
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Rein dipanggil Dekan". Ucap salah satu teman sekelas Rein
"Ada apa Dekan memanggil ku?". Tanya Rein heran.
"Tidak tahu. Katanya langsung ke ruangan TU". Ujar temannya.
"Baik".
Rein menutup buku bacaannya. Lalu memasukkan buku itu kedalam tas ransel miliknya.
Rein bergegas keluar dari kelasnya. Dan menuju ruangan TU. Setahunya dia tidak melakukan kesalahan tapi kenapa dia dipanggil?
"Permisi Bu". Rein mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
"Rein masuklah". Sahut seorang wanita paruh baya.
Rein masuk dan duduk dikursi depan meja TU itu. Lelaki berkacamata tebal itu bingung apa kesalahannya sehingga dia dipanggil disini?
"Ada apa Ibu memanggil saya?". Tanya Rein sopan.
Wanita paruh baya itu menghela nafas pelan "Rein kau adalah mahasiswa berprestasi dikampus ini. Kau mendapat beasiswa penuh. Tapi itu hanya biaya semester saja, sementara biaya praktek dan koas kau harus bayar sendiri. Dan ini adalah rincian dana untuk biaya praktek mu bulan depan. Mohon segera dilunasi Rein. Agar kau bisa praktek seperti teman-teman mu". Ucap wanita paruh baya itu memberikan selembar kertas pada Rein "Ibu harap Minggu depan sudah harus dilunasi biar Ibu bisa surve tempat praktek mu". Imbuh wanita paruh baya itu.
Rein mengambil kertas itu dengan beratnya "Baik Bu". Ucap Rein "Kalau begitu saya permisi dulu". Ujarnya
Rein memasukkan kertas itu kedalam tasnya. Pria itu bergegas keluar dari ruangan TU. Rein menghela nafas berat. Biaya praktek itu cukup besar. Darimana dia dapat uang? Belum lagi biaya koas nya. Apalagi Echy harus check up setiap minggunya.
Rein melangkah keluar menuju parkiran. Wajahnya tampak kusut dan berantakan. Terlihat sekali jika calon dokter itu banyak masalah.
"Kemana aku harus cari uang? Kak Echy belum dapat pekerjaan". Desah Rein dia memasangkan helm itu ke kepalanya.
Rein meninggalkan kampus. Pria berkacamata tebal itu melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Sebenarnya dia tidak ingin memberitahu Kakak nya tapi mereka berdua sudah berjanji apapun masalah nya harus saling berbagi. Karena terbiasa hidup tanpa orang tua mereka harus saling menopang satu sama lain.
Rein memarkir motornya di basement. Lalu melepas helmnya dan masuk kedalam.
"Kak".
Echy sedang mencoret-coret kertas. Entah melukis apa. Dia memang hobby melukis sejak kecil.
"Iya Ren?". Echy tersenyum manis "Tumben cepat pulang? Satu mata kuliah saja ya?". Cecarnya meletakkan alat-alat lukisnya.
__ADS_1
Rein mengangguk "Dimana Kak Kelly?". Rein celingak-celinguk tidak melihat sahabat Kakak nya itu.
"Dia sedang keluar Rein". Sahut Echy "Duduklah Rein. Jika kau cepat pulang pasti sedang ada masalah?". Tebak Echy.
Mulut Rein terasa terkunci. Echy selalu bisa membaca ekspresi wajahnya. Bagaimana bisa dia menyembunyikan sesuatu dari Kakak nya itu.
Rein duduk disamping Echy. Echy yang manja yang langsung bersandar dibahu adiknya. Dia melingkarkan tangannya dilengan sang adik, Rein saja tidak sempat melepas tas ranselnya.
"Jangan malu bercerita ada Kakak Rein. Kakak ini bukan hanya saudara mu tapi juga orangtuamu". Ucap Echy masih bersandar matanya terpejam menikmati nyamannya bersandar dibahu adiknya.
"Kak". Rein menghela nafas panjang.
Echy bangkit dari bahu adiknya. Dia menatap sang adik dengan senyuman lembut.
"Katakanlah Rein".
Rein membuka tasnya lalu mengeluarkan kertas putih dari dalam sana.
"Ini Kak". Rein menyerahkan kertas itu pada Echy
Echy mengambilnya. Dia menatap setiap angka dan huruf yang tertumpah didalam kertas itu.
"Kapan terakhir pembayaran Rein?". Matanya malah terfokus pada kertas ditangannya.
Echy melipat kertas itu. Lalu menatap adiknya dengan senyuman hangat. Lebih tepatnya senyumnya.
"Kau tenang saja ya Rein. Kakak tercantikmu ini akan berusaha mencari uang untuk bayar uang praktekmu". Echy mengerlingkan matanya jahil
"Kakak bisa saja". Rein terkekeh
"Kau sudah makan belum?". Tanya Echy menyimpan kertas itu.
"Belum Kak". Sahut Rein.
"Ya sudah masak sana. Tadi Kakak baru selesai belanja bahan makanan". Suruhnya sambil terkekeh pelan.
"Ck, Kakak ini bukannya masakkin untuk adiknya malah menyuruh adiknya masak". Gerutu Rein.
"Sudah cepat sana. Jangan protes". Echy menarik tangan adiknya agar bangun.
"Iya iya bawel". Ketus Rein. Dia melepaskan Almamater nya takut jika terkena noda makanan akan membuat warnanya jelek.
Rein melengang pergi kedapur dengan wajah ditekuk kesal
__ADS_1
Sedangkan Echy senyumnya langsung memudar. Dia menatap punggung Rein yang mulai menjauh.
Echy kembali membuka lipatan kertas tadi.
"Astaga mahal sekali. Kuliah kedokteran tidak hanya pintar tapi juga harus kaya. Dari mana aku dapat uang sepuluh juta untuk biaya praktek Rein?". Gumam Echy tampak berpikir keras.
"Hai Echy".
Kelly baru saja datang. Dia langsung mengunci pintu apartement.
"Darimana saja kau?". Ketus Echy memutar bola matanya.
"Jalan-jalan". Sahut Kelly "Apa itu?". Kelly langsung menyambar kertas ditangan Echy "Astaga Chy mahal sekali". Keluh Kelly saat melihat angka yang tertera didalam kertas itu.
"Iya itulah. Aku bingung Kel. Kemana harus cari uang untuk bayar biaya praktek Rein?". Echy merebahkan tubuhnya disoffa "Cari kerja sudah. Sampai sekarang juga belum dapat". Gumamnya
Kelly menyimpan kertas itu diatas meja. Dia menatap Echy dengan sendu.
"Tidak ada cara lain Chy. Kau harus menerima tawaran Tuan Ben". Saran Kelly.
Echy menggeleng "Tidak Kel. Aku tidak akan menerima tawarannya". Tegas Echy.
"Ayolah Chy. Jangan egois. Apa kau tidak memikirkan Rein? Jika dia tidak ikut praktek maka nilainya akan anjlok dan beasiswa nya bisa dicabut. Tolong pikirkan perjuangan Rein, bagaimana dia nekatnya menjadi seorang dokter". Imbuh Kelly menatap sahabatnya.
"Seperti nya kau benar-benar ingin aku bekerja disana?". Echy memincingkan matanya curiga.
"Bukan begitu Chy. Kalau kau bisa masuk kesana otomatis aku juga bisa bekerja disana". Sahut Kelly beralasan "Sambil melihat Tuan Ben yang tampak itu". Kelly kesem-kesem seperti orang tidak waras saat mengingat wajah tampan Ben
Echy menggeleng sambil bergidik ngeri. Kelly kalau sudah bertemu lelaki tampan bisa lupa segalanya.
"Jadi bagaimana?". Kelly menatap Echy penuh harap "Jadi begini saja Chy. Terima dulu tawaran Tuan Ben, nanti setelah kita memiliki uang kita bisa cari tempat kerja yang baru atau buka usaha". Saran Kelly "Dengan istilah lain kita menabung dulu. Kalau uangnya banyak kita bangun usaha dan kita bisa keluar dari perusahaan itu. Bagaimana?". Kelly menaik turunkan alisnya.
Echy terlihat berpikir keras. Tak lupa mulutnya yang ikutan mengerut seperti sedang berpikir juga.
"Tapi_".
"Apa kau masih takut pada Kak Regan?". Tebak Kelly.
Echy mengangguk "Aku hanya masih trauma Kel. Setiap kali melihat nya luka dihatiku rasanya semakin bertambah".
Kelly memejamkan matanya. Sebegitu nya kah Echy benci pada Regan? Hingga setiap kali melihat wajah pria itu dia semakin membencinya?
Bersambung...
__ADS_1