
Diruang tamu itu masih terdengar obrolan antar dua keluarga, Setelah masing-masing dari mereka saling memperkenalkan diri.
Om Aldo dan Tante Susan pun langsung menyampaikan maksud dan tujuan mereka datang kerumah itu. Yaitu bermaksud untuk melamar dan menyunting keponakannya. Dengan perasaan bangga Paman Rian selaku wali dari Veln pun menyambut dengan baik dan ikut merasa senang dengan hal itu.
" Baiklah Bapak Rian dan jeng Del bagaimana kalau minggu depan kita adakan acara lamarannya, dan minggu berikutnya baru acara akadnya " Tante Susan langsung membicarakan kepoint pentingnya.
Jadi benar seperti yang sudah dia katakan sebelumnya, kalau dalam dua minggu ini akan diadakan acara pernikahan?! dan siapa sebenarnya tante Susan dan om Aldo ini? apa ini orang suruhannya untuk berpura-pura jadi om dan tante bohongan? Ya ampuuuuun, sebenarnya aku ini akan menikahi orang seperti apa??? alam bawah sadar Veln berlarian kemana-mana.
" Iya kalau saya menyerahkan semua keputusan ini ketangan Veln, keponakan saya. Kalau keponakan saya setuju, berarti saya juga otomatis mengikutinya " Sedari tadi memang cuma Paman Rian dan Veln saja yang aktif mengobrol dengan tamunya. Karena Delina dan Virina hanya manggut-manggut saja, mereka justru sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Virina sibuk dengan pandangan matanya yang tak henti-hentinya menatapi Ray sampai begitu terkagum-kagum yang membuat Ray risih, dan membuatnya harus mengkode Veln untuk pindah tempat duduk disebelahnya namun tak dihiraukan Veln dan membuat Ray geram dan kesal. Dengan alasan ingin mengangkat telfon karena ponselnya bunyi, Ray pun meminta ijin untuk keluar. Tak lama dia pun kembali kedalam ruangan dan mendekati tempat Veln duduk dan menyuruh Veln untuk bergeser untuk memberikan tempat untuk Ray duduk. Dan hal itu sukses membuat Virina mengkrucutkan mulutnya.
Sedangkan Delina juga tidak kalah sibuknya memperhatikan penampilan Tante Susan yang seperti Ibu-ibu sosialita yang nyetrik dan gaul. Pikirannya dipenuhi dengan berapa harga-harga barang yang dipakai tante Susan, dari mulai perhiasan, pakaian bahkan tas dan sepatunya membuat pikiran Delina menjadi kepo. Dan sejenak pikirannya menuju kearah Veln, Gadis satu ini bagaimana bisa bertemu dengan orang-orang yang tingkat ekonominya jauh lebih tinggi darinya. Lihatlah mereka dari cara bicara dan berpakaiannya saja sudah jauh berbeda dari kita.
" Baiklah Nak Veln bagaimana? apa Veln setuju kalau minggu depan akan diadakan acara lamarannya dan minggu depannya lagi acara akad nikahnya? apa Veln tidak keberatan? " Tante Susan terlihat begitu ramah dan sama sekali terlihat tidak membeda-bedakan status sosial antara dirinya dan keluarga Veln " Kalau Veln setuju, nanti tante akan secepatnya mengurus segalanya "
" Jangan terlalu terburu-buru Ma, beri kesempatan Nak Veln untuk bernafas dulu " Ucap om Aldo.
Mata Ray menatap tajam Veln tak berkedip, seakan ingin menerkamnya sedikit geram dengan tingkah Veln yang terlihat seperti sok jual mahal menurut versinya.
" Bagaimana Nak? apa kamu tidak keberatan dengan rencana yang sudah dijadwalkan dari pihak keluarga Ray? " Sepertinya Paman Rian pun tak sabar menunggu keputusan keponakannya itu.
Tiba-tiba tangan nakal Ray melingkarkan kearah pinggang Veln.
" Ayo lah sayaaang, semua sedang menunggu jawabanmu, setuju tidak dengan rencana yang sudah dibuat atau ada yang harus dirubah? " Ucap Ray sembari jari-jari tangannya mencubit kecil pinggang ramping Veln.
" Au " Sontak Veln mendesis kecil dan memelototkan sedikit matanya kearah Ray, Ray hanya menatapnya dan senyum menyeringai.
__ADS_1
" Om dan Tante sepertinya untuk acara lamaran minggu depan sebaiknya ditiadakan saja, jadi maksudnya begini kita langsung persiapan keacara akad nikahnya saja untuk menghemat energi. Dan kalau boleh sebaiknya acara akad nikahnya juga cukup dilakukan secara sederhana dan sekeluarga besar saja, karena saya tidak terlalu suka keramaian dan suka pusing kalau didandani seperti itu terlalu lama "
" Baiklah tante tidak masalah selama Ray juga tidak keberatan, bukan begitu Pa. Karena kita Orang Tua hanya berniat membantu susunan acaranya saja, keputusan bagaimana dan gimana bentuk acaranya tentu berdasarkan keputusan kalian berdua "
" Benar. Kalian memang sepertinya sangat cocok satu sama lain sama-sama kurang menyukai pesta dan lebih suka kesederhanaan, tidak suka neko-neko. Baiklah Ray bagaimana menurutmu? apa kamu setuju dengan konsep yang diutarakan calon istrimu? " Om Aldo menimpali.
Om Aldo nggak salah? mengatai keponakan mu yang lebih suka kesederhanaan dan tidak suka neko-neko? asal Om tau tuan muda Ray mu itu selalu berlebihan dalam segala hal.
" Ray akan ikuti apapun semua kemauan Veln, Om "
Setelah berlangsung obrolan demi obrolan yang begitu panjang, akhirnya didapat sebuah kesimpulan antar dua keluarga.
Kesimpulan tentang bagaimana nanti pelaksanaan prosesi berjalannya dihari istimewa itu. Dan dengan kesepakatan yang diambil oleh antar dua keluarga yang berakhir dengan saling mendukung dan menyetujui tanpa adanya paksaan, akhirnya keluarga Ray pun berpamitan undur diri dengan meninggalkan beberapa bingkisan diatas meja sebagai tanda sopan-santun.
○○○
Penglihatan keempat orang itu fokus memandangi tiap-tiap punggung keluarga Ray yang berlalu dan sudah tidak bisa dijangkau oleh mata karena tertutup oleh tikungan jalan, tapi Virina sepertinya masih menikmati sisa-sisa jejak kaki dan aroma tubuh Ray dalam khayalnya. Hidungnya menarik nafas dalam seolah tidak mau berbagi menikmati aroma parfum Ray yang tertinggal. Terlintas kembali raut wajah tampan Ray yang setara Malaikat jatuh dari langit dipelupuk matanya, tubuh gagahnya, cara duduknya, cara jalannya tadi walaupun cuma terlihat punggungnya yang bergoyang tidak membuat mata ini untuk memalingkan pandang.
" Bapak " Suara Virina terdengar bersemangat yang ikut masuk kedalam, Rian dan Veln pun reflek menghentikan langkahnya yang tadinya hendak masuk keruangan yang lebih dalam lagi melewati ruang tamu.
" Nikahkan laki-laki itu denganku saja " Imbuh Virina yang membuat ekspresi Paman Rian terkaget.
Paman Rian menggelengkan kepalanya, yang mendapati putrinya ternyata masih belum bisa berfikiran dewasa juga.
" Veln pasti mau Pak, kalau babang tampan itu ditukar dengan Mas Rega " Mendengar ucapan Virina yang sedikit sudah kehilangan akal itu membuat tiga orang lainnya sedikit terkekeh.
" Kenapa kalian menertawakan aku? " Dengan sedikit kesal mata Virina memelototi satu persatu ketiga orang itu.
__ADS_1
" Kamu mau kan sepupuku sayang?bersediakan kalau calon suamimu, aku tukar dengan Mas Rega " Matanya seolah memohon fokus kearah Veln.
" Kamu ini ada-ada saja.. kalau pun Veln sampai mau menukarkan calon suaminya dengan Mas Regamu itu, sepertinya kamu juga harus nambah. Iya tukar tambah karena calon suami Veln 10 tingkat lebih dari segalanya dari yang kamu punya itu " Paman Rian sedikit bingung meladeni putrinya, sementara Veln terlihat menahan senyumnya.
" Buuu " Virina mengeluarkan jurus andalannya yaitu merengek-rengek memohon bantuan kepada Ibunya. Sementara Veln dan Paman Rian berlalu masuk kedalam kamarnya masing-masing.
" Kamu ini bagaimana bisa aku menukarkan tuan muda ganteng dengan Mas Regamu itu " Sembari mentoyor pelan kepala putrinya.
" Hubunganmu dengan Mas Regamu saja masih bertepuk sebelah tangan " Mendudukkan tubuhnya diatas kursi tamu.
" Bagaimana bisa aku memiliki putri sebodoh kamu " Delina menepuk-nepukkan dadanya pelan dengan telapak tangannya.
" Bahkan untuk mencari suami yang tampan dan kaya saja tidak bisa "
" Ibuuu " Virina berteriak kesal " Pokoknya bantu aku untuk menggantikan Veln menjadi mempelai wanita dua minggu kedepan, dengan begitu putrimu mungkin akan berubah jadi pintar " Merasa tak dihiraukan Ibunya Virina berlalu menuju kamar Veln sambil teriak-teriak.
" Veln.. Velnnnnn "
Atas kegaduhan yang berasal dari mulut Virina, kini semua anggota keluarga berkumpul diruang tengah.
" Ayo sepupuku katakan kalau kau bersedia menukarkan calon suamimu dengan Mas Regaku "
" Virinaaaa.. diamlah, sudah cukup " Merasa putrinya sudah sedikit keterlaluan Rian meninggikan sedikit suaranya.
" Keponakanmu juga Pak sudah keterlaluan, ngakunya hendak dinikahi seseorang yang usianya lebih matang. Tau nya masih nampak muda mana cakep pula " Bela Delina.
" Memang benar kan, kenyataannya usia calon suami Veln memang lebih dewasa dan lebih tua dari Veln. Aku rasa tidak ada yang salah dengan itu, aku peringatkan ya jangan berani-beraninya kalian mengacaukan pernikahan Veln. Kalau tidak, aku tidak akan segan-segan memberi pelajaran kepada kalian berdua "
__ADS_1
Memang pada kenyataannya Delina dan Virina begitu takut terhadap Rian, karena pada dasarnya Rian begitu keras dan galak. Mungkin karena saking keterlaluannya saja mereka berdua sampai berani menzholimi Veln dibelakang Rian. Kalau sampai Rian tau mungkin mereka berdua akan habis tak tersisa.
Bersambung..