
Merasa urusannya sudah beres juragan dan kawan-kawannya pun berpamitan pulang, tak lupa setangkai bunga mawar sebagai pengganti bunga 20% nya pun ikut dibawa sertanya. Rupanya juragan Seno akan benar-benar menyimpannya sebagai kenang-kenangan.
Sementara didalam ruangan tamu tadi langsung terdengar teriakan yang menggema.
" Heyyyyy.. Kamu sudah berani ya melawan saya " Menghampiri Veln lalu menjambak rambutnya.
" Aduh sakit Mbak Del, ampunnn " Dengan suara memelas Veln memohon ampun.
Virina pun tak kalah galaknya ikut menendang sebelah kaki Veln.
" Auuu "
" Rasain "
Mereka berdua pun menarik Veln masuk kedalam kamarnya, lalu mendorong tubuh Veln hingga Veln terjerembab diatas tempat tidurnya.
" Dasar tidak tau diri ya, beraninya kamu menolak lamaran juragan Seno tanpa berunding dulu denganku " Suara itu terdengar keras dan lantang.
" Iya dasar kurang ajar.. Aduh Ibu, bagaimana ini? Kita gagal dong dapat jatah uang bulanan dari juragan Seno. Jadwal hura-hura aku pun harus ditunda entah sampai kapan. Jadi kita nggak bisa shoping-shoping dong Bu, Jalan-jalan, belanja-belanja, nyalon semuanya sudah tinggal kenangan " Bukannya menenangkan Ibunya, Virina justru mengkompori.
Veln pun langsung membenarkan posisi badannya yang terasa agak sedikit sakit-sakit, tak terlihat sedikit pun buliran air mata diujung kelopak matanya. Mungkin karena sudah saking seringnya mendapatkan perlakuan seperti tadi jadi sudah merasa kebal.
Tangannya meraih sebuah paper bag dari dalam lemari, tanpa menghiraukan ocehan Delina dan Virina yang meledak-ledak.
" Ambilah Mbak Del. Itu sebagai ganti rugi buat kalian atas pembatalan pernikahanku dengan juragan Seno "
Delina langsung menyaut kantung paper bag itu, dan segera melihat isinya. Matanya seketika terpukau melihat gepokan uang yang ada didalamnya. Melihat ekspresi Ibunya, Virina langsung mendenguskan kepalanya.
" Wowwwwwwwww " Seketika mulut Virina menjerit dan terkagum-kagum melihat isi dalam paper bag itu.
Kini mereka berdua pun sibuk menghitung lembaran demi lembaran gepokan uang dengan wajah ceria.
Uang yang diberikan Ray lewat sekertaris Sam memang jumlahnya lebih banyak, dua kalilipat dari jumlah hutang Delina kepada juragan Seno
Cih. Bahkan mereka tidak menanyakan pada ku darimana uang itu berasal.
" Mbak Del, kapan Paman pulang? "
" Lusa " Sembari tangannya sibuk menghitung lembaran berwarna merah itu.
" Memang kenapa kau menanyakan Pamanmu? " Mengalihkan pandangannya kearah Veln.
__ADS_1
" Hey, aku lupa menanyakan uang ini dari mana asalnya?cepat beritau aku dari mana kau mendapatkan uang sebanyak ini? "
" Iya cepat jawab " Imbuh Virina " Tapi aku nggak begitu perduli juga sie dari mana asal uang ini "
Delina menajamkan pandangannya.
" Itu dari calon suami aku, Mbak Del " Veln menjawab dengan santai.
" Apa? " Delina dan putrinya kaget seketika mendengar jawaban Veln.
" Rupanya kau punya kandidat lain selain juragan Seno? "
" Katakan siapa? apa dia lebih kaya dan lebih tua dari juragan Seno? pasti.. pasti dia lebih kaya dan lebih tua dari juragan Seno sampai mau memberikan uang sebanyak ini kepada mu. O ya jangan lupa kalau kau sudah menikah nanti berikan jatah bulanan kepadaku dan juga Ibu " Virina bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya. Mereka berdua pun tertawa dengan puas.
○○○
Dua hari berikutnya suasana hati Veln agak sedikit ceria dibandingkan hari-hari sebelumnya, mungkin itu pengaruh dari kedatangan Pamannya yang dari perantauan.
Diruang tengah terdengar obrolan ringan pagi itu, setelah semuanya melakukan sarapan.
" Nak, Paman dengar katanya kamu sudah bekerja? "
" Ia Paman "
" Bapak tidak usah khawatir, sebentar lagi juga dia akan keluar dari pekerjaannya. Secara dia kan akan segera menikah " Celetuk Virina.
Paman Rian agak sedikit kaget mendengar ucapan putrinya.
" Ia pak, sepertinya keponakan kita ini benar-benar sudah dewasa sampai sudah bisa memilih calon suaminya sendiri " Tambah Delina.
" Benar begitu Nak? " Rian memastikan bertanya langsung kepada keponakannya.
" Sepertinya begitu Paman, nanti secepatnya aku akan memperkenalkannya kepada Paman dan semuanya "
Dalam hal ini aku berterimakasih kepada kalian karena sudah mau membantu memberi tau perihal pernikahan ini kepada Paman, karena bahkan aku sendiri bingung mau memberi tau kan dari mana soal tuan muda Ray tapi berkat kalian yang sudah memberi aku jalan jadi bisa dengan mudah aku bercerita tentang laki-laki itu.
" Apa dia seseorang yang baik Nak? "
" Tentu saja Pak, bukan hanya baik bahkan dia pun banyak uang " Celetuk Virina.
" Benar Pak dan aku rasa soal usia tidak jadi masalah asal dia benar-benar bisa menjaga dan membahagiakan Veln " Mereka berbicara seolah-olah sudah kenal dan tau benar dengan sosok yang akan menikahi Veln.
__ADS_1
" Maksudnya? "Rian mengernyitkan dahinya.
" Ia Paman, Usianya memang lebih matang dari aku "
" Hahahahaa " Delina dan Virina tertawa puas.
" Benar Pak, lebih matang. Dan Ibu rasa itu tidak akan menjadi penghalang selama Veln nyaman dan bersedia dinikahi oleh calon suaminya itu "
" Betuuuuul " Imbuh Virina.
Entah lah sebenarnya apa yang ada dibenak mereka berdua tentang laki-laki yang hendak menikahi Veln. Mungkin mereka berfikir kalau laki-laki itu sudah pasti lebih kaya dari juragan Seno karena sudah mau bersedia memberikan uang banyak untuk Veln dan soal usianya bisa jadi lebih bangkotan.
○○○
Suara pintu depan terdengar ada yang mengetuk, Veln hendak ingin membukanya namun mengurungkan diri karena dicegah oleh Pamannya.
" Biar Paman saja yang buka Nak " Tanpa menjawab, Veln hanya menganggukkan kepalanya dan berlalu meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya.
Belum lama dia mendudukan tubuhnya diatas tempat tidur, tiba-tiba terdengar suara Pamannya mengetuk pintu kamarnya dan masuk.
" Nak, ada tamu " Ucap Rian pada keponakannya.
Veln menautkan alisnya, berfikir siapa yang datang bertamu kerumahnya. Karena dari semenjak itu Veln sangat jarang kedatangan tamu selain Liana atau teman dekat lainnya itu pun tidak tentu bahkan kalau dihitung mungkin hanya beberapa kali dalam setaun, karena Veln lebih nyaman bertemu mereka diluar rumah. Apalagi para fans-fansnya sudah pasti tidak mungkin, karena setiap kali mereka hendak bertemu Veln akan dicegat terlebih dahulu oleh Delina dan Virina.
Dengan rasa penasaran Veln pun bergegas menuju ruang tamu yang diikuti oleh pamannya.
Sontak kakinya terhentak saat melihat seseorang yang sudah duduk dikursi ruang tamunnya.
Boss??? Orang ini selalu saja membuat otak dan jantung ku bekerja keras. Dari mana dia bisa tau rumahku?! apa jangan-jangan hasil wawancara waktu itu masih benar-benar tercopy dengan jelas diotaknya. Dan siapa dua orang ini? Dia tidak datang dengan sekertaris Sam?
Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan dengan apa yang dilakukan oleh Ray. Veln agak menengokkan sedikit kepalanya kearah luar dan dia mendapati sekertaris Sam yang sedang berdiri diteras rumahnya.
Satu persatu Veln mengamati orang-orang yang berada diruang tamu itu, wajah Mbak Del dan Pamannya tak kalah penasarannya dengan dirinya. Sementara Virina serasa menikmati dengan kedatangan sosok laki-laki yang dianggapnya bak malaikat yang datang disiang hari.
Bibirnya otomatis menyunggingkan senyum ketika bertatapan dengan sepasang suami isteri yang sudah berusia tidak muda lagi, mereka pun melempar kembali senyuman kearah Veln.
Namun ketika matanya bertemu dengan kedua mata Ray, Veln agak ragu-ragu untuk melempar senyum. Yang akhirnya membuat Ray melempar senyum sinisnya kearah Veln.
" Baiklah, sebelumnya kami memohon maaf karena mungkin sudah mengganggu waktu kalian " Ucap wanita yang mungkin sudah berumur lebih dari setengah abad itu, yang ternyata tante dari Ray yang bernama tante Susan.
" Iya karena keponakan kami yang nakal ini memaksa untuk secepatnya melamar dengan cara memberikan surprise seperti ini " Imbuh om Aldo yang tak lain suami dari tante Susan.
__ADS_1
Tanpa basa-basi tante Susan dan Om Aldo memberitahukan maksud dan tujuannya kepada Paman dan Bibi Veln yang sebelumnya masing-masing keluarga saling memperkenalkan diri.
Bersambung..