
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sean menatap Deska dengan kecewa. Kenapa gadis ini menolaknya? Apa yang kurang dari dirinya.
"Tolong pertimbangankan sekali lagi Deska. Aku ingin bertanggungjawab". Ujar Sean memohon.
Gadis itu hanya diam. Tatapan nya kosong kedepan. Sekali pun Sean bertanggungjawab semua takkan bisa mengembalikan semua yang hilang.
Jika dengan menikah bersama Sean bisa membuat mahkota nya kembali seperti semula. Maka Deska akan rela menikah dengan pria itu meski tanpa cinta.
"Nak". Lisa mengenggam tangan Deska "Bicaralah baik-baik. Jangan langsung menolak". Wanita paruh baya itu tersenyum lembut.
"Iya Kak. Sebaiknya Kakak bicarakan dengan Tuan Sean". Sambung Dilsa.
Deska tetap diam. Wajah gadis ini terlihat rapuh. Beberapa hari ini dia mengurung diri. Dia takut bertemu orang luar. Kejadian menyakitkan itu masih terus terngiang dikepala wanita cantik itu.
"Kak". Dilsa mengusap punggung belakang Deska "Bicara ya?".
Deska menatap adiknya. Wanita itu mengangguk dan mengiyakan permintaan adiknya.
Kini hanya Sean dan Deska. Kedua orang itu terdiam sejenak.
"Des". Sean berjongkok didepan wanita itu "Maafkan aku. Menikah lah denganku. Aku berjanji akan belajar mencintai mu". Ucap Sean penuh harap.
Deska memalingkan wajahnya. Sedangkan Sean mengenggam tangan wanita itu. Deska tampak pucat dan kurus.
"Apakah dengan anda menikahi saya. Semua akan kembali seperti semula?". Tatapannya "Anda telah menghancurkan hidup dan masa depan saya. Anda, hiks hiks". Deska kembali menangis segugukan.
"Deska aku minta maaf. Maafkan aku". Sungguh Sean benar-benar terluka melihat wanita ini. Betapa rapuhnya wanita yang dia rebut dengan paksa mahkota nya itu.
"Lepaskan". Deska menepis tangan Sean dengan kasar
Wanita itu berdiri menjauh dari Sean.
"Des".
"Jangan mendekat". Pekik Deska "Saya benci anda. Saya benci anda. Jangan pernah mendekat. Jangan pernah datang lagi. Pergi. Pergi". Teriak Deska histeris. Seperti nya wanita itu depresi. Jiwanya tergoncang.
Sean ikut menangis merasakan betapa rapuhnya gadis itu. Bolehkah Sean menyesal atas segala perbuatannya.
"Pergi". Bentak wanita itu.
"Deska berikan aku kesempatan Deska".
__ADS_1
"Pergi". Deska berlari masuk kedalam kamarnya. Langsung mengunci pintu kamar itu takut jika Sean mendobraknya dan memaksanya memaafkan pria itu lagi.
"Deska". Sean mengetuk pintu kamar Deska dengan frustasi.
"Tuan". Dilsa jadi kasihan melihat Sean "Pulanglah". Ujar gadis itu.
"Tapi_".
"Kak Deska butuh waktu Tuan. Biarkan dia sendiri dulu. Wajar jika dia begitu membenci anda. Karena anda telah mengambil sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Tuan tahu Kakak saya itu tidak pernah dekat dengan laki-laki? Tapi ketika dekat anda dia harus kehilangan mahkota nya". Ucap Dilsa.
Sean semakin merasakan sakit didadanya. Apakah dia memang pria bejat? Sebegitu dalamkah luka yang dia tanamkan dihati gadis itu sehingga Deska sama sekali tidak aku memberi nya kesempatan hanya untuk menebus semua kesalahannya?
"Pulang lah Nak". Lisa ikut menimpali "Jika kau benar-benar ingin bertanggungjawab atas perbuatanmu perjuangankan Deska dan buktikan padanya bahwa kau benar-benar menyesali segala perbuatanmu". Imbuhnya lagi.
Sean mengangguk "Terima kasih Bu. Terima kasih sudah percaya pada saya. Saya berjanji Bu akan memperjuangkan Deska. Saya akan belajar mencintai nya". Ucap Sean yakin
Lisa merasa kasihan pada Sean. Terlihat jika pria ini benar-benar menyesal. Tapi Lisa juga tidak bisa memaksa putrinya untuk memaafkan kesalahan Sean. Karena yang yang pria itu lakukan memang salah.
.
.
.
.
"Kak".
Dilsa masuk membawa nampan ditangannya.
"Kak, makan yaaa?". Sudah dua hari Deska menolak makan. Lihatlah tubuh wanita itu begitu kurus.
"Kakak tidak bisa seperti ini terus. Apa Kakak tidak kasihan ada Ibu? Ibu sedih melihat Kakak seperti ini". Ucap Dilsa sendu "Jika memang Kakak tidak gadis memaafkan Tuan Sean dan menerima dia. Setidaknya Kakak pikirkan aku dan Ibu". Tutur Dilsa. Jujur dia juga terpukul melihat kondisi Deska yang rapuh seperti ini.
Deska masih tak merespon wanita itu bersandar memalingkan wajahnya dan tidak mau melihat sang adik. Entahlah, saat ini dia tidak bisa memikirkan apapun. Seolah semua pikiran nya buntu. Masa depannya hancur. Berantakkan. Dan runtuh begitu saja. Seolah tidak ada harapan untuk masa depan yang cerah.
"Makan ya Kak. Dilsa keluar dulu".
Dilsa beranjak dari duduknya lalu keluar dari kamar mereka. Gadis itu menghela nafas berat. Kakak nya jika sudah berpikir memang sulit untuk bisa mengenali jalan pikiran nya.
"Bagaimana Dil?". Tanya Rein
Dilsa menggelleng "Kak Deska tetap menolak Kak". Sahut Dilsa "Aku tidak tahu bagaimana lagi untuk menghadapi dia. Jika seperti ini terus dia bisa gila Kak". Ucap Dilsa seolah ingin menyerah.
__ADS_1
Rein juga bingung harus bagaimana. Kasihan Deska dan Sean. Mereka berdua terjebak dalam keegoisan masing-masing.
"Ya sudah, siap-siap lah kita berangkat ke kampus. Kau sudah beberapa hari tidak masuk". Ujar Rein
"Iya Kak".
Dilsa naik keatas motor Rein. Mereka meninggalkan kediaman Dilsa.
Rein selalu menemani Dilsa. Apalagi dia tahu jika gadis kecil itu tidak memiliki siapa-siapa untuknya bersandar jadi Rein membantu Dilsa dengan selalu ada untuk gadis itu.
.
.
.
.
"Bagaimana Will?".
"Maaf Tuan. Nona Deska tetap tidak mau makan". Jawab Willy bernafas berat
"Apa aku memang tidak pantas untuk dimaafkan Will?". Ucap Sean tatapannya kosong kedepan.
"Semua orang memiliki kesempatan untuk mendapatkan maaf Tuan". Sahut Willy
"Tapi kenapa gadis itu sama sekali tidak mau memberiku kesempatan Will? Kau tahu kan aku dalam pengaruh obat? Aku melakukannya dalam keadaan tidak sadar Will. Aku juga tidak mau menghancurkan masa depan orang lain". Lirih Sean. Sakit. Tentu saja sakit. Tatapan dingin Deska seolah meruntuhkan tembok pertahanan nya. .
"Menurut saya wajar saja jika Nona Deska kecewa Tuan. Dia wanita baik-baik yang telah menjaga mahkota nya dengan susah payah. Ketika dia kehilangan nya. Dia merasa jiwanya melayang Tuan". Ujar Willy.
"Tapi aku tidak sengaja Will". Sean mengusap wajah nya frustasi
"Teruslah berjuang Tuan. Yakinkan Nona Deska jika anda sungguh-sungguh ingin memperbaiki semuanya. Jangan menyerah Tuan. Saya yakin Nona Deska akan luluh jika anda terus berjuang untuknya". Ucap Willy menyemangati Sean "Dan semoga benih anda tumbuh didalam rahimnya".
Sean tersendak mendengar ucapan asistennya. Dia menatap Willy
"Maksud mu?".
"Begini Tuan. Jika Nona Deska hamil bukankah dia akan mau menikah dengan anda karena bayi dalam kandungan nya". Ucap Willy.
"Tapi bukan karena dia mencintaiku Will".
"Anda bisa membuat Nona jatuh cinta pada anda, Tuan. Cinta bisa tumbuh karena seringnya kita bersama". Tutur Willy.
__ADS_1
Sean terdiam sejenak yang diucapkan Willy memang benar. Jika Deska hamil anaknya. Pasti wanita itu akan mau menikah dengan nya. Tapi bagaimana jika Deska tetap menolak?
Bersambung