Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
27.Untuk yang pertama kalinya


__ADS_3

Ray masih mendekap Veln dengan begitu eratnya dengan salah satu tangan masih mengelus rambut dan bibir tak henti-hentinya menciumi ujung kepala Veln.


Dengan berusaha begitu keras dan sekuat tenaga untuk menahan dan mengendalikan diri. Setelah dirasa cukup tenang Ray mengendurkan dan melepaskan pelukannya.


" Tidak apa-apa " Tangan Ray mengelus pipi istrinya yang terlihat begitu merasa bersalah karena tamu yang tak diundang datang tidak pada waktu yang tepat, dan hanya bisa menyunggingkan senyum kearah suaminya.


" Aku akan mencari sesuatu didalam koper, siapa tau mereka juga sengaja menyiapkankannya untuk jaga-jaga " Ray melangkahkan kakinya kearah tempat tidur dan mendudukkan tubuhnya ditepi ranjang sembari berselonjor dan menyandarkan punggungnya dibalik bantal. Dengan mata fokus menatapi istrinya yang sedang membuka kopernya dan sibuk mencari sesuatu.


" Aku tidak menemukan satu pembalut pun didalam sana" Veln mendekati suaminya dan menunjukkan jari telunjuknya kearah koper.


" Mungkin Bibi Stela tidak sampai berpikiran sejauh itu, sehingga dia tidak menyiapkan itu dikoper mu " Ray bangun dari duduknya dan sepertinya bersiap untuk pergi.


" Kalau begitu aku akan kaluar sebentar, aku akan kemini market terdekat untuk membelinya " Veln menadahkan telapak tangannya meminta sesuatu dengan menyunggingkan senyum manis, namun Ray menepis telapak tangan Veln.


" Aku yang akan membelikannya untuk mu " Ray menawarkan diri dengan suka rela, tapi sepertinya Veln merasa tidak enak dengan itu.


" Tidak usah, biar aku beli sendiri " Veln menolak bantuan suaminya.


" Jangan, biar aku saja " Ray memaksakan diri dengan melarang istrinya untuk pergi.


" Ya sudah begini saja, kita pergi bersama-sama. Nanti aku yang masuk kedalam mini marketnya dan kau cukup menunggu didalam mobil saja " Ray menarik istrinya dan mendudukkannya diatas tempat tidur.


" Tidak perlu, kau tunggu saja disini. Angin malam tidak baik untuk perempuan seperti mu " Ray berkilah untuk menahan istrinya agar tidak ikut keluar bersamanya, yang pada akhirnya membuat Veln menurut atas perkataan Ray.


Maaf Nona.. memang sebaiknya kau, aku tinggal disini. Kalau kau selalu mengikuti ku bisa-bisa aku nanti tidak bisa menahan diri, dan menerjang my kembali.


Ray bergumam dalam hati dan menyunggingkan senyum kecewanya sembari menggeleng-gelengkan kepala dan bergegas menuju keluar.


○○○


Ray mengemudikan kendaraannya menuju mini market terdekat, tak butuh waktu lama Ray pun sampai dan bergegas memarkirkan mobil yang dikendarainya didepan mini market tersebut.


Ray bergegas keluar dari dalam mobilnya dan masuk menuju mini market tersebut, melewati tiap lorong rak mencari sesuatu yang dibutuhkan istrinya.


Tepat disalah satu rak Ray berdiri dan menatapi isi rak tersebut dari atas hingga bawah.


Kenapa banyak sekali macamnya, membuat aku bingung saja harus memilih yang mana?


Ray membatin sembari memejamkan matanya dan bernafas panjang merasa kebingungan.


Terlihat dua orang wanita sedang berbisik-bisik sembari sesekali melirik kearah Ray, membuat Ray mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada mereka. Begitu juga dengan ibu-ibu yang sedang menggendong anaknya terlihat tersenyum curiga kearahnya membuat Ray pun enggan bertanya kepadanya.


Ray akhirnya menghentikan seorang spg yang hendak lewat kearahnya.


" Nona bisa kau bantu aku memilihkan ini untuk istri ku? " Sembari telunjuk Ray menunjuk kearah Rak yang berisi tumpukan pembalut yang tertata sangat begitu rapih.


" Tentu tuan " Dengan senang hati spg tersebut hendak membantu.


" Pilihkan yang bagus dan nyaman untuk istri ku kenakan " Ray melirik kearah spg tersebut, dan dengan cepat perempuan itu mengambil beberapa pembalut untuk ditunjukan dan dijadikan contoh kearah Ray.


"bSilakan tuan, anda bisa memilih salah satunya" Spg tersebut menunjukan beberapa pembalut kearah Ray.


" Pilihkan saja yang baik untuk digunakan " Terlihat Ray sedikit berfikir.

__ADS_1


" Beritahu saya apa perbedaannya? " Ray sedikit penasaran.


" Yang ini ukurannya lebih panjang biasa digunakan untuk malam hari namun banyak juga yang menggunakan untuk aktifitas sehari-hari, kalau yang ini biasanya digunakan untuk siang hari karena ukurannya lebih pendek. Keduanya sama-sama memiliki sayap.." Dengan telaten wanita itu menjelaskan kekonsumennya namun belum selesai menjelaskan tiba-tiba Ray memotong pembicaraannya.


" Sayap? maksud anda? tidak mungkin mereka bisa terbang bukan? " Ray sedikit terkejut mendengar kata sayap, lalu ujung bibirnya menyunggingkan senyum merasa aneh.


" Tidak usah khawatir tuan, Istri Anda pasti sudah paham dengan itu " Spg itu hanya bisa tersenyum sedikit malu.


" Kalau begitu berikan semuanya, biar nanti dia bisa memilihnya sendiri mau memakainya yang mana " Ray mengambil alih dua pack pembalut dari tangan perempuan itu.


" Sebentar Nona satu lagi, aku harus membeli berapa pack? " Spg tersebut menghentikan langkahnya ketika ditahan oleh Ray.


" Saya rasa dua pack sudah cukup tuan " Reflek spg tersebut membentukan jarinya dengan angka dua.


" Baiklah, terimakasih. Lanjutkan pekerjaan mu " Merasa tidak diperlukan lagi spg tersebut berlalu meninggalkan Ray.


Ray memutuskan mengambil kembali beberapa pack pembalut, untuk persediaan agar jangan sampai istrinya kekurangan. Lalu bergegas menuju tempat kassir untuk membayarnya.


○○○


Didalam kamar hotel terlihat Veln tidur meringkuk diatas kasur sembari menahan nyeri yang berada disekitar pinggang,khususnya area perut. Sesekali mulutnya mendesis dan matanya terpejam menahan rasa sakit, sendi-sendi kakinya terasa linu membuat lemas seluruh badannya. Beberapa buliran keringat dingin keluar dari pelipisnya, padahal saat itu seperti biasanya ac dibiarkan menyala.


Sampai akhirnya terdengar bunyi pintu kamar terbuka, ternyata Ray sudah kembali dengan membawa satu kantung pembalut dan segera mendekati istrinya.


Sedikit ada rasa khawatir dibenaknya mendapati Veln tiduran dengan posisi meringkuk sembari sesekali mendesis menahan sakit.


Sial. Kenapa saat ini dia begitu terlihat menarik dimata ku.


" Ray, apa kau mendapatkannya? " Mendapati suaminya kembali dengan satu kantung kresek membuat Veln merasa lega. Karena sebenarnya Veln merasa khawatir Ray tidak dapat menyelesaikan misinya. Veln pun duduk mengubah posisinya.


Ray mengulurkan kantung yang berisi pembalut tersebut kearah istrinya, tak butuh waktu lama kresek tersebut pun kini sudah berada digenggaman Veln.


" Kenapa kau begitu banyak membeli ini? " Mengarahkan kantung kresek tersebut kearah Ray.


" Untuk persediaan " Ray menjawab enteng.


" O iya seorang spg menyarankan dua macam pembalut, dan keduanya memiliki sayap. Kau bisa memotong sayapnya kalau tidak membutuhkannya " Mendengar itu spontan mata Veln membulat, dan tertawa kecil dibuatnya sedikit melupakan rasa sakit yang sedang dia rasakan.


" Benar spg tersebut menyarankan untuk memotong sayapnya? " Ada sedikit ketertarikan untuk membahas hal yang satu itu.


" Kalau soal itu, bukan saran dari spgnya, tapi inisiatif dari kecerdasan otak ku " Dengan santai dan sedikit menyombongkan dirinya membuat Veln tertawa lepas tanpa bisa menahannya.


" Kau menertawakan ku? memang apa yang salah dengan kecerdasan ku? kalau kau sudah tau dengan kelihaian dan kepandaian ku, kau tidak akan berani mengejek ku seperti ini " Kembali Ray mencoba menyombongkan dirinya lagi.


" Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Terimakasih ya Ray. Tapi perlu kau ingat sepandai dan lihainya dirimu, kau harus ingat satu hal kalau soal urusan ini pasti aku yang lebih unggul " Sembari menunjuk kesalah satu bungkus pembalut yang hendak dia buka. Mendengar itu Ray hanya bisa tersenyum sebagai tanda kekalahan.


Veln pun beranjak dari duduknya hendak menuju kamar mandi dengan berjalan sedikit menjongkok menahan rasa sakit didalam perutnya, melihat itu Ray merasa ada yang tidak beres dan langsung menghadang kearah Veln.


" Kenapa " Mimik wajah Ray menunjukkan dengan sedikit khawatir.


" Tidak apa-apa, hanya sedikit merasa nyeri " Mendengar itu Ray langsung hendak membopong istrinya.


" Biar aku gendong menuju kamar mandi " Ray sudah bersiap mengangkat Veln namun tertahan.

__ADS_1


" Ini sudah biasa, tiap kedatangan tamu bulanan pasti aku akan merasa sakit dan nyeri khususnya disekitar perut. Namun hanya diawal saja, nanti juga akan menghilang dengan sendirinya " Ray tidak peduli dengan penjelasan Veln, dia langsung mengangkat istrinya menuju kamar mandi dan meninggalkannya didalam sana.


Ray kembali mendekati tempat tidur, karena rasa penasaran tangannya menyaut pack pembalut yang sudah terbuka dan memungut satu isinya. Dia mengamati benda yang terlihat aneh dimatanya, dan tersenyum geli lalu memasukkan kembali ketempatnya dan memindahkannya diatas laci.


Tak berapa lama Veln keluar dari kamar mandi, Ray pun segera menghampiri dan menggendongnya kembali menuju tempat tidur. Ray mengambil kresek kecil yang berisi salep yang dia beli dari apotik sebelah mini market tadi.


" Luruskan kaki mu " Veln menurut saja perintah Ray tanpa menolak meluruskan kakinya. Ray mengangkat salah satu celana


panjang yang dikenakan Veln dan mengoleskan salep tersebut kebagian kaki Veln yang sedikit memar akibat terbentur meja tadi.


" Tunggu disini, aku akan keluar lagi untuk membeli obat anti nyeri untuk perut mu. Aku akan tanya kepelayan apotik tersebut, pasti ada obat penghilang nyeri saat sedang datang bulan. Setelah itu besok baru kita pergi kedokter, atau kita kerumah sakit saja sekarang? " Ray sedikit berlebihan.


" Tidak apa-apa Ray, ini hal yang wajar yang dialami beberapa perempuan ketika sedang datang bulan " Veln sedikit memberi pencerahan.


" Benar tidak apa-apa? " Veln mengangguk membenarkan.


○○○


Ray meraih remot ac dan mengubah suhunya, entah mengapa tubuhnya sedari tadi merasa panas yang begitu menyala-nyala.


" Kenapa ruangan ini jadi begitu dingin dari sebelumnya? " Veln merasakan jelas suhu ruangan yang berubah lebih dingin.


" Aku mengecilkan suhunya " Sembari jari tangannya bergerak-gerak seolah meremas sesuatu.


" Ray bisakah kau menormalkan kembali suhunya? Aku masih belum terbiasa tidur dengan menggunakan ac, apalagi dengan suhu sedingin ini " Ray tidak menghiraukan perkataan Veln.


" Tidurlah, jangan cerewet " Perintah Ray sembari membantu istrinya untuk berbaring.


" Tapi Ray.. " Telunjuk Ray menunjuk kearah Veln, mengisyaratkan istrinya untuk diam.


" Sudah kubilang jangan cerewet, tidurlah " Ray menutupi seluruh tubuh Veln dengan selimut sampai tak terlihat wujudnya.


" Aku tidak bisa bernapas bebas, kenapa kau menutupi seluruh tubuh ku dengan selimut " Protes Veln sembari menyibakkan sedikit selimutnya yang hanya menunjukkan bagian wajahnya.


" Agar kau tidak merasa kedinginan, lagi pula kau tidak akan mati hanya karena itu " Ray kembali menutup wajah Veln dengan selimut yang sempat sedikit terbuka oleh istrinya. Akhirnya sekali lagi Veln menurut saja perintah Ray.


Ray pun beranjak naik keatas tempat tidur, membaringkan tubuhnya disamping istrinya.


*Maaf Nona.. kalau aku tidak menutupi wujud mu dengan selimut, aku takut tidak bisa untuk menahan diri lagi. Akan sangat memalukan kalau aku tiba-tiba menerkam mu sekarang. Tadi saja aku sudah cukup kerepotan menahan diri ketika melihat mu meringkuk kesakitan, entah mengapa justru saat itu kau terlihat seksi dimata ku. Begitu juga saat mengangkat dan mengolesi kaki mu, aku harus menahan diri untuk tidak menciuminya.




○*


Buat para readernya terimakasih ya yang sudah mau membaca novel karya pertama Ku..


jangan lupa tinggalkan jejak like dan comentnya agar autor bersemangat melanjutkan ceritanya.


Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan,umur panjang dan selalu dalam lindungannya.Amin.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2