
Pukul satu dini hari, dikamar itu tepatnya diatas kasur empuk itu masih terdengar suara krasak-krusuk dari penghuninya.
Setelah melakukan olah raga malam dan membersihkan diri nyatanya tak membuat Ray dan Veln memejamkan mata. Mereka malah asik menikmati obrolan sebelum tidurnya.
" Ray, maaf ya kalau aku terlalu ikut campur dalam masalah keluarga kalian " Setelah mengatakan itu, Veln mengeratkan pelukannya seolah mengartikan sebagai bentuk penyesalannya.
Ray tak bersuara, tak berniat juga menjawab permohonan maaf istrinya. Dia hanya merespon dengan mengecup puncak kepala istrinya dan mengelus-elus punggung Veln.
" Aku memang sama sekali tidak tau apa yang terjadi dengan kalian dulu, dan aku tidak memaksamu untuk menceritakan itu Ray. Tapi yang aku tau dan pahami saat ini, sebenarnya dilubuk hati kalian yang terdalam menginginkan kehangatan sebuah keluarga. Nenek dan Renand terlihat jelas menginginkan itu. Terkecuali, mungkin hanya ka-mu, yang masih kuat untuk bertahan seperti ini " Ada sedikit nada keraguan dari ucapan Veln. Sementara Ray masih diam membisu, mulutnya tak bersuara sedikit pun. Matanya memang terpejam, tapi sebenarnya Ray tidak tidur. Ray malah menikmati mendengarkan ocehan istrinya, dan ikut mengeratkan pelukan mereka.
" Hufpmmm " Veln kehabisan nafas akibat pelukan Ray yang semakin mengetat, membuat wajahnya terperosok dan terbenam dalam didada Ray. Veln meronta menggeliatkan badannya.
" Huft huft huft " Nafasnya menggap-menggap dan segera meraup oksigen banyak-banyak tatkala Ray mengendurkan dekapannya. " Kau mau membunuhku ya? "
" Ha ha haa " Ray malah tertawa " Maaf, sayang " Mengecup kening Veln beberapa kali.
" Jujur Ray, kau juga senang kan melihat Renand kembali dekat dengan Maminya? " Veln kembali ketopik awal pembahasannya.
" Kembali dekat apanya? dia bahkan masih betah menghuni kamarnya " Kamar Renand, kamar yang tepatnya berada didalam rumah Ray.
" Bukan dekat yang seperti itu maksudku, tapi kedekatan yang seperti belakangan ini dia jadi sering mengunjungi Nenek, Mami dan Rosi " Protes Veln.
" Dengar V, aku tidak sekejam itu. Bagaimanapun juga mereka ibu dan anak, sudah seharusnya menjadi dekat. Bahkan dari semenjak dahulu pun aku tidak pernah berniat memisahkan mereka dan menjauhkan Renand dengan perempuan yang sudah melahirkannya. Renand sendiri yang memilih berada dikubu aku, tapi sungguh aku sama sekali tidak pernah memberikan pengaruh buruk terhadapnya " Veln yang sedang dalam posisi mendongak langsung mengecup bibir Ray, bangga dengan segala yang Ray miliki dari semua segi, khususnya dalam hal cara didik terhadap adik kecilnya.
○○○
Satu jam berlalu suasana kamar utama rumah itu sudah terlihat sunyi dan sepi, hanya terdengar nafas yang teratur dari dua orang penghuninya.
Rupanya mereka sudah terlelap, setelah lelah berbincang-bincang mengobrolkan topik dari berbagai arah.
Drrrrrrrrt drrrrrrt.. drrrrrrrt
Nampak ponsel yang diletakkan diatas nakas Ray bergetar. Ray meraih benda kotak pipih itu, dan terlihat sebuah nomor tak dikenal sedang memanggil.
" Siapa? " Veln ikut terbangun ketika mendengar suara berisik dari ponsel milik Ray.
" Sssssst, tidurlah lagi " Ray menenggelamkan kembali wajah Veln dan mengelus kepala istrinya dengan sebelah tangan Ray yang menganggur.
🤳 Ray " Hallo "
__ADS_1
" ... "
🤳 Ray " Ini siapa? "
" ... "
🤳 Ray " Katakan ada apa? "
" ... "
🤳 Ray " APA??? "
Ray langsung bangun dan beranjak turun dari kasurnya. Veln yang masih setengah sadar dan terkantuk berat pun ikut terbangun memperhatikan gerakan kilat suaminya. Ternyata gerakan kilat Ray barusan hanya untuk menuju ruang ganti, Ray mengganti baju piyamanya dengan kaos dan celana panjang santainya. Veln yang masih nampak bingung akibat kesadarannya yang belum kembali sempurna hanya bisa terbengong-bengong dan melongo memperhatikan Ray yang kembali menuju ruang ganti dan membawa sweater rajut perempuan.
Ray memakaikan sweater rajut itu ketubuh Veln, yang masih terduduk disisi ranjang.
Cup, Ray mengecup bibir Veln sekilas membuat sang pemilik bibir sedikit membulatkan matanya. Merasakan heran, aneh bercampur penasaran dengan sikap dan tingkah Ray saat ini.
" Baguslah, kau sudah sadar. Ayo " Ray menarik Veln dan bergegas keluar kamar, tanpa protes Veln hanya mengikuti langkah Ray.
Mereka berhenti didepan pintu kamar Renand dan mengetuknya.
" Ada apa kak? " Dengan suara yang masih terdengar parau tak berselera.
" Nenek kenapa? "
" Jantungnya kambuh "
Setelahnya mereka segera berjalan cepat menghampiri mobil milik Ray, dan langsung menuju rumah sakit.
○○○
Yang menelfon Ray barusan ternyata Mami Rosa, dengan ragu untuk pertama kalinya Mami Rosa menghubungi kontak Ray. Terang saja Ray tidak langsung menyadari seseorang yang menelfonnya dini hari itu, karena Ray tidak menyimpan nomor telfon Ibu sambungnya. Mami Rosa mengabari bahwa Nenek Lusiana terkena serangan jantung, dan sekarang sudah dibawa kerumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit Ray berjalan cepat dengan menggandeng erat jemari Veln dan diikuti Renand dibelakangnya menuju UGD. Saat ini Nenek Lusiana sedang mendapatkan pertolongan pertama dirumah sakit tersebut.
Mami Rosa dan Rosi terbangun dari kursi ruang tunggunya, dan melangkah maju melihat kedatangan Ray dan yang lainnya.
" Ray " Dengan wajah penuh khawatir Mami Rosa berucap. Raut wajah Rosi pun tak kalah paniknya dengan mulut tak henti-hentinya mendoakan yang terbaik untuk Nenek Lusiana.
__ADS_1
" Terimakasih, sudah bersedia membawa nenekku kemari " Suara Ray terdengar dingin. Veln menganggukkan kepalanya dan tersenyum kearah Rosa dan Rosi, lalu agak mendorong tubuh Ray menuju kursi ruang tunggu paling ujung. Veln merasakan ada yang tidak beres dari sorot mata suaminya ketika menatap Mami Rosa, rupanya Ray sedang mengingat kejahatan yang dilakukan rosa dimasa lalu dan berusaha menghilangkan fikiran buruknya untuk tidak mencurigai Rosa atas apa yang telah terjadi dengan neneknya sekarang.
" Duduklah " Ajak Veln, namun Ray menolak. Ray malah mendudukan Veln dikursi tersebut dan dirinya malah lebih memilih bersandar ditembok, tepat disamping Veln duduk dengan kaki menyilang dan kedua tangan bersidakep diatas dada. Begitu pun yang dilakukan Renand, sama persis dengan apa yang dilakukan kakaknya. Bedanya, dia bersandar ditembok yang tepat menghadap Ray.
Cukup lama mereka menunggu didepan pintu ruangan UGD, dengan sunyi dan senyap yang menemani. Karena sepanjang itu hanya diam yang mereka lakukan. Mereka sibuk dengan doa-doa yang tebaik yang mereka panjatkan dan tunjukan untuk Lusiana.
Sampai pada akhirnya Veln menguap dengan menutup mulutnya, rupanya kantuk mulai menyerangnya. Wajar saja perempuan ayu itu baru sempat memejamkan matanya beberapa jam saja, persis sama seperti Ray. Namun pertahanan mata Ray rupanya lebih kuat dan tahan dibandingkan istrinya.
Ray menjulurkan ponselnya, membuat Veln merasa kebingungan " Mainlah game dari ponselku, atau kau pulang saja bersama Renand "
" Biar aku saja yang mengantar kak V pulang " Ujar Rosi menawarkan diri.
" Aa, benar lebih baik kalian pulang saja. Biar aku dan Renand yang menunggu disini " Perintah Ray kepada ketiga perempuan itu.
" Aku masih mau disini, sampai memastikan keadaan Nenek benar-benar membaik " Tolak Veln halus. Akhirnya kelima orang itu setia menunggu dilorong depan pintu UGD dengan hati yang tak henti-hentinya berdoa.
Veln tak menyia-nyiakan ponsel yang berada ditangannya, apalagi ketika melihat kontak bernamakan Denis. Entah dengan sadar atau tidak tiba-tiba tangannya menari-nari diatas layar ponsel milik Ray.
💌 Mas Denis, maaf mengganggu. Ini aku, Veln. Nenek masuk rumah sakit, kena serangan jantung.
○○○
Begitu lampu emergency padam, tak lama pintu pun terbuka dan keluarlah beberapa petugas kesehatan. Termasuk Om Heri alias dr. Heri. Dokter pribadi keluarga Wiratama.
" Keluarga Nyonya Lusiana " Ucap rekan kerja seprofesi dr. Heri alias Om Heri.
" Saya, dok " Ray mendekat cepat kearah suara, begitu juga dengan yang lainnya langsung ikut merapat kearah para dokter tersebut.
" Maaf Ray, kami sudah berusaha dengan semaksimal mungkin. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Nyonya Lusiana tidak bisa kami selamatkan " Ucap dr. Heri dengan penuh penyesalan.
" Ne-nek " Suara Veln lirih melemah, dan langsung tergugu dalam tangisnya. Begitu pun dengan Mami Rosa dan Rosi yang sudah berderai air mata tak kuasa menahan tangisannya.
Ray langsung mendekap Veln dalam pelukannya yang terisak tersedu-sedu. Tangisnya malah semakin menjadi-jadi tatkala dirinya mengingat kebaikan-kebaikan Nenek Lusiana terhadap dirinya. Meski hanya sebentar mengenal wanita tua itu, tapi kenangan diantara mereka benar-benar memberikan kesan yang sangat luar biasa. Veln merasa menemukan Nenek sekaligus ibu dalam diri Almarhum Lusiana. Ray hanya bisa menenangkan istrinya dengan mengeratkan pelukannya, mengusap-usap rambut Veln dan menciumi puncak kepala istrinya. Dengan otak dan pikirannya sendiri berusaha untuk terlihat tegar dihadapan yang lainnya. Ray tidak mau terlihat lemah dihadapan yang lainnya, terkhusus dihadapan Veln dan Renand adik kecilnya.
" Kak " Sorot mata Renand terlihat berkaca-kaca dan memerah menahan tangis. Sekuat tenaga Renand berusaha tegar mengikuti kakaknya yang terlihat masih bisa menguasai diri, untuk tidak meluapkan emosionalnya.
" Tidak apa boy " Ray menepuk-nepuk bahu adik kecilnya, dengan sebelah tangan yang masih sibuk memeluk dan mengusap-usap istrinya yang masih tenggelam dalam tangisnya. " Tolong kabari Sam, minta dia untuk mengurusi segalanya " Perintah Ray terhadap adik kecilnya.
Veln yang masih syok dengan situasi ini, dan masih tak henti-hentinya mengeluarkan buliran air matanya menjulurkan tangannya. Menyerahkan ponsel Ray kearah si empunya. Veln sadar saat ini mungkin Ray akan bekerja dengan ponselnya, benda pipih itu mungkin akan menjadi barang yang sangat dibutuhkan oleh Ray. Lewat benda pipih itu Ray mungkin untuk sementara waktu mengintruksi dan memerintah seseorang. Termasuk untuk berdiskusi dengan Sam, sekertaris pribadinya.
__ADS_1
*Bersambung..
Salam sehat selalu.. 😙*