
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Echy menatap Megan dengan sendu. Wanita itu adalah sahabat baiknya juga. Wanita yang sudah dianggap Kakak kandungnya sendiri. Dulu mereka sangat akrab, lebih akrab. Apalagi Megan saudara kembar dari pria yang begitu dia cintai.
"Kak Megan". Echy berjalan mendekat. Ellena dan Kelly mengekor dari belakang
"Kak apa Kakak masih ingat padaku?". Gadis itu seolah mengingatkan kembali "Apa yang terjadi Kak kenapa bisa seperti ini?". Lirihnya lagi.
Echy duduk disamping ranjang Megan. Gadis itu menatap wajah Megan yang begitu mirip dengan Regan. Hanya saja Megan adalah versi wanita nya.
Wanita itu tampan pucat. Sudah lima tahun tertidur sama sekali tak ada niat untuk bangun. Selama lima tahun juga Echy memendam perasaan rindu nya pada Megan.
"Kak". Echy mengelus lengan Megan "Kak ini aku Echy. Gadis cantik, imut, menggemaskan dan juga pintar. Aku pernah ikut olimpiade matematika di Inggris. Pernah menjadi perwakilan Indonesia, lomba fisika di Amerika. Menjadi lulusan terbaik dan termuda. Apa Kakak tidak tertarik bertemu gadis multivitamin ini ehh salah maksudnya multitalenta". Celetuk Echy
Kelly dan Ellena terkekeh mendengar gadis itu memuji dirinya. Kalau saja Megan mendengar dan bangun pasti kedua wanita itu akan berdebat dan Megan tak mau kalah, dia juga pasti memamerkan kemampuan nya.
Jari-jari lentik Megan bergerak pelan sangat pelan. Tapi Echy bisa melihat respon dari sahabat lama nya itu.
"Hihihi. Pasti Kak Megan tidak terima kan kalau Echy lebih pintar dari Kakak?". Wanita itu cekikikan.
Ellena segera memanggil Zora. Kelly panik dan juga senang setelah sekian lama Megan bisa sedikit merespon. Meski pun tidak membuka matanya.
"Wahhh seperti nya aku harus bersiap-siap. Kak Megan pasti akan menyerang ku lagi ini". Seru gadis itu dengan semangat.
"Ayo Kak Megan. Kalahkan gadis cantik dan menggemaskan ini". Seru gadis itu lagi.
"Dodol". Kelly langsung mendorong kening Echy dengan gemes
"Awwww. KDRT". Rintih gadis itu mengusap keningnya "Kau ini keterlaluan sekali sihh pada sahabat mu ini". Gerutu Echy
__ADS_1
"Makanya kau itu serius sedikit bisa tidak?". Protes Kelly "Kak Megan itu mau bangun kau malah meledeknya". Omel Kelly.
Tidak lama kemudian Zora datang bersama Ellena. Echy masih mengusap keningnya bekas toyoran Kelly.
"Permisi Nona. Saya akan periksa Nona Megan". Ucap Zora agar Echy memberinya sedikit ruang
"Iya Dok. Kalau dia tidak bangun, cubit saja pinggangnya". Celetuk gadis itu "Aawwwwwww". Rintih nya saat Kelly mencubit pinggangnya dengan gemes.
"Jangan bercanda Echy. Kau lihat dokter Zora sedang serius". Omel Kelly.
Bibir Echy mengerucut kesal. Sementara Ellena hanya menggeleng sambil tersenyum gemes. Kedua gadis ini kalau sudah bertemu pasti selalu berdebat. Padahal yang didebatkan juga bukan hal yang penting-penting amat.
Zora memeriksa kondisi Megan. Selama Megan pindah ke Indonesia, Zora lah yang merawat Megan.
"Bagaimana Dok?". Tanya Ellena tak sabar.
"Ini merupakan mujizat, Nona Megan yang lumpuh bagian otaknya tapi bisa merespon. Kondisinya sudah lebih baik. Hanya saja untuk bangun dari koma masih butuh interaksi yang kuat. Saya sarankan agar sering-sering mengajaknya berbicara". Ucap Zora.
"B-benarkah Dok?". Tanya Ellena berkaca-kaca.
Zora mengangguk. Dia menatap Megan dan yakin jika wanita itu pasti sembuh. Meski pun saat Megan terbangun nanti belum tentu bisa normal atau mengingat orang sekitarnya. Benturan dikepalanya begitu kuat, otaknya pendarahan dan melumpuh.
"Siapa dia Mom?". Echy menatap bocah tampan yang mirip dengan Megan itu.
"Ini Gian, Chy. Putranya Megan". Sahut Ellena.
"Mommy". Echy, Kelly dan Ellena terkejut saya Gian.
"Mommy?". Kening Echy berkerut. Aneh rasanya dipanggil Mommy itu.
__ADS_1
Gian malah memeluk Echy dengan manja. Dia sering melihat foto Echy diruang kerja Regan dan Gian beranggapan jika Echy adakah Ibu nya.
"Mom, Gian lindu Mommy. Kemana Mommy selama ini? Gian dan Daddy selalu menunggu Mommy. Daddy bilang Mommy sedang bekelja". Gian menangis segugukan dipelukkan Echy.
Echy yang masih hingga tidak mengerti. Pikiran nya sudah melayang kemana-mana. Namun dia tetap membalas pelukan Gian. Dia bisa merasakan kerinduan didalam pelukkan bocah berusia lima tahun itu.
"Hiks Mommy".
Ellena dan Kelly hanya menghela nafas panjang. Dari dulu Gian selalu bertanya dimana Mommy nya dan Regan menjawab jika Mommy nya bekerja.
Gian juga sering melihat foto prewedding Regan dan Echy dan dia mengira jika Echy adalah Ibu nya. Dia juga menganggap jika Regan adalah Ayah kandung nya. Bagaimana reaksi bocah itu jika tahu yang sebenarnya.
"Mommy tidak lindu Gian?". Bocah itu melepaskan pelukan Echy dengan bibir mengerucut kesal.
"Siapa bilang? Mommy sangat merindukan Gian. Sini peluk Mommy lagi". Gian kembali memeluk Echy dengan rindu. Sejak lahir dia tidak merasakan kasih sayang dari seorang Ibu.
Dia tumbuh bersama Regan, Ellena dan Domain. Sehingga Gian mengira jika Mommy nya meninggal namun ketika mendengar penjelasan Regan, bocah itu langsung semangat dan punya harapan agar bisa bertemu dengan Mommy nya.
Echy melepaskan pelukannya. Bocah ini benar-benar tampan, mirip dengan Ibu nya dan perpaduan wajah Jeremy.
"Gian jangan nakal ya Nak". Echy mengelus kepala bocah itu. Seandainya dia tak batal menikah mungkin dia juga sudah memiliki anak seusia Gian
"Iya Mom. Tapi Mom harus berjanji untuk tidak meninggalkan Gian lagi. Gian mau ditemani tidur sama Mommy. Gian sendilian Mom. Daddy tidak pulang-pulang dali kemalin. Kata Oma Daddy kelja. Biasanya Gian tidul sama Daddy, Daddy nyanyiin lagu untuk Gian". Bocah itu mengeluarkan unek-unek hatinya.
Echy menatap Gian dengan sendu. Bisa ditangkap dari tatapan Gian bahwa pria kecil ini kesepian. Andai Gian tahu jika Ayah nya sudah meninggal dan Ibu nya sedang koma. Pasti perasaan bocah itu akan sakit sekali menerima kenyataan keluarganya tak utuh lagi. Sejak lahir saja Gian tak sempat melihat wajah Ayah dan Ibu nya.
Ellena menyeka air matanya. Memang beberapa hari ini Gian selalu menanyakan dimana Regan? Kenapa tidak pulang? Dan Ellena menjawab jika Regan sedang bekerja dan mencari uang. Dengan polosnya Gian percaya begitu saja.
Kadang Ellena menangis dalam diam didalam kamar nya bersama Domain. Memikirkan Regan dan Megan serta Gian yang belum tahu apa-apa. Hati orangtua mana yang takkan sakit jika melihat anak-anak nya terbaring dalam keadaan kondisi yang sama.
__ADS_1
Kelly memalingkan wajahnya. Pipi nya panas menahan air mata. Dia jadi merindukan Jeremy, Kakak nya. Gian selalu mengingatkannya pada Kakak sulungnya itu. Terkadang kematian memang kejam dia merebut segala kebahagiaan yang diukir sedemikan rupa.
Bersambung....