Perjuangan Cinta CEO

Perjuangan Cinta CEO
Mr. Drama King


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Setelah makan siang. Dae dan Rein mengikuti keinginan Echy untuk pergi kerumah sakit. Jika tidak dituruti bisa-bisa dia merenggek sepanjang hari.


"Echy. Rein. Pokoknya Kakak tidak menerima penolakkan. Kalian berdua harus tinggal dengan Kakak". Tintah Dae "Kalau tidak, Kakak akan ratakan Apartement kalian". Ancamnya.


Echy mendelik kearah Dae "Kenapa tidak digusur saja Kak, biar rata seperti tanah". Cibir Echy kesal.


"Kalau Rein terserah Kak Echy saja, Kak. Rein ikut Kak Echy kemana pun". Senyum Rein. Dia yang sabar dan kalem harus mengalah demi Echy manja itu


Echy menghela nafas panjang dan panjang sekali.


"Biar lebih mudah kita hancurkan tua Bangka itu". Ucap Dae.


Rio yang menyetir didepan hanya tersenyum saja mendengar perdebatan saudara itu. Dia tak menyangka jika Dae dan Echy adalah sepupu. Untung saja tahu nya cepat kalau tidak. Rio tidak tahu bagaimana nasib Echy ditangan Dae. Karena pria itu sangat kejam. Dea saja masih disekap dan dalam pencarian polisi tapi tidak ada yang menemukannya karena Dae sangat pandai menyembunyikan munsuh.


"Emang rumah Kakak sebesar apa? Nanti kita tidak muat bagaimana?". Tanya Echy dengan polosnya.


Dae dan Rein tertawa mendengar pertanyaan gadis itu. Dengan gemes Dae mengacak rambut Echy.


"Kakak". Pekik Echy kesal.


"Kau ini". Dae menggeleng "Kau tidak tahu saja sekaya apa Kakak mu ini. Jadi tenang yaaa. Jika menurutmu sangat kecil nanti Kakak akan belikan rumah baru yang lebih besar". Ucap Dae menyombongkan dirinya sambil memperbaiki dasinya.


"Iya iya. Saya tahu anda kaya Tuan". Singgung Echy "Baiklah. Tapi ada syaratnya". Ucap Echy tersenyum jahil.


"Jangan aneh-aneh Kak". Rein memincingkan matanya curiga jika Echy meminta yang aneh-aneh pada Dae.


"Diam Rein". Ketus Echy.


"Syarat nya apa?". Tanya Dae juga yang curiga. Mendengar cerita Rein kalau Echy suka yang aneh-aneh membuatnya mewanti-wanti.


"Izinkan aku minum es bobba yaa.. Sekali saja". Gadis itu menangkupkan tangannya didada. Membayangkan minuman favorit nya itu membuat liurnya ingin menetes. Tak lupa jurus pamungkasnya.


"Kakak". Tegur Rein menggeleng. Benarkan Echy pasti minta aneh-aneh, pikir Rein


Echy tak mengubris adiknya. Dia masih menatap Dae, sambil menarik-narik baju pria itu agar mengabulkan permintaan nya.


"Tapi_".


"Ya sudah lebih baik tinggal di Apartement saja bersama Kelly". Gadis itu melirik kearah Dae yang tampak berpikir.


"Kakak, jangan yang aneh-aneh. Permintaan Kakak itu tidak boleh dikabulkan. Kakak tidak boleh minum es bobba". Tegas Rein.


"Ya sudah kalau begitu. Rein tinggal saja sama Kak Dae. Jangan tinggal sama Kakak". Gadis itu kesal dengan melipat kedua tangannya didada.


Dae dan Rein saling melihat. Kedua orang itu menghela nafas bersamaan. Si Echy selalu menemukan cara untuk membuat keinginan nya terkabul.


"Baiklah". Sahut keduanya serentak

__ADS_1


"Yesss". Echy berjingkrak senang


"Tapi ada syaratnya". Senyum gadis itu memudar


"Apa Kak?". Echy menatap Dae


"Tidak boleh pakai es. Dan cukup bobba nya saja". Tegas Dae


"Tapi Kak_".


"Atau tidak boleh makannya sama sekali". Ancam Dae tersenyum penuh kemenangan sambil menaik turunkan alisnya.


Echy mencebik kesal. Gadis itu menghentakkan kakinya dimobil saking kesalnya separuhnya sampai rusak.


"Kakak kau ini. Lihat kaki mu jadi luka". Rein dengan cepat melepaskan sepatu Echy.


Dae juga terlihat panik. Echy tidak boleh terluka sedikitpun itu akan bahaya untuknya.


"Sayang kau ini terlaluan sekali. Merajuk sampai melukai diri. Tak". Dae mencentil kening Echy dengan gemes


"Awwwwwwww". Rintih gadis itu "Kekerasan dalam persaudaraan". Gerutunya mengusap keningnya.


"Makanya, jangan adik durhaka. Kakak bilang apa harus dituruti. Kau ini". Omel Dae geleng-geleng kepala.


"Rio singgah di Apotek sebentar".


Rein memangku kaki Echy. Sementara Dae duduk disebelah kanan Echy. Kedua pria igu merawat Echy dengan baik dan terlihat panik.


Padahal luka dikaki Echy sangat kecil, itu pun karena sepatutnya yang rusak. Tapi darahnya cukup banyak. Tubuh Echy tidak boleh terluka.


Dae berusaha tidak panik dengan terus mengajak Echy berbicara. Sementara Rein menekan luka Kakak nya dengan tissue sambil menunggu Rio membeli obat untuk Echy.


.


.


.


.


Mereka bertiga sampai dirumah sakit. Dae dan Rein mempawah Echy. Gadis itu tidak mau digendong dan dia berjalan sedikit susah tanpa alas kaki lagi.


"Pelan-pelan sayang".


Dae melingkarkan tangan kanan Echy dilehernya. Sementara lengannya melingkar dipinggang gadis itu. Begitu juga dengan Rein


"Nona Echy apa anda baik-baik saja?". Ben yang menunggu dilobby rumah sakit jadi panik. Jangan sampai Echy terluka, bisa jadi bakso daging dia dihukum oleh Tuan-nya.


"Tidak apa-apa Kak. Aku hanya kumpunan". Sahut Echy

__ADS_1


"Kumpunan?". Beo Dae, Rein dan Ben yang baru pertama kali mendengar bahasa itu


"Kumpunan itu apa Kak?". Tanya Rein cukup penasaran dengan bahasa Echy. Sementara Dae menunggu jawaban gadis itu.


"Kalau kita ingin makan sesuatu terus kita tidak makan dan kita terluka itu namanya kumpunan". Jelas gadis itu.


Mereka berjalan menuju ruang rawat Regan. Ben dan Rio mengekor dari belakang mengikuti ketiga Tuan dan Nona nya itu.


Mereka bertiga masuk kedalam. Sedangkan Ben dan Rio menunggu didepan sambil memberi arahan kepada para pengawal yang menjaga ruangan Regan.


Echy kembali menatap Regan dengan sendu. Senyum yang tadi mengembang diwajah cantiknya berubah seketika.


"Kak Regan".


Dae dan Rein membantu Echy duduk dikursi samping ranjang Regan.


Echy mengambil tangan Regan dan mengenggam tangan pria itu.


"Kak, aku rindu Kakak. Kapan Kakak bangun? Ini sudah siang Kak?". Celetuk gadis itu sambil mencium punggung tangan Regan "Kakak itu tampan, rugi jika tidur terus". Celetuk nya lagi.


Dae memutar bola matanya malas. Ingin rasanya dia mencubit perut Regan agar pria itu membuka matanya.


"Sudah sadar masih pura-pura koma. Dasar pria cari perhatian". Cibir Dae dalam hati


Rein juga menatap Regan dengan sendu. Meski pun masih ada rasa benci dihatinya. Tapi Regan sudah menolong Kakak nya Echy dan dia tidak boleh egois.


"Kakak bangun Kak. Bangun, aku mencintaimu Kakak".


Dae semakin mencibir kesal. Dia yakin jika Regan sedang tertawa bahagia didalam hatinya. Jika saja bukan demi rencana mereka berdua sudah pasti dia akan menarik Regan untuk bangun.


"Cihh, Mr Drama King". Cibirnya dalam hati


**Bersambung


Hai guysss...


LoveULoveU....


Makasih udah ikutin kisah Regan dan Echy ya guys....


Jangan lupa dukung selalu karya author.


Komen, vote dan like nya kalau mau bagi tips juga boleh hihihi


Satu jempol kalian sangat berarti buat author agar bisa lanjutin cerita ini....


jika ada saran dan masukkan kalian boleh coret-coret dibawah yaaa..


Follow juga akun author agar selalu dapat notif terbaru karya author**.....

__ADS_1


__ADS_2