
Keesokan paginya setelah melakukan sarapan terlihat Ray dan Sam duduk diruang tamu, masing-masing dari wajah mereka terlihat serius menatapi lembaran-lembaran kertas yang beberapa masih terapit oleh map berwarna hijau. Sepertinya mereka sedang mengecek beberapa berkas-berkas yang akan dipakai untuk melakukan meeting nanti.
Dari dalam kamar terlihat Veln keluar menghampiri mereka berdua, Veln mendudukan diri disamping suaminya yang masih fokus menatap beberapa berkas kerjasama sembari berbicara kearah sekertaris Sam.
Kepalanya sedikit dilongokkan kearah beberapa lembaran kertas yang dipegang suaminya, sedikit kepo. Namun ketika dirasa tidak ada yang bisa dia pahami dan tidak penting untuknya, Veln menegakkan duduknya dengan menghela nafas merasakan bingung karena harus melakukan apa? sementara dua orang itu terlihat masih sibuk dengan pekerjaannya.
Setelah berpikir keras, akhirnya dari pada mengganggu dua orang yang sedang sibuk itu Veln memilih beranjak dari duduknya hendak masuk kekamar kembali untuk menonton tv. Namun, tiba-tiba tangan Ray menarik lengan istrinya yang membuat Veln mengurungkan niatnya.
" Sam, sambungkan ke nomor Paman Rian. Biarkan Veln mengobrol untuk memberi kabar " Sekertaris Sam pun sigap mengambil ponsel yang disimpan disaku celananya. Dan sesuai perintah Ray, sekertaris Sam pun menyambungkan ponselnya ke nomor Paman Nona mudanya lalu menyerahkan ponselnya kearah Veln.
🤳 Veln " Hallo, Paman " Veln mengambil alih ponsel sekertaris Sam dengan senyum bahagia dan membawanya kearah meja makan.
" Ini aku, memakai nomor sekertaris Sam. Paman apa kabar? " Suara Veln terdengar benar-benar seperti seseorang yang berpuluh taun menahan rasa kangen dan akhirnya dipertemukan untuk saling melepas rindu.
🤳 Pama Rian " Nak, benarkan ini kamu? " Terdengar suara Paman Rian seolah memastikan.
" Kenapa belakangan ponsel mu sulit dihubungi Nak? " Terdengar suara meminta penjelasan dari balik ponsel sekertaris Sam.
🤳 Veln " Maaf Paman. Sekarang aku sedang berada dipulau XX, menemani Ray untuk perjalanan bisnis. Tapi karena ponsel ku tertinggal dirumah jadi tidak bisa menelfon atau mengabari Paman " Terang Veln singkat padat dan jelas.
🤳 " Syukurlah, sekarang Paman sudah bisa tenang. Jaga dirimu disana ya Nak kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menelfon Paman " Dengan perasaan lega seakan beban yang dipikul begitu berat dipundaknya kini menghilang begitu saja setelah mengetahui keponakannya baik-baik saja.
Mereka pun berbincang-bincang sebentar dan sempat terdengar bagaimana Veln menceritakan suaminya yang memperlakukannya begitu baik dan sayang terhadapnya, yang membuat Paman Rian semakin yakin dan tega melepaskan keponakannya ketangan Ray.
Dari balik ponsel terdengar suara Virina dan Mbak Del yang meminta untuk mengganti panggilan biasa kepanggilan Vidio, dengan maksud ingin mengetahui bagaimana rupa rumah yang sekarang Veln tinggali. Namun tak dihiraukan oleh Rian, Rian malah meminta Veln untuk menyudahi panggilannya karena dirasa kondisinya sudah tidak mengenakkan lagi.
Sebenarnya Paman Rian harus kembali bekerja, namun niatnya diurungkan karena mendapati keponakannya yang sulit dihubungi setelah menikah. Bahkan Veln pun sama sekali tidak memberi kabar apapun, namun kini perasaannya sudah merasa tenang dan nyaman sehingga waktu keberangkatan untuk merantau yang sempat tertunda dapat dia lanjutkan secepatnya.
â—‹â—‹â—‹
Veln kembali menghampiri Ray dan sekertaris Sam diruangan tamu yang masih terlihat fokus dengan pekerjaannya.
" Sekertaris Sam, terimakasih " Veln mengulurkan ponsel kearah sekertaris Sam, yang membuat Sam harus rela mengalihkan pandang kearah Nona mudanya. Sam mengambil kembali ponselnya dan menyimpannya kembali ketempat semula dimana dia mengambilnya. Pandanganya kembali diarahkan kelembaran kertas yang sedang dipegangnya, namun tiba-tiba setelah dirasa ada yang aneh mata Sam kembali menatap kearah Veln.
" Maaf Nona, kenapa dengan leher anda? " Mendengar itu Veln langsung meraba lehernya dengan telapak tangannya.
" Aku rasa tidak ada masalah dengan leher ku " Setelah memastikan dengan merabanya, sementara Ray masih terfokus dengan pekerjaannya.
" Bukan yang disebelah situ tapi yang disebelah satunya " Sembari jarinya menunjuk dari kejauhan, telapak tangan Veln pun kembali meraba leher kesisi yang satunya.
" Benar tidak ada apa-apa " Memang dirasa tidak ada yang salah dengan lehernya tidak seperti yang terlihat dimata sekertaris Sam. Ray masih tidak terpengaruh dengan obrolan istri dan sekertarisnya.
" Memang tanda merah itu tidak membuat Nona merasakan perih atau gatal dileher? " Veln hanya menggelengkan kepalanya menjawab dengan polos sepolos pertanyaan sekertaris Sam, yang membuat Ray tertarik dan menoleh kearas istrinya yang sedang duduk disampingnya. Ray mendongakkan dagu Veln dan menggoyang-goyangkannya kekiri dan kekanan, lalu tersenyum tipis dan mengelus leher istrinya sebentar yang terlihat jelas terdapat noda merah disana.
" Aku akan berkaca sebentar, mau memastikan kenapa dengan leher ku. Waktu mandi dan menyisir rambut kenapa aku bisa tidak menyadarinya? " Veln hendak beranjak dari duduknya namun terhenti karena perkataan Ray.
" Tidak usah, tidak akan kenapa-kenapa. Nanti juga akan hilang dengan sendirinya " Seperti biasanya dengan nada santai dan kembali fokus kepekerjaannya kata-kata Ray membuat mengurungkan niat Veln untuk beranjak dari tempat itu.
__ADS_1
" Kurasa Nona digigit serangga " Sam menerka-nerka.
" Sial, kau Sam. Beraninya kau mengatai ku serangga, kau mau mati ya? " Suara Ray terdengar jelas yang diakhiri dengan tawa. Mendengar itu membuat sekertaris Sam pun ikut tertawa kecil dan merasa sedikit tidak enak karena telah menyadari apa yang telah terjadi, sementara wajah Veln masih terlihat datar masih belum menyadari dengan apa yang sedang diperbincangkan hingga membuat dua orang itu tertawa.
Ray meraih kepala istrinya dan menyenderkan dilengan bahunya.
" Ambilah, untuk mengusir rasa bosan mu. Kau bisa menonton youtube, membaca artikel yang sedang ingin kau baca, bermain game atau yang lainnya " Ray mengulurkan ponsel kearah istrinya. Dengan cepat Veln mengambil ponsel tersebut dari tangan suaminya, dan membolak-balikkan secara seksama ponsel yang berwarna hijau temaram tersebut.
Akhirnya.. Aku bisa memegangmu juga. Karena kau, aku sempat dibuat jantungan oleh tuan mu. Dan karena dirimu juga sekarang aku jadi Nona mudamu.
Pikirannya sedang mengingat kembali kewaktu itu, kekejadian sewaktu berada diManja Coffe yang membuat bibirnya senyum-senyum sendiri.
" Ray, benar ini bukan ponsel yang sama? yang waktu itu aku jatuhkan? " Sembari mengulurkan ponsel suaminya untuk meminta membukakan kode sandi ponselnya. Ray hanya tersenyum tipis sembari membuka kode sandi yang tertera pada ponsel tersebut.
" Jawab " Dengan wajah datarnya Veln menunggu meminta jawaban.
" Itu ponsel yang sama " Melirik istrinya dengan senyum kemenangan.
" Memang kenapa? toh kamu juga tidak rugikan bisa menjadi seorang istri dari pria yang tampan seperti ku " Kembali Ray dengan bangga menyombongkan dirinya membuat Veln mengangkat sebelah ujung bibir dan memutar kedua bola matanya.
" Ray, sepertinya kau juga harus merasa bangga karena mendapatkan aku yang cantik dan baik ini, benarka sekertaris Sam? " Veln membela diri dengan meminta dukungan Sam.
" Benar Nona. Cantik, baik dan polos " Veln mengangguk membenarkan dengan jari tangan yang sibuk menyentuh-nyentuh layar ponsel suaminya.
" Sam, aku harap ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya kau mengatakan itu. Jangan pernah keluar lagi kalimat pujian dari mulut mu itu, karena dengan begitu berarti kau secara tidak langsung sudah berani melirik-lirik wanita ku " Ray menegaskan hal yang terdengar tidak begitu penting.
" Sam, sekarang kau sedang menunjukan pembangkangan mu? " Sam mengangkat lengannya diarahkan kewajah datarnya, matanya menatap jam tangan yang melingkar ditangannya. Sementara Veln yang secara tidak sengaja sudah menyeret Sam kearah obrolan tersebut kini sudah asik sendiri memandangi layar ponsel suaminya.
" Tuan, sepertinya sudah waktunya kita pergi. Anda tidak ingin terlambat bukan? " Sam menyelamatkan diri dengan menggiring tuannya menuju ketempat pertemuan untuk membahas salah satu proyek kerjasama.
" Urusan kita belum selesai, kita lanjutkan nanti " Menepuk bahu sekertarisnya pelan.
Tidakkah anda berlebihan tuan, kalau memang wanita mu tidak suka dilirik oleh orang lain seharusnya kau menyimpannya didalam lemari dan menguncinya.
Sam membatin dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Brug..
" Au.. " Veln terjungkal diatas sofa karena Ray tiba-tiba berdiri tanpa memperhatikan posisi istrinya yang sedang bersandar dilengan bahunya. Melihat kejadian itu Ray dan Sam spontan tertawa.
" Ray, kau mengagetkan ku " Menatap suaminya dengan posisi tiduran diatas sofa.
" Sam perbaiki gizinya, kenapa dia lemas sekali sampai tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya " Kembali Ray mengeluarkan tawanya. Sam terlihat tersenyum menggantikan tawanya yang semula.
" Kau pikir aku kurang gizi " Veln bangun membetulkan posisinya.
" Kau saja yang tega menghianati ku, yang sudah dengan percayanya bersandar dibahu mu tapi dengan begitu mudahnya kau menghempaskannya " Dengan sedikit kesal memandangi kembali suaminya.
__ADS_1
Ray mendekatkan telapak tangannya keujung kepala Veln dan mengelusnya pelan, lalu mencium kening Veln sebentar.
" Aku tinggal dulu, kau bisa menghubungi room service jika butuh sesuatu " Punggung tangannya mengelus pipi Veln.
" Kau bisa pakai ponsel ku atau menonton televisi untuk mengusir rasa bosan, jangan keluar dari sini sampai aku pulang " Veln mengangguk menuruti perkataan Ray. Ray pun bergegas pergi yang diikuti sekertaris Sam dibelakangnya.
â—‹â—‹â—‹
Didalam kamar Veln masih asik menatapi layar ponsel suaminya, dengan sesekali menggonta-ganti posisi duduknya diatas tempat tidur.
Tiga jam berlalu setelah kepergian Ray dan sekertaris Sam, tiba-tiba terlintas dibenaknya mengenai obrolan tadi pagi. Teringat jelas apa yang dikatakan sekertaris Sam, membuatnya beranjak bangun dan mendekati meja rias.
Veln menatap lekat-lekat leher jenjangnya didepan cermin, dan benar saja disana terdapat tanda merah tanpa Veln sadari dari mana asalnya?
Dia pun mengelus tanda merah itu dengan telunjuknya.
Aneh sekali, kenapa ini bisa sampai memerah begini? padahal tidak terasa gatal dan perih.
Otaknya sedikit berpikir keras mencari sesuatu penyebab tanda merah tersebut, sampai pada akhirnya dia mengingat kejadian tadi malam.
Oh ya ampuuuuuun..
Langsung dia menuju tempat tidur dan berguling-guling diatasnya, lalu menelungkubkan kepalanya diatas bantal sembari menungging.
Kenapa aku merasa sangat malu sekali saat ini, *k*arena telah tertangkap olehnya.. ah kenapa juga Ray ikut menertawakannya.
Masih dengan posisi yang sama, Veln bergumam.
Tangannya sigap meraih tas kecil yang berisi berbagai kosmetik didalamnya, diraihnya salah satu kosmetik untuk menutupi warna merah dilehernya karena hendak membuka pintu setelah terdengar bunyi ketukan.
" Permisi Nona, aku mengantarkan ini untuk Nona atas perintah tuan Ray " Ternyata seorang room service yang datang membawakan makan siang dan satu kantung kresek yang berisi beberapa buku untuk Veln dapat membacanya.
" Terimakasih " Tak lupa dengan menyunggingkan senyum.
Setelah seorang room service meletakkan barang bawaannya, dia pun berpamitan dan pergi meninggalkan Veln. Veln pun kini tengah sibuk menikmati makan siangnya dengan membaca buku dan membolak-balikkan tiap halamannya.
â—‹
â—‹
â—‹
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.. dengan memberi like dan comentnya.
Sebelumnya Author ucapin banyak terimakasih, dan semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan perlindungan oleh Nya.Amin.😊
Bersambung...
__ADS_1