
Diruangan itu pada akhirnya keduanya sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Yang satu masih fokus dengan mengurusi catatan barang dagangannya, sementara yang satunya lagi sibuk menenangkan jiwa dan raganya.
Cukup lama ruangan itu dalam keadaan hening, hingga salah satu suara keluar dari mulut mereka.
" Bisa tolong lepaskan? aku mau mengambil sesuatu " Ucapan Veln yang seperti bisikan bidadari kayangan begitu lembut dan sejuk didengar, mambuat Ray terkesiap.
Ray langsung membuka matanya dan senyum bahagia melengkung diujung bibirnya mendapati wajah cantik Veln dengan tatapan sendunya sedang menoleh kearahnya.
Sungguh hati Ray bak taman bunga, akhirnya mulut manis itu mengeluarkan suara untuk dirinya. Meski terdengar lirih dan biasa tapi Ray masih merasakan ada aura dingin disana. Tak apa, Ray cukup puas dengan ini. Setidaknya ada sedikit kemajuan dari hubungan barunya.
Ray perlahan mengendurkan lingkaran tangannya, melepas pelukan dan membiarkan Veln melakukan gerakan sesuai keinginannya.
Veln bangkit dan melangkah pergi, meninggalkan Ray yang tidur terlentang dengan memperhatikan dirinya.
Perempuan itu masuk kedalam kamarnya dan mengambil sebuah tipe x, tanpa membuang waktu Veln pun kembali menuju ruang depan.
Dia mendudukkan tubuhnya kembali ditempat yang sama, memudahkan Ray untuk melakukan hal yang sama pula.
" Tok tok tok " Selang berapa lama terdengar bunyi pintu yang diketuk.
Saat Veln hendak bangun untuk membukanya, Ray menahan pergerakannya. Hingga bunyi ketukan pintu itu terdengar ditelinga bu Ani, bu Ani pun dengan senang hati segera menghampiri pintu depan hendak membukakannya.
Ternyata sekertaris Sam yang datang, dia memang diperintahkan oleh Ray untuk datang dikediaman barunya. Tepatnya dirumah yang dibeli Veln. Ray mengabari terlebih dahulu sebelum sekertatis Sam menuju rumahnya dan pada akhirnya harus kecewa karena tidak menemukan Ray disana.
" Sekertaris Sam " Sapa Veln saat menoleh kearah pintu masuk untuk melihat siapa tamu yang mendatangi rumahnya sepagi ini.
" Pagi nona " Sapa Sam balik yang dibalas senyum manis nona mudanya.
Sam sedikit dibuat terkejut melihat tuan mudanya yang terkapar dibawah lantai dengan sudah rapih mengenakan baju kantornya. Tuan mudanya terlihat seperti seseorang yang sedang merajuk meminta sesuatu, sehingga cara apa pun dia lakukan.
Sampai segila inikah cinta? hingga membuat tuan mudanya keluar dari zona kebiasaannya. Permohonan maaf yang dilakukan tuannya nampaknya tidak lah mudah.
" Tuan "
" Hem " Ray masih memunggungi sekertaris Sam, wajahnya masih dia benamkan disalah satu tubuh Veln.
" Saya akan beritahukan jadwal anda hari ini "
" Katakan "
" Siang nanti akan ada pertemuan dengan klien "
" Lalu? "
" Selebihnya, anda hanya perlu menandatangani beberapa tumpukan dokumen "
" Aku akan mengerjakan itu dirumah V, maksud ku disini "
" Baik tuan, saya akan kirim semuanya kesini. Kalau begitu saya pamit, permisi "
" Tunggu " Ucapan Ray menghentikan langkah sekertaris Sam.
" Iya tuan "
" Tunggu hukuman mu " Sam mengernyit tidak mengerti.
" Maaf ... " Sebelum Sam menyelesaikan ucapannya, Ray terlebih dahulu memotong pembicaraannya.
" Maaf mu tidak bisa menyelamatkan dirimu, kau akan aku hukum Sam karena sudah dengan sengaja ikut menyembunyikan keberadaan V ku dan juga calon buah hati ku " Sam tersenyum mendengar itu.
Kesalahan sekertaris Sam terlihat sangat kentara hari ini, saat ketika Sam dipercayakan oleh Ray untuk melacak jejak Velnnya saat itu juga Sam ketika dimintai laporannya hanya menjawab Sabar tuan, nona muda belum diketemukan keberadaannya. Butuh waktu beberapa hari untuk mencarinya.
Namun pada kenyataannya, pagi ini ketika Sam diminta untuk datang dikediaman Veln tanpa Ray memberitahukan alamatnya Sam dapat dengan mudah dan tepat waktu berada disini. Dirumah mungil ini.
Rupanya sekertaris Sam benar-benar melakukannya, sengaja menyembunyikan keberadaan nona mudanya untuk sedikit menyiksa majikannya. Hingga menunggu waktu yang tepat baru dirinya akan memberitahukan tuannya.
Namun saat kecerdasan Ray kembali berfungsi, mencium adanya unsur ketidak beresan dari Sam. Dengan cepat Ray bertindak meminta bantuan orang lain untuk melacak keberadaan istri dan calon anaknya.
" Jangan senyum-senyum " Sepertinya tanpa melihat pun Ray sudah tau apa yang dilakukan sekertaris sekaligus asisten pribadinya. " Kau tau, kau itu nampak seperti orang gila " Veln mendelik kearah Ray yang wajahnya masih terbenam ditubuhnya.
__ADS_1
Sementara sekertaris Sam nampak menahan tawa. " Kau bisa bayangkan apa yang akan aku lakukan terhadap Rosi mu " Ancam Ray nampak setengah tidak serius. " Ku pastikan kau akan merasakan hukuman setimpal, akan aku matikan seluruh akses komunikasi dan pertemuan kalian. Aku tau, kau dan Rosi berkencam dibelakang ku kan? " Sekertaris Sam yang mulanya santai kini sedikit terlihat serius. " Disini mungkin Rosi yang akan merasa menderita. Tapi melihat Rosi tertekan, aku yakin kau akan ikut tersiksa. Aku.. Ryu Saka Wiratama akan membuat mu gila karena cinta. Ha ha haa " Ray tertawa lepas, seakan telah menyaksikan atas derita yang Sam alami akibat telah berani menentang dirinya.
Dan sekali lagi mendengar pernyataan Ray, membuat Veln kembali mendelik dan menyaksikan tubuh Ray yang terguncang akibat tawanya.
" Nona, maaf.. sepertinya nanti saya akan benar-benar membutuhkan bantuan anda " Tanpa ragu kalau sampai ancaman Ray terbukti hingga membuat Rosinya tersiksa, Sam akan benar-benar membutuhkan bantuan nona mudanya.
Bukankah kendali tuannya saat ini dan mungkin pula hingga kedepannya berada ditangan nonanya.
○○○
Menjelang siang hari, Veln yang sedari tadi terlihat pasrah ketika tubuhnya diperangkap oleh Ray tiba-tiba menunjukan protesnya.
Veln melepaskan tautan lengan Ray yang melingkar dipinggangnya dengan lembut.
Veln sepertinya ahli dalam memperlakukan Ray disituasi seperti ini. Ray tidak akan dapat berbuat sesuatu ketika dirinya berlaku lemah lembut dihadapan pria ini, dibandingkan dengan berbuat kasar justru akan membuat Ray memaksakan kehendaknya dan sebagai perempuan Veln sadar pasti akan kalah telak jika memilih adu kekuatan dengan pria itu.
Veln beranjak bangun dan sibuk dengan ponselnya, begitu juga dengan Ray. Sepertinya Ray pun hendak bersiap menuju kantornya, karena dua jam lagi dia harus bertemu dengan rekan kerjanya.
Ray yang masuk kedalam untuk mengambil kunci mobil, ponsel dan sepatunya yang dia letakkan didapur. Sementara Veln menuju arah keluar rumah sehabis membaca pesan yang masuk diponselnya.
Veln menuju dermaga dan terlihat disana mobil dokter Adrian sudah terparkir menunggu kedatangannya.
" Ateeeee " Sasa berlari menuju Veln, dengan berseru memanggilnya.
Sasa langsung menangkup lengan Veln, seolah sedang menyalurkan rasa rindunya.
" Sasa kangen sama tante? " Veln melerai pelukan Sasa, lalu dia berjongkok menyamai tinggi Sasa dan menanyakan hal tadi dengan mengusap sayang rambut gadis kecil itu.
" Em, Sasa kangen " Sasa menjawab dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Maaf, sepertinya saya akan merepotkan kamu lagi " Ucap dokter Adrian penuh dengan ketidak enakannya.
" Tidak apa dok " Jawab Veln santai " Karena tante juga rindu, bahkan sangat rinduuu dengan Sasa " Veln menghadap Sasa kembali dengan mencubit kedua pipi bakpau Sasa dengan gemas.
" Sebenarnya saya tidak habis pikir, ketika ibunya pergi untuk memantau bisnisnya, Sasa pasti akan langsung ingat kamu lalu rewel dan merengek ingin main dengan mu " Veln hanya tersenyum merespon ucapan dokter Adrian.
" Ate nanti temenin Sasa main ya? "
" Pengasuh Sasa nanti menyusul, dia tiba-tiba mendapatkan panggilan alam ketika bersiap hendak kemari. Namun karena Sasa terus merengek ingin secepatnya bertemu dengan kamu, jadi terpaksa kami meninggalkannya " Kembali Veln hanya merespon dokter tampan itu dengan senyumnya. " O ya, jangan lupa bulan depan kontrol kandungan kamu " Dokter Adrian mengingatkan.
" Siap, dok "
" Kalian baik-baik saja kan? "
" Em, kami baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dok, berkat saran dan nasehat dokter. Terimakasih "
" Tidak perlu berterimakasih, ini sudah tugas saya. Lagi pula saya dibayar disini " Dokter Adrian terkekeh yang diikuti Veln.
Setelahnya dokter tampan itu mengecup sayang gadis kecilnya dan melempar senyum mempesona kearah Veln sebagai ucapan perpisahan, dia segera masuk menuju mobilnya.
Ray yang bersiap untuk pergi harus cukup puas hanya dengan berpamitan dengan bu Ani saja karena tidak mendapati keberadaan Veln setelah dirinya meninggalkan perempuan itu diruang depan.
Namun dirinya terkesiap saat melangkah menuju dermaga dan matanya menangkap sosok Veln bersama seorang pria dan gadis kecil disana.
Mereka dimata Ray, bahkan dimata siapa pun terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia. Seperti seorang istri dan putrinya yang sedang melepaskan kepergian kepala rumah tangganya untuk bekerja.
Ditambah lagi Ray melihat dengan jelas, dokter Adrian yang sudah berada didalam mobilnya sedang melambaikan tangan dan memberikan kiss bye kepada Veln dan putrinya.
Cemburu? sudah pasti. Otak dan hati Ray cemburu melihat kejadian tadi. Bahkan seluruh tubuh Ray terasa panas dingin saat ini.
Tapi sekuat tenaga dirinya untuk menahan diri. Ray tidak mau gegabah dan bertindak sembarangan yang takutnya malah akan mempersulit hubungan dirinya dengan Veln.
" V " Veln tak mempedulikan sapaan Ray, Veln melewati Ray begitu saja dengan menggandeng Sasa. " Siapa gadis kecil ini? " Ray mengikuti Veln untuk kembali kerumah, sepertinya Ray akan sedikit menunda keberangkatannya.
Veln masih melenggang dengan tenang seolah tidak ada yang perlu untuk dijelaskan kepada Ray. Berbeda dengan Sasa, meski gadis kecil itu terus melangkah maju mengikuti arahan Veln namun kepalanya menoleh kearah Ray.
" Hey, kamu siapa? "
" Sasa, Om "
__ADS_1
Ok, berita baik untuk Ray karena gadis kecil itu tipe anak yang terbuka. Dia akan mengorek dengan mudah dari anak itu mengenai pertanyaan yang sudah menumpuk diotaknya.
Ray pun melebarkan kesabarannya untuk menghindari pertikaian diperjalanan menuju rumah kediaman Veln. Dengan perasaan terancam Ray mengikuti Veln untuk pulang.
Ray menyadari perempuan semanis, semenarik, dan sebaik Veln jika disia-siakan sedikit saja sudah pasti akan banyak yang menampungnya. Karena itu Ray lebih memilih menekan emosinya, dia tidak mau sampai berbuat kesalahan untuk yang kedua kalinya akibat ego yang mendominasi fikiran.
Genjatan senjata yang baru saja dilakukan Veln pagi tadi ternyata hanya untuk sementara waktu. Ray fikir dengan Veln mulai membuka mulutnya dan membiarkan dirinya menempel terus-menerus menandakan semuanya sudah baik-baik saja. Tapi pada kenyataannya, Veln malah memulai peperangan kedua.
○○○
" Jelaskan " Ray menarik lengan Veln lembut yang seperti ingin menghindarinya dengan memasuki rumah lebih dalam dan mencengkeramnya. Sasa yang dibuat bingung dengan adanya sosok Ray, hanya bisa mendongak dengan sedikit ketakutan melihat pria itu yang seperti ingin menikam tante kesayangannya.
Ray menyadari raut wajah gadis kecil itu yang terlihat terintimidasi olehnya. Sementara Veln menggenggam lebih erat jemari Sasa untuk menenangkan sikecil yang berdiri disampingnya.
" Kau membuatnya takut " Veln seolah meminta Ray untuk tidak menakutinya.
" Sayang, siapa tadi nama mu? " Ray mengusap sayang rambut poni Sasa.
" Sasa, Om "
" Om yang tadi mengantar mu itu siapa? " Dahi Sasa berkerut, mencoba mencerna pertanyaan Ray.
" Itu Daddy Sasa "
" Daddy? " Ray melirik Veln lalu kembali fokus kearah Sasa. " Lalu dimana mami mu? " Ray nampak seperti akan menemukan titik terang.
" Mami ja-uh " Ucap Sasa dengan terbatah dan bola mata yang berkaca.
" Kemana? " Ray begitu tidak sabaran, jawaban anak ini benar-benar menjadi penentu hubungan pernikahannya dengan Veln, itu menurut Ray.
" Jangan mengganggunya " Sergah Veln, ketika mendapati Ray yang seolah kalang kabut membutuhkan jawaban sementara Sasa yang mulai mendung karena rindu dengan Imelda ibunya.
" Mami ninggalin Sasa.. huaaaa, ninggalin Dady juga.. huahuahuaaa " Sasa menangis meluapkan rasa marah karena ibunya kembali meninggalkannya untuk mengecek bisnisnya.
Sementara, lain lagi persepsi dari Ray, Ray menganggap ucapan Sasa sungguh sangat mengancam pernikahannya.
Seorang duda beranak itu, kenapa cepat sekali menemukan V nya yang pernah dirinya buang dengan tanpa berperasaan.
" Aku tidak akan membiarkan pria lain menginjakkan kaki dirumah mu " Ray kini berfokus kearah Veln yang sibuk menenangkan Sasa yang sedang menangis karena ulah Ray.
" Cup cup cup " Veln mendekap Sasa dengan satu lengannya dan memberikan usapan lembut dipunggung Sasa. " Ada Tante disini yang akan menggantikan Mami mu "
" Cih " Ray berdecih mendengar ucapan Veln " Dirumah yang kau beli dengan menggunakan uang ku, jangan harap pria lain dapat menjejakkan kakinya disini " Veln mendelik hebat kearah Ray. Tanpa sadar sebenarnya Ray sudah mengeluarkan perkataan yang melukai hati Veln.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Veln memilih pergi untuk masuk lebih dalam menuju rumah dengan mengarahkan Sasa ikut bersamanya. Veln takut tangannya melayang jika berlama-lama berhadapan dengan Ray.
" Tunggu " Sekali lagi Ray menahan Veln beranjak dari tempat itu. " Katakan siapa sebenarnya pria itu? " Dengan aura menahan kesalnya.
" Persiapkan jantung mu " Ujar Veln santai meski didalam sana emosinya sedang meledak-ledak.
" Siapa? "
" Laki-laki itu adalah calon ayah baru dari janin yang ada diperut aku " Puas rasanya Veln mengatakan hal itu kepada Ray dengan ekspresi biasa saja tanpa merasa bersalah.
" Huffffft " Ray menghembuskan nafasnya berat dan meraup wajahnya kasar. " Kita perlu membicarakan ini lebih serius, tapi nanti tidak sekarang. Satu hal yang harus kamu tau V, janin didalam perut mu tidak membutuhkan ayah baru. Karena ayah biologisnya sudah sangat siap untuk menerimanya " Suara Ray mendadak parau. " Aku pergi dulu " Ray mencium dalam kening Veln lalu mengelus perutnya.
Namun Ray menghentikan langkahnya saat didepan pintu dan berbalik kembali menuju Veln " Katakan yang sebenarnya, siapa laki-laki itu " Sasa yang sudah mulai tenang, kini kembali sibuk memperhatikan Ray.
" Aku perjelas. Dia calon suami ku yang akan menggantikan mu Ray, jadi otomatis akan jadi ayah baru dari janin didalam perut ku " Lalu Veln pergi begitu saja bersama Sasa meninggalkan Ray diruang depan dengan berdiri termangu.
Veln menghampiri bu Ani yang terlihat sibuk membersihkan dapur.
" Non, sepertinya jam tangan tuan muda ketinggalan " Bu Ani menunjuk kearah meja yang terdapat salah satu jam tangan mahal milik Ray. " Eh, ada non Sasa " Sapa bu Ani ramah dibalas senyum imut Sasa.
" Biarlah bu, kayaknya pemiliknya lagi syok berat " Veln terkekeh sudah tidak tahan lagi mengingat Ray yang nampak percaya dengan ucapannya. " Saya bilang kalo dokter Adrian adalah calon suami saya sekaligus ayah baru dari janin dalam perut saya " Mendengar itu bu Ani pun jadi ikut senyum-senyum.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..