
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Keringat membasahi wajah gadis itu. Echy masih tak menyerah mencari pekerjaan, begitu juga dengan Kelly yang selalu setia menemani sahabat nya itu.
Seperti pintu yang tertutup. Tidak ada satu perusahaan pun yang mau menerima kedua gadis itu bekerja. Bahkan hanya untuk menjadi kuli disalah satu toko baju, warung makan atau tempat-tempat lainnya pun tidak ada.
"Istirahat dulu Chy". Ajak Kelly.
"Iya Kel".
Kedua gadis itu duduk di halte bus. Echy menggipas-ngipaskan amplop berwarna coklat ke wajahnya karena terik sinar matahari menyinari wajah gadis cantik itu hingga membuat wajahnya memerah.
Dedek Echy.....😘
Cakep. Bawel. Bikin tensi naik tapi ngangenin sama ke author nya wkwkwk
"Apa kau lelah?". Kelly menatap kasihan pada sahabat nya itu
Echy menggeleng "Tidak. Hanya saja aku heran kenapa tidak ada satu tempat pun yang bisa menerima kita. Aku harus membayar uang praktek Rein, Kel. Bagaimana ini?". Desah Echy menghela nafas panjang.
Kelly terdiam sejenak. Dia begitu kasihan dengan Echy. Gadis ini harusnya tidak boleh lelah. Kelly takut jika Echy bisa drop kembali.
"Bagaimana jika diterima saja tawaran Tuan Ben?". Saran Kelly.
Kelly langsung mendapat tatapan tajam dari Echy.
"Ck, tidak perlu menatapku sampai seperti itu". Ketus Kelly
"Kau mau menyuruh ku masuk kedalam kandang buaya lagi?". Echy memincingkan matanya kesal "Aku masih takut padanya Kel. Bagaimana pun dia adalah penyebab orangtuaku meninggal. Bagaimana bisa aku menerima tawaran nya. Rasanya tidak sinkron, aku membenci orangnya tapi aku bekerja di perusahaan nya". Ucap Echy dengan nada berat.
"Tapi dari pada tidak ada pekerjaan Chy. Uang bulanan kita juga menipis. Kau tahu kan aku kabur tidak membawa apapun. Kartu kreditku saja masih tertinggal dikamar. Lalu apa yang akan kita makan?". Ucap Kelly.
Echy terdiam sejenak. Dalam benak dan hidup Echy tidak pernah sekalipun dia bermimpi untuk bekerja di perusahaan Regan. Pria itu adalah penyebab dari semua penderitaannya dan dia membencinya.
"Aku tidak akan menerima tawaran nya. Aku akan terus mencari pekerjaan". Tegas Echy "Atau kita buat usaha saja bagaimana? Buat butik atau jualan yang lain?". Saran Echy dengan senyum sumringah.
"Dodol". Kelly menyonor kening sahabat nya.
"Awwww. Kelly". Hardik Echy "Jahat sekali". Gerutu gadis itu mengelus keningnya
__ADS_1
"Mau buat usaha segala. Modalnya dari mana sayangku? Jangankan buat usaha untuk makan saja uang kita kurang". Ketus Kelly "Dan lagi harusnya bulan depan kau ini sudah kemoterapi, kita harus kumpulkan uang untuk biaya berobat mu karena sudah tidak ada asuransi lagi yang membantu".
Echy terdiam sejenak. Sibuk mencari pekerjaan dia sampai lupa jika dia sedang sakit. Tapi Echy tak peduli, yang dia pikirkan adalah mencari dan mendapat pekerjaan.
"Huffft". Gadis itu menghela nafas panjang "Aku sudah sehat Kel. Seperti nya tidak perlu untuk kemoterapi saat ini". Ujar Echy "Lagian biaya kemoterapi itu mahal. Aku juga merasa tubuhku baik-baik saja".
"Tidak Chy. Kau harus tetap kemoterapi. Aku akan membantu. Kau tenang saja ya". Tangan Kelly terulur mengusap bahu gadis itu "Jika sampai besok kita belum juga mendapat pekerjaan, aku benar-benar berharap kau menerima tawaran Tuan Ben. Ini adalah kesempatan emas buat kita bisa bekerja di perusahaan sebesar itu. Lagian kau pintar dan berprestasi. Aku yakin nanti kau akan mendapat jabatan tinggi seperti di Amstrong Group". Ucap Kelly tersenyum menyakinkan Echy
Echy masih terdiam. Dia tidak akan sanggup bertemu Regan setiap hari. Selama ini dia bersyukur pria itu sama sekali tidak pernah lagi menganggunya. Setidaknya Echy bisa sedikit tenang.
Tapi jika menerima tawaran Ben untuk bergabung dengan perusahaan tersebut. Rasanya Echy sangat berat dan dia mengaku tidak sanggup. Setiap kali melihat Regan dia selalu teringat dengan wajah terakhir kedua orangtuanya. Sakit. Patah. Kecewa.
"Ayok kita cari lagi". Echy berdiri dan diikuti oleh Kelly.
"Semangat". Seru Kelly
Kedua gadis itu tertawa sambil bercerita tanpa beban. Echy tidak keberatan saat Kelly meminta tinggal di Apartement nya meski hanya makan seadanya tapi dia sudah bersyukur. Kelly sudah banyak membantunya selama ini. Jadi Echy sangat senang jika Kelly mau tinggal bersamanya dan Rein.
Kedua gadis itu berjalan dan masuk ke beberapa toko untuk memasukkan lamaran. Bahkan Echy menunjukkan CV nya dan menunjukkan surat pengalaman kerjanya. Barangkali bisa menjadi bahan pertimbangan.
Namun tetap tak ada satu toko pun yang mau menerima nya.
"Kemana lagi kita harus cari kerja?". Keluh Echy
Echy tak menjawab. Gadis itu masih melamun dan memikirkan kata-kata sahabatnya. Dia mulai goyah tapi jujur saja dia tidak sanggup. Namun demi Rein dan kehidupan mereka.
.
.
.
.
"Arggghhhhh. Sial". Hardik Dae "Jadi Regan memblokir semua perusahaan termasuk perusahaan kita dan dia sengaja agar gadis itu tidak masuk ke perusahaan ku?". Nafas Dae memburu.
"I-iya Tuan". Sahut Rio takut-takut "Seperti nya Tuan Regan mengetahui rencana anda".
"Brengsekkkk".
Dae mengusar rambutnya kasar. Gagal sudah rencana nya. Tapi dia tidak akan menyerah. Dia akan berusaha menarik gadis itu agar jatuh kedalam pelukan nya.
__ADS_1
Nafas Dae masih memburu. Tidak dia sangka jika Regan bertindak duluan. Padahal dia sudah menata rencana untuk membalaskan dendam nya.
.
.
.
.
"Bagaimana Ben?". Regan menatap asistennya tanpa ekspresi.
"Sudah saya blokir Tuan. Tapi Nona Echy masih tidak mau bergabung dengan perusahaan kita". Sahut Ben dengan nada pelan takut jika nanti membuat pria itu marah.
"Aku tahu jika gadisku itu keras kepala. Itu yang membuat aku semakin menyukainya. Aku yakin dia akan menerima tawaran itu dan pastikan Dae tidak bisa menariknya masuk kedalam rencananya untuk menghancurkan ku". Tintah Regan
"Baik Tuan". Sahut Ben
"Dimana dia sekarang Ben? Apa orang suruhan mu memantau nya dengan baik? Ingat jangan beri celah Dae menemuinya. Jika kau gagal bersiaplah aku akan menendang mu ke pulau Antariksa". Ancam Regan
Ben menelan salivanya. Selalu saja ancaman Regan ini membuat bulu-bulu kulitnya meremang.
"B-baik Tuan".
Tak mau berlama-lama diruangan Regan. Ben memilih keluar sebelum harimau itu semakin mengamuk.
Regan menghela nafas panjang. Pria itu tersenyum simpul.
"Aku bangga padamu sayang. Tidak hanya keras kepala tapi kau juga mandiri. Maaf mungkin sedikit memaksa mu, agar aku bisa melindungi mu dari orang-orang jahat yang ingin mencelakai mu". Gumam Regan
Mas Regan....❤️❤️😘😘😘
Gimana para sayangku ganteng gak?🤭
**Bersambung...
Jangan lupa ikuti terus kisah mereka.
Yang penasaran jangan lupa kasih like nya..
__ADS_1
Mksih buat semuanya yaaa**