Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
66. Perubahan


__ADS_3

Veln kembali menutup mulutnya, membekap rapat-rapat dengan telapak tangannya untuk menahan suara tangisannya.


Satu pertanyaan yang keluar susah payah dari bibirnya sama sekali tak direspon lawan bicara.


Ray memang tidak ada niatan sama sekali untuk menjawabnya, karena dia sibuk dengan dirinya sendiri. Sibuk dengan pergulatan batin dan emosinya. Pelukan yang Ray berikan terhadap perempuan dalam dekapannya sama sekali tidak memberikan kehangatan, hanya ada kehambaran dan hawa panas yang dirasa.


Saat merasakan tubuh Veln yang terguncang karena tangis, ada rasa pedih dalam diri Ray. Namun emosinya jauh lebih tinggi dibanding rasa simpati dan empatinya saat ini. Hingga tanpa terasa Ray pun meneteskan air matanya, meluapkan amarah yang tertahan diubun-ubunnya.


Sampai entah berapa banyak air mata yang terbuang dan lelah mulai melanda, tanpa disadari Veln kini sudah lelap dalam tidurnya.


○○○


Keesokan paginya Veln terbangun dan kembali tak menemukan Ray disampingnya.


Setelah mencari diseluruh kamar dan tak menemukan sosok Ray, Veln langsung beranjak turun.


" Selamat pagi nona " Sapa pak Dim yang kebetulan berpapasan dengannya.


" Pagi pak, pak Dim tau dimana tuan Ray saat ini berada? "


" Sepertinya tuan muda Ray tidur diruang kerjanya yang dilantai bawah, saat seorang pelayan hendak membersihkan ruangan itu diurungkan. Karena mendapati tuan muda yang sedang tertidur didalam sana " Terang pak Dim.


" Terimakasih pak " Veln pun langsung menuju ruang kerja Ray yang berada dilantai bawah.


Semalam, setelah memastikan Veln tertidur dengan lelap Ray beranjak bangun dan pergi dari kamarnya. Ray memilih untuk tidur diruangan kerjanya yang dilantai bawah.


Ray takut tidak dapat mengontrol emosinya ketika harus berdekatan dengan Veln terus menerus.


Ketika tepat berada didepan pintu ruang kerja Ray, tanpa mengetuk terlebih dahulu Veln langsung membukanya dan masuk.


Veln tidak mau membuat kegaduhan, karena pak Dim bilang didalam sana Ray sedang dalam keadaan tertidur.


Veln mendekat menuju sofa yang berada diruangan itu, sofa dimana terdapat tubuh Ray yang sedang tidur terlentang dengan satu lengan ditengkuk dan disandarkan diatas keningnya.


Veln duduk menyamping disisa pinggiran sofa dan menatapi wajah Ray dalam, lalu dia mencium lembut pipi Ray yang membuat Ray terbangun dari tidurnya seketika.


" Maaf, aku membangunkan mu? " Dengan suara lembut dan senyum termanisnya Veln memohon maaf.


Ray bangkit dan berniat pergi dari ruangan itu tanpa memperdulikan Veln. Ray beranjak menuju kamarnya dengan Veln mengekor dibelakang.


○○○


Didalam kamar, Ray langsung masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Veln setia dengan bodohnya menunggui suaminya berjongkok tepat didepan pintu kamar mandi.


Ray keluar dari kamar mandi dan menuju ruang ganti melewati Veln begitu saja yang sedang berjongkok.


Dengan nafas berat, Veln bangkit dan menghampiri suaminya.


Veln memperhatikan tiap gerakan Ray yang sedang mengenakan pakaian formilnya. Ada perasaan kecewa dihati, saat baju yang sempat dia siapkan untuk Ray ketika Ray sedang mandi terabaikan.


Ray lebih memilih mengenakan pakaiannya yang masih tergantung didalam lemari.

__ADS_1


Veln memberanikan diri untuk mendekat dan membantu Ray untuk mengenakan dasinya.


Tumben memang, karena biasanya dia paling anti untuk mengenakan itu. Kecuali jika akan melakukan pertemuan-pertemuan penting atau menghadiri acara formal saja. Karena itu Ray selalu menyiapkan dua benda itu yaitu dasi dan jasnya didalam mobil dan dilemari kamar istirahat yang berada diruangan kebesaran gedung kebanggaannya untuk persiapan manakala diperlukan.


" Aku bantu pakaikan " Veln mengambil alih dasi yang sudah melekat dileher Ray.


" Tidak usah, aku bisa mengenakannya sendiri "


" Tolong, biarkan aku bantu mengenakannya " Ketika tangan Veln hendak menyimpulkan dasi tersebut, tiba-tiba Ray menepis tangan Veln. Meski tidak kasar tapi sukses membuat hati Veln merasa kecewa.


Ray meloloskan dasi dari lehernya dan memberikannya digenggaman Veln.


" Aku sudah tidak berminat lagi mengenakannya " Lalu Ray melangkah pergi. " Lebih baik kau mandi, dari pada terus mengekor dan mengganggu ku " Ray menghentikan langkahnya sebentar hanya untuk mengucapkan kata itu. Kata-kata yang membuat hati Veln sakit namun tak berdarah.


Dengan tersenyum kecut, Veln melangkah menuju kamar mandi dan langsung melakukan ritual rutinnya.


○○○


Setelah mandi, Veln turun dan langsung menuju ruang makan. Veln mendapati Ray yang sudah berada disana dengan laptopnya.


Veln tak mendapati hidangan apa pun diatas meja.


" Bibi hanya memasak untuk para pekerja dirumah ini, karena tuan muda bilang hanya ingin sarapan dengan roti pagi ini " Bi Ana menjelaskan ketika mendapatkan sebuah lirikan yang mengandung pertanyaan dari nona mudanya. Veln pun mengerti dan tersenyum kearah bi Ana.


Veln mengambil satu lembar roti tawar dan hendak mengolesi dengan selai kesukaannya, namun diatas meja itu dia tak menemukannya.


" Bi, selai coklat habis? " Bi Ana mengangguk, dengan senyum canggungnya dan meletakkan susu putih dihadapan Veln. " Bibi lupa ya, aku lebih suka coklat hangat dibanding minum susu "


Tidak seperti biasanya, sarapan kali ini tanpa dimandori satu pelayan pun.


Veln mengoleskan selai kacang diatas roti yang sedari tadi ada dalam genggamannya, setelah itu melipatnya menjadi dua dan menjulurkannya kearah mulut Ray.


" Aaaak " Veln fikir sarapan pagi ini seperti biasa, akan saling suap menyuapi.


" Makanlah roti mu sendiri, aku tidak lapar " Ray meneguk habis kopinya lalu pergi meninggalkan Veln sendiri diruangan itu.


○○○


Siang hari ketika Veln hendak makan siang, ternyata harus menelan kekecewaan lagi karena tak ada satu hidangan pun diatas meja.


" Bibi tidak memasak? "


" Masak non, tapi untuk para pekerja rumah ini saja karena tuan muda bilang non Veln lagi dietkan? " Dengan terpaksa Veln mengangguk mengiyakan.


Biarlah kalau hanya dibatasi dalam jatah makan dan tidak diperbolehkan menikmati coklat kesukaannya itu perkara yang mudah, toh dia tidak akan mati hanya karena itu.


○○○


Pukul dua belas malam Veln masih setia menunggu kepulangan Ray, kali ini masih dengan mata terbuka lebar.


Veln bangun dari duduknya dan cepat menghampiri Ray yang sedang menutup pintu.

__ADS_1


" Kita harus bicara " Ucap Ray setelah menghembuskan nafasnya kasar.


Veln mengangguk antusias dengan senyumnya. Memang inilah yang Veln tunggu-tunggu, bicara dari hati kehati dan segera memecahkan persoalan yang rumit ini.


Mereka masuk menuju kamar, didalam kamar Ray bersiap untuk membersihkan diri namun seperti biasa Veln terus mengekori Ray seperti anak ayam yang mengikuti induknya.


" Tunggulah didepan, aku risih terus-terusan diikuti oleh mu. Aku tidak akan kabur, beri aku waktu sebentar untuk membersihkan diri " Lalu Ray pun menghilang ditelan pintu kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Ray keluar dan mendapati Veln yang duduk disofa ruang televisi dikamarnya.


" Ikutlah " Ray membawa Veln diruang kerjanya yang berada dilantai bawah.


○○○


Diruangan itu Ray duduk dan bersiap menyalakan rokoknya. Hal terbaru lagi yang Veln temui, karena setau dirinya Ray itu bukan seorang perokok.


Veln menghentikan langkahnya saat hendak duduk disofa disebelah Ray, karena tangan Ray menghentikan pergerakannya.


" Duduklah disana " Ray menunjuk sofa yang berada disebrang, dihadapan sofa yang dia duduki.


Veln menurut tanpa protes, perempuan itu hanya berfikiran positife. Mungkin Ray menempatkannya jauh disebrangnya karena Ray tidak ingin dirinya menghirup asap rokok yang sedang dihisap oleh Ray.


Ray mengepulkan asap rokoknya, dengan duduk bersandar dan kedua kakinya dinaikkan diatas meja.


Uhuk uhuk.. Veln tersedak kepulan asap rokok, namun sepertinya Ray tak berniat menghentikan aktifitasnya. Ray benar-benar sama sekali tak memperdulikannya.


" Dengarkan perkataan ku baik-baik " Ray kembali menghisap rokoknya dan melepaskan asapnya kearah Veln.


Veln mengangguk dengan mengibas-ngibaskan telapak tangannya untuk mengusir kepulan-kepulan yang menggumpal dan berlahan melerai terbang kesembarang arah.


" Butuh waktu untukku, untuk menyesuaikan dengan kenyataan dan keadaan ini " Ray menggoyangkan ujung kakinya yang masih setia bertengger diatas meja. " Aku mau untuk sementara, kita hidup dengan tidak saling mencampuri urusan kita masing-masing " Veln mengernyitkan dahinya. " Untuk sementara, mari kita hidup seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal " Veln membulatkan matanya. " Karena sejujurnya, aku merasa muak ketika harus berinteraksi dengan mu " Deg, kedua kaki Veln tiba-tiba sedikit bergetar. " Bahkan mata ku terasa perih ketika harus melihat mu " Ingin menangis seketika rasanya, namun untung Veln masih dapat menahannya. Ucapan Ray yang terdengar datar, namun entah mengapa begitu memekakkan ditelinga. " Dan semua, semua yang ada padamu membuat ku selalu ingin meledak-ledak meluapkan amarah ku " Veln meremas-remas ujung baju tidurnya menahan perasaan yang tidak jelas, antara marah, pedih, sedih, dan terluka. " Karena itu hiduplah dengan baik dirumah ini, dan jangan sampai terlihat oleh ku seperti mencari perhatian agar aku peduli terhadap mu. Karena apapun yang kau lakukan sekarang dimataku tetaplah tidak ada artinya. Jangan sampai membuat ku emosi dan terpaksa harus melempar mu dari rumah ini " Ray melempar sembarang puntung rokoknya, dan bersiap menyalakan kembali batangan rokok barunya. " Keluarlah, aku akan memberikan kamarku untukmu "


" Ra_ y " Dengan suara bergetarnya Veln mencoba berbicara.


" Keluar "


" Tapi Ray "


" Sudah sejak kapan kau tidak mengerti bahasa manusia? " Ray menatap tajam dan melempar kotak korek api keras kearah meja, membuat Veln terjingkat kaget. " KELUAR " Dengan suara kesalnya kembali Ray mengusir Veln.


Veln pun segera bangkit dan melangkah pergi dengan berat hati, tangannya meraih gagang pintu dan berbalik sebentar kearah Ray. Ray yang dipandang Veln dari kejauhan langsung melengos memalingkan pandang. Perempuan itu pun tersenyum kecut dan segera berlalu dari ruangan itu.


.


.


.


Hallo.. mana nih tim Ray dan mana tim Veln? hee 😙


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2