
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Kak".
Wajah Echy terlihat begitu lemes sekali.
"Kak". Air mata Rein sudah mengucur dipipinya "Kita kerumah sakit ya?". Echy hanya mengangguk lemah.
Rein mengendong Echy dipunggung belakang nya. Pria itu tampak panik, Echy terlihat lemes bahkan berjalan saja dia tidak mampu.
Rein memanggil taksi dan masuk kedalam taksi itu sambil menggendong tubuh lemah Echy.
"Kak, Bertahanlah demi Rein". Rein memeluk Echy sambil menangis.
Echy sudah tak sadarkan diri, dari tadi gadis itu mengeluh sakit tapi tidak mau dibawa kerumah sakit.
Rein memeluk Kakaknya. Dia juga membungkus tubuh Echy dengan selimut tebal. Tubuh Echy terasa dingin sekali. Jika Kakaknya sudah pingsan seperti ini berarti sakitnya benar-benar luar biasa.
Rein ingin menghubungi Sean atau Kelly. Tapi Echy selalu melarangnya dan jangan merepotkan orang lain selama kita mampu berusaha sendiri. Mengingat kata-kata Kakaknya itu Rein mengurungkan niatnya menghubungi Sean atau Kelly.
Sampai dirumah sakit pria itu langsung menggendong Kakaknya. Echy benar-benar sudah tak sadarkan diri.
"Dok tolong Kakak saya".
"Astaga Nona Echy".
Zora dan beberapa dokter lainnya langsung menangani Echy. Apalagi mereka tahu jika Echy pasien spesial yang selalu dijaga Tuan mereka.
Rein menunggu diruang tunggu. Pria berkacamata tebal itu menangis segugukan. Mereka hanya berdua. Tidak ada siapa-siapa. Ada pun saudara tiri dari almarhum Ayahnya, tapi mereka sudah lama putus hubungan sejak kedua orangtuanya meninggal.
Sementara saudara dari Ibu mereka berada diluar negeri. Karena Ibu Echy dan Rein warga Negara Korea asli. Echy dan Rein tidak pernah kesana, jadi mereka tidak tahu siapa saja keluarga dari Ibu nya.
"Kak, hiks hiks hiks".
Pria itu menangis sendiri. Mau mengadu pada siapa? Tidak ada saudara. Tidak ada keluarga atau teman dekat yang bisa menolong. Hidup tanpa orangtua ternyata seberat ini.
Rein terus menatap ruang dimana Echy sedang diperiksa. Namun Zora dan beberapa dokter lainnya belum juga keluar. Pria itu terus menangis, mau bersandar pada siapa? Mau minta tolong pada siapa? Mereka yatim piatu tidak memiliki siapapun didunia ini.
__ADS_1
"Kak, bertahan demi Rein. Jangan tinggalkan Rein Kak. Rein hanya punya Kakak. Rein akan menjaga Kakak. Rein berjanji Kak. Bertahanlah. Rein tidak punya siapa-siapa selain Kakak". Pria itu masih terisak sendiri sambil menunggu dokter keluar dari sana.
Tidak lama kemudian Zora keluar bersama beberapa dokter yang tengah berbincang-bincang dengannya.
"Dok bagaimana keadaan Kakak saya?". Cecar Rein tergesa-gesa.
Zora menghela nafas panjang "Dia sudah melewati masa kritis nya. Setelah dia sadar kami akan segera melakukan pemeriksaan tulang sumsum belakang untuk mendeteksi jenis kanker yang menyebar didalam tubuh Nona Echy". Jelas Zora
"Lakukan yang terbaik untuk Kakak saya Dok". Sahut Rein lemah.
"Kamumi akan melakukan sebisa kami". Jawab Zora
"Apa saya sudah boleh melihatnya Dok?".
"Silahkan". Sahut Zora "Kami akan pindahkan Nona Echy ke ruangan rawat inap VVIP".
Rein sedikit tercengang mendengar ucapan Zora. Ruangan VVIP? Mereka tidak punya uang sebanyak itu untuk menginap diruangan mahal tersebut.
"Tenang saja Rein. Nona Echy, mendapat asuransi dari perusahaan tempatnya bekerja yang bekerjasama dengan rumah sakit ini. Jadi seluruh biaya rumah sakit sudah ditanggung oleh perusahaan". Jelas Zora yang seakan bisa melihat kekhawatiran diwajah Rein.
"Terima kasih Dok".
"Kakak".
Rein berjalan dengan lemas. Matanya berkaca-kaca menghampiri Kakaknya itu. Dia terluka begitu parah. Echy sudah cukup menderita selama ini. Kenapa penyakit seperti ini harus hinggap ditubuh Kakaknya? Tidak kah Tuhan kasihan pada mereka berdua yang hidup tanpa orangtua.
.
.
.
.
Regan masuk kedalam mobilnya dengan buru-buru. Baru saja dia mendapat informasi dari pengawal bayangan nya bahwa gadisnya masuk rumah sakit.
"Kumohon sayang bertahanlah. Bertahanlah sayang. Aku akan memperjuangkan mu kembali. Aku mencintaimu".
__ADS_1
Dengan menangis Regan melajukan mobilnya membelah jalanan Jakarta. Tampak angin malam menghembus baju yang dia pakai.
Sampai dirumah sakit pria itu langsung masuk tanpa merespon sapaan para dokter dan perawat yang dia lewati.
"Tuan Regan". Sapa Ben.
Ben sudah ada disana sebelum Rein dan Echy sampai dirumah sakit. Seperti biasa secara diam-diam dia memantau gadis itu.
"Bagaimana keadaan gadisku Ben? Apa yang terjadi padanya? Apa dia baik-baik saja? Apa kata dokter Zora?". Cecar Regan. Wajahnya tampak panik luar biasa "Aku ingin menemui gadisku".
Secepat kilat Ben menahan Regan
"Tuan jangan terburu-buru. Ini bukan waktu yang tepat untuk anda menemui Nona. Ini akan berpengaruh bagi kesehatan Nona. Mohon bersabar lah Tuan". Ucap Ben berusaha menahan Regan agar tidak masuk kedalam ruangan Echy.
"Apa yang kau katakan Ben? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Kau tahu kan aku sangat mencintainya?". Sentak Regan.
"Saya tahu anda mencintai Nona, Tuan. Tapi saat ini bukan waktu yang tepat. Nona masih membenci anda. Jika anda menemuinya sekarang itu akan membuat Nona semakin salah paham pada anda. Bersabarlah Tuan. Saya percaya Nona akan kembali pada Tuan".
Regan terduduk lemes dibangku tunggu. Pria itu menunduk menahan air mata yang hendak keluar dari pelupuk matanya. Dia panik. Siapa yang tidak panik ketika mendapat kabar bahwa orang yang dicintai dibawa kerumah sakit dalam keadaan tanpa sadar?
Regan mengusap wajahnya kasar. Pria itu tampak frustasi dan beberapa kali dia menyeka air matanya.
"Ayo Tuan. Kita keruangan dokter Zora".
Regan hanya menurut tanpa berkata apapun. Dia rasanya ingin berlari dan menemui Echy. Tapi seperti kata Ben tadi bahwa ini bukan waktu yang tepat. Yang ada gadis itu akan semakin membenci nya. Bahkan pertemuan mereka kemarin saja Echy terlihat begitu ketakutan seperti melihat hantu.
"Silahkan duduk Tuan Regan. Tuan Ben". Ucap Zora sopan.
Keduanya duduk. Regan hanya terdiam. Menatap kosong kedepan. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir pria itu.
"Bagaimana keadaan Nona Echy Dok?". Tanya Ben mewakili. Sebab dia tahu jika Regan sedang tak ingin berbicara.
"Nona Echy sudah melewati masa kritis nya. Setelah dia sadar saya akan melakukan Teknik Bone Marrow Inspiration, tapi ada beberapa prosedur yang harus dilakukan pasien sebagai indikasi dari tulang sumsum belakang".
Kondisi Echy bisa stabil dan bisa juga drop tergantung dari beban pikiran nya. Gadis itu drop tiba-tiba setelah pertemuan nya dengan Regan. Mungkin saking merasa takut dan serangan panik hingga gadis itu mengalami stress berat.
Regan menatap kosong. Harapannya menipis untuk bisa menerima maaf dari Echy. Dia tahu gadis itu jatuh sakit gara-gara pertemuan mereka kemarin. Tapi sungguh Regan sangat merindukan Echy. Maksudnya mengatur kerja sama itu adalah agar bisa bertemu Echy. Tapi kenapa jadi seperti ini?
__ADS_1
Bersambung......