
Veln tersenyum puas tidak perduli dengan perubahan hawa panas ditubuh Ray. Dia membenarkan duduknya mencari posisi ternyaman dengan mata menatap jendela mobil menikmati pemandangan jalanan yang dilewatinya.
Sementara Pak Yan dan sekertaris Sam kompak masih sesekali mengintip suasana kursi belakang dari kaca spion.
Nona, kau benar-benar pembawa rusuh.. kenapa harus Aku yang dijadikan tumbal untuk bahan perdebatan kalian.
Batin sekertaris Sam yang masih terus memantau suasana kursi penumpang belakang.
Ray terlihat duduk dengan kepala ditopang oleh telapak tangannya dengan siku bersandar dipintu mobil, satu tangan lainnya memainkan ujung rambut wanitanya yang tergerai, dan masih fokus menatap luar jendela mobil yang bergerak melaju ketempat tujuan.
Ray membuka pintu mobil dengan menarik Veln pelan agar mengikutinya keluar dari pintu yang sama.
Halaman yang luas dan bangunan yang tak kalah besar dari milik Ray itulah kesan pertama Veln melihat rumah yang didiami Nenek Lusiana.
" Tundukkan pandanganmu Sam, awas kalau kau berani melirik dan mencuri pandang wanitaku " Tingkat lebay Ray kambuh. Matanya melirik kearah Veln namun tak dihiraukannya, Veln tak ambil pusing dengan kecemburuan Ray yang berlebihan.
Veln beranjak pergi meninggalkan Ray dan Sam yang masih berdiri ditempatnya ketika melihat Nenek Lusiana keluar dari pintu utama dan hendak menghampiri mereka. Veln mencium punggung tangan yang sudah keriput milik perempuan tua itu denga sopan.
" Nenek " Ucap Veln lirih yang disambut dengan senyuman mengembang dan pelukan hangat.
" Maaf ya sayang, aku tidak menyambut kedatanganmu " Melepaskan tubuh Veln dari dekapannya dan menyentuh dagu cucu menantunya lembut " Gara-gara anak nakal itu tidak mengabari Nenek kalau kalian pulang lebih awal " Dengan melirik kearah cucu kesayangannya yang terlihat hendak menghampiri mereka.
" Ehem " Ray sengaja berdehem keras menyela obrolan kedua perempuan yang berbeda usia tersebut.
" Kau semakin tua semakin nakal ya " Nenek memukul keras kedua bahu Ray bergantian " Nenek jadi tidak menyambut dengan benar kedatangan cucu menantuku " Lanjut Nenek lagi dengan sedikit berteriak. Nenek sedikit geram sewaktu mendapat telfon dari Ray pagi tadi yang mengatakan bahwa dirinya dan wanitanya akan datang mengunjungi perempuan yang sudah hampir lewat paruh baya itu. Pasalnya Ray pulang lebih cepat dari yang sudah dijadwalkan. Ray menyempatkan menelfon Neneknya sewaktu mengganti baju santainya dengan pakaian formil yang dikenakannya saat ini.
" Ah, ampun.. ampun Nek " Ray mengerang manja mendapatkam bogeman dari Lusiana yang sebenarnya tidak terlalu sakit dirasa.
Veln tersenyum mendapati tingkah Ray yang begitu manja terhadap Neneknya. Ternyata dibalik sifat dingin, cuek dan seenaknya terdapat sisi lain dari seorang Ray.
Veln menghampiri sekertaris Sam yang berdiri tidak jauh darinya, meninggalkan kedekatan antara nenek dan cucunya yang asik berdebat dengan saling menyalurkan kasih sayang mereka.
" Sekertaris Sam " Menyelipkan senyum manisnya untuk ditunjukan kesekertaris suaminya " Maaf ya Aku sudah memfitnahmu " Berbicara pelan dengan menutupkan sebelah wajahnya dengan telapak tangan seolah-olah sedang berbisik. Sekertaris Sam tak membalas apapun hanya memberikan senyum tipis yang dilihat oleh Ray dari tempatnya berdiri yang kini tengah sibuk mengobrol dengan Neneknya.
" Salahmu juga sie membuatku jengkel karena sudah mengembalikan gelang pemberianku kepada tuanmu " Veln semakin merapatkan posisinya kearah Sam ketika mendapati Ray sedang memperhatikannya " Kali ini bekerjasamalah, jangan katakan apapun ketika Ray bertanya mengenai kebenaran kau pernah melamarku " Entah mengapa Veln semakin senang ketika membuat Ray cemburu dan posesif, seolah mendapat suatu kepuasan tersendiri didalam hatinya.
"Janji " Veln hendak menunjukkan jentiknya kearah sekertaris Sam, mengajak untuk saling berkaitan membentuk simbol perjanjian namun tertahan karena tarikan dari tangan Ray.
" Ck.. Kau ini tidak tau malu sekali ya, berani menggoda pria lain dihadapanku " Ray menatap tajam kearah istrinya " Jangan membuatku marah V, jaga sikapmu kalau tidak ingin aku makan dihadapan mereka " Menunjuk Sam, Nenek, beberapa pegawai yang sibuk mengurusi taman dan Pak Yan yang berada lumayan jauh dari mereka, senyum menyeringainya muncul disudut bibirnya.
buuuught..
" A...h " Ray mengaduh.
__ADS_1
Lusiana melayangkan tangannya kearah kepala Ray.
" Memalukan, kenapa otakmu mesum sekali " Kesal mendengarkan ucapan cucunya yang menuju kearah sana.
" Kau tidak tau saja Nek, cucumu harus berjuang keras untuk menahan tidak melakukan mp hingga satu minggu lamanya " Wajah manja dan memelasnya nampak ditunjukan kearah Neneknya. Lusiana dan Veln langsung membulatkan matanya, sementara Sam hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Cih.. tuan muda ini kenapa bisa seeror ini, mengadu tentang hal mesum keneneknya. Benar-benar tidak tau malu. Tau tidak perbuatanmu yang satu ini jadi *membuat rontok image*mu dimataku yang terlihat keren, cool, berwibawa dan mempesona jadi terlihat seperti laki-laki brengsek.
" Apa maksudmu? " Kata Lusiana bergantian menatap Ray dan cucu menantunya.
" Aku bisa jelaskan nanti didalam " Dengan wajah malu Veln menggandeng Nenek untuk secepatnya masuk kedalam.
" Nenek.. jangan racuni otak perempuanku dengan hal-hal yang aneh. Ok " Ray memperingatkan Neneknya sebelum mereka benar-benar masuk kedalam rumah yang hanya dijawab dengan tawa kecil Lusiana.
○○○
Kendaraan roda empat milik Ray berlalu bersama rombongannya keluar meninggalkan pelataran rumah Lusiana. Didalam sebuah ruangan Veln duduk berdampingan dengan Lusiana dengan posisi miring saling berhadapan.
" Apa cucuku memaksamu untuk menandatangani sebuah perjanjian didalam pernikahan kalian? " Ucap Lusiana lembut dengan mengelus punggung tangan cucu menantunya. Veln tertegun mendengar apa yang diucapkan perempuan tua dihadapannya.
" Maaf, aku tidak mengerti maksud Nenek " Masih dengan berusaha menormalkan raut wajah dari keterkejutannya.
" Meski aku lihat dari kedua mata kalian jelas ada butir-butir kasih sayang diantara kalian, tapi jujur aku sedikit dibuat syok oleh anak nakal itu dengan secara tiba-tiba memberitahukan kalau cucu lucu ku.." Terkekeh sebentar, mengingat betapa lucunya Ray kecil dulu bahkan sampai sekarang pun Lusiana masih beranggapan sama kalau Raynya masih seperti anak-anak dimatanya yang masih tetap harus mendapatkan pengawasan darinya " Akan menikahi seorang gadis " Memegang dagu Veln dan mengelusnya.
Sudahku duga, Nenek pasti mengenal Yas.. otak Veln bersinar seolah mendapat cahaya matahari yang menembus dikepalanya.
" Ray tidak melakukan itu padamu kan Nak?kesepakatan, pemaksaan atau semacamnyakan? "
" Tentu saja tidak Nek "
Tidak, memang tidak ada kesepakatan apapun.Tapi untuk yang satu itu, ku akui memang benar adanya Nek.. cucumu memang melakukan dengan setengah memaksa ketika mengajakku menikah. Lanjutnya membatin.
" Syukurlah.. lalu kenapa kalian harus sampai menunda satu minggu lamanya? " Pertanyaan Lusiana kali ini membuat wajah Veln bersemu merah.
" Itu.. ka re na aku, karena gerakan Ray terlalu lamban sehingga tamu bulananku datang mendahuluinya " Veln terkekeh kecil dan dususul tawa kecil Lusiana.
" Malang sekali nasib cucuku, sampai harus sekuat tenaga untuk sementara waktu menahan diri " Mereka pun kembali terkekeh.
Disela obrolan terlihat seorang pelayan membawa dua gelas minuman tanpa diminta, mereka pun langsung meminumnya berbarengan. Mungkin karena terlalu banyak tertawa sehingga merasa kering ditenggorokan.
" Nek, kau mengenal Yas? " Dengan hati-hati Veln bertanya sembari meletakkan gelasnya diatas meja.
" Tentu saja " Tersenyum dengan mengelus pundak Veln seolah mengerti sebesar apa rasa ingin tau cucu menantunya terhadap perempuan yang tumbuh besar bersama cucunya.
__ADS_1
" Nenek bisa ceritakan tentang dia? maksudku Yas? " Bertanya Ragu.
Lusiana menggeleng pasti " Ray yang akan menceritakannya sendiri kepadamu suatu saat, mungkin nenunggu ketika dia sudah siap nanti " Veln sedikit menaruh rasa kesal terhadap perempuan tua dihadapannnya, namun dia berusaha untuk mengerti dan memahami keadaan yang belum memihaknya.
Sebenarnya bukan hal yang sulit untuk menceritakan siapa perempuan yang tumbuh besar bersama Ray, namun hal yang membuat Ray harus tumbuh dan dekat dengan Yas yang masih belum siap Ray ceritakan. Yaitu kematian ibundanya. Ray tidak mau terlihat lemah dan rapuh dihadapan perempuannya, karena sudah dipastikan Ray akan menangis ketika mengingat kepergian ibundanya.
" Apa kau merasa kecewa Nak? " Lusiana sedikit tak tega ketika melihat raut cucu menantunya.
" Sedikit Nek, tapi tidak apa-apa. Aku mengerti pasti ada alasan dibalik nama Yas " Lusiana tersenyum bisa mendapatkan cucu menantu yang sepengertian ini.
" Kau sedang menginginkan apa Nak katakan, anggap ini sebagai hadiah pernikahan dariku " Lusiana mengalihkan topik pembicaraan.
" Tidak ada Nek. Dengan kau yang sudah menghadirkan kedunia cucu nakalmu saja merupakan hadiah terbesar untukku " Mencium kedua pipi Lusiana seolah tanda ucapan terimakasih
" Emm " Seolah mengingat sesuatu " Ngomong-ngomong soal hadiah, maaf ya Nek, aku tidak sempat membelikanmu oleh-oleh bulan madu kami " Ucap Veln lagi penuh penyesalan.
" Tidak apa-apa sayang.. sebagai gantinya kau bisa membantuku membuat camilan didapur " Tanpa pikir panjang Veln langsung mengangguk cepat.
○○○
Veln sibuk menyaring tepung dan mempersiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan camilannya.Tentu dengan dibantu oleh pelayan dirumah tersebut.
Veln tidak membiarkan Nenek Lusiana untuk ikut campur dalam membuat camilan. Lusiana hanya diperintahkan untuk duduk mengawasinya bergelut didapur. Bahkan jenis camilan yang akan dibuat pun Veln yang menentukan. Perempuan ayu itu memutuskan untuk membuatkan Lusiana dan cucunya biskuit jahe, karena selain enak dan kandungannya yang bermanfaat ternyata ada nilai plus disana. Biskuit jahe merupakan camilan kesukaan Ray dan Lusiana.
" Nenek, orang tua Ray.. maksudnya, emm.. apa mereka tinggal disini juga bersamamu? " Sebenarnya Veln tak yakin sampai bisa melontarkan pertanyaan tersebut, namun karena rasa penasaran yang menggebu dia memberanikan diri membuka mulutnya. Dan memang sudah semestinya untuk Veln mengenal kedua mertuanya.
" Nak, kau benar-benar tidak tau? " Lusiana sedikit terbelalak kaget. Veln mengangguk ragu dengan tangan sibuk membuat adonan.
" Kedua mertuamu sudah almarhum Nak "
Craaat..
Sebutir telur ditangannya terlepas begitu saja, pecah mengotori lantai dapur yang dengan disigap langsung dibersihkan pelayan rumah itu.
" Ma-af Nek, aku benar-benar tidak tau " Veln merutuki kebodohannya, bagaimana kalau Nenek Lusiana berpikiran tentangnya yang tidak-tidak karena mau menikahi cucunya yang sama sekali tidak dia kenal latar belakangnya.
" Ray begitu tertutup terhadapku " Berusaha mencari pembelaan " Tapi karena satu hal yaitu yakin dia orang yang baik, sehingga aku mau dijadikan istri olehnya "
" Kau tidak akan menyesalinya Nak, karena menemukan cucu nakalku " Ucap Lusiana, lalu mereka pun saling melempar senyum.
Bersambung..
Like,Vote dan comentnya donk.. 😊
__ADS_1