Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
24.Mengotori


__ADS_3

Ray menghentikan langkah kakinya, begitu juga dengan Veln reflek menghentikan langkahnya mengikuti gerakan Ray.


Ray menuntun Veln menuju sebuah toko khusus pakaian dalam bermerk disalah satu mall tersebut.


Namun ketika Veln menyadari, kini giliran Ray yang tertahan langkahnya oleh istrinya.


" Ray kau tidak haus? bagaimana kalau kita minum-minum dulu dicafe itu? " Veln mendongakkan kepalanya kewajah Ray dan menunjuk salah satu cafe yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


" Hem " Langkah mereka berdua pun ditujukan kearah cafe tersebut dan mendudukkan disalah satu kursi yang terletak disudut ruangan.


" Kau mau minum apa? " Sibuk membolak-balikkan daftar menu.


" Terserah kau saja " Menyerahkan keputusan ketangan istrinya.


" Mau yang hangat atau yang dingin? " Menatap wajah Ray menunggu jawaban.


" Dingin " Ray menjawab cepat.


Veln langsung memesankan untuk Ray satu minuman hangat beserta kue pendampingnya.


Ray tersenyum ringan kearah istrinya yang sedang terkekeh.


" Apa kau sedang mengerjai ku? " Ray menghardik, Veln menganggukkan kepalanya dengan tersenyum puas.


" Aku tidak mau kau beku karena kedinginan, minuman hangat lebih baik untuk mu " Kilah Veln masih dengan melebarkan senyumnya.


" Tidak masalah untuk ku kalau sampai beku kedinginan, aku tinggal mendekap mu saja untuk menghangatkannya " Senyum menyeringai dari bibir Ray membuat Veln terkesiap.


" Dasar mesum " Cletuk Veln.


" Mungkin otak mu yang mesum, kenapa hanya memesan satu minuman? " Ray mengernyitkan dahinya.


" Secangkir berdua lebih romantis, seperti saat kita makan ketoprak waktu itu " Veln mengingat makanan gerobak yang membuat dia hampir ketakutan terlambat melakukan penerbangan.


Tidak butuh waktu lama, seorang pelayan datang membawakan pesanan secangkir coffe late dan sepotong cake, tanpa diperintah langsung meletakkannya kearah meja setelah itu pelayan pun berlalu meninggalkan meja yang diduduki oleh Ray dan Veln.


" Ray nikmati minuman mu, aku akan ketoko itu untuk membeli beberapa pakaian dalam " Sembari telunjuknya menunjuk kearah toko khusus pakaian dalam tersebut.


" Jadi ini tujuan mu membawa ku kemari? " Ray menangkap maksud Veln. Veln mengangguk pelan sembari tersenyum dan beranjak dari duduknya.


" Aku tidak mau mengotori mata mu dengan pemandangan yang ada didalam toko tersebut " Veln pun hendak beranjak meninggalkan Ray. Ray menjentikkan jari diujung hidungnya dan hanya bisa tersenyum dibuatnya. Terlihat tangannya merogoh saku celana untuk mengambil dompet.


" Bawa ini " Mengulurkan sebuah kartu kearah Veln.


"vSimpan saja dulu, sampai aku menemukan yang cocok nanti " Veln pun berlalu meninggalkan Ray yang sudah terlihat menikmati duduk berada dicafe tersebut.


○○○


Langkahnya diarahkan masuk menuju toko yang bernuansa sangat perempuan banget, tak berapa lama seorang pelayan wanita menghampiri dan menyunggingkan senyum ramah kearah Veln.


" Silakan Nona, ada yang bisa dibantu " Dengan bersahabat pelayan itu menawarkan bantuan kepada Veln.


" Terima kasih, saya akan memanggil anda ketika saya membutuhkan bantuan " Veln menolak halus sembari melemparkan senyum.

__ADS_1


" Baiklah Nona, jangan sungkan untuk menghampiri saya atau rekan saya yang lainnya ketika anda membutuhkan bantuan " Pelayan perempuan itu pun berlalu kembali ketempatnya saat dirasa belum dibutuhkan oleh Veln.


Veln mengelilingi tiap rak yang berada ditoko tersebut, sambil sesekali menyentuh beberapa barang yang dirasa semuanya sangat menarik perhatiannya. Namun saat melihat range harga yang dibandrol menuju kekelas ekonomi menengah keatas membuat jiwa misqueen Veln meronta. Akhirnya dia pun memutuskan untuk keluar dari tempat itu tanpa membeli barang apa pun. Veln melewati beberapa lingerie yang terpasang indah dimanekin, semua warna dan modelnya begitu menantang mata kaum pria ketika seorang wanita mengenakannya.


Cih. Bisa habis aku nanti malam, kalau aku sampai mengenakan salah satunya.


Veln pun terkekeh sendiri sembari keluar dari pertokoan tersebut dan merasa sedikit merinding ditengkuknya membayangkan apa yang akan dilakukan Ray kalau semua itu benar-benar terjadi.


Veln mendekat kearah suaminya yang sedang sibuk menerima panggilan telfon, tangan Ray langsung sigap mengulurkan kartu yang dia letakkan diatas meja ketika mendapati Veln sudah kembali. Tanpa mengatakan apa pun Veln mengambil alih sebuah kartu yang disodorkan suaminya, dan menuntun Ray untuk bangun dan beranjak dari tempat itu. Masih sibuk dengan ponselnya, Ray menurut saja ketika digiring oleh Veln menuju keluar. Veln menggandeng lengan Ray yang satunya sementara tangan Ray yang sebelahnya masih berkutat dengan ponselnya. Mata Ray melirik dengan heran kearah Veln, dengan masih sibuk mulutnya bertukar suara dibalik ponselnya. Langkahnya pun menurut mengikuti langkah kaki istrinya tanpa protes.


" Antar aku kedepartment store " Melihat sorot mata Ray yang memancarkan tanya dengan tangan sibuk memasukkan ponselnya kedalam saku celana.


" Memang kenapa dengan tempat yang tadi? " Ray mengernyitkan dahinya sembari menatap kearah Veln.


" Belum menemukan yang cocok " Veln tersenyum pelik. Ya maksudnya belum menemukan yang cocok range harga yang sesuai dengan standar ekonomi Veln.


Mungkin perempuan satu ini lupa kalau dirinya sudah dinikahi oleh laki-laki yang selain tampan tapi juga tajir melintir. Terlihat Ray hanya menghela nafasnya panjang, memikirkan betapa repotnya seorang perempuan yang bahkan untuk membeli sesuatu yang benar-benar mereka butuhkan saja masih bisa mempertimbangkan dan memikirkan kecocokannya. Padahal Ray pikir, dia sudah membawa Veln ketempat khusus yang benar-benar menyediakan barang-barang yang sedang istrinya butuhkan.


" Ray tutup mata mu, mulai dari sini aku yang akan menjadi mata mu untuk sementara waktu " Perintah Veln ketika hendak sampai kestand khusus pakaian dalam wanita.


" Tidak apa-apa, anggap saja ini pemanasan " Senyum Ray mulai menyeringai dan Veln sontak memelototkan matanya.


" Mau mengatai ku mesum? jangan-jangan memang otak mu yang mesum. Aku masih bisa santai dengan semua ini, kenapa kau yang bertingkah kepanasan seperti dijemur dibawah sinar matahari langsung?! " Ray langsung menarik Veln tanpa ragu menuju stand tersebut.


" Dasar kau tidak tau malu " Dengan nada sedikit terdengar kesal.


" Sayaaaang jangan seperti itu. Berani mengatai ku lagi, aku cium kau didepan umum " Reflek telapak tangan Veln menutup bibir merahnya, yang membuat Ray mengeluarkan tawa kecilnya.


" Ini bagus untuk mu " Veln langsung mengambil alihnya dan mengibas-ngibaskan tangan Ray yang bekas memegang hanger yang tergantung rapih satu set pakaian berwarna hitam tadi.


" Sudah ku bilang, jangan mengotori tangan dan mata mu dengan pemandangan seperti ini " Veln menutup kedua mata Ray dengan telapak tangannya.


" Tidak apa-apa, aku anggap ini cuma cuci mata. Ayo lepaskan tangan mu " Veln dibuat malu oleh pria ini, membuat dia tidak bisa fokus untuk memilih sesuatu yang sedang dia butuhkan.


Untung ada seorang spg yang datang menghampiri untuk menawarkan bantuan karena melihat Veln yang sedang merasa kesulitan dan kerepotan, satu tangannya memegang hanger beserta isinya dan satu tangannya lagi sibuk menutupi kedua mata Ray.


" Permisi ada yang bisa saya bantu " Ucap spg tersebut yang langsung disambut baik oleh Veln.


" Berikan beberapa set yang seperti itu seukuran perempuan ini " Ray langsung menyela, mendengar ucapan spg tersebut dengan mata yang masih tertutup telapak tangan Veln.


" Baik tuan " Menjawab dengan sedikit tersenyum malu melihat tingkah sepasang customernya.


" Nona bisa kau beri tau berapa ukuran yang biasa anda kenakan? " Dengan masih menahan senyum spg itu memastikan ukuran yang biasa Veln gunakan. Veln pun menjawab dengan pelan kearah spg tersebut.


" Nona warna apa yang anda inginkan? ada beberapa pilihan warna termasuk merah dan hitam " Spg tersebut menunjukan contoh warna merah kearah Veln.


" Bungkus keduanya " Ray tidak kalah cepat menjawab membuat kedua perempuan yang berada ditempat itu tersenyum malu. Veln pun langsung mengiyakan saja agar secepatnya dapat berlalu dari area tersebut yang sebelumnya memastikan terlebih dahulu harga yang tertera dibandrol.


Tanpa harus mengantri lama mereka berdua pun melakukan pembayaran disalah satu kasir yang disediakan dan berlalu dari tempat tersebut yang membuat nafas Veln berangsur teratur tidak seperti barusan karena menahan malu jadi agak sedikit ngos-ngosan seperti habis lari memutari lapangan.


" Dasar " Veln mencubit kecil pinggang Ray sambil sibuk membawa barang belanjaannya.


" Kau tau bagaimana perasaan ku yang sebenarnya saat berada disituasi barusan?aku merasa sudah gila dan masih tidak percaya melakukan itu " Ray mengusap wajahnya seakan tidak percaya dengan apa yang dilakukannya barusan.

__ADS_1


" Lalu kenapa kau melakukannya? " Veln bertanya merasa bingung.


" Karena kalau aku tidak melakukan itu, mungkin kau tidak akan membeli satu pun barang, yang padahal benar-benar kau butuhkan " Ray mengusap lembut kepala Veln.


" Apa kau tidak menyadari? saat berbelanja tadi wajah mu terlihat seperti emak-emak yang berfikir bagaimana memberi makan anaknya yang berjumlah sepuluh orang tapi harus bisa shoping untuk keperluannya sendiri " Veln menatap sendu kearah Ray.


" Nona, kau tidak usah merasa takut membuat ku bangkrut. Kalau hanya untuk membelanjakan barang-barang keperluan mu yang seperti ini, itu tidak membuat menguras uang ku. Kau mengerti? " Kembali Ray mengusap lembut kepala Veln. Veln pun mengangguk dengan penuh, merasa betapa beruntungnya bisa bertemu dan menikah dengan laki-laki yang ada dihadapannya.


Walau merasa untuk saat ini tidak tau banyak tentangnya, dan setajir apa kekayaannya tapi Veln sudah bisa merasakan kalau Ray itu merupakan pria yang baik.


" Ray, aku lapar bagaimana kalau kita makan terlebih dahulu sebelum balik menuju hotel " Ajak Veln sembari matanya melirikkan kesalah satu restaurant yang masih berada didalam mall yang mereka kunjungi.


" Hem " Ray mengiyakan dan tanpa membuang waktu mereka menuju tempat makan.


Mereka memesan makanan sesuai dengan apa yang sedang mereka inginkan dan tanpa ragu mereka makan dengan lahap pesanan yang sudah tertata diatas meja.


Setelah menghabiskan makanannya mereka keluar dari restaurant tersebut yang sebelumnya telah dibayarkan total tagihannya oleh Ray.


" Ray sepertinya aku ingin membeli beberapa camilan " Veln langsung menarik tangan Ray kearah supermarket tanpa meminta persetujuan.


Veln mengambil troly dan mendorongnya kearah buah-buahan yang sebelumnya mampir ketempat penitipan barang untuk manitipkan barang belanjaannya yang terlebih dahulu mereka beli.


Terlihat tangannya terampil mengambil beberapa macam buah-buahan, sementara troly belanjaannya diambil alih oleh Ray untuk membantu mendorongnya.


" Ray sepertinya aku akan menguras uang mu kembali " Ucap Veln yang seakan benar-benar akan membuat bangkrut suaminya.


" Ini sebagai hukuman karena sudah ikut campur dalam urusan pribadi ku " Sembari tangannya terampil mengambil sesuatu dalam rak dan meletakkannya kedalam troly belanjaannya.


" Aku harus berlapang dada mengenakan satu set yang sama dalam satu minggu ini, tidakkah itu membosankan? " Ray masih sibuk mendorong trolynya mengikuti arah Veln berjalan sembari mendengarkan ocehannya.


Benar atas perintah Ray, spg didalam departement store barusan harus menyiapkan satu set daleman yang sama yang jumlahnya sesuai dengan mereka menginap ditempat ini yaitu satu minggu lamanya. Mungkin hanya warna saja yang membedakannya.


Veln banyak mengambil berbagai macam camilan dan dimasukkan kedalam keranjangnya, sembari fokus menatap isi rak selanjutnya dengan masih sedikit terdengar ocehan dari bibirnya yang membuat Ray senyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kembali Veln memasukkan lima kantung kripik kentang kedalam trolynya, tanpa sadar dan tanpa sepengetahuan istrinya Ray menaruh kembali camilan yang diletakkan Veln yang hanya menyisakan satu kantung dikeranjangnya sebelum dan seterusnya. Setiap Veln meletakkan lima kantung atau lebih maka Ray akan mengembalikannya ketempat semula dan hanya menyisakan satu kantung.


Sehingga membuat Veln begitu terkejut ketika sampai didepan kasir,dan mendapati Ray sedang tersenyum licik.


" Ray " Ucapan dan tatapan Veln begitu mencurigakan.Benar saja sebagai balas dendam atas yang dilakukan Ray,Veln menyaut sepuluh kotak coklat yang terletak berada tidak jauh dari tempat kasir dan meletakkan kekeranjangnya dan spontan membuat Ray tertawa kecil dibuatnya.


°


°


°


Jangan lupa like dan comentnya ya..


dan buat reader yang sudah memberikan coment dan likenya autor ucapin terimaksih.


Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan perlindungan.Amin.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2