Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
65. Kenyataan


__ADS_3

Dengan aura dinginnya Ray berjalan dan bergegas menuju pintu mobil. Ray masuk dan bersiap melajukan kendaraan roda empatnya. Membelah jalanan menuju gedung kebanggaan, pusat gedung penentu dan pencetak mesin uangnya.


Setelah mobilnya terparkir dengan sempurna, Ray bergegas masuk dengan langkah tegap, dingin, dan karismatiknya.


Setiap jengkal gerakannya semakin membuat tertarik bagi yang melihat, apalagi ketampanannya membuat seluruh pekerja dibawah naungannya terpesona tak berkedip.


Khususnya untuk kaum hawa, namun apa daya mereka tidak berani menatap bos gantengnya lama-lama. Takut yang bersangkutan merasa risih dan dengan secepat kilat surat pemecatan akan dihadiahkan untuk mereka.


Ray melangkahkan kakinya lebih dalam, dan sambutan hormat terlihat dari seluruh karyawan disana. Mereka akan menundukan kepala sopan saat berpapasan dengan bos besarnya.


Ray masuk menuju pintu lift khusus yang mengarah kelantai ruangannya. Saat pintu lift terbuka, Ray langsung menuju tempatnya.


Dan dari kejauhan, Ray mendapati Sam berjalan menghampirinya.


" Tuan " Sam sedikit terkaget mendapati tuannya yang kini sudah berada didalam gedung kebanggaannya.


Pasalnya, seharusnya hari ini tuannya masih harus absen dan masih berdiam diri dirumah kediamannya seperti taun-taun sebelumnya untuk mengenang lebih khusuk atas meninggalnya tuan besar Rendra.


" Sam, lanjutkan sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Kau bilang akan ada pertemuan dengan perusahaan xx. Beri aku waktu tiga puluh menit, aku akan bersiap dan mandi membersihkan diri terlebih dahulu "


" Baik tuan " Hanya itu yang bisa Sam ucapkan.


Ada sedikit kelegaan dihati sekertaris pria itu karena tidak harus menggantikan tuannya untuk pertemuan dengan perusahaan xx tersebut.


Karena Sam tidak harus pusing sendirian untuk menghadapi perusahaan yang dikenal sangat hoby mencari masalah demi untuk mendapat keuntungan sepihak. Tapi, tunggu.. apa maksudnya itu? sudah rapih dengan pakaian kerja kebesarannya masih haruskah mandi kembali untuk membersihkan diri???


Sam menggelengkan kepalanya, sedikit ada yang tidak biasa dengan tuannya. Namun dia masih belum bisa menangkap hal yang terjadi dengan tuannya.


○○○


Diruangannya, Ray langsung bergegas menuju kamar mandi. Menyalakan shower dan berdiri dibawahnya. Dengan kedua telapak tangan dia tumpukan diatas dinding kamar mandi, kepalanya menunduk menatap lantai dan tersenyum sinis tatkala mengingat kejadian barusan dikediamannya.


Setelah puas membasahi seluruh tubuhnya, Ray bergegas keluar dengan handuk putih yang dililitkan dipinggang.


Ray mengambil satu celana panjang beserta kemeja didalam lemari diruang khusus istirahat miliknya. Dia segera mengenakannya, dan tanpa butuh waktu lama Ray sudah siap dengan pakaian formilnya untuk melakukan aktifitas sibuk seperti biasa.


Ray benar-benar menyebalkan, dalam waktu belum mencapai setengah hari dia sudah membuat keranjang baju kotor menumpuk.


○○○


Dikamar utama, khususnya diruang ganti, Veln mengangkat tubuhnya berlahan. Dia langkahkan kakinya menuju kamar mandi, wajahnya yang putih mulus kini terkontaminasi dengan warna kemerahan disekitaran ujung hidung dan pipinya akibat tangis. Matanya pun sembab dan masih membulirkan titik air mata diujungnya.


Setelah puas dengan guyuran air, Veln segera berganti pakaian. Dia memilih baju rumahan untuk dikenakan.


Sebentar, pantulannya dia tampilkan kecermin besar yang berada diruang ganti. Setelah merasa puas dan rapih, Veln berjongkok memunguti pakaian Ray yang berserakan dilantai dan memasukkannya kekeranjang baju kotor.


Satu kemeja Ray masih Veln pertahankan digenggaman tangannya, Veln menciumi aroma khas suaminya dari sana. Entah kenapa rasanya perempuan itu begitu sangat-sangat merindukan Ray suaminya.


Veln tersenyum kecut, tatkala mengingat kejadian itu. Lalu dengan perlahan menaruh kemeja milik Ray ketempat semestinya. Dan dengan perasaan sedih Veln memasukkan pakaiannya yang rusak akibat dirobek Ray ketempat sampah.


○○○


Pagi hari, Veln turun dengan masih membawa perasaan bingung dan tak menentu. Apalagi semalam dia tak menemukan Ray tidur didalam kamar bersamanya.


" Selamat pagi nona " Ucapan selamat pagi itu keluar dari mulut bi Ana.


" Pagi bi, apa semalam tuan muda tidak pulang? "


" Benar non, sepertinya tuan muda Ray masih belum kembali sampai dengan pagi ini " Veln melepas nafasnya penuh kecewa.


" Bibi dan yang lainnya sudah sarapan? " Bibi tak menjawab, hanya senyum yang bi Ana berikan. " Kalau belum, ayo kita sarapan sama-sama "


" Terimakasih non, silakan nona sarapan duluan saja "


Dengan terpaksa Veln harus menikmati sarapannya sendirian dipagi ini, karena adik kecilnya pun sedang tidak berada dirumah itu.

__ADS_1


Kemarin, Renand memilih pulang kerumah utama Wiratama untuk mengunjungi Mami dan kakak perempuannya.


○○○


Veln duduk didepan ruang tv kamarnya dengan memegang ponsel miliknya.


🤳 Veln " Selamat pagi sekertaris Sam, maaf mengganggu. Apa semalam suamiku bersama mu? maksudku apa Ray tidur ditempat mu? "


🤳 Sam " Tidak nona, apa semalam tuan Ray tidak pulang kerumah? "


🤳 Veln " Sedikit terjadi sesuatu dengan kami, hanya kesalah pahaman. Mungkin Ray masih merasa kesal terhadapku, sehingga dia memutuskan untuk tidak pulang tadi malam. Em, sekertaris Sam bisa kau memberikan nomor ponsel tuan mu? "


Ada sedikit rasa malu dihati, namun bagaimana lagi sampai dengan detik ini menjadi istri dari tuan muda belum pernah sekalipun mereka bertukar suara lewat sambungan telfon.


Dan yang sangat menggelikannya lagi mereka berdua pun sepertinya belum saling memiliki nomor ponsel pasangannya.


Sebenarnya bisa saja Veln meminta nomor ponsel Ray kepada Renand atau kepada kepala pelayan rumah, tapi Veln mengurungkannya karena takut menimbulkan banyak tanya difikiran mereka. Bagaimana bisa sepasang suami istri tidak menyimpan nomor ponsel pasangannya?!!


Akhirnya Veln mengambil langkah yang benar, dia lebih menunjuk Sam sebagai seseorang yang akan membantu dan menyelesaikan tiap permasalahannya, khususnya yang menyangkut dengan tuan muda.


Tut tut tut..


Tut tut tut..


Tut tut tut..


Setelah mendapatkan nomor ponsel Ray, Veln langsung menghubungi suaminya. Hingga berkali-kali namun tak jua mendapatkan jawaban. Akhirnya untuk sementara, Veln memilih menyerah dan turun menuju taman rumah untuk menenangkan hati dan pikirannya.


Setelah melakukan makan siang, Veln kembali menghubungi Ray. Namun tetap, panggilan berkali-kali yang dia lakukan tidak mendapat respon.


Sampai seusai makan malam pun tetap nihil, Veln masih belum bisa terhubung dengan suaminya.


Veln tak patah semangat, dia mengirim pesan kenomor sekertaris sekaligus asisten Ray, yaitu Sam.


○○○


Veln setia menunggui Ray pulang disofa ruang tamu, hingga hampir pukul sebelas malam matanya sudah mulai mengantuk dengan mulut yang sibuk menguap.


Sampai tak terasa, Veln tertidur diatas sofa dengan posisi terduduk.


Tak lama Ray pun datang dan masuk tanpa mendapat sambutan dari pak Dim atau pun bi Ana. Karena memang kedua kepala pelayan itu diminta untuk beristirahat lebih dulu oleh Veln.


Ray masuk dengan wajah dan kemeja setengah keluar dari celana panjangnya, nampak berantakan.


Langkahnya terhenti tatkala melihat Veln yang sedang tidur terduduk sedikit meringkuk diatas sofa.


Ray letakkan tas kerjanya diatas meja, melepaskan dasinya dan melemparnya sembarang lalu berdiri tak jauh dari tempat Veln dengan berkacak pinggang.


Sesekali Ray menghirup dan membuang nafasnya kasar dengan menatap lekat perempuan ayu itu dengan cahaya temaram seadanya. Karena cahaya lampu utama ruang tamu sudah dipadamkan, tinggalah cahaya lampu sudut meja yang tersisa.


Tubuh Veln yang sedang duduk meringkuk dan wajah yang sedikit tertutupi karena terbenam disandaran sofa tak hilang sedikit pun dari pandangan Ray, tetap terlihat seksi dan ayu. Membuat Ray, ingin secepatnya menerjang perempuan yang ada dihadapannya namun dia tahan sekuat mungkin.


Tanpa Veln ketahui, bahwa tubuhnya yang duduk meringkuk dengan mata terpejam sedang ditatap habis oleh suaminya tiba-tiba merosot dengan sendirinya akibat hilang keseimbangan. Membuatnya hampir terjerembab diatas sofa dan terkaget hingga terbangun dari tidurnya.


Dan yang lebih mengagetkannya lagi, mata Veln yang belum sepenuhnya sadar menemukan Ray tepat sedang berdiri tak jauh dari dihadapannya.


" Ray " Suaranya parau, nyaris tak terdengar.


Ray melengos sebentar dan kembali menatap Veln, lalu dia menjentikkan hidung dengan jari telunjuknya. Langkahnya mendekatkan diri kearah Veln, lalu tangannya sigap mengangkat tubuh perempuan ayu itu kedalam gendongannya dengan gaya bridal.


Sungguh saat ini, Veln merasa senang sekaligus takut dan bingung setengah hidup. Dalam gendongan, Veln memberanikan diri mendongakkan wajahnya dan menatapi wajah datar Ray yang tanpa ekspresi.


Disepanjang jalan menuju kamar tak ada percakapan, hanya hening tanpa suara.


○○○

__ADS_1


Didalam kamar Ray meletakkan tubuh Veln diatas kasur empuknya perlahan, dan menyelimutinya. Sementara dirinya setelah itu berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dibawah selimut Veln sibuk dengan fikirannya, matanya menatap kosong kesatu titik dan berpindah ketitik lain saat dia mengganti posisi tidurnya.


Veln tak berniat memejamkan mata untuk melanjutkan tidurnya, dia sengaja menunggu Ray sampai selesai mandi.


Tak lama terdengar suara gerak langkah Ray, namun Veln tak berani untuk berbalik menatapnya. Sebenarnya ingin tapi dia tidak berdaya, Veln tidak siap atas sikap dan perilaku Ray nanti. Akhirnya dia memilih tetap pada posisinya, tidur miring dengan memunggungi suaminya.


Ray merangkak naik menuju ranjang, menyibak selimut dan menyelusupkan tubuhnya disana.


Ray menyelipkan kedua tangannya ditubuh Veln, memeluk tubuh mungil perempuan itu. Kebiasaannya ketika tidur yang sempat dia tinggalkan kemarin malam.


Deg deg deg..


Detak jantung Veln tak beraturan, dia menggigiti bibir bawahnya.


Disatu sisi Veln merasa senang, Ray nya kini sudah kembali. Tapi disisi lain Veln masih merasakan ketidak beresan dalam diri Ray.


Veln mendongakkan wajahnya untuk dapat melihat wajah Ray yang matanya sudah terpejam tapi dia tau suaminya masih belum terlelap.


" Tidurlah " Deg, suara Ray yang memecah keheningan entah mengapa membuat Veln sejenak berhenti bernafas.


Veln menelan ludahnya dengan susah payah dan berucap " Kita harus bicara, Ray " Suara lirihnya terdengar jelas ada keraguan disana.


Ray diam tak bergeming, perempuan dalam dekapannya pun terpaksa ikut menutup dan mengunci mulutnya. Veln tak berani berkata-kata lagi, takut membangunkan singa yang sedang tertidur.


Setelah lama dalam kesunyian, terdengar Ray menghembuskan nafasnya berat.


Hufttttt.


" Kau masih ingat rentetan vidio itu? "


" Hem " Veln menjawab dengan hati-hati, bersuara dan menganggukkan kepalanya.


Entah mengapa mendengar kata vidio langsung membuat matanya berkaca-kaca.


" Mobil putih yang terpaksa membanting setir dan akhirnya harus menabrak pembatas jalan akibat adanya dua orang yang terpental dari lajur jalan arah berlawanan secara tiba-tiba, membuat penumpang didalamnya harus meregang nyawa " Ray membuka matanya, wajahnya yang kini mendongak dapat dengan leluasa menatap langit-langit kamar. " Dan salah satu dari mereka yang berada didalam mobil itu adalah papa ku " Kembali Ray memejamkan matanya, berusaha untuk menahan amarahnya yang entah tiba-tiba muncul begitu saja ketika mengingat kejadian itu.


Kejadian yang membuatnya menyesal karena tidak mendapatkan kesempatan untuk kembali dekat dengan ayahnya. Yang dulu tanpa sengaja hubungannya harus merenggang akibat situasi dan kondisi yang terjadi dahulu kala.


Veln membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya, menahan agar tangisnya tak pecah. Veln harus cukup puas hanya dengan mengeluarkan air matanya untuk meluapkan kesedihannya. Tidak dengan suaranya, Veln yakin jika suaranya lolos takut akan menimbulkan pergerakan yang tak terduga dari Ray.


Kenyataan, kecelakaan beberapa tahun yang lalu sungguh membuat hati keduanya hancur sehancur-hancurnya. Ditambah lagi sikap Ray yang seolah tidak menerima akan takdir Tuhan yang telah terjadi.


Ya awal kecelakaan yang terjadi disebelah lajur jalan akibat pengendara motor yang melajukan roda duanya dengan ugal-ugalan membuat sebuah mobil membanting setir untuk menghindar, namun naas justru motor yang sedang dinaiki kedua orang tua Veln harus terkena imbasnya akibat senggolan kencang dari mobil tersebut dan akhirnya oleng terpental keras hingga menuju kearah lajur berlawanan.


Sementara sopir tuan Rendra yang waktu itu sedang melajukan kendaraannya langsung banting setir, panik mendapati dua sosok tubuh yang tiba-tiba terkulai dihadapan mobil yang dikemudikannya.


Roda empat itu menghantam keras bahu jalan dan brak brak brak, kecelakaan beruntun pun terjadi didua jalur saling berkaitan terjadi saat itu juga.


Ray menghirup nafasnya kasar " Kau tau sekarang, apa kesalahan mu? " Veln tak berani bersuara dan sibuk dengan air matanya yang semakin berderai. " Karena, kau putri dari dua orang itu. Dua orang yang telah menghambat perjalanan pulang papa ku "


Veln semakin tergugu, dengan masih menahan suaranya. Hanya tubuhnya saja yang bergoyang menunjukan bahwa dirinya kini sedang menangis dalam diamnya.


" Ini salah ku, karena tidak benar-benar memastikan bahwa kau tidak terlahir dari kedua orang itu! dan nasi yang sudah menjadi bubur ingin sekali rasanya aku muntahkan "


Veln membekap mulutnya rapat-rapat, mencoba untuk menahan suara tangisnya agar tak pecah.


Sungguh perempuan itu merasa pedih dan terluka, kata-kata Ray yang terdengar datar namun benar-benar menyakitkan untuk didengar.


Apalagi melihat kenyataan yang ada, Kenyataan bahwa Ray yang seolah menyudutkannya dan menyalahkan sepenuhnya kepada almarhum kedua orang tuanya atas takdir yang telah terjadi.


" La_lu " Dengan menahan isaknya. " Aku harus bagaimana? " Hanya itu kata-kata yang bisa Veln keluarkan dari mulutnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2