
Seminggu sudah sejak pertemuannya dengan Ray dipantai itu tak membuat Veln harus merubah rutinitas hariannya.
Karena seminggu itu pula Ray tak pernah menampakkan diri lagi baik dihadapannya maupun putranya, Ray sama sekali tak datang atau mengunjungi mereka ke Florist Sa meski hanya untuk numpang lewat.
Hanya satu yang mempengaruhi pertemuan Veln dengan Ray yaitu mulut manis Veln harus lebih lihai dalam membohongi putranya ketika setiap detik bahkan menit Ley selalu menanyakan kapan Papi nya kembali pulang?
Bught..
" Au " Pekik seseorang terdengar mengaduh kesakitan.
" Ley " Veln tercengang melihat putranya yang untuk pertama kalinya menendang pengasuhnya.
" Ley tidak suka, Mbak maksa-maksa Ley untuk makan " Suara anak laki-laki itu terdengar ketus.
" Ley belum lapar? " Ucap Veln terdengar lembut dan sabar. Bukannya menjawab, anak itu justru mengedikkan bahunya. " Ok, Ley bisa meneruskan makannya ketika Ley sudah merasa lapar. Tapi tadi itu Ley salah, karena sudah menyakiti Mbak Ris. Karena itu Ley harus meminta maaf "
" Mbak Ris, maafin Ley " Ley menjulurkan sebelah tangannya yang disambut baik oleh pengasuhnya. Lalu Ley mengusap kaki pengasuhnya yang bekas dia tendang barusan dengan telapak tangan kecilnya dan mulut imutnya sedikit dimoncongkan, ikut meniup-niup disana seolah sedang berusaha menghilangkan rasa sakit akibat ulah nakalnya.
Riris dan Veln saling pandang, lalu saling melempar senyum melihat tingkah bocah lucu dihadapan mereka.
" Sudah tuan. Saya baik-baik saja, sudah tidak merasa sakit lagi " Ucap Mbak Ris terhadap majikan kecilnya.
Ley pun mengangkat tangannya dan segera menghadapkan tubuhnya kearah Veln.
" Sekarang giliran Mami yang minta maaf.. " Veln mengernyit bingung, begitu pun dengan pengasuh Ley ikut merasa lebih bingung. " Tau kenapa? karena, Mami sudah membohongi Ley. Mami bilang Papi akan mengunjungi Ley kembali, tapi kenapa Papi belum juga datang? " Ada rasa penuh bersalah diwajah Veln, dan kini dirinya mengerti mungkin kekerasan yang diluapkan putranya itu merupakan bentuk kekecewaan dirinya terhadap kebohongan yang dirinya lakukan.
" Iya sayaang, Mami minta maaf ya " Veln berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badan putranya, Veln mengusap lembut wajah imut Ley. " Mami janji.. Jika besok Papi tidak menemui Ley, kita akan susul Papi " Ya ampun, hanya untuk menenangkan putranya tanpa sadar dirinya menaikkan level kebohongannya yang sukses membuat Ley kembali tenang seperti biasanya.
○○○
Tepatnya pukul sepuluh malam, Veln yang sudah tertidur sedari jam delapan malam terjaga akibat rasa haus yang melanda kerongkongan.
Perempuan itu pun beranjak bangun dan meninggalkan tempat tidurnya. Dengan mulut yang terus menerus menguap dan langkah sempoyongan dia menuju kearah dapur. Veln membuka pintu kulkas dan menuangkan air kedalam gelas yang dia sudah ambil terlebih dahulu sebelumnya dengan susah payah karena kesadaran yang masih belum penuh akibat bangun tidur.
Gleg..
Veln langsung menghabiskannya hingga kandas, hingga kerongkongannya yang tadinya mengering kini terasa segar.
Saat berbalik badan perempuan itu terjingkat kaget, hingga gelas kosong yang ada digenggamannya terpelanting dan pecah.
Clentraaaang.
Ternyata sosok Ray yang berdiri dengan bersandar disalah satu tembok yang sedari tadi memperhatikannya kontan membuat Veln terkaget. Ditambah lagi dengan pencahayaan dapur yang terlihat remang-remang, spontan membuat Veln berfikir bahwa Ray adalah hantu.
__ADS_1
Ray yang datang dan masuk dengan tanpa permisi berbekal kunci duplikat yang didapat dari keahlian sekertaris Sam, spontan menghentikan langkahnya saat melihat Veln yang berjalan sempoyongan dengan meraba-raba dan mata yang masih terpejam.
Niat hati ingin menghampiri kamar Veln dengan mencari ruangan itu secara diam-diam, namun rencananya gagal tatkala melihat sang pemiliknya bergentayangan diluaran.
Ray mendekatkan diri kearah Veln yang masih berdiri diam dengan wajah penuh keterkejutan.
Begitu Ray tepat berada dihadapannya, mata Veln langsung terfokus kearah telapak kaki Ray. Dan saking kurang yakinnya, Veln sampai berjongkok untuk memastikan bahwa itu benar-benar Ray. Bukan hantu yang berdiri dihadapannya dengan kaki menggantung tak menempel diatas dilantai.
" V, aku bukan hantu " Ray seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan Veln. Veln mendongak kearah Ray yang sedang menundukkan wajahnya kebawah demi untuk melihat apa yang sedang dilakukannya dengan posisi berjongkok.
Sudah dipastikan bahwa pria dihadapannya memang bukanlah hantu. Veln segera berdiri dan melangkah mengangkat sebelah kakinya menggantung keudara. Namun belum sempat dia mendaratkan telapaknya, Ray keburu mengangkat tubuh Veln keatas dengan cara mencengkeram kedua pinggang perempuan itu.
" Kaki telanjang mu bisa terkena serpihan gelas kaca " Ucap Ray sembari meletakkan tubuh Veln diatas meja makan.
Saat ini Ray merasa sangat leluasa untuk melindungi kaki Veln agar tidak sampai terluka, karena Ray tidak perlu mengkhawatirkan telapak kakinya sendiri yang sudah pasti aman karena masih terbungkus sepatu.
Ray menarik salah satu kursi meja makan dan duduk tepat dihadapan Veln. Ray menyandarkan punggungnya dan menatap dalam wajah perempuan dihadapannya.
Wajah cantik dengan sorot mata yang meneduhkan itu terlihat jelas diiris mata Ray. Meski dengan pencahayaan yang seadanya, pencahayaan yang didapat dari lampu ruangan yang bersebelahan dengan tempat itu namun tidak sama sekali menutupi keindahan yang ada pada diri Veln.
Lama mereka saling berhadapan dengan tanpa suara, namun nampak jelas sorot mata mereka seolah saling bersahutan. Menuangkan segala rasa yang tertahan selama ini, membiarkan detak jantung dari masing-masing mereka bergemuruh yang seolah sedang melepaskan segala rindu yang membuncah didada.
Hingga suasana senyap itu berubah sedikit menjadi canggung dan menegangkan tatkala Ray memecah suara.
" Maaf.. " Ray terpanah mendengar kalimat sederhana itu.
Terlihat jelas tak ada sedikit pun yang berubah dari perempuan itu, Velnnya masih sama. Selain lemah lembut, sikapnya yang tenang dan santai yang dimiliki perempuan itu yang selalu Ray takuti.
Bagaimana tidak dengan sikap Veln yang seperti itu, membuat Ray kadang tak dapat membaca fikiran dan tindakan yang akan dilakukan perempuan itu.
" Ok, aku akan memaafkan mu " Ray seolah sedang menunjukkan sisi kebaikannya.
Ray membereskan duduknya, Ray membuka lebih lebar kedua lututnya dan menarik kursi yang dia duduki untuk dapat lebih dekat lagi berhadapan dengan Veln.
Dan tanpa canggung, kedua lengannya dia lingkarkan dipinggang Veln hingga menyatu. Lalu Ray membenamkan wajahnya dipangkuan Veln. Saat seperti inilah yang selalu dinantikan oleh Ray ketika berada bersama wanitanya.
" V.. maaf kan aku " Ray memejamkan mata dan bulir bening ikut tersapu disana. " Aku, sungguh menyesali semua perbuatan ku padamu " Veln mengusap pelan wajah basah Ray yang mendongak kearahnya dengan punggung tangannya. " Cukup, jangan lagi menghukum ku dengan cara seperti ini " Ray menelungkupkan kembali ketampanannya dipaha Veln. " Berjauhan dengan kalian, mambuat hidup ku bagai tak bernyawa " Nafas Ray sejenak terdengar tersengal seolah sedang melepas segala beban berat yang menghimpit dadanya. " Jika kau masih belum merasa puas, kau boleh melanjutkan pembalasan dendam mu. Tapi tolong, jangan dengan menggunakan ego " Telapak tangan Veln seketika reflek mengusap-usap rambut tebal Ray. " Karena sekarang ada Ley yang lebih penting diatas segalanya " Veln pun tersenyum membayangkan bagaimana kisruhnya pertemuan kedua, putra kecilnya bersama sang Ayah.
" Hemmm " Ucap Veln tanpa harus membuka mulutnya.
Ray mengangkat wajahnya, ditatapnya dua manik mata Veln dengan kedua telapak tangan disandarkan diatas meja. Persis terlihat seolah sedang mengunci tubuh Veln agar tak melarikan diri dari hadapannya.
" Astaga, respon mu mengejutkan V. Perkataan ku yang begitu panjang dan lebar hanya disambut dengan satu kata.. hemmm " Ray menggeleng-gelengkan kepalanya, dibarengi dengan mulut Veln yang terkekeh.
__ADS_1
" V.. ayo singkirkan ego kita, demi Ley. Bahkan aku dan kau harus meminta maaf padanya, dan menebus waktu tiga tahun yang tak didapat anak itu dengan semestinya "
" Hemm " Veln mengangguk, menyetujui tiap kalimat yang Ray ucapkan.
Ray terkekeh geli mendengar respon wanitanya yang sedari tadi hanya hemm dan menganggukkan kepala menanggapi ucapannya yang sepanjang kereta api " Sepertinya, V ku perlu melanjutkan tidurnya " Ray mengangkat tubuh wanitanya dalam gendongan, dengan sigap tanpa diperintah Veln mengalungkan tangannya keleher suaminya dan menyandarkan kepala didada bidang pria itu. Pria yang sudah mulai melangkahkan kakinya dengan berjalan penuh semangat meninggalkan dapur untuk menuju keruangan lainnya.
" Dimana kamar kita? " Ray menatap mata perempuan ayu dalam gendongannya. Veln menunjukan pintu kamar dengan menggerakkan dagunya pelan. " Lalu kamar Ley? "
" Disana " Akhirnya suara Veln kembali mengalun dibarengi gerakan tangannya menunjuk pintu kamar putranya.
Didalam kamar, Ray menurunkan Veln diatas ranjangnya dengan pelan dan hati-hati. Ray membungkukkan tubuh dan mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang. Lalu Ray beranjak keluar meninggalkan Veln yang sudah terbaring diatas kasurnya dengan kedua mata perempuan itu menatap lekat punggung Ray yang bergoyang karena langkah kakinya hingga menghilang dibalik pintu.
Beberapa menit kemudian Ray kembali masuk kedalam kamar sudah tanpa alas kaki dengan membawa Ley dalam gendongannya,
Ray membaringkan putranya yang lelap dalam tidurnya disebelah kanan Veln, sementara dirinya berputar dan segera merangkak naik disisi sebelah kiri Veln.
Ray menyibak rambut Veln yang menutupi sebelah wajahnya, lalu lengan panjangnya menjulur mendekap langsung tubuh dua orang yang lebih kecil darinya.
" Mimpi indah V " Bisik hangat suara Ray ditelinga Veln.
" Ray, tidakkah kau keterlaluan meletakkan anak kita ditepi ranjang? " Protes Veln dengan menolehkan wajahnya kearah Ray.
" Ley akan aman, karena tanganku akan melindunginya. Sebenarnya aku ingin meletakkan Ley ditengah-tengah kita, tapi bagaimana ini.. keinginan ku untuk memeluk mu benar-benar tak tertahan " Tawa Ray memecah.
" Dasar egois " Veln menyikut pelan tubuh suaminya dengan dibarengi senyum tipisnya.
Akhirnya setelah sekian lama mereka kembali tidur dengan satu ranjang. Bahkan kini tidak berdua lagi, tapi bertiga karena ada tambahan bonus dari Tuhan yang harus benar-benar mereka jaga dan lindungi.
Ray tidur dengan posisi miring dengan memeluk Veln yang memunggunginya menghadap putra tampan mereka. Ya karena hanya Ley lah yang tidur dengan posisi berlawanan arah, yaitu miring menghadap kedua orang tuanya.
.
.
.
.
Hallo.. tks ya atas perhatian kalian terhadap novel author. Jika ada part yang tidak sesuai ekspektasi kalian mohon maaf ya.. mungkin daya imajinasi author lagi mentok disitu,hee.
Makasih juga buat yang udah like, coment, dll.
Jaga diri dan salam sehat selalu😙
__ADS_1