Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
Part 10


__ADS_3

Veln berpamitan dengan mencium punggung tangan Mami Rosa diakhiri dengan cipika cipiki, Veln juga melakukan hal yang sama tanpa mencium tangan tentunya terhadap Nina dan Rosi.


" Kak V, kenapa tidak menginap saja disini " Ucap Rosi saat menyelesaikan ritual perpisahannya, Rosi berusaha membujuk kembali agar mereka mau menginap.


" Maunya sie gitu, tapi gimana dong aku cuma seorang istri yang harus patuh sama suaminya " Veln berucap sembari matanya melirik kearah suaminya, yang sukses membuat Ray cengengesan atas pernyataan istrinya yang seolah menunjukkan pada dunia bahwa dirinya merupakan pria yang paling beruntung telah mendapatkan istri yang penurut dan patuh. Setelah itu mata perempuan ayu itu menatap kearah sekertaris Sam dengan berucap " Sekertaris Sam, benar yang dikatakan atasanmu. Jangan terlalu lama.. Kau bisa menggunakan sistem paksa terhadap Rosi, seperti yang dulu Anda dan Tuanmu lakukan " Ucapan Veln yang diakhiri senyum puasnya membuat semua yang ada diruangan itu menatap Ray tak percaya. Benarkah yang dilakukan pria itu, untuk mendapatkan wanitanya menggunakan cara paksa? Sebegitu sulitkah? Pria setampan, mapan, penuh pesona dan berkharisma seperti Ray harus melakukan metode itu untuk mendapatkan ibu dari anak-anaknya.


" Akhhh.. Rosi mau. Rosi mau dipaksa-paksa seperti Kak V, seperti itu terasa romantis " Entah apa yang ada dipikiran perempuan itu. " Karena hal itu memberi kesan tersendiri untuk siwanitanya, betapa dirinya begitu sangat diinginkan sang pria. Begitu so sweet kan, Nin? " Nina mengangguk menyetujui.


" Kita merasa jadi perempuan yang paling beruntung ya Mbak, jika ditempatkan diposisi tersebut " Timpal Nina, dengan tersenyum kemudian melirik kearah Renand.


" Ck, itu sie mungkin kaliannya aja yang sok.. Padahal ujung-ujungnya dijual murah, dipaksa dikit langsung mau diajak nikah " Kemudian mata Renand melirik sinis tanpa maksud yang jelas kearah Nina. " Kalau Kak V, asli mahalnya.. Bukti nyata bernilai tinggi. Pasti Kak Ray mendapatkannya dengan sangat mahal " Terka Renand dengan percaya diri tanpa tau bagaimana perjuangan mereka bisa sampai bersatu.


" Awas loh, pas Feninamu benar-benar memasang harga tinggi.. Nangis-nangis kamu tau rasa " Kecam Rosi merasa tidak terima dengan ucapan adik laki-lakinya. " Lakukan sesuatu Nin, biar anak ingusan ini tau rasa "


" Nggak salah? Yang masih ingusan itu sekutu kamu Kak " Renand tersenyum puas apalagi melihat Rosi yang nampak membuang muka karena kesal.


" Balas dong Nin " Rosi greget, karena sedari tadi Nina hanya diam membisu. Untung usapan-usapan telapak tangan Sam dipundaknya mampu sedikit meredam kedongkolannya.


" Sudah-sudah, kalian ini " Lerai Mama Rosa, sembari menghembuskan nafas panjang akibat melihat kelakuan dua anaknya.


" Kalian semua dengar " Ucapan Ray sepontan menjadi pusat perhatian " Tidak semahal itu aku mendapatkan V " Senyum menyeringai Ray terukir jelas disudut bibirnya, membuat Veln harus bersiap berlapang dada dengan setiap ucapan Ray yang melewati telinganya. " Hanya seharga ponselku, perempuan itu bertekuk lutut dihadapanku " Kemudian tanpa merasa bersalah Ray terkekeh renyah, sekertaris Sam pun terlihat tersenyum saat memori dalam otaknya sedang memutar kejadian awal mula bagaimana penyatuan mereka.


" Terus saja Ray.. Jatuhkan aku hingga kedasar kerak bumi. Sepertinya ada yang lupa, waktu itu ada yang ngerayu dan maksa biar mau nikah sama seseorang "


" Cukup sayaang, jangan dilanjutkan " Ray mendekat kearah istrinya, mungkin hendak melakukan sesuatu dan mengusap sayang puncak kepala istrinya jadi pilihan pria itu untuk menenangkan istrinya. Untuk menghentikan kekesalan Veln yang berujung pada terbongkarnya kelakuan konyolnya dimasa lalu, saat ingin mendapatkan perempuan ini. Terang saja, bukankah hal itu akan menurunkan sedikit wibawanya?


Veln menepis pelan tangan suaminya dan menghindar dengan mendekat kearah Nina. " Nin, kami pulang duluan ya "


" Loh, Mbak " Nina kebingungan saat hendak ditinggal pemilik toko bunga tersebut.


" Rey yang akan mengantarmu pulang " Veln tersenyum, kemudian melakukan cipika-cipiki sebagai gerakan perpisahan.


" Boy, jaga wanitamu untuk kami " Ucap Ray, yang kemudian langsung menggandeng Veln dan membimbingnya kearah pintu keluar.


•••

__ADS_1


Tak lama sekertaris Sam pun pamit undur diri. Rosi mengantarkan tunangannya hingga kehalaman depan.


Sementara Mami Rosa memilih untuk segera mengistirahatkan tubuhnya.


" Nin, Mami istirahat duluan ya "


" Iya, Tante "


" Panggil Mami, jangan Tante. Bukankah sebentar lagi kamu akan masuk menjadi bagian dari keluarga kami " Jujur pernyataan Mami Rosa membuat hati Fenina berbunga senang. " Ya sudah, Mami duluan. Jangan sungkan, sering-seringlah main kesini. Kalian mengobrol lah sebentar, tidak usah buru-buru pulang " Serempak Nina dan Renand menganggukkan kepala mereka.


Ada rasa sedikit grogi dalam diri Fenina saat ditinggal bersama Renand diruangan itu.


" Cie cie.. Yang habis ketemu calon mertua " Goda Renand yang sukses membuat Fenina salah tingkah dan cengengesan. " Itu pun kalau aku masih berminat terhadapmu, sayangnya saat ini aku sedang tidak menginginkanmu " Deg, Nina yang sesaat melambung tinggi tiba-tiba serasa dibanting begitu saja. Apalagi, setelahnya Renand meninggalkannya begitu saja diruangan tersebut.


Hingga tiga puluh menit berlalu, Fenina masih duduk manis termangu menunggu pacar atau mantan pacar lebih tepatnya yang dia kira akan kembali lagi setelah berlalu pergi. Namun ternyata tak kunjung menampakkan diri. Membuat Fenina linglung dibuatnya, berada disalah satu ruangan sebuah rumah tanpa pemiliknya.


Diabaikan? Ya, saat ini Nina merasa diabaikan oleh Renand. Seharusnya pria itu tidak boleh melakukan itu. Sekali pun perkataannya dulu yang mengandung emosi membuat mereka sudah tidak lagi memiliki ikatan, tapi setidaknya sebagai sesama manusia Renand tidak boleh melakukan hal ini terhadapnya. Paling tidak, pria itu harusnya menjalankan amanat dari Kakaknya untuk mengantarkan dirinya pulang. Sedikit egonya muncul.


" Huuuuft " Nina menghembuskan nafasnya, bingung.


" Tadi sie bilangnya mau kedalam dulu, tapi nggak tau kenapa sampai sekarang nggak balik-balik lagi "


" Oh, nanti deh aku panggilkan si Rey "


" Tidak usah Mbak, kayaknya aku mau pamit pulang aja deh "


" Justru karena kamu mau pulang "


" Tidak apa, Mbak. Aku bisa pulang sendiri "


" Kalian lagi marahan ya? Sini deh aku bisikin sesuatu " Nina pun lebih mendekat kearah Rosi dan menyodorkan telinganya.


" ... " Semburat merah jambu terlihat dikedua pipinya, dan senyum malu-malu terukir disudut bibir Fenina. Nampaknya, kata-kata lembut nan pelan dari Rosi mampu membuat hatinya menghangat dan semakin meningkatkan kepercayaan dirinya. " Ayo, ikut aku. Kita susul priamu " Dengan tanpa canggung Rosi menarik Nina masuk lebih dalam keruangan rumahnya.


Langkah mereka terhenti diruang makan yang menampakkan Renand. Rupanya pemuda itu habis menikmati ikan bumbu rujak kesukaannya. Nampak dari piring bekas pakai yang masih nangkring diatas meja.

__ADS_1


" Rey, Nina aku tinggal disini sama kamu ya.. Aku mau kekamar, udah lima watt nih mau tidur " Tanpa menunggu jawaban dari adiknya, Rosi langsung berlalu pergi meninggalkan mereka.


Renand melirik kearah Nina sebentar, lalu matanya kembali difokuskan kelayar ponselnya.


" Kok masih disini? Kenapa belum pulang? " Suara Rey sedikit cuek dengan mata masih setia menatap layar pipih dihadapannya.


" Nunggu sopir, habis isi perutnya " Hampir Renand terpancing, masa setampan ini dikatain sopir. " Eh, maksudnya nunggu pacar " Nina tersenyum dengan gombalannya sendiri, kemudian ikut mendudukkan tubuhnya disalah satu kursi ruang makan.


" Mantan. Kamu, nggak lupa kan udah mutusin aku "


Akhhh.. Ingin rasanya Nina menangis mendengar ucapan Renand. Perempuan itu berharap, semoga yang dia dengar barusan hanya sebuah luapan emosi sementara saja dari pria dihadapannya.


" Bener nih kita cuma mantan? Padahal waktu itu aku hanya terbawa emosi loh, nggak sungguh-sungguh " Ujar Fenina sedikit ada rasa kecewa mendengar perkataan Renand.


Apalagi saat ini Renand sama sekali tak berniat merespon ucapannya. Pemuda itu nampak fokus dengan game yang dimainkannya.


Hingga lima belas menit berlalu, tidak terjadi obrolan diantara mereka. Renand yang masih cuek dengan kesenangannya, sementara Fenina hanya mampu memperhatikan tiap gerakan yang dilakukan sosok lelaki dihadapannya.


" Ehem " Perempuan itu berusaha mencairkan suasana. " Aku harus pulang sendiri nih? " Memastikan apakah Renand memang benar-benar tidak berniat untuk mengantarkannya.


Renand melirik sejenak, lalu tiga menit kemudian terdengar suara dari mulutnya. " Begitu lebih baik "


Nina merasa tidak percaya dengan jawaban yang dilontarkan Renand, tapi ya sudah lah mau bagaimana lagi.


" Kalau begitu, aku pamit ya " Dengan suara lembut tanpa amarah.


Perempuan itu pun beranjak dari kursinya dan bersiap untuk pergi. Nina memaklumi, mungkin Renandnya masih dalam keadaan marah akibat perkataannya waktu itu. Tapi, kalau pun pemuda itu menganggapnya serius. Fenina, ikhlas. Mungkin, Renand bukan jodohnya.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2