
Veln mencium punggung Pamannya sopan berpamitan hendak berangkat bekerja.
" Paman, aku kerja dulu ya "
" Hati-hati Nak, apa sebaiknya nanti malam Paman jemput saja? "
" Tidak usah. Paman tidak usah khawatir, aku bisa nebeng sama Bang Dika temen kerja aku. Rumahnya satu arah dengan aku "
" Baiklah kalau begitu " Veln pun segera berlalu menuju Manja coffe.
Seperti biasa hari itu Veln datang dua jam lebih awal, sudah tentu atas perintah tuan muda Ray. Begitu sampai Manja Coffe Shop Veln langsung disambut oleh sekertaris Sam dan digiring kelantai dua.
Ray dan yang lainnya bisa leluasa keluar masuk Manja Coffe karena memang dia memiliki kunci duplikat pintu Manja Coffe atas sepengetahuan Denis, agar Ray bisa menggunakan tempat itu khususnya ruangan rooftop untuk bekerja atau sekedar bersantai dengan suasana nyaman ketika berada dikota tersebut.
Dilantai dua, Veln mendapati beberapa orang yang tidak dikenal. Hem, memang hanya sekertaris Sam saja yang dia lihat tak asing dimatanya sedangkan yang lainnya bertemu sekalipun Veln rasa tidak pernah.
Mereka melemparkan senyum ketika melihat Veln dan sekertaris Sam, sekertaris Sam hanya menganggukkan kepalanya sedangkan Veln membalas senyuman mereka dengan begitu ramahnya.
" Baiklah Nona Rere, apa anda sudah siap? " Suara Sam memecah, yang tadinya terlihat santai dan tenang kini terlihat mulai hendak menyibukkan diri dan riweh.
" Ini nona muda kami " Menunjuk kearah Veln " Silakan lakukan yang harus kalian kerjakan tanpa menyakiti dan membuat nona muda canggung "
Gleg.. kata-kata sekertaris Sam membuat Veln menelan ludah, terdengar berlebihan.
Rere yang merupakan asisten pribadi dari seorang disainer ternama Ibu Kota sengaja didatangkan kekota tersebut untuk mempersiapkan baju pengantin yang akan dikenakan oleh Veln dihari pernikahannya.
" Hallo Nona, saya Rere yang mengurus baju pengantin yang akan Nona kenakan dihari pernikahan anda nanti " Wanita yang terlihat cantik, anggun dan elegan itu nampak begitu ramah dan bersahabat, Veln hanya melempar senyum kearahnya.
" Baiklah Nona, apa anda sudah siap? kami akan melakukan pengukuran dasar " Rere menanyakan dengan maksud untuk meminta ijin, Veln pun menganggukkan kepalanya pelan.
" Apa ada kriteria khusus yang Nona Veln inginkan untuk desain dan warna baju pengantinnya? " Sembari tangannya sibuk mengukur-ukur setiap jengkal bagian tubuh Veln yang dibantu asistennya untuk mencatat hasilnya.
" Tidak ada Nona Rere, buatkan saja sesuai dengan keinginan tuan muda Ray. Asalkan terlihat sopan dan nyaman aku pasti akan menyukainya " Dan menyunggingkan senyum.
" Panggil saya Rere saja Nona " Veln pun menganggukkan kepalanya lagi tanda setuju.
" Baiklah Nona, akan saya buatkan desain istimewa, spesial untuk anda. Nona pasti akan suka dan nyaman menggunakannya "
" Terima kasih Nona Rere, maksud saya Rere. Maaf sudah merepotkan anda "
" Tidak sama sekali Nona, ini memang sudah tugas kami Rere pun melempar senyum ke arah Veln.
Setelah selesai dengan urusan pakaian pengantinnya kembali Veln disibukkan dengan katalog desain cincin pernikahan yang sudah disiapkan oleh para wedding planner.
Tanpa banyak permintaan Veln pun memilih model cincin yang simple namun terlihat elegan, tentunya dengan model yang sama digambar namun dengan sedikit sentuhan modifikasi yang nantinya akan membuat agak sedikit berbeda nampak lain dari pada yang lainnya.
Tak butuh waktu banyak, semua yang diperlukan untuk hari istimewa yang akan digelar dua minggu lagi itu akhirnya 75% nya hampir terselesaikan.
Dan orang-orang tadi yang berpartisipasi dalam acara besar itu pun akhirnya undur diri setelah selesai dengan urusannya.
__ADS_1
" Baiklah tuan Sam, kami permisi undur diri. Kami akan berusaha semaksimal mungkin mewujudkan acara sesuai konsep yang tuan muda anda ingin kan dengan waktu yang nyaris singkat ini. Untung saja nona Veln bukan perempuan yang ribet yang banyak maunya seperti wanita lainnya, jadi bisa lebih mempermudah pekerjaan kami " Ucap pengurus wedding planer itu.
" Terima kasih atas kerja samanya Nona Veln, kami mohon pamit "
Mereka pun yang dibuat kalang kabut dengan persiapan pernikahan tuan muda Ray yang waktunya begitu singkat itu bergegas meninggalkan ruangan lantai dua Manja Coffe dengan diantar oleh sekertaris Sam.
Sementara Veln duduk termangu didalam satu kursi yang berada dilantai dua tersebut.
Tuan muda Ray, sebenarnya siapa kau ini?Aku sampai sibuk dibuat bingung olehmu dan sekertarismu itu. Acara untuk dua minggu kedepan sepertinya sudah direncanakan dengan begitu matang olehmu, dan lihatlah tadi bahkan sampai kau menggunakan salah satu jasa wedding segala yang bahkan hal itu tidak pernah terfikirkan dalam rencana pernikahanku. Karena jasa-jasa seperti itu kan biasanya hanya digunakan oleh masyarakat kalangan menengah keatas saja, tidak sepertiku ini yang memiliki rangking hanya dikalangan masyarakat menengah kebawah. Sebenarnya sebesar apa sie penghasilanmu dari tempat ini? apa mungkin setara dengan penghasilan juragan Seno tiap bulannya? sampai dapat menggunakan gaya hidup yang sedikit berlebihan ini.
Lamunan Veln tersadar ketika mendapati sekertaris Sam yang sudah kembali dari lantai bawah.
" Sekertaris Sam " Veln mengangkat tubuhnya dari posisi duduk menjadi posisi berdiri.
" Apa aku boleh bertanya sesuatu kepada anda? "
" Tentu " Sam menganggukkan kepalanya.
" Menurut mu apa ini tidak terlalu berlebihan sekertaris Sam? kupikir acaranya lebih baik digelar dengan sederhana dan biasa saja "
" Tidak Nona, memang acaranya akan digelar dengan sederhana dan biasa sesuai keinginan Nona "
Sebenarnya, biasa dan sederhana sesuai keinginanku itu yang seperti bagaimana menurut versimu dan tuan mudamu sekertaris Sam? apa yang seperti tadi itu yang anda bilang sederhana dan biasa?
" Sekertaris Sam, memang berapa banyak yang dihasilkan oleh tuan mudamu setiap bulannya dari tempat ini? " Veln sedikit kepo.
" Bisakah kau memberi tahukannya kepada ku? dan aku fikir sepertinya tuan mudamu memiliki bisnis lain ya selain mengelola tempat ini? "
" Baiklah " Veln menjawab dengan sedikit kesal.
Sekertaris Sam ini bagaikan kunci gembok kotak rahasia si boss, sangat sulit sekali untuk dibuka sama seperti pemiliknya sangat begitu sulit dipahami dan diselidiki. Mungkin aku harus memukulnya dengan bongkahan batu kali agar gembok rahasianya terbuka dan terbongkar isi rahasia didalamnya. Sembari cekikikan Veln membayangkan bagaimana kalau dia sampai memukul-mukul mulut sekertaris Sam dengan bongkahan batu tersebut agar dapat mengeluarkan rahasia yang ada didalam mulutnya itu.
" Baiklah nona, kalau tidak ada lagi yang ingin anda tanyakan saya akan pergi dari sini. Ada masalah lain yang harus saya urus lagi " Atas persetujuan Veln, sekertaris Sam pun pergi berlalu menuruni anak tangga meninggalkan lantai dua.
○○○
Seperti biasa dijam-jam istirahat kantor suasana Manja Coffe pasti akan selalu ramai dipenuhi para pengunjung yang membuat seluruh karyawannya ekstra sibuk melayani para tamu yang datang tak terkecuali Veln. Dengan cekatan dia melayani tiap orderan yang datang sembari sesekali meregangkan jari-jari tangannya yang sedikit kaku karena terlalu sering menarikan diatas keyboard.
Jam-jam sibuk pun berlalu, akhirnya mereka bisa sedikit menghela nafas untuk menghirup oksigen.
" Nih Mbak mau nggak? buat pertahanan, penambah energi? " Yana menyodorkan sekotak kue kearah Veln dengan raut tersenyum. Tanpa menolak Veln pun langsung mengambil dan memasukkan kedalam mulutnya.
" Hemmm, enak. Makasih ya " Setelah mengunyah dan merasakan kue yang dimakannya. Tangan Yana pun beralih menyodorkan toples kuenya kearah Liana, tanpa ragu-ragu dia pun mengambil dan langsung memakannya juga persis seperti yang dilakukan Veln.
" Jari-jari aku lumayan nih, pada kaku semua " Liana sedikit mengeluh setelah kepergian Yana yang hendak menawarkan kue bawaannya ke yang lain. Veln hanya merespon dengan menganggukan kepalanya.
" Ngomong-ngomong berapa ya keuntungan yang diperoleh Pak boss dalam sebulan? " Mendengar perkataan Liana membuat Veln menengokkan kepalanya tertarik.
" Bagaimana kalau kita bantu untuk menghitungnya? " Veln antusias.
__ADS_1
" Ogah, aku sih yang penting tiap bulan cair. Soal berapa keuntungan yang didapat masa bodo ah, pokoknya tak doain aja untung banyak biar aku ikut sejahtera "
" Amin " Balas Veln mengaminin, disela-sela obrolannya terdengar suara Denis memerintah.
" Nona, bisakah kau bawakan dua gelas mochaccino setelah Dika selesai membuatnya kelantai atas? " Veln menganggukan kepalanya tanda setuju dan melempar senyum.
" Bu menurut mu, Pak boss mendengar obrolan kita nggak ya? " Liana mengungkapkan kekhawatirannya setelah Denis berlalu menuju lantai atas.
" Maksudnya Mas Denis? "
" Hem, siapa lagi? jelas dong yang kamu panggil Mas Denis itu Pak Boss kita "
" Hah? jadi Mas Denis itu boss kita? " Veln menunjukan ekspresi terkejutnya.
" Kamu ini bagaimana bisa sampai tidak tau kalau Mas Denis itu pemilik kedai kopi ini? " Liana menjitak kepala Veln pelan.
" Memang waktu interview kau tidak diwawancara olehnya? " Raut wajahnya keheranan.
" Kupikir temannya pemilik tempat ini, yang waktu itu kita pernah jadiin bahan rebutan. Karena waktu itu orang itu juga ikut dalam sesi wawancara aku "
" O.. mungkin mereka patungan dalam mendirikan usaha ini, tapi sejauh aku kerja disini sih setau aku ya Mas Denis itu bossnya. Cuma memang temannya yang nggak kalah cakep itu kadang-kadang suka kemari untuk memperindah pemandangan mata kita-kita " Sembari cekikikan Liana menuntaskan obrolannya.
" Dasar "
○○○
Veln berjalan menuju lantai dua untuk mengantarkan mochaccino pesanan Denis, ditatapnya dua cangkir minuman diatas nampan itu yang dia bawa dengan kedua tangannya sembari otaknya sedikit berpikir menebak-nebak.
Pasti satu cangkir ini untuk calon suami 50 juta ku, bukan.. lebih tepatnya calon suami 100 jutaku, kapan dia sampai? aku tidak melihatnya datang?!
Veln mengetuk pintu pelan lalu membukanya, benar saja didalam ruangan itu sudah ada dua orang yang sedang duduk diatas sofa.
Denis duduk dengan santainya menyandarkan punggung dan kepalanya terlihat lelah, sedangkan Ray terlihat duduk dengan menegakkan tubuhnya dengan mata menatap serius layar laptop.
" Hay Nona " Denis menyapa Veln dengan begitu ramah dan Veln sibuk meletakkan cangkir yang berisi mochaccino diatas meja sembari membalas Denis dengan senyuman termanis miliknya. Sementara Ray masih acuh tak acuh dengan kedatangan Veln.
" Nona bisa kau bantu aku? " Ucap Denis meminta pertolongan.
" Tentu saja Mas Denis dengan senang hati, apa yang bisa saya bantu? "
" Aku lelah sekali, tolong pijatkan bahu dan lenganku " Sontak kata-kata Denis membuat mata Veln terbelalak kaget, Ray pun langsung menengokkan kepalanya kearah Denis tak kalah kagetnya lalu matanya sebentar melirik kearah Veln.
" Hahahaaa " Denis pun tertawa puas.
" Baiklah " Jawaban Veln tak terduga, sampai membuat Denis dan Ray saling pandang dan keduanya langsung menatap lekat kearah Veln.
" Tapi dalam mimpi ya Mas Denis " Sembari melempar senyuman menggoda kearah mereka, Denis pun melepaskan tawanya lagi sementara raut wajah Ray sedikit tidak suka dengan aksi centil yang dilakukan Veln.
" Ray, aku mau ketoilet.. sepertinya ada yang tidak beres didalam perutku " Denis pun berlalu meninggalkan Veln dan Ray.
__ADS_1
Bersambung..