
Begitu memasuki pintu gerbang, yang tingginya berkalilipat dari dirinya.. hingga melewati pintu utama rumah tersebut, mata perempuan itu tak henti mengamati keadaan rumah suaminya.
Rumah yang beberapa tahun ini dia tinggalkan, dan entah ini layak disebut sebagai keberuntungan atau apa? dia pun akhirnya kembali dengan membawa kebahagiaan berkalilipat untuk sang pemiliknya.
Keberadaan Ley, putra kecilnya sudah pasti akan menjadi sumber kebahagiaan baru didalam rumah ini.
" Selamat datang kembali, Nyonya " Ucap bi Ana, Pak Dim dan seluruh pelayan rumah yang sudah berbaris rapih diruang depan menunggu kepulangan majikannya, khususnya Nyonya muda dan tuan muda kecil mereka. Dengan senang hati dan senyum menempel disetiap ujung bibir, mereka menyambut kedatangan istri dan pewaris rumah ini.
" Kami akan langsung beristirahat, karena V dan jagoan kecil ku nampak lelah " Ray langsung berlalu pergi dengan menarik lengan Veln yang berada dalam genggamannya. Ray sama sekali tak memberi kesempatan kepada perempuan itu untuk bertegur sapa dengan yang lainnya, karena itu Veln hanya dapat memberi balasan atas penyambutan mereka dengan sekilas senyuman. Bahkan sekertaris Sam pun, ditinggalkan begitu saja oleh Ray.
○○○
Begitu pintu kamar tertutup, mata Veln kembali terfokus memperhatikan setiap sudut ruangan kamar itu.
" Kenapa? " Ray bertanya dengan berjalan menuju kasur tidurnya, hendak menidurkan Ley yang masih dalam gendongan dengan jari-jemarinya yang masih mengait dijemari istrinya.
" Tidak apa " Veln tersenyum " Aku hanya memperhatikan rumah mu yang masih sama seperti dulu " Menatap Ray sekilas lalu kembali mengamati ruangan itu. Bahkan matanya menangkap gorden jendela, sprei dan selimut masih nampak menggunakan barang yang sama dengan saat dirinya sebelum meninggalkan rumah ini. Veln sangat ingat betul semuanya, corak hingga warna-warnanya. Karena semua itu terakhir kali diganti atas perintah dan pilihannya.
Ray membaringkan putranya dengan sangat hati-hati dikasur empuk itu, lalu beranjak mendekati istrinya. Ray mencium penuh sayang kening Veln seperti yang barusan dia lakukan terhadap jagoannya, lalu Ray tersenyum menyiratkan rasa bahagianya.
" Tau kenapa, hem? karena aku tidak ingin menghapus jejak mu dirumah ini " Ray membelai wajah ayu perempuan itu dengan punggung tangannya, membuat sang pemilik wajah sedikit tersipu mendengar pernyataan Ray yang terdengar romantis ditelinga. " Sekarang karena kau sudah kembali.. jika kau ingin, kau boleh merenovasinya sesukamu. Hilangkan semua kenangan dirumah ini yang dapat mengingatkan rasa sakit mu yang disini " Ray menyentuh bagian dada milik Veln, seolah sedang menunjuk hati perempuan itu. Veln mengembangkan senyum manisnya sebagai bentuk respon atas ucapan laki-laki dihadapannya. " Maaf.. sungguh aku menyesalinya V " Ray berbisik lembut ditelinga Veln, lalu mencium kembali kening perempuan itu dan tanpa aba-aba dia mengangkat tubuh mungil itu dengan ala bridal style.
Tanpa diperintah, Veln langsung mengalungkan lengannya dileher Ray dan mendongakkan wajah kearah laki-laki itu. " Aku juga salah.. maaf " Ray mengangguk dengan tersenyum.
" Tidurlah, kau pasti lelah " Ray hendak mendaratkan tubuh Veln disamping Ley, namun terurungkan.
" Aku mau mandi terlebih dahulu, aku merasa tidak nyaman.. seluruh tubuh ku terasa lengket "
" Ok "
Dengan sigap Ray membawa Veln yang berada dalam gendongannya kearah kamar mandi, begitu Veln memulai aktivitas membersihkan dirinya Ray justru seperti orang yang kurang kerjaan.
Ray berdiri bersandar dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celana dan sebelah kaki ditekuk dengan telapak ditempelkan kedinding tepat didepan pintu kamar mandi menunggui istrinya hingga keluar.
Begitu Veln nampak segar dan rapih, Ray langsung menggendongnya kembali dan menurunkan diranjangnya, tepat disebelah putranya yang masih terlelap.
" Beristirahatlah " Ray mengecup tengkuk Veln, yang tidur miring menghadap putranya " Aku akan bergabung setelah membersihkan diri " Ray pun berlalu, segera mandi dan berganti pakaian. Setelah itu, dia langsung menghampiri dua orang tersayangnya. Ikut bergabung dengan mereka, menikmati istirahat siang ternyaman dan terindahnya sepanjang tiga tahun ini.
○○○
Veln nampak sibuk memasukkan beberapa barang yang sempat dibelinya, sebagai kado hadiah atas kelahiran dari anak kedua pasangan dokter Adrian dan Imelda. Tentu dari salah satu jinjingan tersebut ada dua kantong yang akan diberikan untuk Sasa, anak pertama dari pasangan tersebut.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan, akhirnya Veln bersama Ray dan jagoan kecilnya sampai dikediaman Sasa.
" Mbak, maaf.. karena saya tidak bertanggung jawab, meninggalkan Florist Sa begitu saja " Veln duduk dengan menggendong anak kedua dari pemilik toko bunga yang sempat dirinya kelola, sesekali Perempuan itu menciumi pipi bayi laki-laki itu dengan gemas.
" Justru saya yang harus berterima kasih sama kamu, karena sudah membantu saya.. memberikan kesempatan untuk membuktikan kepada Daddynya Sasa, bahwa saya selain mencintai Florist Sa.. saya juga peduli dan sayang terhadap mereka " Imelda melirikkan pandang terhadap suami dan putrinya yang sedang asik bermain dengan Ray dan Ley. " Dan harusnya saya yang meminta maaf terhadap Ray dan Ley, karena sudah membantu proses pelarian kamu " Imelda dan Veln terkekeh dan merasa bersyukur atas semua yang terjadi karena berimbas positif untuk kedua keluarga.
○○○
Dan siang itu setelah puas berbincang-bincang, mereka pamit undur diri dari rumah dokter Adrian. Ray yang mengemudi, mengarahkan kendaraan roda empatnya menuju gedung pencetak pundi-pundi isi dompetnya.
" Kita_ "
" Kekantor " Potong Ray yang melihat wajah bingung perempuan ayu itu. " Hari ini, aku tidak mau menahan rindu.. " Sungguh lebay bukan, Ray nekad membawa anak dan istrinya kegedung kebanggaannya.
Ray menjulurkan tangannya, dan mengusap sayang rambut Ley yang berada dipangkuan Maminya. " Ley mau kan, Papi ajak kempat kerja Papi? " Ley mengangguk senang.
Seperti biasa begitu memasuki lobby kantor seluruh karyawan yang melihat akan menunduk hormat, dan tersenyum senang dengan hati terus-menerus mengagumi keindahan yang ada pada diri bos besarnya.
Setidaknya itulah yang selalu dilakukan para karyawan wanitanya, namun kali ini ada yang membuat seluruh penghuni gedung tersebut semakin tertarik terhadap bos besarnya. Karena bosnya datang dengan membawa seorang perempuan cantik yang dulu pernah datang namun seiring berjalannya waktu mungkin mereka semua pun sudah melupakannya, dan dengan membawa seorang anak laki-laki dalam gendongan.
Seketika seluruh sudut ruangan gedung tersebut heboh, membicarakan hubungan bos besarnya dengan perempuan dan seorang anak kecil yang dibawanya. Berbagai asumsi pun terdengar terlontar dari mulut mereka, apalagi dengan fakta yang ada bahwa pemimpin dari tempat ini sama sekali belum terdengar tentang berita pernikahannya. Ditambah lagi tak tercium sedikit pun tentang gadis atau wanita yang dipacarinya, hingga sontak kedatangan mereka secara tidak langsung telah menghebohkan suasana gedung tersebut.
Namun apa pedulinya, disini Ray bosnya.. dan dia berhak membawa masuk siapa pun ditempat ini tanpa harus memberikan penerangan kepada mereka.
Lisa masih mematung sembari menyaksikan kepergian mereka yang kini sudah menghilang dibalik pintu ruangan bosnya.
Perempuan itu mengelus dadanya, seolah menunjukkan rasa syukur atas kembalinya Veln.
Tentu, hanya Lisa lah yang tidak pernah lupa akan perempuan satu itu. Karena selama tiga tahun ini, gara-gara menghilangnya perempuan cantik itu.. hidup Lisa dikantor sudah seperti dineraka, karena atasannya yang dulu hanya terlihat sangar diwajahnya tiba-tiba benar-benar menunjukkan taringnya.
Ray akan selalu menunjukkan kegalakannya jika dihadapkan dengan sekertaris perempuannya, seolah sedang menghukum atas kesalahan Lisa yang meloloskan Veln pergi dari gedung ini beberapa tahun lalu.
Ditambah lagi ketika Veln benar-benar menghilang dari hadapan Ray, Lisa selalu jadi sasaran amarah Ray.
Namun, kali ini perempuan itu seolah dapat bernafas lega.. mungkin kini tinggal otaknya saja yang harus sedikit bekerja keras karena memikirkan keberadaan anak kecil yang berada dalam gendongan atasannya. Sebenarnya bukan sesuatu yang penting sih, toh ini bukan urusannya dia juga.
○○○
" Papi, dari tempat inikah kita akan menuju matahari? " Astaga, ucapan Ley sukses membuat mata Ray membola dan memelototkan kearah istrinya yang sedang bergerak mendaratkan tubuhnya diatas sofa. Veln yang menyaksikan puas terkekeh melihat raut wajah suaminya.
" Tidak sayang "
__ADS_1
" Papi bohong lagi? Papi bilang kita akan menuju tempat kerja Papi? " Wajah lucunya terlihat cemberut merasa dibohongi.
" Memang disinilah tempat kerja Papi, diruangan ini.. ruangan yang Papi beri nama matahari " Yes, akhirnya Ray dapat berfikir cepat dan dapat segera menetralkan pikiran putranya yang mungkin sudah melambung tinggi kemana-mana. Veln menunjukkan jempol diikuti dengan senyum melengkung disudut bibirnya saat Ray melirik kearahnya.
" O.. " Mulut Ley membulat sempurna. " Ley fikir, Papi bekerja dimatahari yang ada disana " Tangan mungil itu menunjuk sang surya dari balik dinding kaca ruangan kebesaran Ayahnya.
" Kau berfikir terlalu jauh sayang " Ray mengecup pipi bulat jagoannya dan menurunkan Ley disofa tepat disebelah Maminya.
Lalu Ray berjalan masuk menuju ruangan, tak lama kembali dengan membawa sebuah kotak yang cukup besar dan menyodorkan kearah putranya. Sepertinya sudah sangat terencana keinginan Ray untuk membawa anak dan istrinya ikut kerja bersamanya. Terbukti dengan sangat matang, Ray sudah menyiapkan setumpuk mainan untuk putranya agar tak merasa bosan berada diruangan kerjanya.
" V, kau terlalu canggih dalam mendidik putraku.. untuk itu kau juga harus membuat ku lebih canggih dalam segala hal, agar aku tak sampai tersudut oleh hasil didikan mu " Senyum menyeringai tercetak disudut bibir Ray. " Terutama dalam hal yang satu itu " Pandangan Ray menelusur tiap lekuk tubuh Istrinya yang sukses membuat Veln bergidik menegang.
Dan..
Cup.
" Kau senang sekarang? " Veln menghadiahkan satu kecupan dipipi Ray setelah berhasil menormalkan dirinya.
" Senang, tapi belum cukup puas " Tamak Ray.
Ley menoleh tertarik dengan apa yang dilakukan Mami dan Papinya.
" Ley juga mau dicium Mami seperti Papi " Ujar Ley merasa iri.
" Ok, bos " Lalu Veln pun mencium kedua pipi bakpau putranya.
" Papi juga ingin mencium Ley seperti apa yang dilakukan Mami, boleh? " Ucap Ray, anak itu pun mengangguk mempersilahkan. Dan Ray pun langsung menghujani putranya dengan banyak ciuman. " Ayo, Mami kita serbu pipi bakpau ini " Ajak Ray bersemangat untuk menyerang pipi bulat itu.
" Baiklah, bersiaplah boy " Veln pun antusias menyerbu seluruh wajah putranya berbagi dengan Ray.
" Ahaa ahaha ahaha " Ley terpingkal geli mendapat serangan dari kedua orang tuanya, hingga tubuhnya spontan terlentang diatas sofa dengan menggeliat-geliat. Membuat dua orang itu lebih bersemangat menyerang anak itu.
" Papi, ahahaa.. Papi curang, ahaha " Ley terus meledakkan tawanya dengan tak lupa menyelipkan protes terhadap Ray yang semakin semangat menciumi dirinya dan tak kalah semangat bergantian menciumi pula pipi Maminya. Ray benar-benar licik, tak melewatkan kesempatan ini. Memanfaatkan situasi dengan sangat bai, ibarat mendayung dua tiga pulau terlampaui.
Ruangan itu begitu terlihat kentara berselimut kebahagiaan, tawa, canda, dan senyum tak sekali pun hilang dari sana.
Bahkan saat Ray puas dan harus kembali bergelut dibalik meja kerjanya, sesekali Ray menyempatkan diri bertindak usil kepada dua orang yang sedang bermain disana. Dan sebaliknya saat Ray mulai terhanyut dengan ritinitasnya, maka putra kecil dan perempuannya akan mengganggu balik laki-laki itu dengan segala cara hingga menyeruak tawa keharmonisan dari keluarga kecil itu.
.
.
__ADS_1
Agak slow up date ya 😙