
Fenina nampak terdiam, perempuan itu justru sibuk menelaah wajah prianya. Nina semakin dibuat tertegun saat mendapati pancaran wajah Renand yang nampak serius dan penuh kesungguhan akan ucapannya.
" Aku nggak main-main, Nin. Memang dari awal niat aku buat dekat sama kamu ya untuk aku jadikan istri dan ibu dari anak-anakku " Nampak, Fenina tersenyum tipis dan bulir bening pun turun tanpa kendali dipipi mulusnya. " Jangan nangis, ngrusak moment romantis saja " Protes Renand, yang membuat Nina tersenyum lebar. " Karena itu juga aku rela membereskan semua akar masalah yang menghalangi hubungan kita. Tapi, balik lagi kediri kamunya. Keputusan ada dikamu, aku tidak akan memaksa. Dan jangan pernah merasa keberatan, karena aku iklhas melakukan sampai sejauh ini untuk kamu dan keluargamu " Renand mengusap air mata Nina dengan ibu jarinya, yang kembali jatuh satu persatu dengan jarang. " Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, pikir-pikir saja dulu sampai kamu benar-benar sadar bahwa kamu sudah jatuh hati sama aku "
" Aku akan menjawabnya sekarang " Tegas Nina penuh keyakinan.
" Jadi, apa jawabanmu? " Entah mengapa ada kecemasan luar biasa yang dirasakan pemuda itu, meski dirinya sudah meyakini dengan seratus persen bahwa perempuan yang ada dihadapannya tidak akan menolak lamarannya. Mungkin sedikit ada keraguan dalam diri Renand. Dia takut Feninanya menerima lamaran dalam keadaan terpaksa, karena adanya rasa tidak enak atas apa yang sudah dilakukan Renand atas keluarga Nina.
" Aku bersedia " Nina menjawab mantap. " Aku bersedia jadi istri dan jadi calon Ibu dari anak-anakmu " Fenina memancarkan aura bahagianya saat menjawab pertanyaan Renand.
" Yakin? "
Nina menangkup punggung tangan Renand dengan telapaknya. " Yakin " Seketika, Renand tersenyum lega.
" Bukan karena terpaksa dan perasaan tidak enak, hutang budi atau semacamnya kan? " Renand masih berusaha meyakinkan diri atas sedikit keraguan yang masih terasa dibenaknya.
" Bukan Rey "
" Bisa kamu beri satu atau dua alasan untuk meyakinkan diri? "
" Bisa " Nina menghela nafasnya sejenak " Aku bersedia jadi istri dan calon Ibu dari anakmu karena aku mau, dengan begitu aku dapat dengan mudah menyalurkan rasa sayang dan cinta aku buat kamu. Artinya kamu mengertikan? bahwa aju juga jatuh hati terhadapmu "
" Aku masih belum yakin kalau kamu juga jatuh hati terhadapku "
" Seiring berjalannya waktu, aku akan buktikan nanti. Aku akan memperlakukanmu dengan manis. Aku akan nurut dan patuh sama kamu. Pokoknya kita akan seperti Mbak Veln dan Kakakmu yang romantis tiada berkesudahan " Belum apa-apa Nina tersenyum sembari membayangkan, betapa nanti mereka akan terlihat mesra saat menirukan keromantisan dari Mami dan Papi Ley.
" Ada alasan lain yang lebih meyakinkan untuk aku dengar saat ini? "
" Ada, aku nggak mau kamu jadi zombie "
" Zombie? maksudnya? " Hampir memanas kepala Renand dikatai zombie.
" Emmmm... Zombloh abadi " Terdengarlah tawa menyeruak dari Fenina tanpa merasa bersalah.
" Hah, sial " Renand berdecak kesal dengan menepis tangan Fenina yang sedang asik memainkan jari-jemarinya.
" Becanda, Rey " Nina menyunggingkan senyum termanisnya. " Jangan dimasukan kehati. Lagi pula tidak mungkin pria seganteng kamu jadi jombloh seumur hidup "
" Untung cantik, kalau tidak.. Tamat kamu " Renand menyentil pelan kening Fenina, hal itu malah membuat perempuan itu terkekeh.
" Sakit, Rey " Renand pun mengusap kening Nina, bekas sentilan tangannya.
Sejenak suasana didalam sana mendadak sunyi, tatkala Fenina tiba-tiba melingkarkan tangannya kelengan Renand dan diakhiri dengan kepalanya yang dia sandarkan dibahu laki-laki yang duduk disampingnya.
Lalu, Nina mendongakkan wajahnya kearah Renand dengan kepala yang tetap menempel disalah satu bagian tubuh pria itu.
" Rey "
" Hemm " Renand pengusap puncak kepala Nina beberapa kali dengan lembut.
" Sungguh, aku bersedia menjadi milikmu " sejenak perempuan itu terlihat menelan liurnya. " Dengan atau tanpa kamu membereskan akar permasalahan keluargaku " Nina menatap Renand dengan wajah sendunya. " Saat itu aku hanya butuh sedikit waktu, tanpa aku sadari ternyata kamu seratus langkah lebih cepat membereskan semua pokok permasalahannya. Tau begitu aku tidak usah repot-repot untuk lari dan menghindar darimu "
" Dan bodohnya, bukannya lari menjauh kamu malah terdampar ditoko bunga Kak V " Renand terkekeh merasa lucu, tapi didalam hatinya dia merasa bersyukur dan semakin yakin bahwa Nina adalah jodohnya.
" Mungkin, memang Tuhan menakdirkan kita untuk berjodoh "
" Semoga saja begitu. Tapi, maaf. Nin, sepertinya kamu harus sedikit bersabar. Karena harus mendahulukan Kak Rosi untuk melenggang kepelaminan " Nina mengangguk tak mempermasalahkan. " Kita harus cukup puas dengan hanya bertunangan terlebih dahulu "
" Tidak apa, Rey. Lagi pula aku juga masih harus menyelesaikan pendidikanku dahulu "
" Ok " Renand mengecup sayang kening Fenina. " Sudah malam, Nin. Kita turun.. Tapi " Nina langsung melepaskan dekapannya, dan segera bergerak menuju pintu mobil. Namun saat mendengarkan kata tapi yang dikeluarkan dari mulut Renand membuat Fenina menolehkan wajahnya kearah pemuda tersebut yang sedang mengeluarkan senyum menyeringainya. " Cium dulu dong "
Nina sedikit membolakan matanya. " Idiiih.. Ogah "
" Hem, bilangnya mau patuh dan nurut belum apa-apa.. "
" Ya, nggak gitu juga dong Rey "
" Gitu gimana? "
__ADS_1
" Mengambil kesempatan dalam kesempitan.. Bikin aku pengen nabok aja. Mana sedari tadi aku tuh kesel tau nggak sama kamu " Raut Fenina nampak sedikit merengut. " Eh, ujug-ujug main minta cium-cium aja bikin tambah kesel "
" Kesel, kenapa? "
" Kesel, karena kamu nggak ada romantis-romantisnya. Ngelamar, ngajak nikah kok spontan gini aja, apa lagi kalau inget kencan pertama! Aduuuuh, memalukan. Kalau dibikin film cocok diberi judul tragedi penculikan berpiyama " Nina ngakak diujung kalimatnya begitu juga dengan Renand " Tapi, nggak masalah. Karena aku cinta sama kamu " Nina mendekat dan mendenguskan wajahnya kearah Renand, dan cup. Satu kecupan perempuan itu daratkan dipipi pria dihadapannya, lalu dengan tersenyum malu Fenina langsung membuka pintu mobil dan segera beranjak turun.
○○○
Sementara itu, diwaktu yang hampir bersamaan disebuah kamar terdengar kegaduhan kecil disana.
" V " Terlihat Ray datang dari arah kamar mandi dengan handuk yang menggantung dipinggangnya mendekati istrinya yang sedang duduk diatas sofa ruang tv.
" Hem " Mendengar namanya disebut, perempuan itu segera mendongakkan wajahnya kearah suaminya. Tombol remot tv yang sedari tadi dia pandangi pun segera diabaikannya.
" Aku mau pakai piyama yang sama dengan piyama yang saat ini kamu kenakan " Veln pun mengerti, dia segera beranjak berdiri. Diletakkannya remot tv, niat awal hendak mengganti chanel namun harus terurungkan akibat titah tak terduga sang suami.
Ray, lelaki tampan yang sedari tadi mendadak menjadi pria yang sangat menyebalkan terlihat mengokori perempuan ayu didepannya menuju walk in closet.
Disebuah ruangan yang menampilkan deretan pintu lemari, jari-jemari lentik perempuan ayu itu sibuk menyibak satu persatu gantungan pakaian yang menampakkan pakaian tidur suaminya.
" Pakai yang ini saja ya " Mengambil satu stel piyama berwarna navy kearah suaminya.
" Aku mau yang sama denganmu " Ray menolak, kekeh pada pendiriannya. Hal itu membuat Veln terpaksa menggerakkan kembali jemarinya dengan mata fokus menatap piyama yang tergantung rapih dilemari.
" Kalau pakai yang ini saja bagaimana? " Kembali Veln menunjukkan piyama berwarna abu-abu sebagai opsi kedua, namun Ray kembali menolaknya. Pria itu menggeleng tegas.
" V.. " Ray agak menekan suaranya. Dengan begitu pria itu berharap wanitanya mengerti, bahwa keinginannya sudah tidak bisa ditawar lagi.
" Ya, gimana dong? Dilemarimu tidak ada yang seperti ini " Veln menunjukkan baju tidur yang dikenakannya kearah Ray.
" Pokoknya aku mau couple an, minimal warnanya senada tidak masalah "
" Tapi Ray, dilemarimu juga tidak ada warna yang senada dengan piyama yang aku kenakan "
" Kalau begitu cari dilemarimu, siapa tau ada yang sama " Ray ngotot seperti anak kecil yang memaksa Ibunya untuk membelikannya ice cream. Veln menggelengkan kepalanya dengan tersenyum, senyuman yang diujung berubah menjadi menyeringai.
" Gitu dong. Udah jadi istri pria smart masih belum ketularan pinter juga, heran " Ray pun kembali mengekori istrinya yang berpindah kesebrang, menuju lemari yang berisi pakaiannya.
Setelah membuka salah satu pintu lemarinya, perempuan itu menyempatkan diri untuk tersenyum kearah Ray. Kemudian, sejenak menyibak beberapa gantungan pakaian. Berpura-pura mencari sesuatu yang dinginkan suaminya.
" Tidak ada, pakai yang tadi saja ya? " Dengan suara dan perlakuan yang lembut dan selembut-lembutnya.
" Tidak bisa ditawar, coba cari lagi. Masa sebanyak ini tidak ada yang sama denganmu? Paling tidak yang warnanya senada "
" Kalau dilemari aku ada banyak baju tidur dengab warna salem seperti ini tapi.. " Dengan jari yang masih sibuk berpura-pura memilah dan memilih baju yang Ray mau.
" Tidak ada tapi-tapian.. Bagi satu buat aku. Aku mau couple an sama kamu, biar malam ini tambah romantis " Dengan kepala batu, Ray menyodorkan telapaknya.
" Baiklah Tuan muda " Suara Veln menggalur kesal, sejenak menenangkan diri dengan menghela nafasnya " Kalau begitu pakai ini, kita pasti akan terlihat romantis malam ini. Bahkan lebih romantis " Veln menjulurkan satu stel baju tidur kearah Ray dengan sedikit kesal yang tertahan, namun sempat terkekeh diujung perbuatannya.
" Astaga, yang benar saja V.. Masa aku disuruh pakai gaun tidurmu? " Ray memelototkan matanya, tapi sedetik kemudian pria itu mengeluarkan tawanya. Ya, dengan konyolnya perempuan ayu itu menyodorkan gaun tidur seksinya yang memiliki warna yang sama dengan piyama yang dikenakannya saat ini.
" Masih berani tertawa lagi " Sebal Veln.
" Ayo, cari lagi "
" Gimana dong Ray, kenyataannya kamu tidak punya piyama yang warnanya senada kaya gini? "
" Terus gimana dong? "
" Au, udah ikhlasin pake yang ada aja " Veln berucap sembari melenggang pergi, sudah cukup pikirnya meladeni tuan muda yang lagi banyak kemauan.
" Wah, gila ini sih namanya. Masa aku disuruh harus ikhlas pakai yang beginian " Dengan tangan menjunjung tingi gaun tidur istrinya yang masih tertata rapih digantungan baju dan mata yang menatapi gaun tersebut dengan seksama. Lalu tak lama Ray pun terkekeh setelah membayangkan dirinya mengenakan gaun tidur sexy tersebut.
" Yah, gagal deh couple an romantisnya " Ray bergumam dan meletakkan kembali gaun tersebut ketempatnya.
○○○
" V " Kembali pria itu menghampiri wanitanya yang sedang berdiri tak jauh dari nakas tempat tidur dengan handuk yang masih tergantung dipinggang.
__ADS_1
" Sudah tidak usah pakai baju lagi, seperti itu saja malam ini sampai piyama yang kau inginkan tersedia dilemari " Senyum perempuan itu terbit begitu saja, seolah sedang menertawakan kelakuan Ray yang konyol.
" Bener nih? Tapi nanti aku masuk angin dong sayaaang " Ray mendudukkan dirinya dikasur dengan tangan meraih lengan Veln dan memposisikan istrinya untuk berdiri dihadapannya.
" Tidak akan, karena selimut tebal itu akan setia menghangatkanmu " Veln menunjuk selimut diujung ranjang dengan dagunya. " Dan berhentilah bersikap menyebalkan, sebelum kesabaran ku habis. Tau rasa nanti kamu " Veln mengarahkan senyuman penuh ancamannya.
Memang sedari tadi, sedari perjalanan menjemput Fenina hingga sampai dengan saat ini Ray begitu sangat mengesalkan. Ada saja kelakuannya yang menyebalkan, yang melebihi putranya Ley saat sedang tantrum. Rasa-rasanya sudah sedari tadi dirinya ingin menabok Ray untuk sedikit memberinya pelajaran. Idenya yang menyuruh Ray untuk mandi ulang akibat keberisikannya yang sedari tadi ribut dengan kata panas dan gerah justru malah berujung dengan drama baru.
Pria itu terkekeh setelah mendengar ancaman dan raut wajah kesal istrinya. " Cukup ya Ray, jangan sampai ide cemerlang sekertaris Sam untuk menyuruhmu tidur dikamar mandi terealisasi "
" Maaf sayaaang.. Aku melakukan itu cuma ingin mendapatkan perhatian lebih darimu " Ray terkekeh dan menarik pinggang istrinya untuk dirinya dekap.
" Bilang dong terus terang, kalau lagi pengen dimanja " Lebih tepatnya pengen lebih dimanja, karena selama ini Veln memperlakukan suami dan putranya sudah dengan benar dan penuh kasih sayang.
Ray mendongak, lalu mengulurkan sebelah tangannya untuk mengusap sayang pipi mulus istrinya. Tanpa diminta perempuan itu mengecup pipi suaminya penuh cinta.
" Pakai piyamamu ya? Nanti aku ambilkan " Veln melepas dekapan Ray dan berlalu untuk mengambil barang yang dimaksud.
Tak lama perempuan ayu itu datang dengan membawa piyama berwarna abu-abu milik Ray. Ray meletakkan baju tidurnya diatas nakas setelah istrinya tak lama menjulurkan kearahnya.
" Hemmm, mulai lagi nih? "
" Enggak sayaang " Ray menarik lembut istrinya kedalam pangkuannya. " Aku cuma mau tanya, kapan kamu akan memberikan adik untuk sikecil Ley? " Senyum penuh kemauan terpancar jelas diwajah tampan Ray.
Veln mengecup mesrah bibir suaminya sekilas lalu berucap. " Kapan pun aku siap sayaang, memang kenapa? " Ray dibuat sumringah dengan kelakuan dan ucapan istri tercintanya.
" Karena aku juga sudah tidak sabar ingin memiliki bayi lagi dari rahim kamu " Ray membelai wajah Veln dan mendaratkan ciuman penuh gairah ditelinga istrinya.
" Jiahahahaa.. Pinter modus ya, bilang aja kamu lagi pengen. Pake bawa-bawa Ley minta adik segala " Veln tak terima putranya yang sudah tidur terlelap dikamarnya dijadikan batu sandungan oleh Ayahnya. Lalu mereka pun tanpa sengaja terkekeh bersama.
Dan yang terjadi- terjadilah, dengan penuh cinta dan kasih sayang. Dan penuh dengan sentuhan kelembutan mereka saling menuangkan dan mencurahkan gairah asmara yang sudah tak terbendung lagi.
" Ray " Dengan suara tersengalnya Veln berucap.
" Hem " Pria itu menjawab dengan suara paraunya akibat hasratnya yang sudah meninggi.
" Lain kali.. Ahhh. Langsung to the point aja kalau lagi pengen, tidak usah main drama-dramaan dahulu. Aaauuu " Veln berkata sembari sesekali melenguh akibat sentuhan Ray, namun dipenghujung ucapannya perempuan itu menjerit, mengaduh kesakitan.
" Kenapa kau menggigit pundakku? " Veln melotot marah menatap kearah Ray, yang juga sedang menatap kesal dirinya.
Ya air muka Ray terlihat dongkol akibat menahan sesuatu yang sedang bergejolak akibat kelakuan konyol istrinya.
" Kau keterlaluan V, ini nie kebiasaan jelek yang tidak berubah darimu. Lagi asik-asiknya selalu saja menyelipi sesuatu yang tidak harus diobrolkan sekarang. Bikin mood orang menghilang saja " Ray bangkit dari posisinya yang sedang mengungkung tubuh wanitanya.
Namun dengan cepat, Veln menahannya dengan mengalungkan kedua lengan dileher Ray. Dan dengan cepat pula dirinya menyerang Ray dengan menciumi wajahnya bertubi-tubi hingga Ray pun kembali memanas dan menikmati olahraga spesialnya. Disela aktifitasnya, Veln tak lupa membisikkan kata maaf dengan mesra karena sempat merusak suasana penuh cinta malam itu.
" Maaf "
Ray pun mengangguk dan berucap. " Kita lanjut, hem? Sampai pagi " Perempuan ayu itu mengangguk pasrah, tak menyadari akan ucapan suaminya yang penuh makna yang mungkin mengharuskan dirinya untuk mengeluarkan tenaga dalamnya untuk melayani suami tersayangnya.
Sampai akhirnya, dua insan itu benar-benar melakukan hal itu dengan sangat intim dan khusuk. Tentu salah satunya dengan tujuan untuk menumbuhkan benih baru dirahim sang wanita. Tanpa mereka berdua sadari bahwa bulan ini perempuan ayu itu telah terlambat datang bulan setelah beberapa saat lalu sempat melepas alat kontrasepsinya dengan melakukan operasi kecil. Tanpa mereka ingat pula masih ada benda persegi yang masih setia menyala menampilkan salah satu acara dari chanel tertentu.
Itulah sekilas cerita dari keluarga wiratama. Setidaknya kita bisa ambil kesimpulan, bahwa selain mereka tergolong dari keluarga yang setia dengan pasangannya. Mereka juga merupakan keluarga yang tidak pernah memandang seseorang dari status dan derajat mereka. Asal seseorang itu merupakan sosok yang baik dan jujur, maka akan dengan mudah diterima masuk kedalam keluarganya.
.
.
.
*Tamat.
Hallo, tks ya buat kalian yang sudah setia membaca novel receh author yang satu ini. Yang tentunya masih sangat jauh dari kata sempurna. Author juga ucapin terimakasih buat kalian yang sudah sudi untuk memberi like, coment , n votenya. Sekali lagi matur tks u 😙.
Nah, untuk selanjutnya author mau fokus menulis karya novel kedua author dengan judul Menggoda. Baca, like n coment juga ya dikarya kedua author.
Ok dech, sekali lagi hatur nuhun.. Mohon maaf jika selama ini ada salah-salah kata yang disengaja atau pun yang tidak disengaja.
Semoga kita semua selalu dalam lindungan Nya*, Amin.
__ADS_1