
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Setelah cukup lama menunggu akhirnya pintu lift terbuka. Beberapa petugas berhasil memperbaiki lift itu. Dan mereka disemprot habis-habisan oleh sean. Tidak ada yang berani menjawab selain menunduk pasrah.
Sean menggendong tubuh Deska. Dia menatap wajah pucat gadis itu. Kasihan tentu saja kasihan. Ini mengingat nya pada Echy.
Sean membawa Deska masuk kedalam mobil. Dia membaringkan gadis itu dibangku penumpang. Lalu mengitari mobil dan masuk kedalamnya serta menjalankan mobil dan meninggalkan gedung pencakar langit itu.
Sampai dirumah sakit. Pria itu langsung turun dengan tergesa-gesa dan membawa Deska masuk kedalam rumah sakit dengan wajah panik.
"Kak Sean".
"Rein".
"Kakak bawa siapa Kak?". Rein melirik gadis didalam gendongan Sean "Astaga, Kak Deska". Rein terkejut bukan main "Ayo Kak bawa dia". Rein mengikuti langkah kaki Sean.
Deska dibaringkan keatas brangkar wajah gadis itu benar-benar pucat. Seperti nya dia lelah bukan hanya karena kedinginan.
"Kau mengenal nya Rein?".
Mereka berdua sedang duduk dikursi tunggu.
Rein mengangguk "Iya Kak. Dia Kakak nya temanku". Jawab Rein jujur.
"Lalu apa yang kau lakukan disini? Kau praktek disini?". Ujar Sean lagi.
Rein menggeleng "Tidak Kak, aku sedang mengantarkan makanan untuk temanku. Adiknya Kak Deska". Jawab Rein lagi.
"Kak Rein". Dilsa berjalan kearah dua orang itu "Kakak sudah lama menunggu?". Tanya nya
"Dil". Rein menghela nafas panjang "Kak Deska pingsan".
Untuk sejenak gadis itu terdiam seperti nya juga syok.
"Maksud Kakak?". Tanya Dilsa tak mengerti.
"Kakakmu pingsan saat terjebak kedalam lift tadi". Jawab Sean mewakili.
Dilsa menutup mulutnya dan terduduk. Nafas gadis itu memburu. Kakak nya paling takut masuk kedalam lift yang rusak.
"Kenapa Dil?". Tanya Rein sedikit panik begitu juga dengan Sean.
"Hiksss. Kak Deska itu trauma lift, Kak. Dia paling takut sebenarnya masuk lift tapi karena buru-buru dia pasti menggunakan lift". Dilsa mengusap air matanya "Ayah meninggal saat terjebak kedalam lift, kehabisan oksigen. Hal itu membuat Kakak juga trauma".
Sean terdiam mendengar penjelasan Dilsa. Pantas saja tadi Deska begitu takut ketika lift itu rusak dan tidak bisa berjalan.
Tidak lama kemudian dokter keluar dari ruang pemeriksaan dan mengatakan bahwa Deska baik-baik saja. Dia hanya kelelahan dan sedikit trauma.
Untung saja Sean segera membawa gadis itu ke rumah sakit. Jika tidak mungkin nyawa gadis itu bisa bermasalah.
"Kakak". Dilsa memeluk Deska yang masih terpejam "Kak". Renggek gadis itu "Maafkan Dilsa Kak". Isaknya.
Sean menatap Dilsa kasihan. Dia tidak tahu masalah gadis itu. Sedikit menyesal karena dia pernah membentak dan bersikap dingin pada Deska.
Deska membuka matanya perlahan. Dia menatap sekeliling nya yang terasa asing.
__ADS_1
"Dil".
"Kakak". Dilsa berhambur kearah gadis itu "Dimana yang sakit Kak? Apa Kakak baik-baik saja?". Cecar gadis itu.
Deska tersenyum hangat dan mengangguk tangannya mengusap kepala adik bungsunya ini.
"Kakak baik-baik saja Dil". Ucap gadis itu tersenyum pada wajah pucatnya.
"Tuan Sean terima kasih".
Sean mengangguk "Setelah ini kau akan dipindahkan keruang rawat inap. Istirahat lah besok tidak usah masuk".
"Jangan Tuan. Saya tidak apa-apa Tuan. Saya baik-baik saja". Ucap Deska mencoba duduk.
"Saya tidak menerima penolakkan. Istirahat lah". Ucap Sean setengah memaksa.
"Benar kata Kak Sean. Sebaliknya Kakak istirahat saja". Sambung Rein.
Deska menghela nafas berat. Tidak nyaman jika hanya istirahat saja tanpa melakukan apapun.
Deska dipindahkan keruangan rawat satu ruangan dengan Ibu nya sesuai dengan permintaan Rein.
"Cepat sembuh. Besok tidak usah masuk". Sean melirik arloji ditangannya "Saya permisi".
"Terima kasih Tuan". Ucap Deska
Sean hanya mengangguk "Rein ayo".
Rein juga mengangguk "Dil, Kak Deska. Aku pulang duluan yaa. Cepat sembuh Kak. Cepat sembuh juga buat Ibu".
"Terima kasih Rein".
"Terima kasih Kak Rein. Kak Sean". Sahut Dilsa.
"Kak Dae". Kelly tersenyum sumringah sambil masuk kedalam ruangan pria tampan itu.
"Ada apa?". Ketus Dae
"Tidak usah ketus-ketus Kak. Nanti malah jatuh cinta". Gadis itu cekikian seperti orang gila.
Dae mendelik mendengar kepedean Kelly. Sama seperti Echy yang PD tingkat internasional dan tidak pernah menyerah.
"Kak minta tanda tangan". Kelly menyerahkan beberapa berkas dimeja Dae.
Dae mengambil berkas itu dan membacanya sekilas lalu mendatangi nya.
"Kak".
"Ehem". Dae menatap Kelly.
Kelly duduk didepan meja Dae. Gadis itu merebahkan kepalanya dengan manja tanpa permisi.
"Menurut Kakak, ciri-ciri pria yang menyukai kita itu seperti apa?".
Kening Dae berkerut heran "Siapa yang menyukaimu?". Tanya Dae, nada nya terdengar tak suka.
__ADS_1
"Joshua". Sahut Kelly. Joshua General Manager diperusahaan ini, masih muda dan tak kalah tampan.
"Dia menyukaimu?". Entah kenapa Dae tak suka. Apa dia cemburu?
Kelly mengangguk "Iya Kak. Malam ini dia mengajakku nonton". Sahut Kelly polos. Entah apa maksudnya menceritakan itu pada Dae.
"Jangan mau". Ketus Dae. Hatinya mulai ketar-ketir tidak tenang.
"Memangnya kenapa Kak? Lagian aku jomblo, Joshua juga jomblo". Ujar Kelly heran
"Pokoknya tidak boleh yaaa tidak boleh". Sergah Dae. Nada bicaranya naik satu oktaf.
"Kakak cemburu yaaaa?". Seru Kelly sambil menggoda pria itu.
"Jangan ge-er". Dae memalingkan wajahnya takut ketahuan Kelly bahwa dia sedang gugup.
"Iya sihh". Kelly kembali merebahkan kepalanya.
Rasanya dia hampir menyerah mengejar cinta Dae. Pria itu hanya menganggapnya sebagai adik saja. Sementara ada pria lain yang menanti cintanya.
Kelly bangkit dan mengambil berkas yang sudah ditangani oleh Dae.
"Kak aku pamit".
"Pulang bareng Kakak". Tanpa menoleh kearah Kelly.
"Aku pulang sama Joshua Kak, tadi sudah janjian sama dia".
"Pulang sama Kakak". Dae menatap Kelly tajam "Kakak mau mengajakmu ke rumah Regan". Ucap Dae beralasan.
Kelly mencebik kesal "Iya". Ketus gadis itu mellengang pergi.
Sudut bibir Dae tertarik. Entah kenapa dia tidak suka mendengar Kelly akan dekat dengan pria lain. Cemburu kah? Dae tidak tahu. Pokoknya dia tidak suka.
Kelly keluar dari ruangan Dae. Wajah gadis itu benar-benar ditekuk kesal.
"Kel". Panggil Joshua
"Josh". Balas Kelly tersenyum.
"Ayo makan siang". Ajak pria itu tersenyum ramah.
"Ehem, Kelly akan makan siang bersama saya". Dae tiba-tiba muncul dan merangkul bahu Kelly.
"Ohh begitu ya Tuan. Maaf Tuan saya tidak tahu". Pria tampan itu membungkuk hormat dan tersenyum kikuk.
"Ayo Kel".
Kelly menatap Dae dengan tak percaya. Pertama kalinya pria ini merangkul nya. Ahhh Kelly rasanya ingin lompat-lompat saking senangnya.
"Josh aku duluan yaaa. Lain kali saja makan siang nya". Kelly melambaikan tangannya.
"Iya Kel. Tidak apa-apa". Joshua memaksakan senyum dia terus melihat tangan Dae yang melingkar dibahu Kelly.
Bersambung...
__ADS_1
Cie Babang Dae cemburu cie cie.......