
Esok paginya, setelah melakukan sarapan dengan bu Ani dan meminum obatnya, Veln masuk kedalam kamarnya.
Dia meraih ponselnya yang berada diatas nakas, dan membuka laci untuk mengambil agendanya.
Senyumnya penuh dengan seringai tatkala melihat dua kartu yang diberikan sekertaris Sam waktu itu, yang salah satunya tanpa memiliki limit batasan pemakaian.
Kini dia semakin yakin dan percaya diri untuk merealisasikan semua rencananya bersama calon buah hati yang masih berada diperutnya.
Veln semakin sibuk mencari beberapa distributor pakaian kekinian untuk memulai bisnis sebagai sumber keuangan kedepannya dan mencari sebuah hunian kecil yang kelak akan dia tinggali bersama calon anaknya lewat ponsel.
Dia memilah dan memilih dengan begitu sangat teliti dan detail, hingga sedikit menguras penglihatan dan keahliannya dalam mengelola keuangan.
Semangatnya semakin hari semakin bertambah, memang sudah seharusnya begitu bukan? kalau bukan dari diri kita sendiri yang memulai, siapa lagi yang dapat membebaskan dari keadaan yang tidak nyaman dan menyedihkan ini.
○○○
Begitu sampai diruangan kebesarannya Ray duduk dengan menyandarkan tubuhnya.
Beruntung beberapa hari ini dia sudah bisa ngantor seperti biasanya. Meski jadwal keberangkatannya harus diundur lebih siang dari biasanya menunggu sampai kondisi tubuhnya sudah benar-benar merasa baik, setidaknya Ray harus cukup puas dan bersyukur karena sudah dapat mengunjungi gedung penghasil pundi-pundi dompetnya lagu meski tak sesuai jadwal yang biasa dia lakukan.
Kondisi yang terjadi pada tubuhnya benar-benar sedikit membuat kacau aktifitasnya, bahkan obat dan vitamin yang selalu diresepkan oleh dokter heri hanya mampu untuk meringankan, tapi tidak menghilangkan.
Sampai kadang fikiran kacau Ray merasa dirinya seperti terkena sihir atau semacamnya, hingga terdeteksi sehat oleh medis namun tubuh merasakan reaksi yang sungguh luar biasa menyiksa.
" Sam "
" Iya tuan "
" Kemarin, aku bertemu dengan V tanpa sengaja " Sam hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. " Kau tau.. dia nampak baik dan sehat "
" Memang nona selalu tampak seperti itu tuan "
" Ku pikir dia akan berantakan dan tidak akan berselera untuk hidup lagi "
" Sepertinya anda lupa tuan, karena sudah menikahi perempuan yang tegar dan kuat seperti nona " Ucapan Sam terdengar begitu menohok.
Ray mendongakkan wajahnya kearah langit-langit ruangan, lalu tersenyum tanpa arti.
" Hufffft, kau benar Sam " Menghembuskan nafasnya dan mengakui semua ucapan sekertaris sekaligus asisten pribadinya itu.
○○○
Siang hari Veln nampak rapih dengan pakaiannya yang nyaman dan simple. Langkahnya dia tujukan kebeberapa toko perhiasan, dia membeli beberapa set perhiasan disana. Tak tanggung-tanggung dia selalu menjatuhkan pilihan kesetiap set perhiasan dengan keluaran terbaru dan memiliki harga yang lumayan mendekati langit. Tentu dengan tagihan yang dia bayarkan dengan menggunakan kartu jaminan hidup yang Veln terima dari Ray lewat sekertaris Sam.
Veln pun melakukan penarikkan tunai secara besar-besaran dengan kartu yang satunya.
Hingga satu minggu lamanya, rutinitas dua hal itu tidak dia lewatkan. Setiap harinya Veln akan datang untuk memborong beberapa set perhiasan, dan menjualnya kembali sebagian untuk dijadikan uang tunai. Dan tak lupa dia juga akan menarik tunai dengan jumlah maksimal disebuah gerai atm yang dia temui disepanjang jalan yang dia lewati.
Veln juga menyelipkan waktu dalam rutinitas dua halnya, yaitu bertemu distributor pakaian untuk mengecek dan memastikan barang-barang yang akan dia perjualkan lewat peruntungan bisnis online yang akan dia jalani.
Dan mendatangi beberapa hunian, sampai ketika mendapatkan yang cocok dan sesuai dengan keinginan dirinya baru dia akan mengambil alih dan membelinya.
Veln fikir tidak ada salahnya mengambil keuntungan dari pria itu, toh semuanya juga akan kembali dan dinikmati oleh darah dagingnya sendiri.
Kali ini dia akan tunjukan keegoisan dan kekejamannya, Veln sudah benar-benar bertekad untuk menguras dan mengambil banyak milik Ray. Bila perlu Veln akan membuat Ray bangkrut. Sayangnya itu tidak akan terjadi dilihat dari berapa banyak yang Ray miliki tidak sebanding dengan kekuatan dan kemampuan Veln dalam menghamburkan uang.
○○○
Sekertaris Sam sampai dibuat geleng-geleng dengan kelakuan baru nonanya. Beberapa laporan dari penggunaan kartu yang dia berikan untuk keperluan nona dan calon bayinya atas perintah tuan mudanya membuat sekertaris Sam geli sendiri.
Sekertaris Sam sampai berfikiran bahwa mungkinkah nonanya akan membuka toko perhiasan sebagai sumber penghasilan mandirinya? karena dalam waktu seminggu ini dari laporan yang Sam dapat sebagian penggunaan dari kartu canggih itu, dipakai untuk memborong perhiasan.
__ADS_1
" Tuan "
" Hem " Ray tak menoleh kearah Sam yang datang dan masuk keruangannya. Ray masih menekuri laptopnya.
" Saya akan memberikan laporan khusus dan penting untuk anda "
" Katakan " Tanpa memandang Sam sama sekali, dan masih asik bergelut dengan layar laptopnya.
" Sudah satu minggu ini, nona muda menggunakan kartu kesejahteraan yang anda berikan "
" Lalu? "
" Nona menggunakannya dengan cukup brutal dan fantastis "
Ray mendongak kearah Sam " Memang apa masalahnya? "
" Saya hanya memberi laporan, tidak ada maksud apa pun "
Senyum Ray mengembang, meski tidak nampak badut atau pun lawakan disana tiba-tiba Ray tertawa lepas.
" Ha ha haa.. " Nampak rona bahagia diwajah Ray. " Dia istriku, dan dia sedang mengandung anakku. Didalam perutnya sedang tumbuh Ray junior jadi biarkan, dia berhak mendapatkan kesenangannya " Ujar Ray santai.
Sam dibuat tak mengerti kembali dengan tingkah tuannya. Apa itu dengan dia istriku dan sedang mengandung anakku tuannya tidak salah berucap?
Yang kemarin itu kemana otaknya? mungkin Ray baru mendapatkan hidayah, sehingga fikirannya sudah kembali agak lurus.
○○○
Diarea luar apartemen Veln yang hendak pergi, langkahnya terhenti dengan kedatangan Rosi dan Renand adik kecilnya.
" Kak V, mau kemana? " Sorot Renand penuh tanya.
Tiba-tiba Rosi langsung menangkub Veln dan mengisak dengan pilu. " Kak V, hkhkhk.. maaf Rosi tidak peka dengan apa yang sudah kak V alami " Rosi menangis tersedu. Sementara Veln mengernyit bingung, dan mengangkat alisnya untuk meminta penjelasan kepada Renand
" Rosi, tenanglah " Veln menepuk punggung Rosi " Katakan apa maksudmu? "
Rosi melerai tangannya dari tubuh Veln dan berucap " Rosi sudah tau semua kak V, Rey sudah menceritakan semuanya kepada Rosi " Rosi mengelap air matanya yang dibantu oleh kakak iparnya. " Katakan kak V, apa yang bisa Rosi bantu? kak V mau Rosi bicara dengan kak Ray? " Rosi begitu semangat untuk membantu melerai masalah diantara kakak-kakaknya.
" Terimakasih, aku bangga memiliki saudara seperti kalian yang memiliki simpati dan empati yang begitu luar biasa. Tapi, aku masih sanggup dan mampu menyelesaikan masalah ku sendiri. Jadi tetaplah jadi adik-adik yang baik, membanggakan dan manis seperti ini " Veln tersenyum melebar. " Sampai tiba waktunya ketika aku datang kepada kalian, kalian harus janji dan bersedia untuk membantuku "
" Em " Rosi dan Renand mengangguk dan menjawab setuju dengan serempak.
" Kak V, mau kemana? " Renand mengulangi pertanyaannya.
" Aku mau rapat penting "
" Dengan? "
" Dengan orang penting nomor dua "
" Siapa? " Rosi kepo, dengan fikiran penuh tanya.
" Ada deh " Gurau Veln dengan tak berniat memberitahukan mereka berdua.
" Kalau begitu kami antar " Serempak dua kakak adik itu berucap.
Akhirnya dengan terpaksa Veln pergi dengan mereka untuk bertemu dengan orang penting nomor dua disebuah tempat yang sudah ditentukan.
Biarlah mereka tau, toh sudah sepantasnya tidak perlu ada yang disembunyikan dengan hal ini.
○○○
__ADS_1
Hampir setengah jam lebih lamanya menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai disebuah cafe yang sudah ditentukan menjadi tempat pertemuan Veln dengan orang nomor dua tersebut.
Setelah Renand memarkirkan mobilnya dengan baik, mereka pun keluar dan langsung masuk menuju cafe tersebut.
Veln langsung mengedar pandang mencari seseorang yang dimaksud, siapa tau dia sudah datang lebih dulu.
Dan tepat sekali diujung pojok sana, sekertaris Sam sudah duduk dengan begitu berwibawa dan terlihat jelas aura khasnya yaitu aura kejujuran dan kesetiannya.
Siang ini, Veln memang mengajak sekertaris Sam untuk bertemu. Ada yang harus dia selesaikan lewat sekertaris Sam.
" Sekertaris Sam maaf membuat mu menunggu " Sam yang begitu melihat kedatangan nonanya langsung berdiri dan mengangguk hormat kearah nonanya.
" Tidak sama sekali nona, sebenarnya saya juga baru saja sampai " Lalu Sam mempersilahkan mereka untuk duduk.
" Tidak perlu berbasa-basi Sam, ayo cepat katakan perintah apa yang kau bawa dari kak Ray untuk kak V? " Rosi langsung menyerobot pembicaraan, yang membuat sekertaris Sam melirikan pandang kearahnya.
" Diamlah kak, belum saatnya kau ikut campur urusan mereka. Sebaiknya, kau bantu kami untuk memesan sesuatu " Tukas Ray, merasa sebal atas tingkah kakak perempuannya Rosi.
Tanpa protes, Rosi pun menurut dan melambaikan tangannya memanggil seorang pelayan dan bersiap memesankan minuman dan beberapa camilan pendampingnya.
Setelah membuang nafasnya panjang, Veln bersiap untuk membuka mulutnya " Baiklah sekertaris Sam, aku tidak akan membuat waktu mu terbuang percuma " Veln membuka tasnya, dan mengeluarkan dompet. Lalu merogoh dua kartu dari dalam sana dan menaruhnya dihadapan sekertaris Sam. " Ini, kembalikan kepada tuan mu " Dengan santai seperti biasanya. " Ucapkan terimakasih untuknya dariku, dan permohonan maaf karena sudah mengambil dan menguras uangnya " Veln terkekeh, yang membuat ketiga orang yang duduk bersamanya menatap aneh.
" Tidak perlu dikembalikan nona, simpan saja untuk keperluan nona dan calon bayi anda " Ucap sekertaris Sam ketika kembali sadar dari keanehan Veln.
" Cukup sekertaris Sam, saya sudah banyak mengambil dan merampok uang milik tuan mu. Jadi kembalikan saja, karena saya sudah tidak membutuhkannya lagi "
" Jangan dikembalikan kak, bila perlu habiskan semua uang milik kak Ray hingga bangkrut. Anggap saja itu suatu balasan dari kak V untuk kak Ray " Rosi kembali menyuarakan haknya yang seharusnya cukup puas dengan menjadi pendengar.
" Sebentar " Rey berusaha mencerna maksud obrolan kakak iparnya dengan sekertaris Sam " Apa maksudnya, kak Ray membuang kak V dengan meninggalkan kartu-kartu itu untuk mu kak? " Veln menjawab dengan mengedipkan mata. " Keterlaluan " Renand terlihat geram. " Kak V, berapa banyak yang sudah kau pakai dari benda itu? sekalian kembalikan jika masih ada yang tersisa. Dan aku akan menggantinya dengan uang ku total yang sudah kak V gunakan " Renand tidak habis pikir dengan kelakuan kakaknya yang serendahan ini.
" Tenanglah boy " Veln berusaha menurunkan hawa panas dikepala adik kecilnya.
" Kau itu tau apa Rey, yang kak V lakukan itu sudah benar "
" Benar kepala mu.. tidak semua bisa dibeli dengan uang. Kak Sam, kembalikan dua kartu itu dan sisanya akan aku ganti dengan uang ku " Tukas Renand. " Dengar kak V, aku mampu membiyayai kak V dan calon keponakan ku. Bila perlu aku akan menikahi mu sekaligus menggantikan ayah dari janin yang ada diperut mu "
Plakkk..
Rosi memukul Renand dengan spontan, saat mendengar pernyataan dari mulut Renand yang terdengar menggelikan.
" Kau ini, kalau bicara dipikir dulu. Mana mau kak V dengan anak ingusan seperti mu " Rosi protes keras. Sam yang sedari tadi memperhatikan mereka, merasa bangga khususnya terhadap Renand atas kedekatan dan rasa solidaritas tinggi dari hubungan yang mereka jalin.
" Aku sudah bukan anak ingusan lagi, aku akan menjelma menjadi seorang pria dewasa " Bela Renand penuh keyakinan. " Dan satu lagi, aku benar-benar mampu kalau hanya untuk menafkahi kak V dan calon keponakan ku. Kalian tidak lupa kan kalau aku memiliki sebuah bengkel dan toko spare part "
" Kenyataannya, Sam lebih cocok untuk menggantikan kak Ray mendampingi kak V dan menjadi ayah baru buat keponakan kita " Rosi memutar bola matanya, dengan mengeluarkan kata-kata yang tanpa dia sadari.
Sam dibuat sedikit membola mendengar ucapan Rosi yang begitu spontan.
" Kak Rosi, benar? kau yakin menyerahkan kak Sam untuk kak V? "
" Hem " Rosi mengangguk pasti. " Upssss.. " Rosi membungkam mulutnya " no, no jangan dianggap serius pernyataan ku barusan " Rosi menggoyang-goyangkan telapak tangannya menyimbolkan kata tidak.
" Aku dan calon bayi ku berhak menggunakan itu. Setidaknya anggap itu sebagai kompensasi atas perlakuan yang kami terima. Kau sepemikiran kan dengan ku sekertaris Sam? " Sekertaris Sam tersenyum dan mengangguk, berharap responnya dapat sedikit menenangkan kedua kakak beradik tersebut.
Tak lama, orderan yang dipesan Rosi pun datang. Kini mereka mulai menikmatinya dengan sesekali diselingi obrolan ringan dan menyenangkan.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..