
Pagi itu cahaya matahari begitu terik menyelusup tirai jendela kamar Veln. Menyapu seluruh badan Veln yang masih terbaring ditempat tidur kamarnya, hingga semakin lama semakin terasa hangat yang akhirnya membangunkan Veln dari tidurnya.
Dengan susah payah mengerjapkan matanya perlahan, namun masih terasa berat. Matanya seakan protes masih ingin terpejam. Sepertinya akibat obrolan semalam yang berlangsung hingga menjelang pagi yang membuatnya malas untuk bangun.
Dengan perasaan terpaksa diraihnya sebuah jam weker yang terletak dimeja samping tempat tidurnya, jam yang semalam belum sempat dia setting alarmnya menunjukkan pukul 07.00 wib.
Ya ampun aku kesiangan. Bisa-bisa aku kena semprot Mbak Del gara-gara telat bangun. Kenapa juga Mbak Del tidak membangunkanku pagi ini? biasanya kan dia dan putrinya langsung sigap bawa gayung buat nyiram wajah aku kalau terlambat bangun. Mungkin mereka juga masih belum sadar dari tidurnya akibat begadang semalam.
Veln dengan cepat membuka pintu kamarnya dan bergegas menuju dapur untuk memasak. Ketika hendak menuju dapur dia mendengar obrolan dari ruang tamu.
Sepertinya ada tamu, orang penting macam apa yang bertamu sepagi ini dan membuat Mbak Del tidak membangunkanku sampai sesiang ini???
Rasa penasarannya menyeret langkah kaki Veln menuju ruang tamu. Dia menghentikan langkahnya dipembatas tembok antara ruang tamu dan ruang tengah, bermaksud untuk menguping.
" Terima kasih juragan Seno sudah berbaik hati mau memberikan tambahan waktu lagi buat saya " Nada bicara Delina terdengar sedikit menjilat.
" Saya tidak akan menyia-nyiakannya, saya akan memanfaatkan sebenar-benarnya " Seolah meyakinkan suatu hal.
" Saya akan bicarakan lagi nanti dengan keponakan tersayangku, tentunya setelah dia bangun nanti. Karena saya tidak tega juragan kalau harus membangunkan dan mengganggu tidur Veln " Ucap Delina penuh dusta.
" Baiklah Nyonya Del. Saya harap hasilnya tidak mengecewakan kalau sampai Nyonya berhasil mewujudkan keinginan saya, bukan hanya sertifikat rumah ini saja nanti yang akan Nyonya terima tapi juga beserta kawan-kawan yang lainnya bisa Nyonya dapatkan "
Terlihat Ibu dan putrinya cengengesan tidak karuan. Ya Virina tidak kalah antusiasnya menyambut dan menemani kedatangan juragan Seno kerumahnya. Meskipun dia cuma bisa cengar-cengir saja sama sekali tidak ikut andil dalam pembicaraan Ibunya dan juragan Seno, tapi dia sudah cukup bahagia kedatangan tamu yang dianggapnya sebagai calon Ayah mertua masa depannya itu.
Mbak Del benar-benar sungguh keterlaluan kali ini. Tidak aku sangka ternyata Mbak Del benar-benar membenciku, sampai dia tega berbuat sejauh ini. Ku pikir obrolan semalam itu tidak benar-benar terjadi, sampai akhirnya aku menyadari pagi ini.. Mereka benar-benar sedang melakukan kesepakatan. Bola mata Veln tiba-tiba berkaca-kaca, tak lupa sembari menajamkan kembali indera pendengarannya yang terdengar sepi tak seperti barusan.
" Ya ampun calon Mama mertuaku, kamu lagi nguping? " Suara Virina mengagetkan Veln, buru-buru dia mengusap ujung kedua kelopak matanya yang hampir berair.
" Benar kamu menguping pembicaraan Mbak sama juragan tadi? " Ucap Delina yang baru saja nongol dari balik punggung Virina " Bagus lah kalau begitu, berarti aku tidak usah repot-repot buat menjelaskan ini semua sama kamu. Seperti yang sudah aku katakan semalam kamu tinggal nurut sama Mbak Del semuanya akan beres dengan mudah. Selain sertifikat rumah ini kembali, aku akan mendapatkan beberapa keuntungan lainnya seperti jatah uang bulanan jadikan pamanmu tidak perlu capek-capek kerja cari uang. Dan beberapa kontrakan juga akan dipindah tangankan menjadi milik saya. Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan.. Kau bisa jadi Nyonya juragan dan aku jadi Ibu mertuanya " Lalu mereka berdua pun tertawa bahagia.
Tanpa menghiraukan keduanya, Veln berlalu meninggalkan mereka. Tanpa disadari Veln, Mbak Del dan Virina membuntuti dari belakang persis seperti anak ayam mengikuti induknya kemanapun pergi.
" Kenapa kalian mengikutiku? " Ketika tersadar sedang dibuntuti dan segera membuka pintu kamar hendak masuk " O ya Mbak Del, pagi ini aku malas memasak Mbak Del gantiin dulu ya " Memerintah tak seperti biasanya.
Veln pikir sebesar apapun kesalahan yang sekarang akan dia lakukan tidak akan membuat Mbak Del dan putrinya murka seperti sebelumnya. Secara hidup dan matinya ke dua orang itu kan sekarang ada ditangannya.
" Apa kamu sedang memerintah aku? " Sembari memelototkan matanya kearah Veln " Memangnya kamu hendak melakukan apa sampai tidak mau kedapur pagi ini? " Masih dengan nada marah.
" Aku mau mempersiapkan data-data yang diperlukan untuk pernikahan " Veln mengeluarkan jurus mematikan untuk Bibinya.
__ADS_1
Mata Mbak Del dan Virina langsung bersinar dan senyum lebar kebahagiaan pun terpancar dari raut wajah mereka. Banyak sekali hal-hal yang sedang dikhayalkan dibenaknya.
Berfikir keras bagaimana cara nya nanti untuk menghabiskan uang jatah bulanan dari juragan Seno ketika sudah menjalin ikatan kekeluargaan. Harus memulai darimana ketika tingkat ekonominya naik level ke yang lebih tinggi. Memikirkan fashion dan gaya hidup seperti apa nanti yang akan mereka terapkan.
Setelah tersadar dari kehaluannya " Baiklah keponakanku tersayang, Urusan dapur serahkan padaku. Memang tidak baik kalau kamu sampai kecapek an, harus banyak istirahat untuk persiapan hari bahagia nanti " Delina pun berlalu menuju dapur.
" Mama mertuaku tersayang, nanti baik-baik ya jagain Mas Rega ku " Virina meledek dan berlalu sembari cekikikan.
●●●
Didalam kamar Veln mendudukkan tubuhnya diatas lantai, sembari pikirannya bersliweran tidak jelas. Tidak disangka ternyata numpang hidup bersama keluarga pamannya lebih sulit dibandingkan hidup bersama Ibu tiri.
Memori-memori sulit yang dulu dia lewati kini satu persatu bersliweran. Terpampang nyata dipelupuk matanya, bagaimana dulu dia harus rela melewatkan sarapan hingga makan siang karena dia hanya diberi jatah makan satu kali dalam sehari, membereskan semua pekerjaan rumah, harus rela jadi bahan sasaran kemarahan Bibi dan sepupunya ketika mereka merasa kesal dan sama sekali tidak dianggap ada keberadaannya. Kecuali jika Pamannya pulang dari merantau baru dapat sedikit peluang untuk bernafas, ya karena Pamannya ini lah sampai sekarang Veln masih tidak melawan atas kedzholiman yang Delina dan Virina lakukan selama ini.
Matanya tertuju pada sebuah pintu lemari pakaian dikamarnya, diangkatnya tubuh langsingnya mendekati lemari dan tak butuh waktu lama pintu lemari pun terbuka.
Jari-jari tangannya sigap menarik laci yang terletak didalam lemari pakaiannya, diraihnya map biru beserta isi-isi didalamnya dan ditutupnya kembali seperti semula baik laci atau pun pintu lemarinya.
Bersiap mendaratkan map biru dan tubuhnya diatas tempat tidur tapi sebelumnya menyaut ponsel terlebih dahulu yang diletakkan diatas meja samping tempat tidurnya.
Veln menumpahkan semua isi map biru diatas kasur tidurnya, lalu jari-jarinya cepat menjelajahi keyboard layar ponselnya.
Syarat-syarat menikah.. googling menggunakan ponselnya.
Setelah dirasa sudah terkumpul semua data-data yang dibutuhkan, segera diklip dengan menggunakan penjepit kertas dan dimasukan menjadi satu kedalam amplop coklat.
Tangan kirinya menarik kerah piyama tidurnya, mendekatkan keujung hidung mancungnya mengecek aroma tubuh diri sendiri.
Apa semalam tidurku benar-benar ngiler???Masabodolah.. Siapa tau aja dengan hobi baruku ini ketika mereka mendengarnya bisa jadi jurus ampuh untuk membatalkan pinangannya, karena merasa jijik.
Veln bergegas menuju kamar mandi setelah mengambil handuk sebelumnya dari gantungan.
Dipintu masuk dapur menghentikan langkahnya sebentar, memperhatikan Delina yang sedang sibuk melakukan rutinitas pagi yang biasanya dia lakukan dipagi-pagi yang sebelumnya.
" Mbak Del " Mendengar namanya dipanggil Delina pun menoleh.
" Ada apa keponakanku? " dengan nada lembut selembut-lembutnya tak seperti biasanya. Ya sekarang ini Delina menganggap keponakannya bak peti harta karun yang tak ternilai harganya dan harus dilindungi.
" Sepertinya aku memerlukan semua ijasah pendidikanku Mbak, untuk melengkapi persyaratan data-data pernikahan " Dengan sengaja Veln memanfaatkan situasi ini untuk mengambil yang seharusnya jadi miliknya.
__ADS_1
" Tentu sayangku, akan Mbak Del ambilkan dan berikan kepadamu " Tanpa rasa curiga.
" Baiklah "
" Sementara aku menyelesaikan masakanku sebaiknya kau mandi saja terlebih dahulu membersihkan diri " Ujar Delina ketika matanya menangkap sebuah handuk yang melingkar dileher Veln.
Veln hanya mengangguk dan berlalu menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Veln sudah terlihat rapih dengan pakaiannya, dan matanya langsung beralih diatas kasur tempat tidurnya menatap lekat-lekat lembaran-lembaran kertas yang sudah terlaminating rapih. Pasti Mbak Del yang menaruh itu ketika dirinya sedang melakukan ritual mandinya tadi.
Segera dia pegang dan tatap lembaran-lembaran itu, dan dia ciumi satu persatu dengan perasaan bangga.
Bukti perjuanganku, gumamnya dalam hati.
Akhirnya kau kembali ketempat asalmu nak, baik-baik ya bersamaku dan jangan pernah menjauh lagi dari jangkauanku.
Dengan tersenyum bahagia, dipeluknya erat-erat bukti hasil kerja kerasnya.
Setelah dirasa puas dengan apa yang dilakukannya Veln pun bergegas menyimpan semuanya didalam amplop coklat tadi dikumpulkan jadi satu dengan data-data yang diperlukan untuk persyaratan menikahnya. Dan memasukkannya kedalam tas yang akan dia bawa.
Tok tok tok
Suara pintu kamar Veln terdengar diketuk. Veln agak sedikit mengerutkan dahinya, dan menggeleng-gelengkan kepala. Merasa aneh atas perubahan sikap yang dilakukan oleh bibi dan sepupunya. Padahal semalam Mbak Del masih nyelonong tanpa permisi untuk masuk kekamarnya, sedangkan pagi ini menunjukan kalau ternyata mereka masih memiliki sopan santun juga.
" Siapa? masuk saja " Terlihat Mbak Del dan Virina masuk dari balik pintu sembari tersenyum merekah, sementara Veln masih sibuk mengretsleting tas miliknya.
" Hay Mama mertua " Sepertinya sudah menjadi rutinitas baru buat Virina menggoda Veln dengan sebutan Mama mertua.
" Bagaimana Nak, apa semua data-data yang diperlukan sudah terkumpul? "
Apa? Nak?!!! aku tidak salah dengar?
Rasanya ingin sekali Veln tertawa menyaksikan tingkah konyol Bibinya itu.
" Sudah Mbak Del "
" Baguslah, nanti Mbak Del akan bantu urus untuk selanjutnya " Begitu bersemangat " Kalau begitu sebaiknya kita sarapan dulu "
" Silakan Mbak Del dan Virina duluan saja, aku masih belum merasa lapar "
__ADS_1
Coba pikir saja, kayaknya siapapun yang berada dikondisi seperti ini otomatis alias sudah pasti akan hilang selera untuk melakukan apapun terutama untuk melakukan sarapan.
Bersambung..