Perjuangan Cinta CEO

Perjuangan Cinta CEO
Mencoba


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Echy membeku seketika. Menatap Domain dan Ellena yang masih menceritakan kejadian lima tahun yang lalu. Kejadian yang ingin Echy hapus dari hidupnya. Benarkah?


Nafas Echy memburu. Jantung nya berdetak lebih cepat dari biasanya. Darahnya mendesir. Pandangan nya mulai kabur. Air mata sudah menganak dipelupuk matanya.


"Maafkan Regan Echy. Dia terpaksa. Dia sangat menyanyangi Megan. Mereka kembar yang saling menyanyangi. Kau dan Megan sama-sama berarti dalam hidup Regan. Dia tidak bisa memilih dan tidak punya pilihan. Maafkan kami juga yang hilang tiba-tiba. Saat itu semua keadaan memaksa kami meninggalkan mu". Ucap Ellena


Nafas Echy tersengal-sengal. Badannya bergetar hebat menahan tangis. Kenapa semua terjadi? Kenapa harus padanya? Dia mencintai pria itu. Sangat malah. Regan cinta pertamanya. Lelaki yang selalu membuatnya nyaman. Memperlakukan nya seperti ratu. Mengutamakan nya. Dan benarkah itu yang sebenarnya terjadi.


"Hiks hiks hiks hiks hiks".


Tangis Echy pecah. Entahlah perasaannya campur aduk. Antara kecewa. Marah. Benci dan menyesal. Semua bercampur aduk. Dia tidak tahu harus memberi tanggapan apa? Rasanya sulit buat kembali memaafkan Regan. Tapi saat mendengar cerita Ellena, Echy merasa bersalah. Dia tidak tahu bagaimana penderitaan pria yang dia cintai itu. Dia pikir Regan sengaja meninggalkan nya dihari pernikahan mereka. Nyatanya ini yang terjadi.


Echy cukup dekat dengan kembaran Regan, Megan. Dulu waktu mereka masih pacaran, Regan sering mengajak Echy pulang ke Inggris dan bertemu dengan kembaran nya itu. Mereka saling akrab meski baru kenal. Megan juga begitu menyanyangi Echy dan dia bersyukur adik iparnya, Kelly. Bisa bersahabat dengan gadis sebaik Echy.


"Echy".


Ellena memeluk gadis itu. Dia juga begitu merindukan gadis ini. Calon menantunya yang gagal.


"Menangislah Nak. Mommy minta maaf". Lirih Ellena


"Mommy". Echy melingkarkan tangannya ditubuh rapuh Ellena.


Keduanya saling bertangisan satu sama lain. Kesalahpahaman itu telah dijelaskan. Meski Ellena tidak tahu apakah Echy masih mau menerima Regan kembali. Tapi dia merasa lega karena Echy sudah tahu kepergian Regan. Setidaknya, bisa sedikit meringankan beban gadis itu.

__ADS_1


"Mommy". Echy membenamkan wajahnya didada Ellena "Maafkan Echy Mom. Echy tidak tahu penderitaan Kak Regan. Echy.....". Dia tak mampu melanjutkan kata-katanya.


Ellena terisak juga. Dia bisa memahami perasaan gadis ini. Bagaimana pun tidak ada orang yang baik-baik saja saat ditinggalkan dihari pernikahan nya


Ellena melepaskan pelukannya. Dia menyeka air mata Echy. Wanita paruh baya itu mencelos hatinya saat melihat kepala plontos Echy.


"Dad". Renggek Echy beralih pada Domain


"Hai Girl". Domain mendekat.


"Dad". Echy berhambur memeluk pria paruh baya itu. Domain seperti Ayahnya sendiri. Dulu Domain dan Adam memang bersahabat baik.


"Maafkan Daddy Girl". Domain mengecup ujung kepala plontos gadis itu.


"Apakah kau mau memaafkan Regan Girl? Dan kembali lagi padanya. Dia sungguh mencintaimu". Domain melepaskan pelukan nya dan memegang bahu Echy.


Echy menatap Domain. Pria paruh baya ini sangat mirip dengan Regan. Mungkin jika Regan tua nanti akan mirip dengan Domain.


"Dad". Suara Echy seakan sangkut dikeringkongannya


"Daddy tahu ini sulit untukmu Girl. Daddy tidak memaksa jika memang hatimu sudah tidak untuk Regan lagi. Tapi maafkanlah semua kesalahannya. Setidaknya dia tidak terus mengalahkan dirinya". Ujar Domain.


Echy melirik kearah brangkar Regan. Pria itu terlelap dengan damai. Bagian tubuhnya yang lain dibungkus oleh perban. Hati Echy teriris sakit. Pria itu yang menghancurkan hidupnya. Tapi pria itu juga yang menyelamatkannya. Jika Regan tidak menyelamatkan nya mungkin Echy tidak akan bisa berbaring disini lagi.


Echy melepaskan selang infusnya. Gadis itu turun dari ranjangnya. Tatapnya kosong. Wajahnya pucat. Tak ada sehelai rambut pun yang tumbuh dikepalanya.

__ADS_1


"Kak". Echy berjalan mendekat "Kakak". Gadis itu berderai air mata "Kenapa Kakak lakukan ini? Kenapa Kakak menyelamatkan ku? Harusnya Kakak tidak perlu mengorbankan nyawa Kakak untuk aku. Aku tidak seberharga itu Kak. Kakak".


Echy duduk disamping ranjang pria itu. Menatap wajah Regan yang pucat. Biasanya wajah yang begitu dia abaikan ini menjadi wajah yang menyambutnya dengan ceria dan selalu tersenyum meski dia menatapnya dengan benci.


"Kakak".


Tangan Echy terulur menyentuh ujung kepala pria itu. Air matanya luruh begitu saja.


"Kakak". Echy terisak sambil mengusap kepala Regan "Bangun Kak. Aku akan mencoba memaafkan Kakak. Cepat bangun Kak. Aku rindu Kakak. Aku juga masih mencintai Kakak. Maafkan aku Kakak". Gadis itu menangis tersedu-sedu.


Echy mengambil tangan Regan dan mengenggam tangan pria itu. Dia mengigit bibir bawahnya. Tangisnya sudah berhenti tapi masih terisak.


"Kakak". Echy memainkan jari-jari Regan "Kakak ingat tidak saat pertama kali kita dijodohkan? Aku benar-benar menolak waktu itu. Aku takut tidak ada yang bisa mencintaiku seperti Ayah. Tapi ternyata Kakak benar-benar mencintaiku dengan baik dan aku juga jatuh cinta pada Kakak. Dan semua berubah seketika ketika Kakak pergi tanpa permisi. Kakak tahu tidak? Saat itu aku benar-benar rapuh. Berjalan tanpa arah. Hidupku tak lagi sama seperti ada Kakak. Aku kehilangan semuanya dalam waktu bersamaan. Kehilangan Kakak, Ayah dan Bunda serta kehidupan ku yang manis. Semua hilang Kak". Echy menempelkan tangan Regan dipipinya "Kak, aku cantik tidak kalau botak begini?". Dia terkekeh sendiri.


Oksigen uap Regan sudah dibuka. Pria itu sudah melewati masa kritis nya. Hanya saja dia memang belum sadar. Entah karena pengaruh obat atau memang tidak ingin bangun.


"Kak, kau tahu tidak? Bahkan kau itu sangat, sangat tampan sekali. Aku sampai gagal fokus melihat wajahmu ini". Dengan jahilnya Echy mencubit-cubit hidung pria itu "Hidungmu ini mancung sekali Kak, seperti hidung Pinokio, ehh aku lupa Pinokio itu hidung panjang". Echy menepuk bibirnya yang salah ucapkan sambil terkekeh pelan


"Kakak". Gadis itu bersandar dilengan Regan yang tidak dipasang selang infus. Membenamkan kepalanya dilengan pria tampan yang tengah terlelap itu "Rindu Kak". Renggeknya "Rindu ingin manja-manja sama Kakak". Ujarnya memainkan jemari Regan.


Pria itu sama sekali tidak terusik dengan celotehan gadis cantik disampingnya. Dia tetap terlelap dengan tenang seakan tak mendengar apapun.


"Kak, nanti aku izin ketemu Kak Megan yaaa. Aku rindu padanya. Dulu kami sering berkelahi karena ingin dibilang siapa yang cantik". Echy terkekeh "Dimana anaknya Kak Megan, Kak? Pasti dia sangat tampan seperti Kak Jeremy. Ssttt jangan marah ya Kak, kalau aku bilang Kak Jeremy tampan". Echy cenggesan sendiri. Tapi air matanya malah terus mengalir


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2