
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹
Echy melirik ke brangkar disamping nya. Regan tengah terpejam dengan lelap. Pria itu tampak damai ditemani dengan dentingan monitor pendektesi kinerja jantungnya.
"Echy". Ucap Ellena menatap Echy.
Echy membuang muka. Dulu, iya wanita paruh baya itu seperti Ibu kandung nya sendiri. Mereka sangat akrab satu sama lain. Tapi seketika semua berubah menjadi dingin.
"Maafkan Mommy Chy". Lirih Ellena. Hatinya sakit ketika calon menantunya itu tidak mau sama sekali melihat nya.
Domain mengelus pundak Ellena. Menyalurkan kekuatan pada wanita itu. Dia tahu betapa Ellena menyanyangi Echy seperti putri kandungnya sendiri. Oleh sebab itu lah dia dan Viollitha menjodohkan Regan dan Echy.
"Kami tahu kami salah. Tapi_". Ellena menunduk. Air mata berjatuhan dipipi keriputnya "Regan....".
Echy masih memalingkan wajahnya. Menangis dalam diam sudah biasa. Disakiti juga sudah sering. Tapi ini benar-benar sakit seolah tak ada obatnya
"Regan sungguh mencintaimu Nak. Dia tidak bermaksud meninggalkan mu dihari pernikahan kalian. Kau tahu banyak hal yang dia lewati selama lima tahun ini. Dia_". Ellena terisak tak mampu mengucapkan kata-kata nya lagi.
Echy seolah tak terpengaruh. Gadis itu enggan melihat Domain dan Ellena. Bagi Echy dia tidak perlu tahu alasan Regan pergi. Dia tidak mau tahu dan itu juga bukan urusannya. Echy menyesal karena begitu mencintai pria itu. Bahkan memberikan seluruh jiwa dan raganya untuk Regan. Namun, seketika dia dihancurkan berkeping-keping dalam hitungan menit.
"Waktu itu_".
Flashback on
Lima tahun yang lalu
Seorang pria tengah menatap dirinya dipantulan cermin. Tuxedo mahal itu melekat ditubuh kekarnya.
Senyum nya menggembang. Wajahnya sangat tampan. Tak sabar sudah pasti. Penantian selama bertahun-tahun, dan hari ini dia akan mempersunting gadis kecil yang akan menjadi istri nya nanti.
Segala persiapan baik fisik dan mental sudah disiapkan jauh-jauh hari. Tak tanggung-tanggung, dia menyebabkan segalanya dengan detail. Bagaimana tidak detail? Seorang CEO perusahaan besar akan mengakhiri masa lajangnya, bersama seorang gadis cantik yang juga terlahir dari keluarga ternama. Tidak hanya cantik, dia juga gadis berprestasi yang baru menyelesaikan pendidikan strata satu, dengan lulusan cumlaude.
"Ahh jantungku berdebar". Dia memegang dadanya "Aku tidak sabar melihat wajah gadisku ini. Pasti dia sangat cantik dan menggemaskan". Dia greget sendiri sambil menggeleng gemes saat membayangkan wajah gadis yang akan menjadi istrinya nanti.
Pri itu memasang sepatu pantofel dikaki jenjangnya. Sepatu mahal dengan harga ratusan juta itu akan menunjang kaki nya.
Dia kembali menatap penampilan nya. Memperbaiki dasi kupu-kupu yang sedikit bergeser. Rambutnya yang lupa diberikan sedikit Pomade.
"Perfect".
Dia keluar dari kamar. Kedua tangannya dia masukkan kedalam saku celana kanan dan kirinya. Disana orangtuanya sudah menunggu kedatangan dirinya. Mereka akan segera menuju rumah mempelai wanita.
__ADS_1
"Kau sangat tampan Son". Ucap pria paruh baya menepuk pundaknya dengan bangga "Mirip Daddy waktu muda". Serunya
Pria itu mengangguk dan membenarkan ucapan sang Ayah. Mereka memang mirip, bagai pinang dibelah dua.
"Ayo Nak". Sang wanita paruh baya mengalungkan tangannya dilengan kekar sang putra.
"Ayo". Mereka berjalan keluar
Drt drt drt drt drt
Baru saja beberapa langkah kaki mereka berjalan. Suara handphone dari saku celana pria itu berdering dengan nyaring.
"Angkat saja Son, siapa tahu penting". Suruh sang Ayah
Dia mengangguk. Lalu meronggoh saku celananya.
"Jeremy?". Keningnya saling bertaut heran. Tumben adik Ipar nya itu menghubungi nya?
"Siapa Son?". Tanya sang Ayah ikut penasaran.
"Jeremy". Jawabnya
"Angkat Nak. Mungkin penting". Suruh wanita paruh baya itu
"Hallo".
Tubuhnya membeku ditempat saat menerima telpon dari adik iparnya. Aliran darah dalam tubuhnya seakan berhenti mengalir. Pasokkan udara dalam paru-paru dan jantung nya mulai menipis.
"Regan ada apa?". Tanya Domain pada putranya yang tiba-tiba diam itu.
Ponsel yang menempel ditelinga Regan seketika terjatuh ke lantai. Untung saja ponsel mahal sehingga tidak lecet sama sekali.
"Dad". Mata Regan berkaca-kaca.
"Ada apa Regan? Apa yang terjadi? Ada apa denganmu?". Cecar Ellena sedikit panik melihat wajah putranya yang tadi cerah tiba-tiba terdiam dan pucat.
"Mom". Regan masih membeku. Belum sadar dari keterkejutan nya
"Son katakan kenapa?".
Para pengawal dan pelayan di Mansion mewah itu juga ikutan panik. Jam dinding terus berputar. Acara pernikahan sebentar lagi akan digelar.
__ADS_1
"Kita harus pulang ke Inggris". Ucap Regan berbalik "Ben siapkan jet pribadi dan keberangkatan ku kesana". Tintahnya pada sang asisten.
"Tapi Tuan_".
"Ben aku sedang tidak ingin berdebat dengan argumen mu. Cepat siapkan". Bentak Regan setengah berteriak.
Domain dan Ellena benar-benar kebingungan. Apa sebenarnya yang terjadi pada Regan. Kenapa harus pulang ke Inggris?
"Son cepat katakan ada Daddy apa yang terjadi? Kenapa kita harus kembali ke Inggris? Bagaimana dengan pernikahan mu?". Ujar Domain tak habis pikir.
Regan menatap Domain "Jeremy dan Megan mengalami kecelakaan Dad. Jeremy tidak bisa diselamatkan. Sementara Megan sekarat dan kekurangan banyak darah. Tidak ada yang bisa mendonorkan darahnya untuk nya kecuali aku. Kita harus kembali". Jelas Regan
Deg
Luruh. Ellena sambil jatuh pingsan untuk saja Domain dengan sigap menangkap tubuh istrinya.
Domain memeluk istrinya yang pingsan dengan tangis. Takut sudah pasti. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Megan? Putri nya itu sedang hamil besar. Bagaimana dengan kandungan nya?
"Ayo Dad kita berangkat. Bawa Mommy".
Domain menggendong istrinya masuk kedalam mobil. Tak ada lagi yang dapat mereka pikirkan selain Megan dan bayi dalam kandungan nya.
Mereka langsung terbang ke Inggris. Wajah Regan tampak gelisah tak menentu. Megan adalah adik kembarnya. Satu-satunya saudara Regan. Mereka hanya berdua saja.
"Bagaimana Ben?". Wajah Regan tampak tak tenang.
Sementara Domain menemani istrinya istirahat dikamar pribadi yang terdapat dalam pesawat mewah itu.
"Nona Megan kritis Tuan. Dia kekurangan banyak darah". Ujar Ben
"Lalu bagaimana dengan keponakan ku Ben?". Regan mengigit bibir bawahnya menahan tangis
"Saya sedang mencari informasi Tuan". Sahut Ben
Perjalanan cukup jauh. Ingin rasanya Regan menggunakan jurus menghilang seperti difilm-film fantasi agar segera sampai ke Inggris.
Tidak. Tidak. Adiknya itu tidak boleh meninggalkan nya. Meski selama ini mereka hidup terpisah. Megan tinggal di Inggris bersama suaminya Jeremy. Sementara Regan menetap di Indonesia dengan kedua orangtuanya.
Pikiran Regan kosong. Dia seperti pria yang sudah tak bisa lagi berpikir. Panik sudah pasti. Adiknya itu sedang mengandung besar. Dan tidak lama lagi akan melahirkan anak pertamanya. Bagaimana nasib kandungan nya? Bagaimana keadaannya?
Regan sampai lupa jika hari ini dia menikah. Saking paniknya dia sama sekali tidak peduli. Handphone nya yang jatuh entah kemana. Dia bahkan dengan kasar melepas tuxedo yang menempel ditubuh kekarnya.
__ADS_1
Bersambung....