknya?". Sean ikut mengusap kepala bayi yang sudah dibungkus lampin itu.
Deska mengangguk. Jauh-jauh hari dia sudah menyiapkan nama untuk putrinya. Setelah tahu jenis kelamin anaknya Deska segera menyiapkan nama yang cocok untuk putrinya itu.
"Tiffany Seandesh Amstrong". Senyum Deska.
"Aku mengambil nama kita berdua ditengahnya. Sedangkan nama ujungnya, nama marga mu". Jelas Deska.
"Nama yang bagus. Dia nanti akan tumbuh menjadi putri yang cantik". Senyum Sean
"Lupakan Sean. Aku tidak pernah menyesal. Ini adalah takdir dan dia adalah titipan". Ucapnya sambil tersenyum hangat saat suaminya memberikan ciuman hangat padanya.
.
.
.
.
Deska dipindahkan ke ruangan rawat inap.
"Hai cucu Grandma". Alice menciumi wajah Tiffany.
Deska hanya tersenyum simpul saja. Senang dan bahagia sudah pasti.
"Hai juga cucu Oma". Imbuh Lisa tak mau kalah menciumi wajah cucu pertama nya.
"Tidak terasa ya Kak, aku sudah jadi Tante-tante". Dilsa ngakak sendiri. Serasa bermimpi memiliki keponakan "Kalau besar nanti, aku mau jodohkan Tiffany dengan Gian saja yaaa? Gian itu tampan sama seperti Tuan Regan". Imbuhnya lagi.
Rein yang ada disana hanya menggeleng saja. Melihat Tiffany dia jadi merindukan bayi Echy belum diberi nama. Entah bagaimana keadaan Kakak nya itu sekarang.
"Ck, kau ini, dia masih kecil Dilsa. Main jodoh-jodohkan saja". Protes Alice
__ADS_1
"Kan tunggu mereka sudah besar Mom. Bukan sekarang". Dilsa membela diri. Kedua wanita beda generasi ini memang sering berdebat.
Sido dan Sean hanya menimpali dengan senyuman saja. Bahagia jika putrinya menjadi kesayangan ditengah-tengah keluarganya. Sean adalah anak tunggal. Dia sendiri. Tidak ada Kakak atau adik yang menjadi munsuh bebuyutannya.
"Rein bagaimana kondisi Echy?". Tanya Sean. Ketiga pria itu duduk disoffa ruang rawat inap Deska.
Rein menghela nafas "Belum ada perubahan Kak". Sahut nya.
"Sabar ya Rein. Semoga Echy segera bangun dari komanya". Sido menepuk bahu Rein yang juga sudah dianggap putra nya sendiri.
"Iya Paman terima kasih". Sahut Rein.
"Kak Sean. Paman. Rein pamit dulu". Rein menyalimi kedua pria itu.
"Iya Rein hati-hati". Pesan keduanya.
Rein keluar dari ruangan rawat Deska. Dia menyempatkan waktu menjengguk istri Sean. Karena bagaimanapun dulu dan samping sekarang Rein masih begitu dekat dengan Sean. Tak jarang Sean juga membantu Rein masalah mengurus perusahaan.
"Kak Rein".
Dilsa menyusul Rein. Dia tahu Rein ini sedang tidak baik-baik saja.
"Kak".
"Iya Dil?". Langkah kaki Rein terhenti, sambil menatap gadis kecil itu dengan tersenyum.
"Kakak mau kemana?". Tanya Dilsa "Mau ke pemakaman?". Tentu Dilsa tahu kemana Rein pergi ketika hatinya terluka.
"Iya Dil". Sahut pria itu memaksa kan senyum.
"Dilsa temanin ya Kak?". Tawarnya.
"Iya. Ayo".
Mereka berdua menuju lobby. Karena Rein sudah jadi pemimpin perusahaan sekaligus mahasiswa kedokteran. Dia menggunakan mobil kemana pun dia pergi. Selain aman, juga bisa lebih santai.
"Kakak baik-baik saja?". Dilsa melirik Rein yang menyetir.
Rein mengangguk "Kakak baik-baik saja Dil". Pria itu mencoba tersenyum..
"Jangan bohong Kak. Kita kenal sudah lama. Dilsa tahu kalau Kakak sedang sedih. Jangan sungkan cerita pada Dilsa Kak. Mungkin tidak bisa membantu tapi setidaknya Kakak bisa sedikit berbagi beban dengan Dilsa". Gadis itu tersenyum simpul sambil menguatkan Rein.
"Terima kasih Dil. Sudah selalu ada untuk Kakak". Hati Rein menghangat saat ada yang memperhatikan nya seperti itu.
"Sama-sama Kak. Tetap semangat". Seru gadis itu.
Rein terkekeh sambil terus melajukan mobilnya.
Bersambung....
__ADS_1