
Tiga tahun sudah Veln meninggalkan Ray dengan membawa putranya. Dan selama itu pula pencarian Ray untuk menemukan dua orang yang sangat berharga dalam hidupnya masih belum menemukan titik terang.
Beruntung Ray sudah dapat kembali menormalkan hidupnya. Itu pun berkat support dari orang-orang terdekat, terkhusus dari Renand, adik kecilnya.
Meski tak dipungkuri, hatinya sampai dengan saat ini masih terasa kosong dan sunyi. Tampilan luarnya memang terlihat baik-baik saja, sudah seperti Ray biasanya. Tapi tidak dengan bagian dalamnya yang masih begitu banyak menyimpan pengharapan dan duka.
Sore itu Ray terlihat berdiri ditepian pantai, dengan kedua tangan berkacak pinggang dan menengadahkan wajahnya kearah langit.
Ray seolah sedang menikmati hembusan angin laut dan suara deburan ombak pantai. Ray memejamkan matanya dan secara otomatis kenangan-kenangan dirinya bersama Veln saat mengunjungi pantai ini berseliweran dipikiran.
Saat ini Ray berada dipulau xx, pulau yang pernah dikunjunginya bersama Veln saat melakukan perjalanan bisnis yang diselingi bulan madu beberapa tahun yang lalu.
Kali ini pun sama Ray datang kesini tidak dengan serta merta, namun tetap dengan urusan pekerjaannya.
Disini Ray sibuk memantau proses renovasi hotel miliknya, Ray sedang mengecek apakah proses pengerjaannya sesuai dengan keinginannya. Tentu dengan sekaligus mengenang kebersamaannya bersama Veln dulu, hingga keluar perintah khusus yaitu pengecualian untuk tidak mengubah satu kamar yang pernah dirinya tempati bersama Velnnya beberapa tahun lalu.
Bluuuuuught..
Senyum Ray yang melengkung disudut bibirnya tatkala sedang mengingat masa-masa indah bersama V nya mendadak memudar, ketika sebuah bola melayang mengenai pahanya.
Ray menolehkan wajahnya dan menunduk menelusuri sebuah bola yang mendarat tepat dihadapannya, Ray memungut benda bulat itu dan segera mengulurkannya dengan kening berkerut kearah seorang anak laki-laki yang belum lama ini tepat berdiri didepannya.
Lalu pandangannya teralihkan pada seseorang yang berdiri tak jauh dibelakang anak tersebut.
Mata mereka saling mengunci, saling bersitatap begitu lama, seolah masing-masing dari mereka sedang menyelami apa yang dipikirkan seseorang yang berada dihadapannya. Hingga pandangan salah satu dari mereka memutus dibarengi senyum melengkung diujung bibir, dan matanya beralih kearah anak laki-laki yang sedang sibuk memegang bolanya.
" Sayaang, bilang apa? "
" Terima kasih Om " Suara gemas khas bocah terdengar renyah ditelinga.
Ray yang juga ikut menatap anak tersebut langsung mendelik sinis seolah sedang menunjukan protesnya kearah Veln tatkala mendengar kata Om disana.
" Bukan Om, tapi Pa-pi " Veln seperti seorang guru yang sedang mengajari muridnya, terdengar telaten dan lembut.
Ley terlihat sedikit bingung mendengar ucapan Maminya, lalu beberapa menit kemudian dia pun mengerti maksudnya.
" Papi? " Ley meyakinkan diri, mendongakkan wajahnya kearah Veln.
" Yes, Papi Ley " Veln mengangguk membenarkan. Ley langsung berbalik menghadap Ray, senyum bahagia merekah diwajah anak itu.
Akhirnya dirinya bisa bertatapan langsung dengan Papanya, seperti Yura dan Kinos teman mainnya yang rumahnya bersebelahan dengan miliknya.
Ley menjulurkan kedua tangannya yang masih sibuk memegang benda bundar itu, dengan kedua kaki yang digerak-gerakan menunjukkan bahwa dirinya ingin segera digendong oleh Ray.
Ray pun paham dan langsung mengangkat putranya. Terlihat jelas binar mata Ray kini sudah sepenuhnya full dengan kebahagiaan, rasa sepi dan sunyi pun seolah langsung luluh lantah dihatinya.
" Hai boy "
" Emm " Ley mengedipkan matanya.
" Papi kangen dengan mu.. " Ray menempelkan keningnya dikening putranya yang sudah berada dalam gendongan. " Juga.. dengan Mami mu " Ray melirik sebentar kearah Veln, lalu kembali berfokus memandang putranya yang mempesona dan memiliki ketampanan sebelas dua belas dengan dirinya.
" Ley dan Mami juga kangen sama Papi " Pernyataan polos Ley membuat sukses Veln dan Ray merasa terenyuh dan sekilas saling berpandangan.
Ley menelusuri tiap lekuk wajah Ray dengan perlahan, seolah sedang memuaskan diri sebagai bentuk pelepasan rindunya dengan sebelah tangan mungilnya. Sementara sebelah tangan yang satunya masih sibuk memegangi bola bundarnya.
" Berikan bolanya boy " Ray mengambil benda bundar itu yang terlihat menyusahkan tangan kecil putranya.
Dengan sengaja Ray melemparkan kearah Veln, dan mengenai bagian tubuh perempuan itu. Lemparan bola Ray yang tak begitu kencang namun dengan tepat mengenai paha Veln memperlihatkan seolah dirinya sedang melakukan pembalasan dendam.
" Kau mau ice cream boy? " Ley mengangguk " Ayo kita makan ice cream " Ray melangkah dengan menggendong putranya dan melewati Veln yang sedang berdiri dengan sudah memegang mainan putranya.
__ADS_1
Sementara Veln masih tetap berdiri ditempat, tak bergerak sedikit pun menyaksikan kepergian Ray dan Ley begitu saja.
Ray menoleh, dan secepat kilat berbalik kearah Veln dengan menukar posisi gendongan putranya kesebelah tangan yang satunya.
Lalu tanpa basa-basi, Ray langsung meraih pergelangan tangan Veln dan menuntun perempuan itu untuk mengikutinya. Tanpa adanya perlawanan, Veln menikmati genggaman tangan yang dilakukan oleh Ray.
" Papi sedang libur ya? " Suara Ley penuh tanya, Ley yang tumbuh dan berkembang dengan sangat baik dan pesat membuat sangat mempermudah Veln dalam membesarkannya selama ini. Bahkan diusianya yang belum genap tiga tahun, bocah laki-laki itu sudah dapat berbicara dengan faseh dan lancar.
" Hem " Ray langsung menjawab cepat, seperti tidak mau membuat putranya menunggu.
" Apa disana sangat panas? " Ray mengerutkan keningnya, namun tak lama senyumnya melengkung ketika melihat wajah lucu dan menggemaskan Ley yang penuh dengan rasa keingin tahuan disana.
" Maksudnya dimana boy? tempat yang kau sebut panas itu? " Ray menyentil hidung mancung Ley dengan menggunakan hidungnya.
" Ditempat kerja Papi " Ray langsung melirik Veln, dia tau ada yang tidak beres dengan putranya dan itu sudah dipastikan akibat pengaruh besar dari Maminya.
" Memang Ley tau tempat kerja Papi "
" Emmm " Ley mengangguk pasti.
" Dimana? "
" Matahari " Ray langsung membulatkan matanya. " Mami bilang, Papi bekerja disana untuk menghangatkan Ley dan Mami " Dan ucapan lanjutan dari mulut kecil Ley sukses membuat Ray mencetak senyum.
Veln menahan tawanya, mendengar pernyataan polos putranya. Setiap ucapan tipuan yang diberikannya ternyata sangat diserap baik oleh putranya. Sungguh ini membahayakan.
" V, sudah seberapa banyak kau meracuni otak anak kita? " Ray menoleh kearah Veln dengan terus berjalan menuju kedai ice cream, dan tak lupa Ray pun mengeratkan genggaman tangannya terhadap Veln dan gendongan Ley.
" Maaf.. sedikit pun tidak pernah ada niatan untuk meracuni Ley, malahan aku memberi banyak cinta dan kasih sayang untuknya " Senyum Veln mengembang begitu saja saat matanya bersitatap dengan Ray, dan itu sungguh membuat hati Ray teramat senang dan tenang.
○○○
" Boy, baik-baik denga Mami mu. Jangan nakal, ok " Ray mengusap ujung kepala putranya yang sedang berdiri bersebelahan dengan Maminya.
" Iya Papi, memangnya Papi mau kemana? " Ley menganggukkan kepalanya lalu melempar pertanyaan kearah Ray.
" Papi mau pulang dulu "
" Pulang? "
" Kerumah Papi " Ray langsung sigap meluruskan ucapannya yang terlihat membuat sang putra kebingungan.
" Kenapa tidak tidur disini saja, dirumah Mami dan Ley "
" Memangnya boleh? " Ray melirik Veln untuk meminta kode.
" Kalau Papi mau, Papi boleh tidur dirumah kita. Tapi sepertinya Papi tetap harus pulang terlebih dahulu untuk mengambil baju ganti " Ray tersenyum menyeringai mendengar penuturan Veln kepada putra tampannya yang nampak terbuka untuk menerima kehadiran dirinya.
" V, aku pergi dulu.. " Kemudian Ray lebih mendekat kearah Veln dan membisikkan sesuatu " Nikmati masa-masa akhir kebebasan mu " Veln tersenyum tipis dan menunduk melempar pandangannya kearah bawah. " Boy, tunggu Papi kembali. Ok " Ray mengusap lembut wajah tampan putranya, lalu melangkah menuju kendaraan roda empat miliknya dengan diiringi kedua orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
" Ley tidak mau mencium Papi? " Veln menawari putranya untuk memberi salam perpisahan untuk Ayahnya, yang sukses membuat langkah Ray terhenti saat ingin memasuki mobil.
" Mau " Ley mengangguk senang dengan penawaran Veln. Perempuan itu pun mengangkat anaknya dalam gendongan untuk mensejajarkan tinggi badan putranya dengan Ray.
Ley mencium sayang wajah Ayahnya, dan tak kalah Ray pun membalas mencium putranya dengan penuh kasih sayang.
Setelahnya mereka saling melambaikan tangan, hingga Ray sudah melajukan kendaraannya pun masih terlihat jelas dari kaca spion mobilnya terlihat Veln dan putranya masih melambaikan tangan dengan senyum merekah diujung kedua bibir mereka.
○○○
Sepanjang perjalanan menuju hotel miliknya, tak henti senyum tercetak diujung bibir Ray. Ray merasakan hidup kembali dari kematiannya. Seluruh nyawa yang dulu menghilang seperti telah kembali ketempat asalnya.
__ADS_1
Ray menuju lobi dan menemukan Sam yang sedang berada disana, Sam menganggukkan kepalanya yang diikuti oleh beberapa karyawan hotel lainnya.
Ray merespon perlakuan hormat mereka terhadapnya dengan manganggukkan lagi kepalanya namun diselipi dengan senyuman, dan hal itu membuat Sam sedikit merasa heran dengan tuannya.
Akhirnya setelah sekian lama senyum itu muncul kembali meski dulu tidak pernah Ray berikan untuk karyawannya atau siapapun, karena memang senyum manisnya itu hanya diberikan dan disediakan untuk Veln yang pantas menerimanya.
" Sam "
" Iya tuan " Sam langsung sigap berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan majikannya sembari menunggu pintu lift terbuka.
Saat ini memang mereka berdua sedang berada didalam lift untuk menuju salah satu kamar yang ditempati Ray, sebuah kamar yang digunakan Ray untuk sementara waktu ketika dirinya sedang berada dipulau ini.
" Tolong selidiki bagaimana awal mula toko bunga yang bernama Florist Sa berdiri hingga sekarang " Sam melirik kearah tuannya yang sedari tadi masih menebar senyum bahagianya. Sam sedikit berfikir apa yang membuat toko bunga tersebut mendadak istimewa?
" Baik tuan " Kata pamungkas itu yang selalu digunakan Sam untuk menutup perintah tuannya.
○○○
Keesokan sorenya, Ray bersiap untuk mendengarkan hasil laporan dari sekertaris sekaligus asisten pribadinya.
Bahwa Florist Sa merupakan toko bunga milik Imelda yang tak lain adalah istri dari dokter Adrian sekaligus ibu dari Sasa.
Florist Sa sendiri dibuka sudah dari semenjak Imelda belum menikah dengan dokter Adrian, karena itu Imelda begitu sangat mempertahankan keberadaan tempat tersebut.
Hingga saat pernikahannya berada diujung tanduk akibat keegoisan Imelda lebih mementingkan toko bunganya dibandingkan mengurus putrinya, dirinya seakan mendapat angin segar saat tanpa sengaja mencurahkan isi hatinya terhadap Veln yang tanpa sengaja kembali bertemu saat perempuan itu memeriksakan kandungannya.
Karena dengan tanpa sengaja Veln ternyata bersedia untuk menggantikan dirinya dalam mengurus toko bunga miliknya. Sehingga nantinya Imelda tidak perlu lagi khawatir dan terlalu sering meninggalkan Sasa demi usahanya.
Selain Veln dapat menempati rumah Imelda yang letaknya tepat disebelah toko bunganya, Veln juga mendapatkan setengah dari keuntungan yang didapat setiap bulannya.
Sungguh beruntung bukan? Bukannya tidak ada karyawan ditempat itu, hanya saja Imelda masih belum bisa mempercayakan tokonya kepada tiga karyawannya.
Namun entah mengapa ketika Veln mengajukan diri, tanpa pikir panjang Imelda dengan senang hati menyerahkan kepengurusan toko bunganya kepada Veln.
Tidak ada keraguan sedikit pun dari Imelda terhadap Veln. Karena Imelda yakin jangankan untuk mengurus toko bunganya, bahkan Sasa putrinya pun terlihat lebih baik berada disisi Veln saat dirinya pergi meninggalkan gadis cilik itu.
Dimulai dari saat itulah, Veln sudah mempersiapkan diri dalam pelariannya. Veln dengan bertahap mengirim barang-barang miliknya dengan menggunakan jasa pengiriman barang. Sehingga saat hari yang sudah ditentukan, Veln hanya cukup membawa dirinya, putra kecilnya dan sebuah tas jinjing yang biasa orang kenakan ketika hendak bepergian jalan-jalan.
Hal itu pun berhasil dapat mengubah pandangan orang terhadapnya, karena tidak terlihat seperti seseorang yang hendak melarikan diri dan kabur.
Semenjak itu pula hubungan rumah tangga Imelda dan dokter Adrian semakin membaik, karena dokter Adrian tidak lagi harus memperdebatkan dalam kepengurusan Sasa anak gadisnya.
" Ini beberapa laporan tertulis mengenai florist Sa, pemiliknya dan Nyonya muda Wiratama yang tak lain adalah sebagai pengurus dari toko bunga tersebut " Ada rasa syukur yang teramat dalam dilubuk hati sekertaris Sam, karena ternyata didalam toko bunga tersebut menyimpan seluruh nyawa dari tuannya.
" Terima kasih Sam, maaf sudah membuat mu harus melakukan hal yang diluar pekerjaan "
" Itu sudah menjadi tugas saya tuan, apa pun yang berhubungan dengan anda dan seluruh keluarga anda sudah merupakan bagian dari tanggung jawab saya "
" Bagaimana menurut mu? putraku tampan bukan? delapan sembilan lah dengan ku.. dan perempuan itu, V ku sudah beranak juga kenapa jadi lebih nampak mempesona? haa " Ray menertawai jiwa kelelakiannya sendiri.
Sam pun ikut tertawa, setelah itu dirinya memberikan pendapatnya " Sepertinya Nyonya muda dan tuan muda kecil nampak hidup dengan baik " Ray mengangguk membenarkan.
.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1