
Veln mengerjapkan kedua matanya, dan mengucek perlahan dengan kedua tangannya sembari diselingi mulutnya yang menguap akibat masih merasakan kantuk yang sangat luar biasa.
Namun tidur pulasnya harus rela terganggu akibar rasa lapar yang begitu menderu, dalam perutnya terdengar suara cacing berdemo. Masih dalam keadaan setengah sadar matanya diarahkan kearah sofa samping tempat tidur, penglihatannya menangkap seseorang yang sedang duduk dan memangku sebuah laptop memandang layarnya dengan serius.
Apa tuan muda sudah kembali??? atau cuma halusinasi?!!
Pikirannya masih belum yakin dengan apa yang dilihatnya, dengan matanya yang masih menatap lekat kearah Ray.
Veln pun mendudukkan tubuhnya untuk benar-benar memastikan penglihatannya, memang benar Ray lah yang dilihat oleh kedua matanya. Tangannya menutupi mulutnya yang sedang menguap, lalu mengelap kedua kelopak matanya yang berair dan beranjak turun mendekati Ray.
" Boss, kau sudah kembali? " Sembari sesekali mulutnya menguap yang ditutupi telapak tangannya. Ray sedari tadi tidak bergeming masih fokus menatap layar laptopnya, seolah tidak menganggap keberadaan Veln.
" Boss jam berapa kau kembali? " Kembali Veln melemparkan pertanyaan, namun masih tidak dihiraukan oleh Ray.
Gleg.. Veln menelan ludahnya kelu, merasa diabaikan dan tidak dianggap ada oleh Ray. Sampai sedikit agak lama dia mematung disitu, namun tetap saja Ray sama sekali tak menghiraukannya bahkan melirik pun tidak. Membuat rasa kantuk dan laparnya sirna seketika, hanya bisa menghirup dan membuang nafasnya panjang.
Dengan tidak tau malu Veln mendudukkan dirinya diatas sofa, disamping Ray.
Ray sebentar melirik kearah Veln tanpa membuka mulutnya, seakan memberi angin segar untuk sementara waktu namun kembali kesikap yang sebelumnya. Cuek dan sama sekali tak tertarik dengan keberadaan Veln.
Dengan tau diri Veln pun beranjak dari duduknya dan hendak pergi melangkah.
" Kau, berani sekali mendekati aku dengan wajah penuh iler dimana-mana " Kata-kata Ray menghentikan langkahnya yang hendak pergi dari hadapan Ray. Kedua tangan Veln reflek mengusap-usap bagian wajah khususnya area bibir bermaksud menghilangkan iler yang dimaksud Ray.
" Pergilah mandi dan buat tubuhmu wangi, baru setelah itu kau boleh mendekati aku " Mendengar ucapan Ray, Veln memastikan dengan mendekatkan kedua lengan bahunya menuju ujung hidung secara bergantian untuk memastikan aroma tubuhnya. Melihat apa yang dilakukan Veln membuat Ray senyum-senyum kegirangan masih dengan posisi duduknya dibelakang punggung Veln yang sedang berdiri.
Tanpa berbalik kearah Ray, Veln langsung menuju kamar mandi yang sebelumnya terlebih dahulu mengambil baju ganti.
Sesampainya didalam kamar mandi Veln langsung memastikan kembali aroma tubuhnya dengan mendenguskan ujung hidungnya kesebagian lekuk tubuhnya namun sama sekali tidak menemukan aroma tidak sedap seperti yang diucapkan Ray. Wajahnya pun langsung dihadapkan kecermin besar yang ada dikamar mandi tersebut, memastikan apakah benar-benar ada iler yang menempel diseluruh wajahnya namun dia juga tidak mendapatinya.
Apa indra penciumannya memiliki tingkatan setandar yang berbeda dengan orang-orang sepertiku?
Ah.. lagi-lagi Veln dibuat bernafas panjang, dan langsung membersihkan seluruh badannya. Setelah dirasa cukup Veln pun langsung mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan segera mengganti pakaian dan keluar dari kamar mandi.
Veln keluar dari kamar mandi dengan mengenakan dress motif garis-garis dengan panjang dibawah lutut yang berlengan pendek dan rambut yang diikat seperti ekor kuda kembali mendekati Ray yang masih duduk diposisi awal.
" Boss, apa kau sudah sarapan? " Bermaksud mengajak suaminya untuk makan karena dirasa didalam perut sudah mulai protes kembali meminta untuk diisi.
" Sudah, beberapa jam yang lalu " Tatapan Ray lekat memandang Veln.
" Kau tidak lihat bahkan matahari sudah mulai meninggi, itu artinya sebentar lagi akan tiba waktunya makan siang " Dengan nada suara yang biasa tapi entah kenapa terdengar seakan menampar kedua pipi Veln.
Apa tuan muda ini sedang memarahiku?karena terlambat bangun? memang benar aku sedikit kesiangan, jam segini (8.45) aku baru tersadar dari mimpi. Tapi ini juga bukan sepenuhnya kesalahanku, siapa suruh dia meninggalkan aku semalaman dengan kondisi kelaparan sehingga membuatku tidak bisa tidur.
" Aku lapar " Dengan memelas berharap Ray segera memberinya makan. Namun dasar tuan muda, dia malah mengfokuskan kembali kearah layar laptopnya.
__ADS_1
" Boss.. apa kau akan memberiku makan? " Ucapan Veln terdengar seakan memohon dan mengemis untuk diberi makan.
" Memang tidak apa-apa buatmu? kalau aku tidak memberikanmu makan? " Mata Veln terbelalak kaget.
Ya ampun tuan muda ini, sebenarnya apa sie maksud dan tujuannya menikahi aku???
" Tidak apa-apa, aku terbiasa mencari makan sendiri " Ray tersenyum jahat menatap langkah Veln yang gontai dari belakang menuju pintu kamar untuk keluar.
Terdengar pintu diketuk dan tak lama masuk sekertaris Sam sebelum Veln sempat membuka pintu kamar yang hendak keluar.
Sam menganggukkan kepalanya sopan yang melihat Veln sedang berdiri tak jauh dari pintu kamar dan kembali fokus kearah tuan mudanya.
" Tuan.. " Belum sempat menyelesaikan perkataannya Veln terlebih dulu memotong pembicaraan Sam.
" Sekertaris Sam, apa aku boleh meminta bantuanmu? "
" Tentu nona, ada yang bisa saya bantu? "
" Bisa kah kau meminjami aku uang? " Sam sedikit terkaget, lalu melirik kearah tuan mudanya yang sedang tersenyum jahat duduk diatas sofa.
" Aku akan membayarnya nanti, aku tidak menemukan barang-barangku yang lainnya disini kecuali pakaianku yang ada dilemari. Akan aku bayar setelah aku menanyakan dimana dompet, ponsel dan barang-barangku yang lainnya kepara bridesmaid itu " Kembali mata Sam melirik kearah tuan mudanya untuk meminta persetujuan.
Sam pun mengeluarkan beberapa lembaran merah dari dompet yang barusan dia ambil dari saku celananya dan menyodorkan kearah Veln setelah pendapat anggukan dari tuan mudanya, tanpa malu-malu Veln langsung menyaut satu lembaran merah tersebut dan menuju keluar kamar.
Dengan langkah cepat Ray ikut keluar dari kamar mengikuti Veln, yang dibuntuti sekertaris Sam.
" Belum tuan, masih tertata diatas meja " Kata-kata Sam membuat Veln membalikkan tubuhnya.
" Apa saya perlu menggantinya dengan yang baru? " Tanya sekertaris Sam begitu sopan.
" Tidak usah, bereskan saja semuanya karena Nona mudamu lebih memilih makan diluar " Tetap dengan suara datarnya yang sedikit memerintah namun selalu terdengar mengerikan ditelinga Veln.
Mendengar itu tanpa berkomentar Veln kembali membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kaki menuju pintu keluar.
" Nona " Sam menghentikan langkah Veln.
" Apa anda benar-benar memilih makan diluar? " Tanpa mengeluarkan suara Veln menjawab dengan anggukan tegas.
" Baiklah kalau begitu. Tapi aku lupa memberitahukannya padamu Nona, kau harus mengembalikan uangku sepuluh kalilipat dari jumlah yang Nona pinjam " Sengaja, karena sepertinya sekertaris Sam mencium aroma tidak beres antara tuan dan Nona mudanya.
" Apa?!! " Veln melangkahkan kakinya mendekati sekertaris Sam dan mengembalikan lembaran merah tersebut.
" Kau tau sekertaris Sam, kau itu lebih kejam sepuluh kalilipat dari rentenir " Dengan kesal Veln menatap sekertaris Sam. Ray kembali mengeluarkan senyum jahatnya.
" Maaf Nona sudah sewajarnya saya mencari keuntungan, apalagi jumlah segitu mungkin buat kalian hanya sebatas uang jajan harian "
__ADS_1
Uang jajan harian kepalamu, untuk mengganjal perut laparku saja pagi ini aku begitu kesulitan.
" Jadi bagaimana ini? sekertaris Sam.. Aku begitu merasa lapar sekali pagi ini " Veln merengek dan memelas dihadapan sekertaris Sam.
Perempuan ini, bukannya merengek meminta dinafkahi suaminya malah merayu pria lain untuk memberinya makan. Ray tersenyum gemas atas apa yang dilakukan istrinya.
" Anda bisa sarapan dimeja makan Nona, tunggulah sebentar saya akan menggantinya dengan yang baru. Apa Nona ingin memesan sesuatu? " Tanpa menghiraukan sekertaris Sam, Veln langsung menuju meja makan.
Mendudukkan tubuhnya disalah satu kursi dan dengan segera menyambar roti sandwich yang berada diatas meja. Namun saat hendak memasukkan kedalam mulutnya, Ray mengambil alih sandwich yang hendak ia masukan kedalam mulut.
Dengan apa yang dilakukan Ray, membuat Veln frustasi dan pasrah. Veln menyandarkan sebelah pipinya diatas meja makan dan menatap sendu kearah wajah Ray. Kedua tangannya mendekap erat perut yang sedari tadi berguncangan seakan sedang terjadi gempa didalamnya.
" Apa kau tau tuan muda, pagi ini aku benar-benar sangat merasa kelaparan " Dengan suara lirihnya. Keringat dingin mulai bercucuran keluar dari dahinya, raut wajahnya memucat seperti seseorang yang kehabisan tenaga.
" Kemarin, kau bahkan meninggalkan aku tanpa memberiku makan. Dan bodohnya aku menuruti kata-katamu untuk tetap diam dan tidak meninggalkan tempat ini. Aku seperti istri yang penurut begitu setia menunggui suaminya datang hingga subuh dengan merasakan perut yang kelaparan " Sontak kata-kata Veln membuat Ray terkaget, begitu juga dengan Sam.
" Maafkan saya Nona, ini semua kesalahan saya. Karena saya tidak benar-benar memastikan apakah anda benar-benar seharian bersama tuan muda " Ray semakin terkaget mendengar ucapan Sam.
" Sam, apa kemarin kau sama sekali tidak mengunjungi Veln? "
" Tidak tuan. Terakhir kali saja hanya memastikan mengecek lewat sikembar katanya Nona hendak tidur untuk istirahat setelah membersihkan diri. Maafkan atas kelalaian saya tuan, saya fikir anda tidak akan senang jika ada yang mengganggu waktu kalian kemarin "
Sial. Ini semua gara-gara Denis.
Ray mengusap kepala istrinya lembut, dengan penuh penyesalan karena sudah mengerjai Veln.
" Duduklah dengan benar dan makan sarapanmu " Suara Ray terdengar begitu lembut dan menenangkan. Veln pun segera membenarkan duduknya.
" Berikan rotinya " Dengan tersenyum senang dan menengadahkan kedua tangannya kearah Ray.
" Buka mulutmu, aku akan menyuapinya " Veln pun dengan tanpa malu-malu membuka mulutnya dan menggigit sandwich yang diulurkan oleh Ray.
Ray mendudukkan diri disamping kursi dekat Veln dan mengulurkan kembali sandwich kearah mulut istrinya yang membuka, meminta untuk disuapi kembali.
" Pelan-pelan, tidak usah buru-buru kau bisa tersedak nanti " Veln mengangguk mengiyakan.
" Tuan, apa anda tidak sekalian makan? " Suara Sam memecah membuat Veln yang fokus menikmati sarapannya melirik kearah Sam.
" Boss, kau belum sarapan? " Veln meraih satu sandwich diatas meja dan menyodorkan kearah Ray.
" Ambil lah. Kemarikan rotiku, kita makan sama-sama " Ajak Veln sembari mengulurkan sepotong roti sandwich.
" Suapi " Veln ragu hendak menyuapkan sandwich kemulut Ray.
" Ayo, suapi aku " Akhirnya mereka pun makan sembari saling menyuapi, bibir mereka sesekali sambil senyum-senyum canggung ketika pandangan matanya saling bertabrakan.
__ADS_1
Bersambung..