Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
9.Pelunasan


__ADS_3

Dengan raut wajah sedikit ditekuk, Veln kembali masuk menuju Manja Coffe. Langkahnya otomatis ditujukan kelantai atas menaiki anak tangga satu persatu dengan menenteng dus sepatu yang hendak disimpan diruangan atas sesuai yang diperintahkan tuan muda Ray, begitulah tiap kali sekertaris Sam memanggilnya.


Begitu sampai dilantai dua. Veln langsung menuju arah ruangan khusus, ruangan yang sama sewaktu dia melakukan wawancara. Veln meletakkan dus yang berisi sepatu itu dengan hati-hati dikolong meja sofa, setelah misinya terselesaikan dia langsung turun menuju posnya. Dan memulai kembali pekerjaannya.


Begitu mendapatkan order pesanan, Veln langsung mengintruksikan Mas Denis untuk membuatkan kopi.


" Mas Denis, dua cappuccino " Denis menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Karena dirasa sudah tidak ada lagi pengunjung yang harus dilayani Veln sengaja tak beranjak dari posisinya, berniat ingin melihat bagaimana Mas Denis bekerja membuatkan setiap orderan yang dipesan. Denis melirik Veln yang sedang memperhatikannya bekerja.


" Nona, aku merasa grogi nih diawasi perempuan cantik "


Veln tersenyum manis sembari tersipu dikatain cantik oleh Denis.


" Aku lebih-lebih grogi digombalin sama Mas Denis "


" Apalagi aku, mati kutu kerja diawasin boss sekaligus perempuan cantik " Timpal Bang Dika


Mereka bertiga pun senyum-senyum merasa geli.


Satu jam berlalu dari arah pintu masuk Manja Coffe terlihat Ray mendekati arah ruangan barista, seperti sebelumnya dia memposisikan tubuhnya berdiri disamping depan Veln. Mata Veln menatap Ray dari pertama dia masuk. Dan hendak menyunggingkan senyum ketika posisi Ray lebih mendekat, namun diurungkannya karena Ray malah membuang tatapannnya kearah punggung Denis.


Ya ampun orang ini membuatku merasa seperti perempuan murahan yang hendak menggoda mangsanya.


" Denis " Merasa namanya dipanggil, Denis pun menengokkan kepalanya " Yuk "


" Kau sudah siap"


" Ucap Denis.


" Hemm "


Segera Denis melepaskan celemeknya yang masih menggantung ditubuhnya, dan meletakkannya diatas meja dekat tempatnya berdiri. Langkah kakinya ditujukan kearah Ray dan Veln.


" Nona, aku tinggal dulu ya. Jangan Rindu, karena Dilan bilang rindu itu berat " Goda Denis.


Veln seketika terkekeh mendengar gombalan Denis. Liana juga nggak kalah sumringahnya melihat sahabatnya digoda oleh Denis, cengengesan seperti seseorang yang sedang mendapatkan bulan yang jatuh ditangannya.


Ray melirikan matanya tajam kearah Veln yang raut wajahnya masih terlihat bahagia akibat gombalan Denis. Dia menyunggingkan senyuman sinis dan memalingkan pandangannya kesembarang arah dan berlalu begitu saja menyusul langkah Denis yang sudah terlebih dahulu menuju keluar arah pintu Manja Coffe.


Apa itu maksudnya? senyumannya itu menakutkan. Apa Tuan Muda itu sedang menunjukan bentuk kecemburuannya?


Veln tersadar ketika merasa sebelah tangannya digoyang-goyangkan oleh Liana.


" Kenapa? " Dengan nada lembut dan wajah datarnya Veln menanyakan maksudnya.


" Enak ya, jadi perempuan cantik mah bebas.. " Liana menggantungkan bicaranya membuat Veln menautkan alisnya.


" Bebas berbincang-bincang dengan para pria tampan " Imbuhnya lagi, Veln membuang nafas panjang.


" Mereka berdua cakep-cakep " Sambung Liana lagi.


" Kalau disuruh milih keduanya kamu pilih yang mana? " Tanya Veln.


" Kalau kamu? " Liana balik bertanya.


" Jelas dong.. Aku pilih dua-duanya " Sembari tertawa lepas Veln menjawab pertanyaan Liana " Ha ha haa "


" Sial " Liana mengumpat merasa dipermainkan " Aku pikir kalau kamu pilih duluan aku kan bisa ambil sisanya " Dan mereka pun tertawa bersama-sama merasa konyol.


○○○


Tak terasa hari itu sudah mulai gelap, namun bukannya mengurangi jumlah pengunjung suasana malam justru menambah semakin ramainya meja-meja Manja Coffe.


Terlihat seseorang yang tak asing mendekati arah Veln.


" Permisi Nona, bisakah kau menemuiku sekarang dirooftop lantai atas "


Veln buru-buru mengangguk dan jari telunjukknya ditempelkan dikedua bibirnya mengisyaratkan kepada sekertaris Sam untuk diam dan segera pergi dari depan meja kasir sebelum yang lain terutama Liana menyadari kedatangannya.


Selang beberapa menit, Veln pun menyusul kelantai dua menuju rooftop yang sebelumnya berpamitan dengan Liana hendak ketoilet.


Veln menyapu seluruh ruangan rooftop, matanya mencari seseorang yang hendak dituju. Begitu mendapatkan sasarannya, tanpa ragu-ragu langsung mendekati.


Terlihat sekertaris Sam yang duduk dikursi meja yang sama, yang tadi pagi Veln pakai untuk mengobrol dengan Ray, si tuan muda yang masih abu-abu itu.

__ADS_1


Melihat kedatangan Veln, sekertaris Sam segera beranjak dari duduknya. Dan menganggukkan kepalanya sopan.


" Silakan Nona " Mempersilahkan Veln untuk duduk.


Veln yang ketika bertemu sekertaris Sam merasa diperlakukan bak putri raja itu menurut saja duduk dihadapan sekertaris Sam tanpa membantah, dan kini mereka pun sama-sama mendudukkan tubuhnya diatas kursi yang saling berhadapan.


" Maaf sekertaris Sam ada apa anda mencari saya? "


" Atas perintah tuan muda Ray, saya kesini untuk memberikan ini " Sembari menyodorkan sebuah paper bag dihadapan Veln.


Veln pun langsung meraihnya dan karena rasa penasaran tanpa komando dia segera melongok isi dalam kantung paper bag itu. Terlihat sebuah amplop cokelat yang menggembung didalam sana.


" Sekertaris Sam, apa isi didalam sini? "


" Silakan Nona, anda buka saja "


Tangan kanan Veln pun segera merogoh isi dalam amplop coklat tersebut tanpa mengeluarkan dari kantung paper bagnya.


Setelah terlihat jelas isinya Veln spontan agak sedikit membulatkan matanya dan melirik kearah sekertaris Sam meminta penjelasan.


" Sikakan Nona, gunakan itu untuk menyelesaikan masalah anda dengan juragan Seno "


" Apa tuan mudamu menguras semua isi tabungannya? "


Tanpa menjawab, sekertaris Sam hanya tersenyum.


" Apa ini akan membuatnya menjadi bangkrut sekertaris Sam? "


" Tidak Nona "


" Dia benar-benar menggadaikan tempat ini? " Raut wajah Veln benar-benar menunjukan rasa penasaran.


" Atau menjualnya? "


" Tidak Nona. Tidak mungkin tuan muda Ray menggadai tempat ini apalagi sampai menjualnya "


Karena tempat ini kan bukan milik tuan muda Ray.


" Lalu dari mana tuan muda mu mendapatkan ini? " Sembari menunjukkan kantung paper bag yang dia pegang.


" Tuan muda berpesan, Nona cukup fokus menyelesaikan masalah Nona dengan juragan Seno dan cukup meyakinkan keluarga Nona mengenai tuan muda " Bicara Sam terdengar tegas dan berwibawa.


Sekertaris Sam pun berlalu meninggalkan Veln yang masih terduduk dan menatap kantung paper bagnya.


○○○


Dengan terburu-buru Veln melewati gang menuju arah rumahnya yang sebelumnya diturunkan oleh Bang Dika didepan dermaga tadi, seperti kemarin malam Veln pulang ikut nebeng lagi dengan Bang Dika.


Suara dedaunan yang bergesekan akibat terkena angin membuat suasana semakin mencekam, dengan langkah seribu Veln buru-buru membuka pintu rumah. Kini detakan jantung Veln sudah sedikit normal, merasakan aman karena sudah merasa berada didalam rumah.


Cepat-cepat Veln membersihkan diri dikamar mandi, setelah ritualnya selesai langkah kakinya langsung ditujukan kearah kamar. Namun dipintu dapur tiba-tiba Veln terhentak dan berteriak sekencang-kencangnya.


" Aaaaaaa... "


Delina dan Virina yang saat itu juga mengenakan masker wajah ikut-ikutan berteriak lebih kencang dari teriakan Veln.


" Aaaaaaa.. aaaaa "


" Mbak Del, Virina.. kalian mengagetkanku " Veln tersadar ternyata bukan makhluk halus yang berpapasan dengannya melainkan Bibi dan sepupunya.


" Kau juga mengagetkan saja, bertemu dengan kita tiba-tiba berteriak ga jelas " Ucap Virina.


" Habis kalian mengagetkanku, bergentayangan tengah malam begini menggunakan masker wajah "


" Kau juga akan aku pakaikan masker ini, sayang bawa sepupu mu masuk kedalam kamar sementara Ibu akan menyiapkan masker untuknya " Perintah Delina kepada putrinya.


Tak butuh waktu lama, kini mereka bertiga pun sudah berada dikamar Veln.


" Ayo Mama Mertua tiduranlah terlentang " Perintah Virina kepada Veln " Aku akan memakaikan masker wajah ini kepadamu, kewajah cantikmu "


" Memangnya harus ya aku mengenakan itu? "


" Tentu saja sayang, agar kulit wajahmu lebih bersih, lebih cantik dan glowing seperti artis-artis yang ditv itu, jadi juragan Seno juga lebih terpikat sama kamu "


Kenapa perut ku mendadak mual-mual mendengar gaya bicara mereka, Mbak Del dan Virina memang cocok dijadikan pemain antagonis dalam sebuah sinetron. Veln pun terkekeh sendiri.

__ADS_1


" Eh kenapa kamu cengar-cengir? " Virina sedikit tersinggung melihat raut wajah Veln yang terlihat cekikikan, mata Delina pun langsung ikut menajam kearah Veln.


" Aku cuma lagi membayangkan setelah menggunakan masker wajah yang kalian berikan akan bertambah naik kelevel berapa tingkat kecantikanku "


Tak panjang lebar lagi, posisi Veln kini sudah tiduran terlentang diatas tempat tidur dengan Virina yang duduk disamping kanan dan Mbak Del disamping kirinya.


Terlihat tangan Virina yang sibuk memoleskan masker yang beraroma coffee itu diwajah Veln. Veln memang sempat menolak untuk dipakaikan masker oleh Virina. Veln pikir lebih baik memakai sendiri biar nggak ribet, namun Mbak Del dan Virina memaksa untuk membantu memakaikan masker diwajahnya.


○○○


Pagi itu ketiga penghuni rumah sedang asik menikmati sarapannya, mereka asik mengunyah nasi goreng buatan Veln dengan lahapnya. Rupanya selera makan Veln pagi itu sudah kembali, hingga membuat Veln pun ikut mendudukkan dirinya diruang tengah serbaguna itu.


Tak lama kemudian setelah mereka menyelesaikan sarapannya terdengar suara ketukan dari pintu depan.


Tok tok tok


" Ayo-ayo bereskan penampilanmu " Merasa sudah tau siapa yang datang Delina langsung membereskan rambut Veln yang sebenarnya tak kusut dan mengebas-ngebaskan pakaian Veln yang sudah rapih dan bersih.


Delina buru-buru membukakan pintu diikuti Virina dan Veln berdiri dibelakangnya. Terlihat juragan Seno berdiri dengan seorang kaki tangan dan beberapa anak buahnya.


Tak butuh waktu lama mereka pun sudah berkumpul diruang tamu yang tak begitu luas itu, kecuali anak buah juragan Seno. Mereka masih setia menunggu tuannya sambil berdiri diteras rumah.


Seperti biasa Ibu dan putrinya itu cengangas cengenges salah tingkah menghadapi juragan Seno. Tak seperti Veln yang terlihat tenang sembari menyunggingkan senyum tulus kearah juragan dan kaki tangannya itu.


" Seperti biasa juragan, saya mengucapkan terimakasih banyak kepada juragan Seno karena sudah mau memberi waktu tambahan untuk saya. Dan mau memberikan waktu juga untuk keponakan tercantik saya, untuk memikirkan mengenai pinangan itu.. hee " Sembari cengar-cengir nggak jelas Mbak Del membuka obrolan.


" Iya.. iya iya, bukan masalah besar buat saya. Tidak apa-apa, tidak perlu berterima kasih seperti itu " Ucapan Mbak Del ditanggapi kalem oleh juragan Seno.


" Baik lah jadi bagaimana keputusannya? " Juragan Seno memastikan. Iya memastikan apakah sertifikat rumah itu ditukar dengan menerima pinangannya atau dengan pengembalian dengan bentuk uang atau apapun yang setara dengan jumlah uang yang dipinjam Delina. Juragan Seno memerintahkan kaki tangannya untuk mengeluarkan sertifikat rumah itu dan meletakkannya dimeja, seketika mata Delina dan Virina melotot kearah lembaran surat penting itu. Berasa ingin segera mengambil dan menyimpannya ketempat semestinya.


"Tentu juragan, keponakan saya sendiri nanti yang akan menjawabnya " Sembari melirik kearah Veln mengkode.


" Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih buat juragan Seno yang baik, yang sudah mau berkenan meminjamkan uang untuk Mbak Del " Dengan menyelipkan senyum kearah juragan Seno.


" Iya.. iya ya " Dengan ge-er dan percaya diri juragan Seno merespon ucapan Veln.


" Dan saya harap juga setelah ini kita bisa menjalin hubungan dengan lebih baik dan akrab lagi "


" Tentu.. tentu " Juragan Seno meng ia kan ucapan Veln, Mbak Del dan Virina pun tak kalah cepat memberi tanda setujunya dengan manggut-manggut sembari cengengesan.


" Kalau begitu saya permisi masuk kedalam dulu sebentar "


Tak lama Veln kembali dengan menenteng sebuah amplop cokelat yang menggembung dan mendudukkan kembali dikursi semula.


" Silakan juragan dihitung dulu, ini sudah sesuai dengan nominal yang Mbak Del pinjam dulu kepada juragan " Veln menyodorkan amplop cokelat itu kearah juragan Seno dan kaki tangannya.


Seketika wajah juragan Seno berubah. Seakan tak percaya mendapatkan penolakan atas pinangannya itu, tangannya spontan mengelap dahi yang sama sekali tak berkeringat sembari berusaha untuk legowo dan menenangkan emosinya.


Sementara raut wajah Mbak Del dan Virina sudah tidak bisa diceritakan lagi ekspresinya, merah menyala seperti kobaran api yang siap melahap tubuh Veln hidup-hidup.


" Maaf juragan sepertinya ada kesalah pahaman disini " Sembari menahan amarahnya Delina berusaha menetralkan suasana.


" Tidak apa-apa Nyonya Del. Saya tidak memaksa, yang terpenting sekarang yang menjadi milik saya sudah kembali " Rupanya juragan Seno termasuk orang yang baik dan bukan tipe-tipe orang yang suka memaksakan kehendak.


" Terimakasih juragan, atas pengertiannya " Tak lupa Veln mengakhiri ucapannya dengan memberikan senyum semanis mungkin.


" Baiklah, sebelumnya silakan dihitung terlebih dahulu " Pinta Veln.


Tanpa komando sikaki tangan itu pun langsung menyaut amplop coklat itu dan menghitung lembaran-lembaran rupiah dengan begitu teliti.


" Jumlahnya tepat 50 juta juragan, berarti belum termasuk bunga 20% nya " Si kaki tangan memberi tau juragannya.


Mendengar kata bunga Veln pun kembali mengangkat tubuhnya untuk berdiri.


" O iya sebentar " Bukannya kembali masuk kekamarnya, Veln malah menuju pintu arah keluar. Tak butuh waktu lama dia kembali.


" Silakan juragan, ini bunga dari hutang yang dipinjam Mbak Del. Juragan bisa menyimpannya sebagai kenang-kenangan "


Raut wajah Delina kini sudah tak terkontrol lagi, ingin rasanya dia menjambak rambut dan menyiram muka Veln dengan air. Beribu penyesalan pun hinggap dibenak Delina dan Virina yang sudah mau repot-repot memaskeri Veln tengah malam tadi. Namun niatnya diurungkan ketika mendengar gelak tawa juragan Seno.


" Huahahaa " Juragan Seno bukannya marah malah tertawa lepas bahagia ketika mendapatkan setangkai bunga mawar merah segar dari Veln.


Bunga 20% itu ditukar dengan setangkai mawar merah segar yang Veln ambil dari pekarangan depan.


Buat para Readernya mohon maaf ya jika novelku masih jauh dari kata sempurna karena ini masih dalam tahap pembelajaran.

__ADS_1


Mohon dukungan like dan commentnya agar supaya dapat membantu semangatku untuk menulis cerita selanjutnya.Terima Kasih.


Bersambung...


__ADS_2