
Kerongkongannya yang terasa kering, membuat Nina melangkahkan kakinya kearah dapur.
Perempuan itu menuang segelas air dari dalam teko kesebuah gelas bening, setelahnya Nina duduk disalah satu kursi meja makan dan segera meneguknya hingga kandas.
Fenina menolehkan wajahnya kebelakang saat mendengar langkah kaki seseorang yang terdengar mendekat kearahnya.
" Ayah " Rupanya Dudilah yang menghampiri Fenina. " Ayah, belum tidur? "
" Iya, Ayah belum mengantuk. Rey sudah pulang, nak? " Pria tua itu ikut mendudukkan dirinya disalah satu kursi meja makan.
" Sudah, Yah "
Kemudian terdengar kekehan kecil dari mulut Ayah Nina " Anak itu luar biasa Nin, dia tau bagaimana caranya mendapatkan sesuatu dengan tetap hormat dan sopan "
" Apa telah terjadi sesuatu tanpa sepengetahuanku, Yah? " Dudi mengangguk, dan berniat menceritakan sesuatu hal yang sudah membuat hati putrinya mengganjal sedari tadi.
•••
Flashback
Siang itu, seorang pria setengah tua dengan dandanan amburadul seperti gembel dan tampilan rambut yang sudah sedikit menggondrong dengan jambang yang tumbuh tak beraturan mendatangi sebuah coffe shop untuk menemui seseorang.
Pria tua itu terlihat kebingungan begitu melewati pintu masuk, sampai pada akhirnya terlihat seorang pemuda menghampirinya.
" Hallo, Om. Selamat siang " Dialah Renand, pria muda yang dengan sengaja mengajak bertemu Om Dudi. Mereka saling bersalaman, setelahnya Renand langsung mengarahkan pria tua itu kesalah satu meja yang sedari tadi dirinya duduki saat menunggu kedatangan Dudi.
" Katakan, apa maksud dan tujuanmu ingin bertemu denganku? " Tanpa basa-basi, begitu mendaratkan tubuhnya pria tua itu langsung menghardik Renand.
Ada rasa terusik dalam diri laki-laki yang usianya jauh diatas Renand itu, saat ada seorang yang tidak dikenalnya tiba-tiba menginginkan berbincang lebih dalam dengannya.
Apalagi jika mengingat pertemuan pertama mereka, kondisinya sungguh sangat tidak menyenangkan untuk diingat.
Malam itu disebuah tempat judi, pria tua itu babak belur dan hampir mati mungkin, jika saja Renand tidak menolongnya.
Permainan judinya yang kalah, dengan banyaknya penagih hutang yang berdatangan membuat nasibnya sedikit naas malam itu. Bahkan kejadian itu nyaris membuat pria itu harus menandatangani sebuah kontrak yang salah satu isinya menyebutkan bahwa Dudi harus menyerahkan kedua putrinya sebagai pelunas hutang.
Disaat terdesak itulah, Renand yang sudah sejak lama mengamati tentang keluarga Fenina datang menolong pria itu. Renand membereskan hampir seluruh hutang Dudi terhadap para rentenir-rentenir yang pemuda itu ketahui. Renand juga sempat merawat pria tua itu dengan membawanya kerumah sakit.
Sampai diwaktu yang menurutnya sudah tepat, akhirnya siang itu Renand mengajak Dudi bertemu untuk mengungkapkan maksud dan tujuannya, sekaligus ingin mengenal lebih dekat dengan keluarga wanita incarannya.
" Saya, ingin menikahi Fenina, Om " Renand berbicara langsung keintinya. Terlihat raut wajah terkejut dari pria tua itu sejenak, kemudian terdengar tawa dari mulutnya tanpa diketahui maksudnya.
Setelahnya Dudi terdiam, dia menatap dalam kearah Renand dengan wajah penuh keseriusan " Memang, apa yang bisa kamu banggakan hingga berani menginginkan putriku? " Dengan nada sedikit tidak suka, Dudi seolah menantang Renand.
" Tidak ada Om. Mungkin, saya bukan seseorang yang diharapkan anda untuk dijadikan menantu. Tapi satu hal yang perlu Om tau, keseriusan. Saya memiliki keseriusan untuk menjalin hubungan dengan putri, Om " Kembali, Dudi mengeluarkan tawanya.
" Kamu pikir, saya akan membiarkan Nina menderita? Dengan membiarkan putriku hidup bersamamu? Bersama pria yang tidak memiliki apapun? " Tegas suara Dudi yang menyiratkan penolakan. " Sebagai orang tua, saya sudah gagal merawat dan memenuhi semua kebutuhan hidup putriku. Karena itu sebagai seorang Ayah, saya tidak akan sudi menyerahkan anakku begitu saja ketangan pria yang belum tentu bisa membahagiakannya " Laki-laki tua itu menatap Renand dengan sarkastik.
Renand terdiam sejenak, sembari menyusun kata yang tepat untuk diucapkan kepria tua dihadapannya.
__ADS_1
" Saya memang bukan keturunan Sultan, Om. Tapi saya punya penghasilan tetap yang cukup dan mampu untuk menghidupi Fenina "
" Kamu fikir disini hanya Fenina saja yang perlu kamu urus? Ada saya dan Revina yang menggantungkan hidup dipunggungnya " Terdengar makna memeras dari perkataan Dudi.
" Untuk hal itu, saya memiliki penawaran, Om "
" Kamu akan memberikan jaminan hidup terhadap kami? "
" Untuk itu sepertinya saya belum mampu, Om " Bukan hal yang sulit sebenarnya untuk Renand melakukannya. Tapi Renand memiliki cara lain yang lebih manusiawi untuk mensejahterakan keluarga Fenina.
" Jadi? " Tantang Dudi kembali.
" Saya hanya bisa membantu, Om dengan memberikan sebuah pekerjaan tetap "
" Maksudnya? "
Renand pun menjelaskan semuanya dengan pelan dan rinci. Berdasarkan pengalaman yang dimiliki Dudi dalam bisnis mini marketnya, tidak sulit bagi Renand untuk memberikan pria itu penghasilan dari hasil keringatnya sendiri. Berbekal dari kemurahan Ray yang mau ikut membantu dalam penyelesaian cinta adiknya semua berjalan sempurna. Hal yang mudah untuk Ray, jika hanya untuk menyiapkan sebuah jabatan yang sesuai dengan pengalaman untuk Ayah sambung Nina.
" Baiklah, saya akan menerima tawaran kamu untuk bekerja ditempat kenalanmu " Ucap Dudi dengan sedikit menyunggingkan senyum ramahnya. Renand bangkit dari kursinya dengan senyum tak kalah ramah dari lelaki tua dihadapannya.
" Terimakasih, Om " Ucap Renand tulus dengan menjabat tangan Dudi, Renand paham dengan persetujuan penawaran yang diberikannya terhadap Dudi secara otomatis berarti dirinya juga sekaligus mendapatkan restu dari Ayah Nina. Lalu pemuda itu memberikan pelukan hangat untuk pria tua dihadapannya. " Om, tapi saya memiliki sedikit masalah " Ucapnya lagi sedikit frustasi dengan kembali mendudukkan dirinya diatas kursi. Raut wajah Dudi yang sudah sedikit bersahabat mengerutkan keningnya. " Om, harus bantu saya "
" Maksud kamu? " Dudi semakin mengerutkan kening, bingung sekaligus penasaran dengan maksud pemuda dihadapannya.
" Bantu saya, Om. Bantu saya untuk mendapatkan hati Nina, hati putri, Om "
Toweweweeeeeeng..
" Sejujurnya, saya semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraanmu. Mungkin karena saya semakin hari sudah semakin menua kah? Sehingga tidak dapat mencerna obrolan lebih lanjut kita! " Nampak ketidak mengertian diwajah Dudi.
Renand hanya mampu tersenyum malu dan menggaruk tengkuknya, melihat aura lelaki tua yang nampak ketidak mengertian disana.
" Anu, Om " Renand cengengesan untuk menutupi rasa malunya. " Jadi gini.. Saya, memang menaroh hati terhadap putri, Om. Fenina juga keliatannya demikian. Namun, ada satu yang tidak dimengerti dari putri, Om. Meski terlihat jelas, bahwa cinta saya terbalas tapi sampai sekarang Fenina tetap pada pendiriannya untuk tidak mau menerima saya sebagai pacarnya " Renand tertawa canggung.
" Jadi, maksudnya diantara kalian belum ada hubungan apapun? " Renand mengangguk membenarkan.
" Karena, Nina bersih keras pada pendiriannya, Om. Untuk tidak mau menjalin hubungan dengan saya, saya sampai dibuat frustasi olehnya " Renand membuang nafas lelah. " Bahkan, hari-hari saya sampai dibuat sibuk hanya untuk mengejar-ngejar dirinya "
" Hahahaa " Seketika terdengar tawa dari Dudi, pria setengah tua itu merasa lucu dengan kondisi hubungan Nina putrinya dengan pemuda dihadapannya. " Ini salahku, Nak " Wajah pria itu seketika berubah sendu. Dudi mengerti dengan ketakutan Nina untuk menjalin hubungan dengan seorang pria, yang tak lain karena dirinya. Karena ulahnya yang selalu mencari kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dari setiap laki-laki yang ingin mendekati putrinya. " Kau bisa memanfaatkan kami, Saya dan Vina. Fenina akan melemah jika sudah menyangkut dengan diri kami. Katakan padanya bahwa hidup dan mati kami ada ditanganmu "
Dan berkat ide Dudi lah, akhirnya waktu itu Renand melakukan ancaman terhadap Fenina. Berbohong akan melempar adik kesayangannya kepanti asuhan dan memasukkan perempuan itu dan Ayahnya kepenjara. Setidaknya hal itu berhasil membuat Fenina mau untuk dijadikan pacarnya, meski dengan cara sedikit memaksa.
•••
Tiga jam sudah berlalu, dengan sangat terpaksa Renand harus mengakhiri pertemuan mereka karena ada sesuatu yang harus dirinya kerjakan.
Renand pun pamit undur diri, pemuda itu menyalami sopan dan hormat calon ayah mertuanya. Perlu diingat, itu jika mereka berjodoh.
Sebenarnya, Renand menawarkan diri untuk mengantar pulang pria yang jauh lebih tua darinya itu. Namun, Dudi menolak dengan halus. Dudi mengatakan bahwa dirinya masih ingin menikmati suasana hari ini dengan menikmati secangkir kopi ditempat ini.
__ADS_1
Dengan posisi duduk santainya, Dudi mengamati punggung tegap Renand yang semakin menjauh. Lalu dengan sadar, pria tua itu tersenyum penuh arti.
Keputusannya merestui pemuda ini dengan putrinya sudah sangat benar, sungguh dia akan sangat percaya dan tega menyerahkan Nina ketangan Renand jika memang mereka berjodoh.
Tidak ada alasan untuk Dudi meragu dan menentang hubungan mereka. Perlakuan Renand yang santun dan sopan, serta kesungguhan dari pemuda itu akan putrinya mampu membius Dudi. Ditambah lagi bibit, bebet, bobot dari pemuda itu memantapkan Dudi untuk menyerahkan Nina ketangan Renand. Dan satu hal penting yang membuat Dudi terkagum terhadap pemuda itu, yaitu sikap rendah hatinya. Setidaknya sampai dengan hari ini, Renand tidak menggunakan nama besar keluarga untuk mendapatkan keinginannya.
Mungkin, Renand pikir Dudi masih belum tau siapa dirinya. Namun pada kenyataannya, setelah malam naas itu pria tua itu dengan sengaja langsung mencari informasi mengenai pemuda yang sudah menolong dan menyelesaikan masalahnya. Awalnya, Dudi melakukan itu hanya untuk mengucapkan terimakasih, namun saat mendengar pemuda itu ternyata berasal dari keturunan Wiratama, Dudi langsung mengurungkan niatnya untuk menemui Renand karena merasa rendah diri.
Sampai suatu hari Renand kembali menemuinya, dan meminta Dudi untuk meluangkan waktu untuk mengobrol dengannya. Seperti yang baru saja dilakukan saat ini.
Alih-alih bersikap selayaknya seseorang yang tau terimakasih, Dudi lebih memilih bersikap garang.
Dia sengaja melakukan itu, karena Dudi merasa takut dan khawatir.. Dudi takut dan khawatir akan maksud dan tujuan pemuda itu menemuinya hanya untuk memintanya mengganti rugi atas uang yang sudah pemuda itu keluarkan untuknya.
Sama sekali tidak terlintas dipikiran Dudi, akan maksud Renand yang menginginkan putrinya. Karena, Dudi cukup tau diri.. Pria itu pikir, selera pemuda itu sudah dipastikan jauh diatas putrinya Fenina. Meski tak dipungkiri, putrinya memang cantik, cerdas, dan menarik. Pun banyak pria yang ingin mendekatinya, walau sebagian terlihat hanya untuk memuaskan rasa penasarannya terhadap Nina yang cuek.
Namun, Dudi tetap pada pemikirannya bahwa Fenina putrinya masih kalah jauh jika harus menjangkau level sekelas Renand. Tanpa diduga, nyatanya pesona Fenina mampu menembus ketingkat tertinggi setara Renand.
Flashback end
•••
Fenina terlihat serius mendengarkan penuturan Ayahnya, dia sendiri pun dibuat tidak percaya dengan tindakan yang dilakukan Renand. Hanya demi untuk mendapatkannya sampai sesungguh dan seserius ini.
" Nak " Dudi memandang lekat kearah putrinya. " Maafkan, Ayah. Yang sempat khilaf " Pria tua itu sejenak menghembuskan nafasnya. " Saat itu, Ayah terlalu terlarut dalam ketakutan. Takut untuk bangkit dan takut tidak dapat merawat kalian dengan benar, apalagi secara financial Ayah benar-benar sudah hancur " Rasa penuh penyesalan tersirat disana.
Karena alasan ingin melindungi, Dudi pun dengan sengaja menguras pundi rupiah dari pemuda-pemuda yang berusaha mendekati Nina. Dudi pikir dengan begitu mampu membuat anak-anak muda itu mundur teratur karena takut bangkrut.
Dudi tidak rela menyerahkan putrinya yang dalam keadaan melarat ketangan pemuda yang sok berdoit dan kaya.
Karena menurut pria tua itu, pemuda yang hanya mampu mengandalkan uang dalam hidupnya tidak akan pernah bisa menghargai wanita. Dan Dudi tidak rela jika putrinya sampai diposisi seperti itu.
Terkecuali Renand, pemuda itu memiliki cara tersendiri. Berbekal dari rasa penasaran atas penolakan cintanya terhadap Fenina, Renand mulai mencari tau semua yang menyangkut diri perempuan itu.
Termasuk mengenai Ayahnya yang tiba-tiba berubah tiga ratus enam puluh derajat dari kebiasaannya terdahulu. Dari situ lah, Renand tau bahwa alasan Fenina berkeras untuk tidak ingin menjalin hubungan dengannya atau siapapun yaitu karena ketakutan perempuan itu akan kelakuan baru Ayahnya yang agak kurang terpuji.
Akhirnya dengan strategi yang tepat, untuk mendapatkan Nina, Renand melakukan aksinya diawali dengan membereskan pokok utama permasalahannya yaitu dimulai dengan mendekati Ayahnya.
" Nina sudah memaafkan Ayah. Yah, Nina juga minta maaf sama Ayah. Nina juga banyak salah sama Ayah. Emmm.. " Sejenak terdengar keraguan dari kata yang ingin diucapkan gadis itu. " Yah, mari kita mulai dari awal. Nina bisa terima dengan kondisi financial kita yang tidak seperti dulu, asal kita bisa tetap hidup berdampingan seperti dulu " Dudi mengangguk dengan mengusap sebelah bahu putrinya.
" Nin, Renand pemuda yang baik, Ayah merestui kalian. Jinaklah sedikit didepannya, Ayah sedikit khawatir jika kamu terlalu galak padanya pria itu akan kabur dan melarikan diri " Terdengar kekehan diakhir kalimat dari dua orang itu. " Berkat Renand, kita juga tidak perlu khawatir mengenai keadaan financial kita. Pemuda itu benar-benar luar biasa. Dia sudah begitu matang merancang masa depan untuk kita "
Dudi juga menjelaskan pada putrinya alasannya belakang ini genjar dan sering menghubungi Nina yaitu hanya untuk membahas perihal Renand agar saat malam ini tiba putrinya tidak sampai terkejut dengan kondisi hubungan mereka. Namun gagal, karena rasa ketakutan Nina yang berlebihan. Beruntung saat ini semuanya sudah kembali normal.
Dihati terdalamnya, perempuan itu berjanji jika Renandnya masih menginginkan dirinya dengan senang hati perempuan itu akan bersikap manis dan menjadi wanita penurut sesuai yang diinginkan Renand.
.
.
__ADS_1
.
Hi.. Maaf slow up ya, baca juga novel kedua author Menggoda. Tks.😙