Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
91. Happy Ending


__ADS_3

Ray dan Veln bersiap menuju rumah kediaman utama Wiratama, mereka hendak bergabung bersama Ley dan yang lainnya. Ley sudah lebih dulu berada disana, sudah dibawa Renand terlebih dahulu beberapa jam yang lalu.


Hari libur ini benar-benar akan mereka manfaatkan untuk berkumpul keluarga, apalagi acara seperti ini yang paling ditunggu oleh Ley. Ley begitu sangat senang dan bersemangat ketika banyak yang menemaninya untuk bermain, mungkin karena itulah bocah itu dapat dengan cepat beradaptasi dengan yang lainnya.


Ditambah lagi anak itu merasakan jadi yang tersayang dan paling yang disayangi.. Dia juga sangat senang merasa jadi rebutan, sangat menikmatinya saat jadi pusat perhatian dari orang-orang yang lebih dewasa darinya.


" Maaamiiii.. Paapiii " Suara khasnya melengking dari kejauhan saat melihat kedatangan kedua orang tuanya.


Ley menghambur kearah mereka dengan berlari kecil penuh semangat yang disambut senyum bahagia mengembang dari pasangan serasi yang selalu terlihat cantik dan tampan itu.


" Aaaa, Om Reeeeey turunkan turunkaaaan.. Mamiii.. Papiii " Ley berteriak protes, saat dirinya hendak sampai.. tinggal sejengkal lagi dapat memeluk orang tuanya tiba-tiba Renand menyambar tubuhnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu dinaik turunkannya tubuh kecil itu hingga berkali-kali. " Ahahahaa " Ruangan itu mendadak meledak dengan tawa menyaksikan tingkah pola lucu dan mulut comel Ley.


" Jawab dulu, gantengan Papi atau Om Rey " Ujar Renand menggoda.


Dan saat simulut mungil itu menjawab Papinya maka Renand akan menaikan tubuh Ley, namun saat anak itu menjawab sebaliknya maka tubuh Ley akan disejajarkan dengan wajahnya yang siap untuk menciumi bagian perut anak itu hingga naik keseluruh wajahnya.


" Sudah, sudah.. apa kalian tidak lapar? ini sudah waktunya makan siang " Sela Mami Rosa merasa kasihan terhadap cucunya yang sedari tadi tak henti-hentinya diuwes-uwes dua anaknya. " Ayo sayang, ikut nenek " Mami Rosa menggandeng Ley yang sudah terbebas dari perangkap putra bungsunya dan menuntun tubuh kecil itu menuju meja makan.


Hari itu mereka menikmati makan siang mereka dengan sangat lahap dan penuh kehangatan.


Setelahnya, mereka berkumpul diruang keluarga mengobrol sambil diselingi menggoda Ray junior.


" Rosi bagaimana perkembangan hubungan kalian? " Sudah jelas tentu ada rasa penasaran difikiran Veln saat melihat sekertaris Sam pun ada disana ikut serta dalam acara kumpul keluarga mereka. Sudah menikah kah? Rosi hanya tersenyum hingga membuat mata Veln berbalik kearah sekertaris Sam. " Apa kalian sudah menikah? "


" Belum " Bukan Rosi yang menjawab, bukan pula sekertaris Sam tapi Ray yang menjawab.


" Belum? " Veln sedikit terkejut. " Samsul, kenapa kau begitu sangat lambat jika berurusan dengan Rosi? dengan perintah tuan mu saja kau begitu gesit dan cepat.. harus anda tau satu hal, bahwa perempuan itu butuh kepastian " Hardik Veln terhadap sekertaris Sam.


" Sayaang jaga mulut mu, kalau kau tidak ingin dicium didepan umum " Ucap Ray seolah memberi peringatan. " Belakangan, Sam terlalu sibuk memikirkan aku yang ditinggal pergi oleh mu.. oleh kalian " Menunjuk wanitanya dan Ley yang sedang disibukkan menginjak-injak tubuh tegap Renand yang tiduran tengkurab diatas sofa.


Jangan tanyakan ekspresi perempuan ayu itu, sudah pasti sorot merasa bersalah tergambar jelas disana.


" Lagi pula siapa yang kau sebut Samsul itu? Kau harus membuat acara syukuran jika ingin mengganti nama seseorang " Ucapan Ray membuat yang lain menyungging senyum, tentu minus Veln dan Ley yang sama sekali tak memahami obrolan para orang dewasa, anak itu masih asik dan fokus dengan tubuh bagian belakang Om gantengnya.


Veln menyengir kuda " Sam.. " Perempuan itu sedikit berfikir. " Kalau bukan Samsul? lalu siapa? " Kedua matanya berkeliling menatap kedua mata semua orang yang masih dapat dijangkau meminta jawaban.


" Risam " Jawab seluruh orang yang ada diruangan itu dengan serentak.


" Ya ampun, maafkan saya sekertaris Sam.. em, Risam " Veln terkekeh, lalu tersenyum malu. " Jadi kapan kau akan menikahi Rosi? "


Kembali ketopik semula, karena sepertinya Veln ingin menebus waktu Sam yang terbuang sia-sia hanya untuk memikirkan kondisi keluarga kecilnya.


" Kak V, jangan seperti ini " Wajah Rosi merona menahan malu, tapi didalam sana merasakan bahagia yang tiada tara karena akhirnya keinginan hati untuk memperjelas hubungan dan status cintanya kini dapat terwakilkan.


" Jangan pura-pura Kak, kau senangkan? keinginan hati mu merasa terwakilkan? "


Mami Rosi menepuk pundak putra sulungnya pelan, yang kebetulan duduk dipinggiran sofa. Berbagi dengan tubuh Renand yang tengkurap disana, sembari menjaga Ley yang masih sibuk berjalan mondar-mandir dibelakang tubuh Renand. " Jangan memancing " Ujar Mami Rosa memberi peringatan untuk Rey, agar tak memunculkan keributan.


" Maaf Sam, karena aku sudah banyak menyita waktu mu " Ray menatap lekat Sam.


" Itu sudah tugas saya tuan "


Ray tersenyum lalu mempertegas maksudnya. " Jadi, apa kau serius dengan Rosi? "


" Iya " Sam mengangguk mantap, membuat semuanya mengembang senyum, terkhusus Rosi.. wajahnya sudah full dengan binar bahagia.


" Kalau begitu segera perjelas hubungan kalian "


" Kak Ray, kami sudah sepakat untuk bertunangan terlebih dahulu " Rosi menyambar dengan penuh semangat.


Bluuugt..


Renand melempar bantal sofa kearah kakak perempuannya, sembari beranjak bangkit untuk duduk dan menarik Ley dalam pangkuannya. " Kau benar-benar sudah gatal ya Kak, yang sedang diinterogasi itu kan sekertaris Sam.. kenapa kau yang menjawab dengan begitu semangat? "


" Om Rey, tidak boleh nakal " Cletuk Ley dengan wajah polos namun penuh protes, yang membuat semua orang diruangan itu tertawa.


Dan keputusan terpenting dalam hubungan Rosi dan sekertaris Risam pun kini sudah jelas, mereka semua sepakat untuk melakukan pertunangan terlebih dahulu.


Untuk Renand masih belum jelas statusnya, sementara Om ganteng itu masih menyandang sebagai jomblo. Entah, karena masih belum menemukan tambatan hati? atau sengaja masih menyembunyikannya hingga menunggu waktu yang tepat untuk diperkenalkan kepada keluarga besarnya.


○○○


Pagi-pagi buta terdengar suara pintu kamar utama yang diketuk dengan begitu kencangnya, dengan diiringi suara teriakan khas anak kecil.

__ADS_1


" Maamiii.. Paapiii, bukaaaaa " Suara Ley benar-benar terdengar nyaring dan menggema dengan diiringi bunyi gedoran pintu kayu.


Veln yang sudah terbangun namun masih meringkuk diatas kasur sembari berbincang dengan Ray, terpaksa harus bangkit dan bangun.


" Ray " Protesnya, manakala hendak turun dari ranjang untuk menghampiri putranya harus tertahan gerakannya karena tarikan tangan suaminya.


" Biar saja " Ray malah menarik tubuh istrinya lebih dalam lagi hingga menuju ketengah kasur kembali.


" Maamiiii.. tok tok tok, bukaa Mamii " Teriak anak itu penuh semangat tanpa putus asa.


" Ray.. ih, kamu mah " Protes Veln saat dirinya sudah dalam posisi duduk kembali dengan lengan panjang Ray melingkar diperutnya.


" Ya ampun, kenapa suara anak itu berisik sekali " Ujar Ray. " Suaranya lebih nyaring dari runtuhan panci didapur, ha ha haa " Tawa Ray menyeruak diakhir kalimat.


Veln menabok pelan lengan suaminya " Tidakkah kau merasa kasihan terhadap putra mu? yang sudah teriak-teriak sedari tadi "


" Nanti juga dia akan masuk sendiri dan akan mengganggu kita disini dengan gerakan lincah plus suara lengkingannya " Sejenak Ray terkekeh. " Aku tidak mengunci kembali pintu kamar kita sehabis mengambil air minum dibawah " Terang Ray.


" Kau ini kenapa begitu tega sekali terhadap putra mu.. aakh " Veln seketika menjerit kaget saat tangan Ray menyambar tubuhnya untuk kembali dibaringkan diatas tempat tidur berbarengan dengan suara decitan pintu.


Dan..


Bluuuuug.


Ray langsung menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya dan Veln dengan rapat. Tentu Veln langsung meronta, apalagi dirinya menyadari kedatangan putra kecilnya.


" Tetap diam " Ujar Ray.


" Jangan keterlaluan " Protes Veln.


" Diam.. pejamkan matamu " Perintah Ray.


" Tidak mau, lepas.. aku mau menyambut Ley " Bantah Veln.


" Menurutlah " Ray berbisik dan meniupkan udara ditelinga Veln, membuat perempuan itu begidik kegelian.


Tap tap tap..


" Maamiii.. Papiii " Mendengar mulut brisik anak itu membuat Ray bergerak cepat dibawah selimut sana. Ray melebarkan telapak tangannya dan menutup paksa mata Veln agar terpejam.


" Bangun Mami " Ucap Ley yang sudah berdiri disamping tempat tidur kedua orang tuanya. " Papi " Ley menggoyang-goyangkan salah satu tubuh yang tertutup dibawah selimut. " Mamii.. Papii.. banguuun " Suaranya agak sedikit dinaikkan, sedikit melengking manja. Namun karena sama sekali tidak ada respon Ley mencoba untuk menarik selimut yang ditahan oleh tangan Ayahnya, sehingga jelas usahanya sia-sia.


Akalnya terus berfikir, hingga membuat usahanya tak berhenti sampai disitu.. " Aha.. " Gumamnya dengan tersenyum. Ley menaiki tempat tidur dan berjalan sembarang menaiki tubuh Ray, membuat Ray pun sigap.. memilih untuk melepas cengkeraman selimut dan segera melingkarkan lengannya ditubuh Veln yang hendak dilewati telapak kecil anak itu. Tau kenapa? sudah tentu untuk menghindari tubuh istrinya agat tidak terinjak langsung oleh putranya. Sungguh sweet bukan? hee..


Ley melewati kedua orang tuanya, dan mengguncang-guncang kembali tubuh yang masih setia berada dibawah selimut itu.


" Bangun Mami.. bangun Papi " Dengan terus menggoyang-goyangkan tubuh itu penuh tenaga. Veln yang merasa geli akibat ulah putranya nyaris terkekeh, namun tertahan oleh telapak Ray.


Akhirnya untuk kedua kalinya Ley mencoba peruntungannya kembali dengan menarik selimut dan membukanya.. berhasil, Ley tertawa senang sembari menatap tubuh kedua orang tuanya.


" Mami bangun " Menyingkirkan telapak tangan Ayahnya yang menutupi sebagian wajah Ibunya, dan mulutnya menciumi seluruh rupa ayu milik Veln dengan terus berkata Mami bangun hingga berkali-kali. Merasa tak dapat respon Ley beralih mencubiti lengan Ray yang melingkar ditubuh Veln dengan berkata-kata " Papi.. Papi bangun " Ujarnya meredup merasa frustasi.


Ley pun beranjak berdiri dengan perasaan kecewa dan hal tak terduga untuk membangunkan kedua orang tuanya dia lakukan. Ley membantingkan diri dengan sembarang ketubuh kedua orang tuanya.


" Akh.. " Jerit Veln pelan, terkaget akibat ulah anaknya. Ray pun langsung membuka mata.. mereka saling pandang bergantian. Dengan wajah polosnya, Ley melihat kearah Papinya sebentar lalu berpindah menatap Veln. Kemudian giliran Ray dan Veln bertemu tatap dan senyum menyeringai keluar dari sudut bibir keduanya. Tanpa aba-aba Ray dan Veln langsung menyerang putranya secara bersamaan, dengan menggelitik seluruh tubuh anak itu dan menciuminya dengan rakus.


Pecahlah tawa bahagia diruangan itu, semuanya terkekeh lepas. Hingga membuat Ley tersengal mengatur nafasnya akibat terpingkal-pingkal karena ulah kedua orang tuanya.


○○○


" Sudah siap boy? " Tanya Ray setelah memasukkan koper kedalam mobil seusai sarapan.


" Emm " Jawab Ley dengan anggukan tegasnya, lalu sedetik kemudian tubuh mungil itu sudah berada dalam gendongan Ray.


Ray mengelus lembut pipi Veln dengan mengulas senyum. " Aku akan meminta maaf langsung dan meminta ulang putrinya untuk bersama ku selamanya " Veln membalas senyuman Ray, setelah pria itu menyelesaikan kecupan dikeningnya.


" Terimakasih, Ray "


" Tidak perlu berterimakasih V, sudah seharusnya aku melakukan itu " Ray pun membuka pintu mobil dan mempersilahkan Veln untuk masuk, tak lupa lengannya dia persiapkan untuk istrinya agar tak terbentur penyangga pintu mobil. Setelah itu dirinya meletakkan putranya Ley dipangkuan Veln.


Roda empat itu kini sudah bergabung dengan kendaraan lainnya menyusuri jalanan, kampung kelahiran perempuan ayu yang sedang duduk dengan memangku putra tampan nan lucunya tujuan utama mereka.


○○○

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya mereka sampai. Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak dihotel, meluruskan tubuh dan merenggangkan otot-otot yang sedari tadi ditengkuk.


Satu setengah jam berlalu, begitu rasa lelah menghilang dan perut sudah terisi dengan sempurna mereka memutuskan untuk berziarah kemakam kedua orang tua Veln.


Ray tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf dengan penuh penyesalan dihadapan pusara Ayah dan Ibu mertuanya. Ray juga meminta restu kembali untuk mengambil dan membahagiakan putri mereka. Dan satu bagian pokok terpenting yaitu memperkenalkan cucu kecil mereka, Ley.


Cukup lama mereka berada disana, hingga doa terakhir terucap sebagai penutup. Kemudian mereka pun bangkit meninggalkan tempat itu.


Tak lupa keluarga kecil itu pun menyempatkan diri untuk mampir kerumah Mbak Del dan Virina yang rupanya sudah berstatus menjadi seorang istri Mas Rega tersayangnya.


Dua tahun yang lalu Virina melepas masa lajangnya, dan kini dia sedang berbadan dua.. mengandung buah cinta hasil pernikahannya.


Cukup lama Ray dan Veln bersama putranya berbincang-bincang disana bersama Mbak Del, Virina dan Mas Rega yang kebetulan berada dirumah.


Hingga hampir memasuki senja, mereka pamit undur diri dan langsung mengarah ketempat tujuan kedua yaitu kerumah Tante Susan dan Om Aldo.


Disana mereka semua berkumpul dengan begitu heboh, apa lagi dengan keberadaan anak sambung dari Denis yang usianya lebih tua dari Ley.. mampu membuat Ley semakin betah berlama-lama bermain disana.


Dua putra dari pasangan Om Aldo dan Tante susan sudah tak berstatus jomblo lagi, mereka berdua sudah menikah.


Satu tahun yang lalu Denis menikahi Mitha, janda cantik beranak satu. Adik perempuan Tomi yang merupakan sahabat Ray. Sementara Danis, baru enam bulan yang lalu melepas masa lajangnya dengan seorang wanita yang tak kalah cantik dari Mitha. Dia lah Yasmin, seorang janda kembang yang kecentilannya tak dapat diragukan lagi.


Nampaknya duo D ini seolah sedang menunjukkan kekompakkannya dengan cara memilih menikahi seorang wanita yang sama-sama sudah pernah menikah, tak ada yang salah bukan dengan itu? selama mereka dapat menjalaninya dengan nyaman dan bahagia.


○○○


" Mami, Ley mau adik bayi " Celoteh Ley diatas kasur saat dirinya sedang dibelai sayang oleh Veln untuk ditidurkan. Sepertinya Ley terpengaruh dengan perut besar Virina dan Mitha yang berisi adik bayi.


Mendengar itu senyum manis perempuan ayu itu langsung mengembang, merasa geli dengan ucapan putranya. " Hem " Veln menganggukkan kepala menyetujui ucapan putranya, namun tak sama sekali membuat Ley tenang.


" Apa besok sudah bisa ada diperut Mami? " Wajah Ley mengkerut dengan melontarkan pertanyaan polosnya.


" Emmm, tidak secepat itu sayang. Tidurlah sudah malam.. besok baru kita bicarakan lagi tentang adik bayi " Ley mendesah kecewa, membuat Ray yang sedari tadi memperhatikan menjadi gatal ingin bergabung.


" Boy, Papi akan memberikan mu adik bayi dengan segera " Ucap Ray dengan penuh keyakinan. Ray ikut merangkat naik diatas kasur, mencium putra tersayangnya lalu beralih memeluk tubuh Veln. " Karena itu secepatnya kau harus tidur agar tak mengganggu proses pembuatan adik bayi " Dipenghujung kalimat, Ray terkekeh.


" Ray " Veln menyikut tubuh Ray tanda protes.


" Akhh " Ray mendesah, berpura-pura kesakitan karena Veln melakukan penganiyayaan itu memang tidak dengan sekuat tenaga.


" Benar? Papi akan memberikan adik bayi dengan segera? " Ley mendudukkan tubuhnya, meminta kepastian.


" Hem, karena itu segeralah kau tidur boy. Karena Papi dan Mami butuh konsentrasi penuh untuk membuatnya "


" Ok Papi, ok Mami.. selamat bekerja "


" Astaga " Veln menggeleng-gelengkan kepala mendengarkan obrolan dua orang itu. Selang beberapa menit Ley pun sudah terbuai dialam mimpi.


" Bagaimana V sayaang.. kau sudah siap? " Ray berbisik dan meniup pelan udara ditelinga sana, mulai menggoda-goda wanitanya.


" Ray, kau benar-benar akan melakukannya? "


" Tentu saja, demi keinginan putra kita.. dan keinginan ku juga haa haa haa " Tawa lepas Ray menyeruak diruangan itu.


Dan.. tanpa menunggu lama, Ray pun memulai dengan memberikan serangan-serangan lembutnya.


" Tunggu Ray.. ada yang ingin aku beri tahu terlebih dahulu kepadamu " Veln menghela nafas, sementara wajah Ray nampak menunggu untuk mendengarkan istrinya berbicara lebih lanjut. " Waktu itu, saat aku melahirkan Ley.. aku sekalian meminta dokter untuk memasangkan alat kontrasepsi dalam jangka panjang " Kini wajah Ray yang biasa, berubah menjadi memerah menahan kecewa atas keputusan yang Veln buat tanpa berunding dengannya dulu. " Itu suatu bentuk antisipasi manakala aku gagal kabur dari mu waktu itu, karena aku berfikir saat itu kondisi hubungan kita sedang tidak baik jadi aku tidak mau melewati kehamilan kedua dalam keadaan yang tidak menyenangkan seperti saat aku mengandung Ley "


Wajah Ray berubah mengerti " Tidak apa, itu bukan masalah " Ray mengecup kening Veln. " Kau bisa melepasnya kapan saja bukan? saat kau sudah benar-benar siap untuk memberikan adik bayi untuk Ley "


Mereka pun saling melempar senyum, dan pada akhirnya yang terjadi-terjadilah.. saling memberikan kebahagiaan dan saling menunjukkan rasa sayang dan cinta mereka.


Mereka berharap hingga diujung kehidupan keharmonisan selalu terpancar, tak ada lagi tangis kesedihan.. yang ada harus beribu kebahagiaan.


Dan..


.


.


.


Selesai.

__ADS_1


Hallo, author ucapin banyak terimakasih buat kalian yang selalu setia membaca novel author yang masih jauh dari kata sempurna ini.


Tunggu karya novel terbaru author ya.. love you,😙.


__ADS_2