
Setelah tujuh hari berlalu, kediaman Wiratama kini nampak sepi tak seramai sebelumnya. Terang saja karena keluarga kecil Tante Susan sudah pulang kekota asalnya. Begitu juga dengan Mbak Del dan Virina sekalian ikut serta kembali kekota asalnya.
" Tetaplah tinggal dirumah ini, jangan pernah berfikir untuk pindah keluar. Pikirkan Rosi dan Renand, mereka juga pasti menginginkan kau tetap disini " Ujar Ray terhadap Ibu sambungnya, setelah mencium rencana Mami Rosa yang hendak angkat kaki dari kediaman Wiratama.
Sepeninggal Nenek Lusiana, Mami Rosa pikir harus secepatnya angkat kaki dari rumah itu. Karena Mami Rosa masih punya malu terhadap Ray. Mengingat seseorang yang dia gantungkan dan menerimanya dengan senang hati sudah pergi untuk selamanya. Karena itu dia tidak punya pilihan lain, selain harus angkat kaki dari rumah itu. Dan Mami Rosa berencana untuk membeli rumah untuk dia tinggal bersama Rosi putrinya, meskipun mungkin uangnya hanya cukup untuk membeli rumah yang kecil dan sederhana. Bisa saja sih Mami Rosa membeli rumah yang lebih layak dari yang sudah direncanakannya, Namun Mami Rosa memutuskan untuk mandiri dan berdiri sendiri mulai dari sekarang untuk membiyayai hidupnya dan juga Rosi. Karena itu dia berencana, segala fasilitas yang didapat dari Ray akan dia kembalikan. Dan jika memungkinkan Rosa memiliki rencana lain. Rosa akan pulang kekampung halamannya, dengan meninggalkan Rosi sampai putrinya menyelesaikan pendidikannya.
Namun rencana tinggal lah rencana, nyatanya kebaikan Ray kembali memberi dampak positife untuk keberlangsungan hidupnya dan juga putrinya. Kalau untuk Renand jangan ditanya, Ray pasti akan mengambil alih sepenuhnya atas hidup Renand seperti yang sudah Ray lakukan selama ini. Sekalipun Rosa membawa kabur putranya, Ray pasti tidak akan tinggal diam dan akan mencarinya hingga ujung dunia. Lagi pula putranya juga belum tentu mau untuk ikut tinggal bersamanya.
" Terimakasih, Nak " Ucap Mami Rosa tulus, dengan penuh penyesalan yang mendalam pula atas kejahatan yang pernah dilakukannya dahulu.
○○○
Didalam mobil, menuju perjalanan pulang dengan formasi seperti biasa Ray yang duduk dibelakang kemudi dengan Veln duduk disampingnya dan Renand yang harus pasrah dan menerima untuk duduk dijok kursi belakang menapaki jalanan yang begitu ramai dan sedikit agak macet.
" Kak "
" Hem " Ray masih fokus dengan kemudinya.
" Terimakasih, kau masih mau mempertahankan Ibu ku dirumah itu " Ujar Renand penuh dengan rasa syukur.
" Aku tidak mau kau menjadi sebatang kara sepertiku " Veln meraup wajah Ray dengan telapak tangannya. " Jangan lakukan lagi sayang, aku sedang menyetir itu bisa membahayakan keselamatan kita "
" Karena itu bersikaplah dewasa, jangan terus-terusan membatu. Kau harus memberi contoh yang baik untuk Rey. Terlalu lama menyimpan dendam, tidak baik untuk kesehatan mu "
" Butuh waktu sayang, untuk aku bisa melupakan semuanya "
" Tidak apa kak V, Mami memang pantas mendapatkan itu. Aku yang lahir dari perutnya saja geram ketika mengingat yang terjadi dengan Papa "
" Lihatlah secara tidak langsung kau sudah menebar pengaruh buruk terhadap adik mu, dia jadi anak yang pendendam mencontoh seperti kakaknya " Ray hanya pasrah mendengarkan ocehan istrinya dengan menghembuskan nafasnya kasar.
○○○
Tepat dua minggu kemudian sepeninggal Nenek Lusiana merupakan hari kematian ayah dari Ray dan Rey.
Seperti biasanya akan ada acara kunjungan kerumah jompo dan panti asuhan, bersama-sama memanjatkan doa-doa terbaik untuk almarhumah tuan Rendra Wiratama yang sebelumnya berjiarah terlebih dahulu kepusaranya.
Setelahnya mereka akan makan bersama dan berbagi berkah untuk penghuni rumah jompo dan panti asuhan tersebut. Lalu Ray dan yang lainnya akan langsung pulang begitu acara berakhir.
" Ray "
" Hem "
" Kenapa masih belum tidur juga? aku tidak akan kemana-mana, aku akan pasrah berada dipelukan mu sampai kau puas " Ujar Veln yang sedari tadi semenjak pulang dari acara peringatan kepergian ayah mertuanya terperangkap dipelukan Ray diatas ranjang dengan mata terpejam, namun Ray tidak tidur karena telapak tangannya yang lebar tak henti-hentinya membelai rambut panjang Veln.
Untuk hari ini dia akan patuh, setidaknya dia harus bisa mengontrol mulut cerewetnya untuk sementara dan tidak akan berontak meski harus terus-terusan berada dalam dekapan Ray sekalipun untuk sehari semalam. Karena untuk saat ini Veln sendiri pun butuh kehangatan dari Ray, entah karena kebetulan atau apa hari ini pun tepat merupakan hari kematian kedua orang tuanya.
" Meski aku tidak mengantuk, biarkan tetap seperti ini " Suara Ray terdengar lirih. Tanpa protes Veln pun membiarkan posisi mereka untuk tetap seperti itu. Toh dia sendiri pun membutuhkan Ray untuk menenangkannya, karena teringat akan kepergian kedua orang tuanya.
" Ray "
__ADS_1
" Hem "
" Apa kau tau apa yang dilakukan Rey saat ini? " Tiba-tiba Veln mengingat adik kecilnya.
" Tidak " Ray menjawab tiap pertanyaan Veln masih dengan mata terpejam.
" Bagaimana pun, untuk hari ini dia pasti sangat membutuhkan mu. Renand sama terpukulnya dengan mu " Dengan hati-hati Veln mengungkapkan kekhawatirannya terhadap adik kecilnya.
Sepertinya Veln tidak semenyedihkan Ray saat dihadapkan dengan hari kepergian kedua orang tuanya. Mungkin karena dia merupakan perempuan yang kuat dan kebal, sehingga membuatnya lebih tegar dalam menghadapi hidupnya.
" Aku tau_ " Terdiam sebentar. " Tapi untuk hari ini, aku tidak bisa memikirkan apapun selain menenangkan otak, fikiran, dan diriku sendiri " Veln menepuk-nepuk punggung Ray, mencoba menguatkan hati yang kini mendadak menjadi rapuh.
" Tunggulah disini, aku tidak akan lama. Aku akan memastikan Rey baik-baik saja dikamarnya " Ray pun mengerti dan melepaskan dekapannya. Veln pun beranjak bangun menuju kamar adik kecilnya, yang sebelumnya memberikan kecupan dikening Ray.
○○○
Veln langsung membuka pintu kamar Renand yang tak terkunci, karena sedari tadi ketika dia mengetuk pintu kamar Rey tak kunjung direspon dan dibukakan oleh sang pemilik kamar.
" Boy " Veln menyapa adik kecilnya yang sedang tidur terlentang diatas kasurnya menatap kosong langit-langit kamar dengan sebelah tangannya bertumpu dikening. Seperti dugaannya keadaan Renand pasti sama buruknya.
" Kak V " Renand langsung bangkit dan duduk ditempat.
" Kamu baik-baik saja kan boy? "
" Tentu kak, bagaimana dengan kak Ray? sungguh aku tidak apa-apa kak, aku justru lebih mengkhawatirkan kak Ray. Karena seperti biasanya, dia tidak akan keluar kamar sampai besok pagi. itulah yang membuat ku merasa pusing memikirkan apa yang dilakukan kak Ray didalam sana " Keluh Renand dengan raut sedih dan khawatirnya.
" Kak Ray mu juga baik-baik saja Rey, dia sedang tidur jadi kau juga harus baik dan tidak perlu mengkhawatirkan suamiku " Veln sedikit berbohong dengan menyunggingkan senyumnya.
" Sama-sama boy, kau juga harus berterimakasih pada Tuhan karena mendapatkan kakak ipar yang limited edition seperti ku " Veln terkekeh geli yang diikuti oleh Renand.
○○○
Kembali kekamar, Veln mendapati Ray yang posisinya kini sama persis seperti yang Renand lakukan.
Veln mendekat dan merebahkan tubuhnya disamping Ray, dengan posisi miring dan memeluk tubuh suaminya.
" Bagaimana? dia baik-baik saja? "
" Hem, Renand baik. Tapi harusnya kau tidak boleh setega ini Ray, membiarkan Rey larut dalam sedihnya sendiri dengan bersamaan memikirkan keadaan mu didalam kamar "
" Maaf " Ray tersenyum getir dan dengan lirih mengucap maaf yang entah ditunjukkan untuk siapa. " Terimakasih V " Ray mengecup puncak kepala Veln. " Karena ada kau, aku merasa tidak sekacau dulu menghadapi hari ini " Veln mendongak dan menyungging senyum kearah Ray, hanya itu respon yang tepat menurutnya.
" Kau tau, mungkin hubunganku dengan ayah ku akan kembali baik seperti dulu.. seperti saat ibu ku masih hidup, bahkan mungkin lebih dekat dari itu jika saja kecelakaan maut itu tidak merenggut nyawanya " Ray menelan ludahnya kelu " Karena semenjak kepergian ibu ku,,, tiba-tiba saja hubungan kami menjadi kurang baik. Ditambah lagi, aku merasa ayah ku berkhianat terhadap ibu karena memutuskan untuk menikah lagi " Ray memejamkan matanya kembali, mengingat moment-moment terbaik hingga terburuknya bersama almarhum ayahnya.
" Itu takdir Ray, kalau semua itu tidak terjadi kau tidak akan memiliki kembaran yang lucu dan menggemaskan seperti Renand "
" Benar mungkin aku akan merasa benar-benar kesepian saat ditinggalkan oleh ayah dan nenek jika tanpa Renand "
" Hem, setidaknya kau masih memiliki saudara meski sekarang kau sebatangkara "
__ADS_1
" Apa kita perlu menghiburnya? "
" Tentu "
" Bagaimana caranya? " Hari ini Ray mendadak bodoh.
" Dengan pelukan, karena kehangatannya mampu menghilangkan luka sesakit apapun "
" Tidak ada cara lain? " Ray langsung mendelik protes.
" Kenapa seprotes itu? "
" Tentu saja aku protes, bahkan protes keras. Gila saja, mana sudi aku membiarkan mu ikut dipeluk oleh Renand "
" Maksudnya? "
" Untuk memeluk Renand saja aku tidak sudi, yang benar saja.. masa harus pisang makan pisang. Apalagi pelukan bertiga? no way. Lagi pula kau tidak boleh serakus itu, sudah dapat kakaknya masa adiknya diembat juga "
" Bukan pelukan yang seperti itu " Veln menabok lengan Ray. " Tapi pelukan yang seperti memberikan kata-kata yang menenangkan saat seseorang sedang merasa sedih atau galau semacamnya "
" Aih.. hahahaa " Ray terkekeh " Terimakasih V, kamu ada buat aku " Ray mengeratkan pelukannya.
○○○
Keesokan harinya setelah mereka melakukan sarapan bersama, Renand terlihat sudah siap dengan baju seragam kebesarannya.
" Sudah siap boy? " Tanya Veln yang kebetulan berpapasan dengan Renand.
" Iya kak V "
" Semangat boy "
" Tentu kak, sebentar lagi ujian aku akan hadiahkan nilai terbaik untuk kalian " Veln mengacungkan kedua jempolnya.
" Kau tau dimana kakak mu sekarang? aku tidak menemukannya sedari tadi "
" Kakak pasti berada diruangan bioskop mini sekarang, dia juga masih meliburkan diri hari ini. Tidak kerja " Setelah itu mereka membubarkan diri dari obrolannya. Renand yang langsung menuju kesekolahnya, sementara Veln menuju menghampiri Ray.
○○○
Saat Veln membuka pintu, terlihat gelap didalam ruangan itu. Hanya pantulan cahaya temaram saja yang berasal dari depan layar besar yang membantu penglihatannya.
" Kemarilah " Ray mengulurkan tangannya saat mendapati istrinya masuk kedalam ruangan.
" Nonton film apa? " Veln mendekat sembari bertanya, lalu mendudukkan diri disamping suaminya.
" Kau tidak perlu ikut menontonnya, cukup temani aku dan memelukku " Ujar Ray dengan menarik tubuh Veln masuk kedalam pelukannya.
Namun karena rasa penasaran Veln pun ikut menatap mini layar dihadapannya. Dan semakin dia perhatikan, gambar yang terpampang disana membuatnya terbelalak membulatkan matanya.
__ADS_1
Bersambung..