Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
23.Kencan


__ADS_3

Veln masih mematung ditempat semula, memandangi lekat kearah pintu kamar mandi sembari sibuk mengatur nafasnya yang masih sedikit tak beraturan.


Detak jantungnya pun masih terdengar belum stabil.


Ah.. kenapa aku norak sekali, harusnya dengan perasaan senang hati aku menyerahkan seluruh jiwa raga ku kepelukan Ray, suami ku sendiri yang begitu tampan dan mempesona. Tapi entah mengapa didalam sini terasa ada yang protes.. membuat jantung ku berdegup kencang ketika disentuh olehnya.


Veln menjitak pelipisnya sendiri dengan pelan, menghukum kebodohan dirinya sendiri.


Dan karena rasa haus yang melanda, dia pun menyeret langkah kakinya keluar kamar untuk mengambil minum dari dalam kulkas.


Veln menenggak hampir menghabiskan setengah isinya, membasahi kerongkongannya yang terasa kering kini menjadi lebih segar. Lalu sebentar mendudukkan tubuhnya diatas kursi meja makan.


Setelah itu dia pun kembali masuk menuju kamar dan mendapati Ray berjalan keluar dengan sudah mengenakan baju ganti dari kamar mandi sembari menggosok-gosokkan rambutnya yang basah dengan handuk.


Veln menghampiri suaminya yang terlihat mendudukkan tubuhnya diatas sofa.


" Ray kemarikan handuknya, biar aku bantu mengeringkan rambut mu " Dengan tersenyum senang Ray mengulurkan handuk putih tersebut kearah istrinya.


Veln memulai tangannya mengusap-usap lembut kepala Ray dengan handuk itu, dengan posisi berdiri didepan suaminya.


" Jantung mu baik-baik saja? " Ucapan Ray memecah keheningan beberapa saat. Veln menghentikan aktifitasnya dan sedikit memundurkan posisi berdirinya agar dapat memandang wajah Ray yang sedikit mendongak dengan jelas. Dia mengernyitkan dahi tak mengerti dengan pertanyaan yang dilemparkan suaminya.


Ya ampun wajah tampan ini, membuat ku merasa malu sendiri untuk menatapnya.


Veln melempar senyum kearah Ray dengan pipi bersemu merah. Tangan kanannya dilekatkan diatas dada memastikan detak jantung diri sendiri.


" Hem, tidak ada yang salah dengan jantung ku " Lalu tangannya kembali mengusap rambut Ray yang hampir mengering.


" Kalau seperti ini apa jantung mu masih merasa baik? " Ray memegang pinggang Veln dengan kedua tangannya.


" Hem " Veln menjawab dengan menganggukkan kepalanya pelan, karena memang dirasa tidak ada yang aneh dengan jantungnya dan masih menyibukan diri dengan aktifitas semulanya.


" Kalau begini " Ray menarik pinggang Veln lebih dekat kearah wajahnya, membuat Veln sedikit terkejut.


" Bagaimana kalau seperti ini? apa kau masih merasa baik-baik saja? " Ray sudah tidak sabaran menunggu jawaban istrinya. Veln menatap wajah Ray yang mendongak kearahnya sembari tersenyum. Veln tertawa kecil merasa aneh dengan kelakuan Ray.


" Hem, aku baik. Aku tidak apa-apa, memangnya kenapa? " Langsung Veln memastikan maksud dan tujuan perkataan Ray.


" Bagus lah kalau begitu " Dengan senyum menyeringai Ray menatap istrinya.


" Rupanya cepat juga ya kau sudah bisa beradaptasi, sudah bisa lebih santai berdekatan denganku " Mendengar itu Veln langsung terkesiap dan mendapati kilatan mata Ray yang sudah berubah menjadi tatapan memburu.


Gleg,


Veln menelan ludah, gemetar.


" Ray.. " Ucapannya tertahan sebentar, sementara kedua tangan Ray sibuk menarik pinggang Veln hendak lebih mendekatkan lagi. Ray mencium lembut perut istrinya yang berada dibalik dressnya yang membuat Veln menggeliat kecil merasakan geli bercampur perasaan aneh.

__ADS_1


" Pergilah.. Kau tidak mau mandi? " Ray melepaskan tangannya dengan menatap lekat kearah Veln.


" Hem.. " Veln langsung beranjak menuju kopernya untuk mengambil baju ganti yang sebelumnya meletakkan terlebih dahulu handuk berwarna putih tersebut didalam kamar mandi, kedua tangannya sibuk membuka koper tersebut.


Veln sedikit terkejut saat melihat isi didalamnya, diambilnya beberapa baju dan membuka lipatannya untuk memastikan.


" Ray, sepertinya koper ku tertukar " Sembari melirik kearah Ray.


" Aku tidak mengenali semua barang-barang yang ada didalamnya, termasuk ini " Menunjukkan satu dress kearah suaminya.


" Tidak mungkin kalau sampai tertukar " Sembari menghampiri dan mengambil alih dress yang dipegang istrinya.


" Sepertinya ini seukuran tubuh mu " Mencocokkan dressnya ketubuh Veln.


" Memang tapi aku tidak merasa memiliki ini, semua barang-barang didalam sini sepertinya bukan punya ku " Terang Veln yang tidak menyadari ketika dibandara pelayan rumah telah menukar koper baru beserta isinya.


" Mungkin bibi Stela yang sengaja menyiapkannya untuk mu " Tangan Ray mengobrak-abrik beberapa baju lainnya yang masih terlipat rapih didalam koper dan mencocokkan satu persatu kearah tubuh Veln.


" Benar, pasti bibi Stela yang menyiapkan ini semua untuk mu " Ray begitu yakin karena memang beberapa pakaian begitu pas ketika dicocokkan ketubuh istrinya.


" Jadi aku boleh memakainya? " Memastikan.


" Tentu saja boleh, kecuali kalau kau mau telanjang " Tawa kecil nakalnya keluar begitu saja dari mulut Ray.


" Dasar mesum " Sembari tangannya mengambil satu baju dan diletakkan kepundaknya. Satu persatu Veln memindahkan pakaiannya yang terlihat asing kedalam lemari dengan mata mencari sesuatu, namun sampai semua isi koper terkuras Veln tidak menemukannya.


" Emm, itu, baju dalam. Bibi Stela sepertinya lupa memasukkan pakaian dalamnya kedalam koper " Dengan sedikit malu Veln memberi tau kan suaminya.


" Orang-orang rumah itu kreatifnya terlalu berlebihan. Aku jadi penasaran, sebenarnya apa yang dipikirkan mereka semua ketika menyiapkan baju-baju untuk mu " Ray bergumam kecil.


" Ikut aku " Berlalu menuju keluar kamar sembari meraih dompet dan ponselnya yang hendak menelfon seseorang. Veln pun meletakkan baju gantinya kedalam koper yang masih terbuka dengan sembarang dan mengikuti Ray dari belakang.


" Sam, tolong siapkan mobil. Aku mau keluar sebentar " Dengan nada memerintah Ray berbicara dibalik ponselnya.


" Ray, kita mau kemana? " Masih dengan menunggu pintu lift yang belum terbuka.


" Kencan.. kita belum pernah melakukan kencan kan sebelumnya? " Menarik tangan Veln lembut untuk masuk kedalam lift, lalu mendekap istrinya dengan melingkarkan tangannya kebahu Veln. Mata Ray terus menatap kearah Veln yang membuat Veln sedikit merasa salah tingkah, dan tanpa meminta ijin kepada Ray, Veln memilih membenamkan kepalanya kedada bidang suaminya bermaksud untuk menutupi seluruh wajahnya agar tak terlihat oleh Ray. Ray tersenyum menyeringai melihat tingkah pola istrinya.


" Sayaaang " Panggilan itu terdengar membuat merinding.


" Bagaimana ini, nanti malam aku bisa-bisa hilang kendali karena melihat mu tanpa mengenakan baju dalam " Ray mulai menggoda istrinya dengan mengusap nakal rambut Veln. Veln tak bergeming, hanya memelototkan sedikit matanya lebih besar tanpa mengeluarkan suara masih diposisi wajahnya yang terbenam didada Ray.


" Mereka itu begitu sangat pengertian, terhadap pengantin baru seperti kita " Ray mengeluarkan tawa kecilnya.


Hatiku, jantungku.. Ku mohon tenanglah. Ray tidak akan melakukan apa pun didalam sini. Kalaupun itu sampai terjadi bukankah itu wajar.


Veln meremas pinggang Ray dengan masih membenamkan wajahnya.

__ADS_1


" Tenanglah, aku tidak akan memaksa mu sampai kau benar-benar siap " Ray melepaskan kembali tawanya.


○○○


Ray sampai dilobby hotel dengan menggenggam jari jemari istrinya, matanya mendapati Sam dan beberapa staf hotel disana. Semuanya menunduk sopan kearah tuannya.


" Anda akan keluar sekarang tuan? " Sam memastikan ketika mendapati Ray menuju kearahnya.


" Hem " Mendengar jawaban tuannya Sam langsung mempersilahkan Ray menuju pintu keluar.


Terlihat didepan lobby sebuah mobil sudah terparkir, dan seorang petugas hotel menyerahkan kuncinya kesekertaris Sam.


" Sam serahkan kunci mobilnya, biar aku bawa sendiri, kau beristirahatlah tidak usah menunggu ku " Ray mengambil alih kunci mobil dari tangan Sam. Sam membukakan pintu mobil untuk Nona mudanya, Veln pun langsung masuk tanpa diperintah dengan diiringi tangan Ray yang menadah dikepala istrinya untuk menghindari agar Veln tidak terbentur mobil. Lalu mereka berdua pun memutar balik menuju pintu kemudi dan sekertaris Sam sigap membukakan kembali pintu mobil untuk tuan mudanya.


Ray melajukan mobilnya keluar dari area hotel, setelah terlihat menghilang dari pandangannya Sam kembali masuk menuju ruang kamar hotelnya.


Pandangan mata Ray fokus menatap jalanan sembari sesekali melirik kearah istrinya yang sedari tadi sedang mengawasinya menyetir.


" Kenapa kau menatap ku dengan begitu terpesona? " Masih dengan serius mengemudikan kendaraan roda empatnya.


" Apa kau sekarang sudah menyadarinya betapa beruntungnya dirimu mendapatkan suami yang tampan seperti ku " Ray melebarkan senyumnya dengan perasaan bangga.


Veln menutupi wajah dengan kedua tangannya menyembunyikam senyum dibibirnya, dan menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali, merasa lucu dengan yang diucapkan suaminya yang begitu percaya diri.


" Kau tidak terima? tidak sependapat dengan ku? terserah saja lah memang pada kenyataannya aku ini kan tampan " Ray mengeluarkan tawa kecilnya yang diikuti tawa Veln yang tidak bisa tertahan lagi mendengar ucapan suaminya.


Sepertinya selogan orang tampan mah bebas itu benar adanya, seperti tuan muda ini dengan bebas dan tidak tau malunya menyombongkan diri dengan ketampanannya.


Ray terlihat memarkirkan mobilnya disebuah pusat perbelanjaan disalah satu pulau tersebut. Dan beranjak keluar dari mobil memutar balik kearah pintu depan mobil satunya, untuk membantu membukakan pintu agar istrinya dapat keluar.


Mereka pun memasuki pusat perbelanjaan dengan bergandengan tangan, terlihat beberapa orang menatap kearah mereka membuat Veln sedikit risih dibuatnya.


" Menunduk " Suara Ray terdengar memerintah sembari tangannya sedikit mendorong bagian atas kepala Veln kebawah.


" Memang kenapa? " Bukannya menuruti perkataan suaminya Veln malah mendongakkan wajahnya kearah Ray.


" Aku tidak suka kalau mereka semua menikmati kecantikan wajah mu " Ucap Ray datar.


" Ray mereka itu bukan menikmati wajah ku, melainkan sedang menikmati aura ketampanan mu " Sembari menghela nafas.


" Lihatlah bahkan sebagian besar dari mereka kan berjenis kelamin perempuan " Sembari matanya menyapu kesebagian orang-orang yang memperhatikannya.


" Kau tidak lihat pria yang berkaca mata tadi?dan lihat laki-laki bertopi yang duduk dikursi itu memelototi mu sedari tadi " Tangan Ray seketika memeluk tubuh Veln dengan melingkarkan lengannya kebahu Veln dan menarik kepala Veln untuk disandarkan kedadanya menunjukan sebagai tanda kepemilikan atas perempuan satu ini.


" Lalu bagaimana dengan perempuan-perempuan dan para emak-emak itu? tidak mungkin kan mereka ikut memelototi ku " Veln hendak mendongakkan kepalanya namun tertahan oleh tangan Ray.


" Tidak heran, karena aku sudah terbiasa dengan itu. Mungkin mereka terpesona dengan ketampanan ku " Ray membisikkan kata-kata yang terdengar menggelikan ditelinga Veln, membuat bibir Veln menyunggingkan senyumnya dengan merasa lucu.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2