
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Kak Sean kenapa masih disini?". Tanya Echy sambil bangun dan bersandar dinding kasurnya
"Tentu saja menjagamu". Sahut Sean sambil tersenyum.
"Aisssh Kak Sean ini bagaimana sih? Nanti kalau Kak Dea salah paham bagaimana? Aku belum siap jadi artis dadakan". Cemberut Echy sambil mengurut pelipisnya.
Sean malah tersenyum lucu "Ehem, kalau dia salah paham memang nya kenapa?". Goda Sean menatap Echy. Ahhh kenapa Echy jadi lebih bertambah cantik dengan wajah bantal seperti itu.
Echy memutar bola matanya malas. Pria itu membuatnya ingin salto saja.
"Ya tentu saja masalah. Dia kan tunangan Kak Sean". Ujar Echy.
"Dan kau tahu, bahwa aku tidak pernah menyukai nya. Kami dijodohkan dan aku dipaksa". Sahut Sean.
"Ya terserah lah, itu urusan anda Tuan". Ketus Echy turun dari ranjangnya. Perasaan nya sudah lebih baik.
"Biar aku bantu".
Kedua orang itu keluar dari kamar. Sejujurnya Echy kurang nyaman jika Sean berlama-lama diapartement nya. Meski pun ada Rein. Tetap saja dia merasa tidak nyaman.
"Kak". Rein membantu Sean memapah Echy
Echy terlihat sangat pucat. Seperti nya dia memang kurang darah. Rein sudah memberinya vitamin penambah darah. Tekanan darah Echy memang rendah, itulah yang membuat gadis itu kadang berkunang-kunang.
"Bagaimana perasaan Kakak?". Tanya Rein meletakkan minuman diatas meja "Minum Kak Sean".
"Terima kasih Rein".
"Sudah sehat. Sudah bisa salto malah". Jawab Echy asal sambil mengusap lehernya.
"Chy, kenapa rambutmu rontok?". Tanya Sean panik, melihat rambut Echy yang bertebaran dibelakang bajunya, apalagi dia memakai piyama berwarna putih.
"Salah pakai shampoo Kak". Sahut Echy asal.
Sean menatap Echy dengan selidik. Jika demam biasa kenapa wajahnya sangat pucat? Rambutnya rontok dan lagi seperti ada bintik-bintik merah ditangan Echy. Ingin bertanya tapi Sean mengurungkan niatnya karena dia tahu bahwa gadis itu tidak akan menjawab dengan benar pertanyaan nya.
"Sebaiknya Kak Sean kembali saja ke kantor. Ada Rein yang menemani ku Kak". Ucap Echy setengah mengusir
"Kau mengusirku?". Ketus Sean menatap Echy kesal.
"Apa aku bicara begitu?". Sahut Echy bingung "Bukannya hari ini Kakak ada meeting bersama perusahaan baru itu?". Tanya Echy. Dia masih ingat karena dia yang membuat proposal itu
__ADS_1
"Kakak cancel. Tunggu kau sehat saja, kita berdua yang akan menangani proyek ini". Jelas Sean
"Lah, kenapa harus aku Kak? Bukannya proyek ini punya Tuan Tam?". Tanya Echy
"Tidak. Kau yang membuat Proposal nya, jadi ya harus kau juga yang menyelesaikan proyeknya".
"Baiklah. Baiklah. Anda yang Boss terserah anda saja". Ketus Echy
Sean terkekeh gemes. Dia suka sekali berdebat dan beradu argumen dengan Echy. Jawaban Echy memang selalu masuk akal. Tapi Sean selalu menemukan cara untuk membungkamnya.
Rein hanya tersenyum simpul mendengar perdebatan kedua orang itu. Rein berharap Sean dan Echy memiliki hubungan lebih dari sahabat. Lebih dari Boss dan anak buah. Namun, Echy seperti memasang tembok pemisah yang tidak bisa dilewati. Dia tidak memberi celah pada siapa saja untuk mendekati nya. Trauma masa lalu membuatnya benar-benar takut menjalin hubungan. Apalagi Sean seorang CEO, dan dia hanya staff biasa yang kebetulan menjadi kepala bagian sangat tidak pantas bersanding dengan Sean.
Sedangkan Sean berharap hubungan nya dan Echy bisa terus dekat. Sean merasa nyaman berada didekat Echy. Namun, lagi dia tidak bisa menebus tembok Echy. Apalagi sekarang dia sudah bertunangan, membuat Sean sangat sulit untuk mendapatkan hati Echy.
Sean dan Dea dijodohkan oleh orang tua mereka. Namun Sean sama sekali tidak menyukai wanita itu. Walau cantik dan berpendidikan. Tetap Sean sama sekali tidak suka. Dia selalu berusaha menolak perjodohan itu, namun lagi-lagi Sean tidak bisa membantah kedua orangtuanya.
"Semoga kau baik-baik saja Chy. Bisa melihat mu tersenyum dan selalu berada didekatmu, sudah membuatku merasa nyaman. Aku mencintaimu". Batin Sean menatap Echy.
Sean sudah lama menaruh rasa pada gadis itu. Sejak pertama kali Echy bekerja di perusahaan nya. Namun setiap kali ingin mendekati Echy, gadis itu seperti tidak tertarik sama sekali padanya. Sean sudah melakukan berbagai cara agar Echy menyadari perasaan nya. Namun lagi-lagi, gadis itu seolah mati rasa yang tidak meliriknya sama sekali.
Satu-satunya cara yang belum Sean lakukan adalah mengungkapkan perasaan nya. Namun hal itu dia urungkan, dia takut Echy menjauh dan membencinya. biarlah dia pendam perasaan ini dan mencintai Echy dalam diam. Melihat gadis itu bahagia dan baik-baik saja sudah membuat Sean merasa senang.
"Kak, makan dulu. Sebentar lagi Kakak minum obat". Rein membawa nampan berisi makanan.
"Iya Chy. Makan yang banyak biar cepat sembuh".
"Kak, iishhhh kau ini. Rambutku sudah berantakan tambah berantakkan". Gerutunya dengan bibir mengerecut kesal.
Sean dan Rein terkekeh gemes. Rambut Echy yang berantakan membuatnya terlihat semakin cantik. Jangankan Sean, Rein saja sebagai seorang adik, begitu menganggumi kecantikan Kakaknya. Andai saja Echy itu bukan Kakaknya, sudah pasti dia akan merebut hati gadis itu.
.
.
.
.
Langkah kakinya menuntunnya turun dari pesawat. Kaos oblong, celana jeans berwarna hitam pekat serta jacket kulit melekat ditubuh kekarnya. Kacamata hitam bertengger dihidung mancungnya.
Beberapa pria berbaju hitam memberinya hormat. Dia berjalan tanpa merespon sapaan dari para bodyguard nya.
Bandara itu langsung dihebohkan oleh kedatangan nya. Apalagi pria itu dijaga ketat seperti artis atau penjabat. Membuat orang-orang disana kagum dan bertanya-tanya siapa pria itu?
__ADS_1
Dia berjalan tanpa ekspresi, kedua tangannya dimasukkan kedalam saku jacketnya. Sang asisten mengekor dengan menyeret dua koper ditangannya
"Silahkan masuk Tuan". Salah satu bodyguard membuka pintu mobil agar dia masuk
Dia masuk tanpa membalas ucapan sang bodyguard atau merespon dengan gerakkan tubuh.
"Kita kemana Tuan?". Sang asisten duduk disamping kemudi.
"Mansion". Jawabnya.
Pria itu menatap kosong ke arah jendela mobil. Lima tahun dia meninggalkan tanah air ini. Sekarang dia kembali, Jakarta sama sekali tidak berubah. Masih seperti dulu, selalu padat dengan penduduk dan macet dijalan raya.
"Bagaimana dengannya Ben?". Tanyanya menatap keluar jendela. Jantungnya berdegup kencang. Dia berharap bisa segara bertemu gadis yang dia rindukan selama lima tahun ini.
"Nona sakit Tuan". Sahut Ben sambil menatap iPad ditangannya.
Dia langsung menatap kearah sang asisten yang duduk didepan.
"Maksudmu?". Tanyanya "Apa ada informasi yang terlewatkan tentang gadisku Ben? Cepat katakan". Desaknya. Jantungnya serasa berhenti berdetak ketika mendengar gadis itu sakit. Dia khawatir dan juga panik.
Dia menahan gejolak didadanya. Jangan sampai terjadi sesuatu yang membahayakan nyawa gadis nya itu. Dia sudah berjanji akan memperjuangkan cintanya dan menebus kejadian lima tahun yang lalu.
**Bersambung........
Regan with Rexy❤️
Hai guys balik lagi bareng author....
Makasih yang udah nungguin cerita ini.
Maaf kemarin author tidak update Karen suatu dan lain hal sedang terjadi yang cukup mengurasa tenaga dan emosi dan karena author memang wanita keras kepala, hingga author benar-benar drop dan jatuh sakit....
Mohon dukungan doanya yaaa buat author, biar cepat sembuh dan bisa lanjutin kisah ini buat kalian semua....
Jangan lupa like dan komennya.
Pasti penasaran Echy sakit apa?
Apa alasan calonnya meninggalkan dia dihari pernikahan?
Apa yang akan Sean lakukan untuk membuat Echy jatuh cinta padanya padahal dia sudah memiliki tunangan??!
Yuk simak kisah mereka.
__ADS_1
Pengen nya sihh up 3 bab perhari biar bisa langsung ajuin kontrak, tapi karena kondisi jadi author hanya up sebisanya....
Sekali lagi terima kasih semuanya... LoveUsomuch ❤️**