
Namun bukannya Veln ikut meninggalkan ruangan itu, dia malah mendekati Ray yang kembali sibuk dengan laptopnya.
" Kenapa? " Ray sigap langsung menanyakan maksud Veln mendekatinya, tanpa berpaling dari laptopnya.
" Boss.. tidak, sebaiknya aku memanggilmu dengan tuan muda saja agar terdengar lebih adil untuk Mas Denis "
" Maksudnya? " Ray bertanya heran.
" Karena kalian berduakan sama-sama pemilik dari Manja Coffe ini "
" Siapa yang bilang? " Ray lebih-lebih merasa heran.
" Liana.. selama ini aku fikir kau pemilik satu-satunya tempat ini, tapi barusan Liana menyebutkan kalau Mas Denis itu bossnya jadi kesimpulannya mungkin kalian berdua bersama-sama membangun tempat ini "
Perempuan ini selalu saja berasumsi menurut dari pandangan kaca matanya sendiri tanpa menyelidiki kebenarannya.
" Lalu " Ray mengalihkan pandangannya kearah Veln.
" Aku putuskan untuk mengganti memanggil Mas Denis dengan sebutan boss juga "
" Bukan itu.. katakan maksud dan tujuanmu mendekati aku? "
Ya ampun dia ini, mungkin orang lain tidak akan percaya kalau aku beri tau kalau dia itu calon suami aku, laki-laki yang hendak menikahiku. Lihatlah sikapnya yang sekarang memperlakukan aku seperti wanita yang hendak menggodanya.
" Boss bisa kah kau memberiku sedikit pencerahan " Veln menghela nafas sebentar.
" Apa kau memiliki usaha lain selain tempat ini? Aku pikir pernikahan yang mendadak itu sudah terlalu menguras uangmu, bahkan sampai sekarang pun aku berfikir mungkin penghasilan mu masih kalah jauh dibawah juragan Seno. Apalagi harus rela dibagi rata dengan Mas Denis juga "
" Jangan terlalu banyak berfikir, fokuskan saja otakmu untuk satu hari istimewa mu itu " Bukannya memberikan jawaban, Ray malah membuat Veln tidak senang.
" Baiklah " Nada bicara Veln sedikit kesal, dan segera berbalik melangkahkan kakinya menuju keluar.
" Kadang sikapmu ini membuat aku ingin berpaling dan memilih dinikahi juragan Seno saja yang sudah jelas " Veln bergumam sembari melangkahkan kakinya.
" Kau bilang apa? " Suara Ray menghentikan langkah kaki Veln.
" Cepat minta maaf padaku.. minta maaf " Veln berbalik arah menghadap Ray diam mematung tak bergeming.
" Ayo minta maaf padaku " Masih dengan suara datar sembari mendekat kearah Veln.
Terus mendekat dan semakin mendekat, hingga Veln memundurkan langkahnya.
Langkah Veln terhenti terjegal tembok membuat dia panik dan bingung, apalagi tubuhnya kini terkunci oleh kedua lengan kekar Ray.
" Beraninya kau hendak berpaling kejuragan Senomu itu setelah aku mengeluarkan banyak uang untukmu " Mata Ray memandang lekat Veln dan tersenyum sinis. Sementara Veln menatap Ray dengan perasaan takut-takut.
" Ma-maaf " Dengan sekuat tenaga Veln mengucapkan kata maaf.
Cih. Orang ini kenapa terlihat menakutkan begini ya walaupun nada bicaranya tidak terdengar seperti orang yang sedang emosi.
Ray sedikit mendenguskan kepalanya lebih dekat kearah Veln dan sukses membuat Veln menelan ludah, sekarang mata keduanya saling bersitatap menambah ketegangan luar biasa dalam diri Veln. Jantungnya benar-benar berdegup tak terkontrol, deg-degan. Veln memejamkan matanya dan dengan segera menutupkan kedua telapak tangan kewajah ayunya untuk menutupi rasa grogi yang begitu sangat luar biasa itu.
__ADS_1
Pamaaaaan, tolong aku. Aku benar-benar merasa aneh saat ini, untuk pertama kalinya keponakanmu ini begitu dekat dengan seorang pria.
Ray tersenyum girang melihat tingkah Veln dan menarik kedua telapak tangan Veln yang menutupi wajahnya.
" Buka matamu " Dengan perlahan Veln membuka matanya dan masih pendapati wajah tampan Ray tepat dihadapan wajahnya hingga membuat Veln memalingkan pandangnya kelengan samping kiri Ray yang masih dalam posisi menjegal.
" Awas kau ya berani berpaling kejuragan itu, bahkan memikirkannya saja aku tidak mengijinkannya " Ray mengancam tegas.
" Kalau begitu yakinkan aku " Entah keberanian dari mana Veln mengatakan itu dengan benar-benar menatap wajah Ray.
" Beri tau aku siapa dirimu? setidaknya perkenalkan aku dengan keluargamu, aku bahkan dibuat bingung dengan sikapmu yang terkadang benar-benar menganggapku sebagai calon istri tapi berikutnya kau bahkan menganggapku seperti bukan siapa-siapa " Terhenti sejenak sembari berfikir.
" Boss, apa kau memiliki dua kepribadian? " Asumsi ngawurnya datang lagi begitu saja.
" Kau akan bertemu Nenekku dihari pernikahan kita nanti " Tanpa memperdulikan pertanyaan Veln.
" Sekarang kembalilah bekerja, jangan terlalu keras berfikir. Cukup menurut padaku dan fokuskan dirimu untuk acara pernikahan nanti " Ray melipatkan kedua tangan diatas dada bidangnya, membuat Veln sedikit bisa bernafas lega.
" Pergilah " Veln pun buru-buru berlalu meninggalkan Ray.
Nona mana mungkin aku bersikap manis terhadapmu dihadapan orang lain, itu sama saja dengan membocorkan rahasiaku kepada Denis.
○○○
¤ Malam hari sebelum acara pernikahan
Dikamarnya Denis menghujani lemparan bantal kearah Ray yang sedang duduk disofa samping tempat tidurnya. Denis merasa kesal setengah mati karena sudah kalah telak dari Ray.
" Ini membuatku shok dan hampir gila, aku fikir gerakanmu tidak akan secepat ini mengingat kau itu kan begitu kaku dan acuh " Ray tertawa keras terbahak-bahak.
" Bagaimana bisa kau sampai bertindak sejauh ini dan sukses membuatku untuk rela melepaskan Nona manis itu? ini pasti karena campur tangan senjata andalanmu itu kan? Sam? "
" Tutup mulutmu itu, berhenti memanggil calon istriku dengan sebutan Nona manis " Protes Ray sembari tertawa menang.
" Ah Aku tidak peduli, akan kupanggil-panggil Nona manis itu sepanjang malam ini sebelum dia benar-benar sah menjadi istrimu. Nona manis.. Nona manis.. Nona maniiiiis " Denis tak henti-hentinya menyebut-nyebut Nona manis untuk membuat Ray jengkel, tapi justru sebaliknya bukannya Ray merasa jengkel, dia malah tertawa girang lebih lepas membuat Denis semakin dongkol dibuatnya.
" Katakan bagaimana bisa Mama dan Papaku ikut bersekongkol menyembunyikan ini semua dari ku? bahkan mereka sampai ikut andil dalam perencanaan pernikahanmu? " Denis meminta penjelasan.
" Aku iming-imingi memberikan cucu untuk mereka " Ray menyunggingkan senyum kemenangan.
" Ah.. sial " Denis terus-terusan mengumpat kesal.
" Aku pikir kau tidak benar-benar tertarik dengan Nona itu?! "
" Dia itu benar-benar berbeda dengan perempuan lainnya, pembawaannya tenang dan kalem "
" Ray apa kau tau yang terjadi dengan ijasah pendidikannya? "
" Hemm, ulah Bibi dan sepupunya yang seperti nenek sihir " Ray asal menebak saja, karena diotaknya sekarang penderitaan Veln pasti tidak akan lepas dari ulah mereka berdua.
" Untung aku segera menemukannya, kalau terlambat sedikit saja mungkin sekarang gadis itu sudah menjadi istri juragan tua dikampungnya " Suara Ray agak sedikit kesal.
__ADS_1
" Maksudmu? " Denis mengerutkan dahinya.
" Veln hendak dijodohkan dengan juragan itu oleh kedua nenek sihir itu " Mata Denis langsung membulat melotot merasa kaget.
" Apa hidupnya sesulit itu Ray? "
" Entah lah "
" Aku jadi menyesalinya kenapa waktu itu aku harus mengajakmu dalam sesi mewawancarai Nona manis " Denis berkata dengan wajah menyesalnya, sedangkan Ray terlihat menyunggingkan senyum kemenangannya.
" Bahkan aku masih tidak mempercayainya kalau besok kalian akan menikah, secepat itu?! hanya dalam dua minggu!! dan Mama Papa pun ada dibelakang rencanamu, membantu rivalku sendiri.. hah " Denis mengusap wajahnya kasar sembari menarik dan membuang nafasnya panjang.
" Menyerahlah.. ikhlaskan, berarti jelas kalau dia itu bukan jodohmu. Setidaknya kau itu harus berterimakasih kepadaku, karena akan menjaga hidup dan mati perempuan yang kau sukai tidak bisa dibayangkan kalau sampai salah satu dari kita tidak mendapatkannya?Berikan saja doa restumu untuk kami " Denis pun terpaksa mengiakan dan tersenyum kecewa.
Tiba-tiba pintu kamar Denis terbuka, membuat pandangan mata mereka beralih kearah seseorang yang hendak masuk kedalam.
" Kak tidak kusangka kau menikah secepat ini, bahkan kau melangkahi kak Denis " Danis memeluk tubuh kekar Ray seolah memberikan ucapan selamat secara tidak langsung, sedangkan Denis hanya memperhatikan apa yang dilakukan adiknya itu.
" Perempuan mana yang berhasil memikat mu? " Mengendurkan pelukannya.
" Pasti dia begitu tak gentar mendekatimu, karena kau kan begitu alergi terhadap mereka. Kau bahkan belum sempat mengenalkannya kepadaku terlebih dahulu " Danis mendudukkan tubuhnya diatas sofa sebelah Ray.
" Aku tidak alergi terhadap mereka, aku hanya merasa risih dengan perempuan-perempuan yang agresif " Sembari mata Ray menatap kearah Danis.
" Apa dia perempuan yang berbeda? Kak apa kau mengenalnya? " Danis memalingkan pandangnya kearah Denis.
" Tentu. Bahkan dia merebut Nona manis dari ku " Sembari menunjuk kesal kearah Ray dan membuat Danis merasa sedikit terkejut.
" Benarkah kak Ray? Kau menikung hubungan kakakku? " Kembali terdengar tawa kemenangan lagi dari mulut Ray, membuat Danis merasa bingung sementara Denis masih dengan raut kecewa dan pasrahnya.
" Bukan aku, tapi kakakmu yang hendak menikung calon istriku " Bela Ray santai.
" Ah kalian berdua membuatku frustasi, normal dua laki-laki memperebutkan seorang perempuan. Nah aku, tidak jelas siapa rivalku tapi harus rela melepaskannya.. Aku diabaikan olehnya " Dengan lesu Danis bercerita.
" Entah lah, semua laki-laki bahkan diabaikan olehnya.. termasuk aku. Dari SMU sampai kuliah aku ikuti, tapi aku masih tak terlihat olehnya " Karena alasan itu pula sampai Danis memilih melanjutkan kuliahnya dikota ini agar bisa satu kampus dengan perempuan incarannya.
" Memang semenarik apa perempuan yang kau kejar-kejar itu? " Tanya Ray sedikit penasaran.
" Ah, pasti tidak semenarik Nona manis " Denis masih menomor satukan Veln sebagai perempuan yang paling ter dari yang ter, tak lama tubuhnya mendapatkan lembaran bantal dari Ray yang kesal karena calon istrinya masih dielu-elukan oleh mulutnya.
" Dia baik hati kak dan tidak banyak gaya. Satu lagi dia cukup pintar, pokoknya berbeda dengan perempuan kebanyakan dijaman sekarang ini "
" Semangat, pepet trus sampai kau terlihat olehnya " Ray memberikan semangat begitu juga dengan Denis ikut memberikan semangat dengan gerakan menengkukkan lengan dan mengepalkan tangannya.
Dan entah sampai berapa lama mereka pun berbincang-bincang, mengobrol kesana kemari menghabiskan waktu hingga tengah malam terlewati.
Sementara, dikamarnya Veln masih terlihat gulang-guling diatas kasurnya. Sedikit mengalami pre-wedding syndrome. Matanya sangat sulit untuk dipejamkan, entah malam itu bahkan dia tidak merasakan kantuk. Obrolannya dengan Liana barusan lewat ponselnya terpaksa dia sudahi, karena mencium aroma-aroma kantuk dari Liana.
Sekarang hanya terdengar rengekan Virina saja kepada Ibunya, tak gentar meminta pada Ibunya untuk menggantinya sebagai mempelai pengantin wanita besok. Sampai berlahan suara Virina dan Ibunya menghilang, hanya tinggal suara hembusan angin malam yang begitu jelas dan terkadang terdengar suara sirine kendaraan dari arah jalan raya sana ikut terdengar saking senyapnya. Bahkan suara lewat kereta api pun sampai ikut melewati telinganya, yang letak relnya sebenarnya lumayan jauh beberapa kilo meter.
Sayup-sayup suara ayam jago bersahutan, menandakan hari hampir pagi. Ketika itulah tiba-tiba mata Veln baru dapat terlelap.
__ADS_1
Bersambung..