
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Ini Tuan".
Ben menyerahkan iPad pada pria itu. Rekaman Echy saat meeting yang memang sengaja dia rekam sesuai dengan permintaan Tuan-nya itu.
Pria itu mengambil iPad dari tangan Ben. Dia membuka dengan tak sabar video itu.
Dia melihat video itu dengan seksama. Sudut bibirnya tertarik. Gadis itu tak berubah, tetap cerdas dan selalu teliti.
"Ahhh dia semakin menggemaskan sana". Dia menggeleng dengan gemes sambil melihat video itu dan tersenyum kesem-kesem seperti orang gila.
"Dia benar-benar hebat Ben. Selain cantik, pintar dan menggemaskan dia benar-benar mempesona. Ahhh rasanya aku ingin mengigit pipi nya itu". Dia terus berceloteh senang.
Ben juga tersenyum. Setelah sekian lama senyum pria itu memudar dan akhirnya dia bisa tersenyum kembali. Ben turut bahagia jika akhirnya Tuan dinginnya itu merasakan kebahagiaan kembali dalam hidupnya.
"Bagaimana dengan Dae Ben?". Dia mengembalikan iPad Ben
"Tuan Dae akan membantu kita untuk menyelidiki Tuan Jerry, Tuan". Sahut Ben
"Lalu jadwal pertemuan mereka, bagaimana?".
"Minggu depan Tuan. Saya sudah menjadwalkan pertemuan mereka". Jawab Ben lagi.
"Bagus. Terus kau pantau gadisku ku itu ya. Rekam semua kegiatan nya dan berikan padaku. Awasi juga si Dae itu, walaupun dia Kakak sepupunya aku takut jika dia berubah pikiran dan malah membawa gadisku pergi". Tintahnya
"Baik Tuan".
Ben menghela nafas berat. Jiwa posessif pria itu kembali lagi seperti dulu. Tapi hanya Echy yang bisa meluluhkan hatinya.
"Apa gadisku sudah makan siang Ben? Bagaimana dengan obatnya, apakah dia selalu minum obat?". Cecar nya. Senyum nya tak memudar, ah indahnya jatuh cinta.
"Nona Echy sedang makan siang dengan Tuan Dae dan Tuan Rein, Tuan". Ucap Ben
"Cihh, pasti hanya alasan si Dae saja supaya bisa dekat dengan gadisku". Cibirnya jiwa cemburu nya kembali lagi.
"Mereka saudara, Tuan". Ucap Ben membela.
"Siapa yang mengajimu Ben?". Dia memincingkan matanya kesal
"Anda Tuan". Sahut Ben polos.
"Tapi sepertinya kau berada di pihak pria menyebalkan itu?". Tuding nya lagi.
"Maaf Tuan". Ben hanya bisa menunduk. Dalam hati berkata salah lagi .
"Kapan Kelly pulang?". Dia mengotak-atik ponselnya "Aku akan menelpon gadisku_".
__ADS_1
"Anda lupa Tuan?". Ben mengingatkan untung saja dia belum menekan tombol panggilan.
"Arghhhhhhhhh, kau ini kenapa kau tidak mengingatkan ku?".
Ben mendelik. Dia lagi yang salah.
"Bukankah saya sudah mengingatkan anda Tuan?". Ucap Ben memaksakan senyum padahal hatinya sudah memaki-maki Tuan Ng
itu.
"Terlambat". Ketus nya "Ini simpan ponselku. Dan kau boleh keluar, aku ingin istirahat. Jangan lupa laporkan kegiatan gadisku. Jangan sampai terlewatkan satu moment pun. Kau tahu sendiri akibatnya kan Ben?". Dia menatap Ben dengan tatapan horornya.
Ben menelan salivanya "B-baik Tuan. Saya permisi". Lebih baik Ben segera pergi dari pada berhadapan dengan harimau yang tengah kasmaran itu pasti apa-apa salah dimatanya.
Ben menutup pintu pelan. Pria itu mengelus dadanya.
"Tuan sejak bangun dari koma semakin aneh". Ben menggeleng "Tambahkan lah stok kesabaran dihati hambaMu ini Tuhan". Gumamnya melangkah pergi.
.
.
.
.
"Kak Dae. Kak Echy". Sapanya menyambut kedua orang itu.
"Rein". Senyum mereka berdua.
Dae sengaja memesan ruang VVIP untuk mereka bertiga. Dia ingin kali ini menikmati waktu bersama Echy dan Rein. Dae sudah tak memiliki siapapun, selain Echy dan Rein. Dia bersyukur dipertemukan dengan saudara nya, meski pun bukan saudara kandung tapi Dae sungguh menyanyangi Echy dan Rein seperti adik kandungnya sendiri.
Dae memesan makanan terpopuler direstourant ini untuk kedua saudara nya.
Dae dan Rein mengatur segala makanan Echy. Gadis itu tidak boleh makan sembarangan.
"Ini tidak boleh ya sayang".
"Ini juga tidak boleh. Kolesterol nya kuat".
"Kakak tidak boleh makan ini. Untuk Rein saja".
"Ini terlalu pedas".
"Ini mengandung minyak terlalu banyak tidak baik untuk kesehatan Kakak".
Echy mendengus kesal. Apa-apa tidak boleh. Gadis itu mencebik dengan mulut komat-kamit seperti dukun baca mantra.
__ADS_1
"Ck, jika ini tidak boleh dan semua tidak boleh. Aku harus makan apa?". Renggek gadis itu.
"Makan ini sayang". Dae mengeluarkan piring berisi nasi putih dengan secuil daging Ayam.
Echy melonggo sambil mengambil piring itu yang benar saja. Nasi hanya segenggam doang dan satu potong daging Ayam kecil.
"Kak_".
"Tidak usah protes Kak. Ini porsi makanan untuk Kakak, tidak boleh banyak tidak boleh kurang". Jelas Rein tersenyum smirk.
Echy rasanya ingin menangis tua. Dia biasa makan banyak karena hobby makan dan sekarang harus dibatasi. Sungguh kejam sekali kedua pria itu.
"Tapi_".
"Cepat makan sayang. Kau harus minum obat. Atau mau Kakak suapi?". Dae mengambil piring dari tangan Echy
"Tidak usah makan sekalian saja Kak". Gerutu Echy "Cukup dari mana makanan segitu cuma sampe gigi sudah lapar lagi". Tungkas nya.
Dae dan Rein hanya terkekeh pelan. Mereka juga tidak tega. Tapi sesuai dengan anjuran dokter untuk menjaga pola makan Echy. Sebab setelah ini dia akan kemoterapi lagi, sel kanker dalam tubuhnya tidak sepenuhnya mati. Masih ada beberapa sel yang hidup disana.
Dae memaksa untuk menyuapi Echy. Gadis itu makan sambil mengomel panjang kali lebar kali tinggi. Untuk apa Dae pesan makanan banyak dan enak tapi pada akhirnya dia tidak bisa memakannya juga. Kan buat orang ileran saja, gerutu gadis itu.
Meski mengomel tapi Echy tetap makan. Ingin menangis tapi malu sudah besar tapi nanti dia diledek oleh Rein. Tidak terima sudah pasti. Yang biasanya makan apa saja yang ingin dimakan boleh tapi kali ini tidak boleh dan harus dibatasi. Tidak boleh banyak dan tidak boleh sedikit.
"Sekarang Kakak minum obat yaaa?". Rein membuka kresek kantong obat Echy.
"Rein". Renggek Echy dia benci obat. Kenapa harus minum obat?
"Minum Kakak. Biar cepat sembuh. Mau tinggal dirumah sakit lagi?". Echy menggeleng "Tidak kasihan pada Kak Regan?". Echy cemberut.
Dengan terpaksa gadis itu minum obat. Rasa obat yang pahit membuat nya ingin muntah. Tapi obat itulah yang akan membuatnya bertahan hidup.
Dae tersenyum memandang kedua orang itu. Dia bersyukur tahu lebih cepat jika Echy dan Rein adalah saudaranya. Coba saja jika dia tidak tahu, sudah pasti dia akan membawa Echy pergi dan mencelakai gadis itu karena dendamnya pada Regan
"Anak pintar". Rein mengusap kepala Kakak nya sambil terkekeh.
"Rein". Echy menepis tangan Rein
"Kalian berdua itu sama saja. Pemaksa". Gerutunya memperbaiki wig nya yang sedikit bergeser.
Dae dan Rein tertawa gemes. Apalagi saat Echy menahan nafasnya yang memburu. Membuat kedua pria itu ingin mengigit Echy.
**Bersambung....
Mampir ke karya baru author yukk guys...
Istri Kecil Tuan Cassanova
__ADS_1
Jangan lupa komen like dan vote nya yaaaaa**