Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
21.Perjalanan


__ADS_3

Setelah selesai membayar dua porsi ketoprak yang sudah habis dimakan dan hanya menyisakan piring beserta sendoknya mereka kembali kedalam mobil.


Pak Yan bersiap untuk melajukan mobilnya keluar dari area parkir dengan menyalakan terlebih dahulu mesinnya. Mereka pun berlalu meninggalkan tempat itu.


" Sam, apa kita akan terlambat? " Ray memastikan dengan membetulkan posisi duduknya ke yang lebih santai. Kedua kakinya dislonjorkan kebawah dengan memlorotkan sedikit pantatnya, punggung dan kepalanya disandarkan kesandaran kursi dengan mata yang memandang Veln yang sedang dengan tidak sabaran menunggu jawaban sekertaris Sam dengan perasaan bersalah dengan mata yang bergantian memandang kearah Ray dan sekertaris Sam.


" Tidak tuan, anda tidak perlu khawatir " Jawaban sekertaris Sam begitu menenangkan Veln, yang sekarang dapat bernafas dengan lega.


" Sekarang kau bisa duduk dengan tenang " Ray menyadari kegusaran Veln sedari tadi. Kini Veln pun dapat duduk dengan tenang sembari menatap keluar lewat jendela kaca mobil. Sesekali mulutnya menguap merasakan kantuk yang masih bisa dia tahan.


" Silakan Nona, ambilah untuk menemani perjalanan anda " Sam mengulurkan dua kantung kresek kearah Veln, dan Veln pun mengambil alih kresek-kresek tersebut yang ternyata satu kantung berisi minuman dan satu kantungnya lagi berisi camilan.


" Terima kasih sekertaris Sam " Ucap Veln berterima kasih lalu memangku kedua kresek tersebut.


" Tuan, ada beberapa email penting masuk dari beberapa klien yang akan melakukan kerjasama dengan perusahaan kita. Apa anda ingin membacanya sekarang? " Ray menganggukkan kepalanya dan membenarkan kembali duduknya dengan tegak. Sam mengulurkan sebuah laptop dan segera Ray mengambil alihnya.


Perusahaan? Jadi boss ini seorang pekerja kantoran? membatin sembari memperhatikan kedua anak manusia itu yang sedang mengobrolkan sesuatu yang penting mengenai proyek kerja sama, yang sama sekali tidak dimengerti baik oleh Veln atau pun Pak Yan.


Veln mengambil satu botol air mineral disalah satu kresek yang berisi minuman, kedua tangannya sibuk membuka penutupnya. Setelah penutupnya terbuka, Veln mengulurkan botol air mineral itu kearah Ray yang matanya masih sibuk menatap layar laptop sembari terbatuk-batuk kecil. Ray mengambil alih botol dan dengan segera meminum isinya. Setelah dirasa cukup menyegarkan tenggorokannya Ray mengembalikan botol tersebut kearah istrinya, dan Veln menyimpannya kembali ketempat semula.


Cuaca saat itu yang cerah tiba-tiba berubah menjadi mendung, awan yang tadinya berwarna biru cerah berubah menjadi kelabu dan gelap. Suasana menjadi terasa lebih adem membuat Veln semakin sering menguap karena rasa ngantuk yang mendera sampai kedua kelopak matanya berair.


" Kemarilah " Veln langsung menatap curiga kearah Ray.


" Kenapa? " Tanpa sama sekali menggeser posisi duduknya.


" Mendekatlah, bantu aku " Ucap Ray seperti meyakinkan tidak akan ada hal aneh yang akan terjadi. Veln pun memindahkan dua kantung kresek kesampingnya yang sedari tadi dipangku. Belum sempat menggeserkan tubuhnya lebih dekat, Ray keburu menarik lengan Veln mendekatkan kearahnya membuat Veln reflek menepis tangan Ray dengan kasar.


" Kau ini dasar mesum " Dengan nada mencolot.


" Kau yang mesum " Balas Ray santai.


" Kau.. jelas-jelas kau yang mesum " Veln tidak mau kalah.


" Otak mu yang mesum " Sembari menutup layar laptopnya.


" Jelas, aku tidak melakukan apa pun terhadap mu " Ray menatap lekat kearah Veln. Dan keributan kecil itu membuat Sam menengokkan kepalanya sebentar, sementara Pak Yan mengamati kedua majikannya lewat kaca sepion.


" Kau menarik lengan ku dengan paksa, masih berani mengatakan tidak melakukan apa pun " Masih dengan suara emosinya.


Entah kenapa amarah Veln mendadak tidak terkendali saat itu.


" Sejak kapan hanya menarik lengan dikategorikan kedalam perbuatan mesum? " Masih dengan nada santainya belum terbawa oleh emosi Veln.


" Sejak saat ini.. dengar ya tuan muda Ray, jangan hanya karena uang 100 juta mu itu lalu kau menganggap ku sebagai perempuan murahan dan berani melecehkan aku. Menyentuh-nyentuh ku tanpa ijin, aku sungguh tidak menyukai itu " Dengan nada yang menggebu-gebu, Veln meluapkan emosinya yang datang tanpa alasan yang jelas. Raut wajah Ray sedikit terbawa arus emosi Veln, namun masih dapat dia tahan.


" Benar-benar gesrek otak perempuan satu ini " Sembari menahan geram dan menggelengkan kepalanya.


Bug


Tanpa ba bi bu Veln melemparkan sebotol air mineral kearah Ray dan mengenai pelipisnya, membuat Ray memelototkan matanya.

__ADS_1


" Kau ini kenapa hah? tiba-tiba meletup-letupkan emosi dengan alasan yang klise?kalau aku menganggap mu murahan mungkin hari ini kau tidak akan duduk disini sebagai Nona Ray " Sementara diruang kemudi terlihat Pak Yan dan sekertaris Sam hanya bisa saling pandang mendengarkan sesuatu yang terjadi dikursi belakang.


" Dan aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah mengungkit-ungkit soal uang 50 juta atau 100 juta itu. Aku sungguh tidak menyukainya "


Cih. Memang yang ada diotak perempuan ini hanya menganggap pernikahan ini sebagai sebatas pelunasan hutang saja rupanya.


" Satu lagi, kalau kau tidak suka disentuh pergilah, menjauhlah. Aku tidak suka dengan perempuan yang kasar seperti preman " Ray terbawa emosi, begitu juga dengan Veln mendengar dirinya disamakan dengan preman spontan Veln melemparkan satu kresek yang berisi minuman kearah Ray. Untung saja tangan Ray sigap menangkisnya.


" Baik, dengan senang hati tuan muda.. Ray " Dengan intonasi yang sedikit mengejek.


" Siapa juga yang sudi berdampingan dengan anda, yang tidak jelas asal usulnya " Dengan wajah yang merah padam tak kalah dari raut wajah Ray.


" Pak Yan, tolong hentikan mobilnya " Dengan suara kesalnya.


" Hentikan mobilnya Pak " Masih dengan nada kesalnya dan tak dihiraukan oleh Pak Yan.


" Pak "


" Jangan hiraukan perempuan gesrek ini. Lajukan mobilnya Pak "


Praaak


Terlihat berbagai bungkusan camilan berhamburan kemana-mana setelah satu kresek itu dilemparkan kearah Ray lagi.


" Cepat hentikan Pak " Namun tetap Pak Yan masih tidak menghiraukan permintaan Veln.


" Baiklah, kalau Pak Yan lebih bersekongkol dengan laki-laki jahat ini aku akan melompat secara paksa untuk keluar dari sini " Ancam Veln keras.


" Cepat, keluar lah " Setelah Pak Yan menghentikan mobilnya, Ray memerintah dengan intonasi mengusir. Veln pun dengan sigap membuka pintu mobil dan buru-buru keluar yang sebelumnya sempat menendang kantung kresek bekas menyimpan berbagai camilan kearah Ray dan menutup kembali pintu mobil dengan keras dan marah.


" Jalan Pak " Perintah Ray, namun Pak Yan ragu untuk mengemudikan kembali mobilnya.


" Tuan, apa anda tidak berlebihan memperlakukan Nona seperti ini? " Sam mengingatkan.


" Aku tidak melakukan apa pun, dia sendiri yang meminta jadi seperti ini " Sembari menyodorkan laptopnya kearah Sam.


" Ayo jalankan Pak.. kalian masih berpihak kepada ku kan? " Terrlihat seperti mendapatkan kartu kuning pertama buat Pak Yan dan Sam. Akhirnya dengan ragu Pak Yan melajukan kembali mobilnya.


○○○


Veln terlihat berdiri tegak menatap kesal mobil Ray yang melaju meninggalkannya dibahu jalan tol.


Saking kesalnya dia sampai berbalik arah untuk menghindari menatap mobil Ray yang benar-benar meninggalkannya, sembari otaknya berfikir keras apa yang harus dilakukannya sekarang.


Namun selang beberapa menit terdengar suara sekertaris Sam tanpa Veln sadari kapan tepatnya sekertaris Sam kembali dan berdiri dibelakangnya.


" Nona, mari.. kembalilah masuk kedalam mobil " Suara sekertaris Sam mengajak Nona mudanya masuk kedalam mobil yang membuat Veln membalikkan lagi tubuhnnya keposisi awal.


" Apa tuan muda mu yang menyuruhnya?katakan padanya untuk tidak usah khawatir dan iba kepada ku " Masih dengan suara emosinya.


" Sebaiknya Nona selesaikan pertengkarannya nanti, sekarang masuklah dulu kedalam mobil " Bujuk sekertaris Sam dengan begitu sabar.

__ADS_1


" Terimakasih sekertaris Sam, sebaiknya kau saja yang secepatnya kembali masuk kedalam mobil " Masih dengan keras kepalanya.


Kemudian Ray terlihat keluar dari dalam mobil menghampiri mereka berdua, karena sudah berfirasat kalau Sam pasti akan gagal membujuk perempuan ini.


Dengan langkah pasti Ray menghampiri dan mendekat kearah Veln yang terlihat memundurkan langkahnya menyadari kedatangan Ray. Dan tanpa negosiasi terlebih dahulu Ray langsung mengangkat Veln diatas bahunya, terlihat Veln memberontak memukul-mukul punggung Ray dengan kedua tangannya yang tak dihiraukan Ray.


Ray sedikit membanting mendaratkan tubuh Veln diatas kursi jok mobilnya. Dan sedikit membuat Veln terjengkang dan meringis kesakitan. Matanya menatap lekat tajam kearah istrinya dan dibalas tak kalah tajam oleh Veln sembari mengelus-elus sebelah bahu belakangnya yang terbentur pintu mobil.


Veln mengalihkan pandang kearah sandal yang jatuh terpelanting dibawah dan hendak meraihnya. Namun lagi-lagi Ray menarik lengan Veln dengan kencang dan cepat mendekatkan kearahnya tanpa ada perlawanan dari perempuan itu. Dan membenamkan wajah Veln didada bidangnya, tangan Ray memeluk erat tubuh istrinya dengan melingkarkan lengan dibahu Veln.


" Tidurlah " Ucap Ray lembut sembari mengelus-elus bagian kepala Veln dan menciumnya.


" Kau pasti lelah dan merasa pusing akibat kurang tidur semalam " Tak henti Ray menciumi puncak kepala Veln.


" Istirahatlah, untuk menggantikan waktu istitahat mu yang terhambat semalam " Bukannya tertidur malah terdengar suara isak tangis yang begitu sesenggukkan.


" Tidak apa-apa, luapkan sampai kau benar-benar puas " Suara tangis Veln pun pecah seketika tanpa mengganggu Sam atau Pak Yan yang sedang fokus melajukan kembali mobilnya tanpa harus dikomando.


Setelah dirasa puas dan merasakan lega didadanya Veln mengendurkan pelukan Ray dan mendongakkan wajahnya yang penuh air mata kewajah Ray. Ray mengusap air mata Veln lembut dan menyunggingkan senyum yang tidak mendapat balasan karena istrinya masih sibuk sesenggukan menuntaskan tangisnya.


Sekertaris Sam sigap mengulurkan sekotak tissu kearah Ray dan Ray memberikannya keperempuan yang trus Ray pandang lekat dan terlihat kalut.


Veln sibuk membersihkan sisa-sisa tangisannya dengan sesekali menatap raut wajah Ray, pandangan Veln lekat tertuju kepelipis Ray yang memerah. Tangannya reflek memegang pelipis Ray dan mengelusnya.


" Maaf.. maaf, maaf " Sembari membenamkan kembali wajahnya kedada bidang Ray.


" Itu pasti terasa sakit, maaf " Sembari menghirup sisa-sisa ingus dihidungnya.


" Tidurlah " Ray mengeratkan pelukannya. Veln justru berusaha mengendurkan pelukan Ray namun tak berhasil.


" Boss, biarkan aku membereskan minuman dan camilan lainnya kedalam kantung terlebih dahulu agar tidak terlihat berantakan " Veln mendongakkan kembali wajahnya kewajah Ray. Dengan senang hati Ray melepaskan pelukannya menuruti perkataan istrinya berharap agar tidak sampai merusak mood istrinya yang sudah lebih baikan.


Dengan sibuk Veln membereskan semua yang terlihat berantakan itu akibat ulahnya. Setelah selesai Veln meraih sepasang sandalnya untuk dikenakan kembali dikedua kakinya yang sempat terpelanting akibat tubuhnya yang dilempar oleh Ray dijok kursi mobil barusan.


Veln langsung membenamkan wajahnya kearah dada Ray dan memeluknya dengan melingkarkan tangannya kepinggang Ray tanpa diminta.


" Lepaskan " Ucap Ray yang mendapatkan penolakan dari Veln dengan menggelengkan kepalanya.


" Ayo lepaskan " Ulang Ray dengan tidak serius, Veln malah mengeratkan pelukannya.


" Dasar gesrek " Sembari menciumi puncak kepala Veln dan mengelusnya.


" Tidurlah " Tak butuh waktu lama akhirnya Veln pun terlelap dalam pelukan nyaman Ray diiringi rintikan hujan yang berjatuhan ditanah.


○○○


Jangan lupa like dan comentnya author tunggu ya..


Dan buat reader yang sudah memberikan like dan comentnya author ucapin banyak terimakasih.


Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan, panjang umur dan perlindungan oleh Tuhan YME.Amin.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2